NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4.Ketika Bahan Sisa Menjadi Makanan Juara

Bel istirahat kedua berbunyi dengan suara yang jelas, seolah menyelamatkan Ren dari pelajaran Sejarah yang rasanya semakin membosankan setiap menitnya. Ia sudah kehilangan fokus sejak sepuluh menit yang lalu, benaknya hanya berpikir tentang cara memperbaiki resep sup krim jamur yang akan ia coba di restoran malam itu. Namun kali ini, bukannya mengarah ke kantin yang selalu ramai atau ke atap sekolah yang sunyi seperti biasanya, langkah kakinya secara naluri mengarah ke gedung kegiatan ekstrakurikuler di sayap barat sekolah – sebuah tempat yang ia hindari sejauh mungkin selama ini. Di antara jemari tangannya yang sedikit kasar, tercengkeram selembar formulir pendaftaran yang sudah mulai lusuh dengan warna kuning gading yang memudar.

Klub Memasak.

Benar saja, kata itu membuat Ren mengerutkan dahi setiap kali ia membacanya. Bagi dia, memasak bukanlah sebuah hobi atau aktivitas untuk bersenang-senang setelah sekolah. Itu adalah pekerjaan yang penuh dedikasi, sebuah ritual suci yang ia jalankan setiap hari di dapur "Ren’s Cuisine" bersama ayahnya – bukan sesuatu yang bisa dijadikan permainan bersama teman sebaya. Tapi ayahnya, Kudo, pagi ini menunjukkan sisi yang sangat egois dan tidak bisa ditolak. "Kamu terlalu sering sendirian, Ren. Kamu perlu punya teman yang mengerti tentang dunia yang sama denganmu – bukan hanya bergaul dengan pisau, talenan, dan kompor panas di restoran," ucap ayahnya dengan tatapan yang tegas, sambil menyodorkan formulir itu tepat setelah menyerahkan kotak bekal yang dibawa Rin.

Ren menghela napas panjang saat berhenti di depan pintu kayu ganda yang bertuliskan "Ruangan 302". Aroma mentega cair yang harum dan vanila yang manis keluar deras dari dalam ruangan, bertabrakan dengan bau pembersih lantai yang sedikit menyengat dari koridor. Ia mendorong pintu itu dengan gerakan yang pelan dan hati-hati, seolah takut akan menemukan sesuatu yang tidak diinginkan di dalam.

Ruangan yang terbentang di depannya jauh lebih luas dari yang ia bayangkan – lebih mirip dapur katering profesional daripada dapur praktik sekolah yang biasa ia bayangkan. Delapan stasiun memasak berdiri rapi di sekeliling ruangan, masing-masing dilengkapi dengan kompor induksi modern, oven kecil, dan semua peralatan memasak yang dibutuhkan mulai dari wajan hingga alat pemotong yang lengkap. Di tengah ruangan, seorang wanita dengan postur tubuh tegap dan atletis berdiri dengan sikap yang penuh kekuasaan, mengenakan jaket training warna merah menyala yang membuatnya lebih mudah dikenali. Rambut merah keritingnya diikat tinggi menjadi ponytail, dan setiap gerakannya menunjukkan energi yang begitu kuat hingga terasa mengintimidasi.

Itu adalah Kaze Sakura – guru olahraga yang dikenal sebagai "Singa Betina" karena kesigapannya dan juga pembina klub memasak yang baru dibuka setahun yang lalu.

"Telat lima menit untuk jadwal pendaftaran yang sudah aku tentukan, Nak," suara Sakura menggelegar di seluruh ruangan, meskipun matanya masih tetap fokus pada seorang siswi yang sedang kesusahan mengocok telur dengan cara yang salah – tangan kirinya terus bergoyang membuat cairan telur hampir tumpah.

"Formulirnya tertulis pendaftaran buka sampai akhir jam istirahat kedua," balas Ren dengan nada datar seperti biasa, berjalan perlahan mendekat ke arah guru itu sambil menyodorkan lembaran kertas yang sudah diisi.

