Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.
Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.
Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.
.
.
.
.
terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
.
.
.
Chapter Sebelumnya :
Sampai kedatangan sahabat mereka, Helena Blodelyn, yang ikut bergabung bersama mereka menuju ruang makan besar.
***
Mereka bertiga berjalan menuju salah satu meja yang telah dipenuhi oleh beberapa teman mereka, yang merupakan sekelompok pria dan wanita muda dari kalangan kelas atas.
Di ruangan ini, Bella masih dapat melihat beberapa tatapan sinis dari beberapa orang, dan menerima salam sapaan yang dingin dan singkat. Dan Bella menyadari, bahwa sekumpulan kawan baiknya disini juga telah dibujuk oleh Brandon untuk memusuhi dirinya.
Ditengah-tengah teman-temannya yang asik berceloteh ria, diam-diam tatapan mata Bella terus memindai seluruh ruang makan besar itu, mencari sosok Lord Blastorios yang misterius.
'Mengapa mereka menyebutnya sebagai Demon Duke?' Bella masih bertanya-tanya dalam hatinya alasan dari panggilan pria Blastorios itu, yang diberikan oleh society.
Ia sempat berpikir untuk bertanya langsung kepada pria itu tentang alasan orang-orang kalangan bangsawan memanggilnya seperti itu. Tapi, sebenarnya ada perasaan sedikit gusar saat mengingat, jika pria itu adalah kenalan mantan pelamar nya yang menyebalkan, Brandon Launster.
Saat itu, Bella dapat melihat keempat pria itu, sedang berkumpul di depan pintu masuk ruang makan, berdiri tepat di salah satu pintu yang berdampingan dengan pilar.
Terlihat jika mereka sedang asik mengobrol bernostalgia tentang masa kecil mereka, dan lalu saat para tamu lain berjalan santai melewati mereka, dengan segera keempat pria itu langsung mencari tempat duduk di meja-meja yang tersedia.
Raut wajah Bella menunjukkan perasaan khawatir yang kini melanda dirinya, saat ia dengan diam-diam memperhatikan setiap perubahan ekspresi pada wajah mereka. Apalagi saat ia melihat Lord Blastorios yang diam-diam menunjuk dirinya kepada Brandon.
Saat ia mulai menyadari, jika keempat pria itu sedang membicarakan dirinya, seketika itu juga ia merasa tak tenang. Dan saat Melvin merendahkan kepalanya untuk mendengarkan dengan seksama semua rumor tentangnya dari mantan pelamar nya itu.
Saat itu juga jantung Bella rasanya ingin meledak, dan berteriak ke arah pria keturunan Blastorios itu. 'Oh... Tidak! Jangan percaya dengan semua kebohongannya tentang diriku!'
Tapi, saat itu juga Bella harus menghadapi sebuah kenyataan bahwa dirinya ternyata telah terjatuh dalam pesona pria keturunan Blastorios itu.
Padahal pria itu merupakan seorang pria yang selalu mendatangi tempat-tempat penuh dosa seperti klub-klub malam. Pria itu juga merupakan seorang pria licik yang selalu memperdayai dan menipu orang lain seperti yang ia lakukan oleh gerombolan pengacau di Exile Land sebelumnya, da para Launster bersaudara barusan.
Bahkan pria itu juga memandangi diri Bella sebelumnya di ruang dansa, seakan-akan sedang membayangkan gadis Winston itu dalam keadaan bugil.
Tapi, tak pernah dalam hidup Bella bertemu dengan seorang pria seperti pria keturunan Blastorios itu. Seorang pria yang berpenampilan gagah, penuh percaya diri, dengan pemikirannya yang cepat, keberaniannya yang tanpa adanya keraguan, serta gayanya yang luwes.
Melvin dapat membuat napas Bella tertahan, hanya dengan melihat keberadaan pria itu di sekitarnya. Dan memberikan gejolak aneh yang terasa menyenangkan di hatinya saat bertatapan dengan pria itu.
Tapi sekarang, bahkan disaat ia belum berkenalan dengan pria Blastorios itu, Brandon telah menghancurkan kesempatan itu darinya. Hanya karena ia tak bisa memilikinya, pria itu seakan-akan ingin membuat hidup gadis itu berakhir dalam kesepian.
Bella benar-benar sudah tak mempedulikan semua yang pembicaraan yang dilakukan oleh teman-temannya kini. Yang ingin ia lakukan sekarang, hanyalah berlari menuju Brandon dan menutup mulut pria itu yang terus mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya pada pria Blastorios itu.