Sakura perlahan berbalik, lalu menatap Ren dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang tajam dan penuh analisis. Ia tidak perlu menghitung atau mengukur untuk tahu bahwa tubuh muda ini memiliki kekuatan otot yang tidak biasa – bahunya yang lebar dan tangan yang kuat menunjukkan bahwa ia bukanlah orang yang hanya duduk diam di kelas.

"Akira Ren, kelas 12-A," Sakura membaca nama di formulir dengan suara yang jelas, lalu mendengus kecil sambil menggelengkan kepala. "Bukan bukan, kamu kan siswa yang terkenal suka terlambat dan bahkan sering tidur di kelas Bu Keiko? Kenapa tiba-tiba ingin bergabung dengan klubku? Ingat, di klub ini tidak ada tempat untuk bersantai atau bermain-main dengan makanan."

"Ayahku memaksaku," jawab Ren dengan jujur yang langsung, tanpa ada niat untuk menyembunyikan alasan sebenarnya.

Beberapa siswi lain yang sedang berada di ruangan itu langsung berbisik-bisik, melihat Ren dengan tatapan yang campuran antara tak percaya dan sedikit kagum. Berani-beraninya anak ini bicara begitu jujur bahkan di depan guru Sakura yang dikenal sangat ketat.

Namun justru itu yang membuat Sakura tersenyum – bukan senyum ramah yang hangat, melainkan senyum yang penuh dengan tantangan dan hasrat kompetitif. "Aku sangat menyukai kejujuranmu, Nak. Tapi di klub memasak ini, bakat saja tidak cukup jika kamu tidak punya semangat yang tulus. Kalau benar-benar ingin masuk, kamu harus melewati tes seleksi yang aku berikan."

Sakura berjalan dengan langkah yang mantap menuju pantry utama di sudut ruangan, lalu kembali dengan membawa sebuah kotak kayu kecil yang tampak berat. Ia meletakkannya dengan lembut di stasiun memasak nomor delapan – yang terletak paling jauh dari pintu dan terlihat paling sepi – tepat di depan Ren.

"Bahan sisa?" Ren menaikkan salah satu alisnya dengan ekspresi yang menunjukkan rasa heran.

"Seorang koki sejati tidak hanya bisa membuat makanan lezat dengan bahan-bahan premium yang mahal," ucap Sakura dengan nada suara yang mendalam dan penuh makna. "Yang benar-benar hebat adalah mereka yang bisa menciptakan keajaiban dari apa saja yang ada di depan mata. Di dalam kotak ini ada dada ayam yang sudah agak kering karena disimpan terlalu lama, setengah bonggol brokoli yang sudah mulai menguning, nasi dingin sisa dari makan malam kemarin, dan hanya beberapa bumbu dasar yang tersisa. Waktu yang kamu punya adalah lima belas menit untuk membuat hidangan yang layak aku makan dan memberikan nilai."

Ren membuka tutup kotak dan melihat isi di dalamnya dengan cermat. Bahan-bahannya memang benar-benar menyedihkan – dada ayamnya tampak sepucat dan kering, ujung brokoli sudah mulai kecoklatan, dan nasi dinginnya tampak menggumpal seperti batu kecil. Namun di mata Ren, setiap bahan memiliki potensi tersendiri yang bisa diolah dengan cara yang tepat.

Tanpa perlu berpikir panjang, Ren mulai bergerak. Ia melepas blazer seragam sekolahnya dan menyimpannya dengan rapi di kursi kosong di dekat stasiunnya, menyisakan kaus oblong hitam ketat yang jelas mencetak bentuk tubuh atletisnya yang selama ini disembunyikan. Ia kemudian melilitkan apron hitam polos yang selalu ia bawa di dalam tas – sebuah apron yang sudah cukup lama digunakan dan memiliki bekas noda makanan yang tidak bisa dihilangkan lagi. Saat apron itu berada di pinggangnya, aura tubuhnya berubah drastis. Bahunya yang tadinya santai kini menegang dengan kuat, matanya yang biasanya tampak kosong kini menjadi sangat tajam, dan setiap gerakannya menjadi sangat efisien tanpa ada satu gerakan sia-sia pun.

Sakura mengamati perubahan yang terjadi pada Ren dengan mata yang menyipit. Ada sesuatu yang sangat familiar dari cara ia berdiri di depan talenan – bukan seperti seorang pemula yang baru belajar memasak, melainkan seperti seseorang yang telah lahir dan besar di tengah dapur, yang merasa paling nyaman ketika memegang pisau di tangannya.

Takk! Takk! Takk!

Suara pisau yang menusuk talenan terdengar dengan irama yang cepat dan presisi. Ren memotong dada ayam dengan arah melawan serat – teknik yang tepat untuk menjaga kelembutan daging yang sudah mulai kering. Ia kemudian merendam potongan ayam itu ke dalam mangkuk berisi campuran putih telur, tepung maizena, sedikit kecap asin, dan sejumput garam – sebuah teknik velveting yang ia pelajari dari ayahnya untuk mengunci kelembapan dan membuat daging tetap juicy meskipun dimasak cepat.

Sambil menunggu ayam meresap dengan bumbu, ia mengalihkan perhatian ke brokoli. Alih-alih merebusnya seperti yang biasanya dilakukan kebanyakan orang, ia memotongnya menjadi bagian kecil-kecil dengan bentuk yang menarik, lalu menyalakan wajan datar dengan panas tinggi. Setelah wajan cukup panas, ia menuangkan sedikit minyak zaitun dan menaburkan garam laut sebelum melemparkan potongan brokoli ke atasnya. Api yang tinggi membuat bagian luar brokoli cepat terbakar sedikit, memberikan rasa manis alami melalui proses karamelisasi dan menghilangkan rasa pahit yang biasanya muncul dari sayuran yang sudah tidak segar.

Ruangan yang tadinya ramai dengan suara obrolan dan desahan siswi lain mendadak menjadi sunyi. Semua mata secara tidak sengaja tertuju pada stasiun nomor delapan. Cara Ren bergerak di sekitar dapur itu seperti sebuah tarian yang indah dan penuh tujuan – tangan kirinya mengaduk brokoli dengan ritme yang pas, sementara tangan kanannya sudah menyiapkan wajan wok besar dan mencampur bumbu untuk nasi goreng.

Wusshh!

Sebuah percikan api besar membubung ke udara saat Ren menuangkan minyak ke dalam wok yang sudah sangat panas. Ia dengan cepat memasukkan nasi dingin, lalu menuangkan campuran bumbu yang baru saja ia racik – kombinasi kecap Inggris, saus tiram, sedikit bubuk kari yang tidak terlalu kuat, dan sejumput gula untuk menyeimbangkan rasa. Dengan teknik wok hei yang sudah sangat mahir, ia melemparkan nasi ke udara beberapa kali, memastikan setiap butir nasi terpisah dan terlapisi bumbu secara merata. Potongan ayam yang sudah siap akhirnya dimasukkan ke dalam wok, dimasak dengan cepat agar tetap lembut dan tidak hancur.

Aroma gurih yang kompleks mulai memenuhi seluruh ruangan – campuran rasa umami dari ayam dan saus tiram, sedikit aroma asap dari proses penggorengan dengan panas tinggi, dan sentuhan rempah kari yang tidak menyengat. Aroma itu bahkan mampu mengalahkan aroma mentega dan vanila yang sebelumnya mendominasi ruangan. Bahkan Sakura sendiri tanpa sadar melangkah mendekat ke arah stasiun Ren, hidungnya kembang kempis sambil menghirup aroma makanan yang menggiurkan itu – bibirnya tanpa sadar sedikit terbuka dan ada kilatan kagum yang muncul di matanya.

"Selesai," ucap Ren dengan suara yang tenang, meletakkan sebuah piring putih oval yang bersih di atas meja counter depan Sakura.