Walaupun, ia tak begitu yakin jika pria Blastorios itu akan mendengar semua bualan Brandon tentang dirinya, karena ia tahu pasti kalau pria itu bukanlah orang bodoh yang dapat di tipu oleh pria sombong seperti, Brandon Launster.
Tapi, tetap saja ia merasa khawatir. Lagipula jika pria itu malah mendengarkan semua perkataan buruk Brandon tentang dirinya. Itu membuatnya merasa jengkel, apalagi selama dua puluh empat jam ini, ia selalu memikirkan pria Blastorios itu.
Melvin mungkin memang seorang pria yang kasar, tapi pria itu telah menolongnya dan mempertaruhkan nyawanya untuk Bella. Tapi, jika pria itu mempercayai semua yang dikatakan oleh Brandon saat ini, mungkin pria itu tak ingin kembali berurusan dengan dirinya.
Bella menyadari bahwa ia masih menjadi bahan perbincangan keempat pria itu. Dan itu membuat Bella, benar-benar membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya saat ini juga.
Seketika itu juga Bella langsung mohon undur diri kepada teman-temannya itu, untuk berjalan keluar dari ruangan besar itu, yang mulai membuatnya merasa gerah.
Sejujurnya Bella dapat merasakan pandangan Melvin yang kini menatapnya tajam, saat ia mulai berjalan keluar dari ruangan itu menuju ruang khusus perempuan.
***
'Hmm... Apakah gadis itu menyadarinya?'
Itulah yang pertama kali dipikirkan oleh Melvin saat melihat raut kesal yang terpampang pada wajah Nona Arabella Winston. Wajahnya yang putih terlihat makin pucat, seakan-akan dapat mendengar segala perkataan Brandon yang sedang menjelek-jelekkan gadis itu.
Semua cemoohan dari Brandon Launster masih saja berlanjut, tapi Melvin sudah tak mempedulikan semua itu, dan mulai merasa sulit untuk menyembunyikan perasaan marah atas semua yang dikatakan oleh Brandon tentang gadis Winston itu.
Tadinya Melvin memang sengaja untuk mendengarkan semua keluhan apa yang sebenarnya telah Brandon Launster utarakan untuk menjelek-jelekkan Bella, agar ia bisa tahu cara untuk membalas pria bajingan itu nantinya.
Tapi sekarang, Melvin benar-benar sudah mulai merasa geram mendengar semua keburukan Bella yang keluar dari mulut besar pria Launster tersebut bersama kedua saudaranya.
"...Dia itu hanyalah seorang wanita sok tahu, labil, dan suka menggoda laki-laki hanya karena ia cantik. Ia merayu banyak laki-laki hanya untuk ia tolak. Huh... Apa dia pikir, dia itu wanita hebat yang telah membuat banyak pria menyukainya?..."
"Kau tahu, Brandon. Jika kau terus membicarakan perempuan itu seperti ini, mungkin orang-orang akan berpikir kalau kau sedang merasa cemburu dengan perempuan itu." Potong Melvin dengan nada rendah, yang sejak tadi terus berusaha untuk menahan dirinya untuk mengumpati pria pencolek itu.
"Apa maksudmu? Tentu saja, itu tidak mungkin!" Brandon membentak, merasa sedikitpun terpojok dengan apa yang dikatakan oleh pria Blastorios itu.
"Itu terlihat sungguh buruk, kawan. Sesuatu yang tidak penting. Seakan-akan dirimu ini sedang berusaha untuk menghancurkan perempuan itu di depan orang lain, hanya karena kau tak dapat memilikinya." Ujar Melvin malas, mencoba untuk mengendalikan amarahnya kini.
"Bukan itu permasalahannya. Tujuan utama ku adalah untuk mengungkapkan kebenaran tentang Nona Winston, yang selama ini selalu mereka anggap sebagai seorang malaikat. Dan untuk membuat para pria lainnya, agar tidak terjerumus ke dalam pesonanya yang palsu!" Kata Brandon sambil mendengus.
"Oh, jadi kau melakukan semua ini atas dasar kebaikan semua orang, begitu?" Tanya Melvin sambil menaikkan alis tebalnya keatas.
"Tentu saja!" Sahut Brandon cepat.
"Baiklah, aku mengerti." Ujar Melvin dengan tenang, dan lalu memandang penuh arti kearah kedua mata Brandon. "Tapi, jika aku menjadi dirimu. Mungkin, aku lebih memilih untuk menutup mulutku." Sambungnya penuh ancaman.
***