Di atas piring itu tersaji hidangan yang ia beri nama sederhana: "Nasi Goreng Kari Ayam Velveting dengan Brokoli Bakar". Tampilannya tidak terlalu mencolok atau penuh hiasan, namun warnanya sangat hidup dan menarik – nasi yang berwarna kuning keemasan, potongan ayam yang tampak mengilap dan lembut, serta brokoli bakar dengan warna hijau gelap yang ditambah dengan bercak hitam kecil dari proses pembakaran yang sempurna.

Sakura mengambil sendok dengan hati-hati, lalu menatap Ren sejenak dengan pandangan yang penuh rasa ingin tahu sebelum mengambil suapan pertama – menggabungkan nasi, ayam, dan brokoli dalam satu sendok.

Saat makanan itu menyentuh lidahnya, Sakura langsung membeku di tempatnya. Matanya membelalak lebar, dan ekspresi wajahnya yang biasanya tegas menjadi sangat terkejut. Rasa yang muncul di lidahnya benar-benar melebihi ekspektasinya – dada ayam yang ia kira akan menjadi sepah dan kering ternyata sangat lembut, bahkan meledak dengan rasa juicy di mulut. Nasi gorengnya memiliki rasa kari yang subtle dan tidak menyengat, dengan setiap butir nasi yang terasa pera dan penuh rasa. Dan brokolinya – rasa pahit yang biasanya ia benci dari sayuran yang sudah tidak segar benar-benar hilang, digantikan dengan rasa manis-gurih dan tekstur renyah yang sangat menyenangkan.

Ini bukan masakan yang bisa dibuat oleh siswa SMA biasa. Ini adalah masakan dengan kualitas tingkat restoran yang sudah berpengalaman.

Sakura perlahan meletakkan sendoknya ke atas piring, lalu menatap Ren dengan pandangan yang sudah berbeda sama sekali – bukan lagi sebagai seorang guru yang meremehkan murid yang dianggap malas, melainkan sebagai seorang penikmat kuliner yang baru saja menemukan sesuatu yang luar biasa. Ada emosi kompetitif yang sedikit muncul di dalam dirinya, tapi rasa kagum yang ia rasakan jauh lebih besar daripada itu.

"Di mana kamu belajar teknik velveting dan wok hei yang begitu sempurna, Akira?" suara Sakura terdengar lebih lembut dari biasanya, dengan nada hormat yang jelas terselip di dalamnya.

"Internet," jawab Ren dengan jawaban yang singkat dan lugas, bahkan tanpa mengedipkan mata saat berbohong. Ia sudah mulai melepas apronnya dan menyimpannya kembali ke dalam tas.

Sakura mendengus pelan dengan senyum kecil di wajahnya – ia tahu bahwa anak ini berbohong, tapi ia tidak merasa perlu untuk menyiksa dirinya dengan pertanyaan lebih lanjut. Ia mengambil formulir pendaftaran kuning gading itu, lalu mengambil pulpen dan menandatanganinya dengan coretan besar dan tegas di bagian persetujuan.

"Hanya dari internet, katamu? Kalau begitu, internet memang menjadi guru yang jauh lebih baik dariku," gumam Sakura sambil melemparkan formulir itu kembali ke arah Ren dengan lembut. "Selamat bergabung di klub memasak, Akira Ren. Tapi ingat – jangan sekali-kali berani bolos dari sesi latihan yang aku atur, kalau tidak aku akan memintamu lari memutari lapangan sepak bola sampai kamu benar-benar pingsan dan mengerti arti kata 'kedisiplinan'."

Ren menerima formulir itu dengan tangan yang stabil, dan sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. "Tergantung apa saja menu yang akan kita pelajari, Bu."

Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan dengan langkah yang mantap, menyisakan Sakura yang masih berdiri di tempatnya. Guru itu melihat ke arah punggung Ren yang menjauh, lalu melihat kembali ke sisa nasi goreng di piringnya. Sebuah senyum yang penuh kegembiraan – senyum seorang mentor yang baru saja menemukan berlian mentah yang memiliki potensi luar biasa – perlahan mengembang di wajahnya.

"Menarik... sungguh sangat menarik," bisik Sakura pada dirinya sendiri sambil mengambil sendok lagi untuk menikmati suapan berikutnya.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!