NovelToon NovelToon
SUAMIKU AYAH TUNANGANKU

SUAMIKU AYAH TUNANGANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Terlarang / Duda
Popularitas:96.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.

Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

"Hanya kopi lagi?" komentar Maelric, memperhatikan Liora yang untuk kesekian kalinya hanya mengambil kopi di meja sarapan. "Kalau masakan Camilla tidak cocok di lidahmu, mungkin aku perlu mencari koki yang baru."

Maelric tahu persis cara menyentuh titik yang paling sensitif. Ia sudah menyadari bahwa Liora menyukai Camilla, dan kini ia menjadikannya bahan tawar-menawar.

Liora menelan rasa kesalnya. Satu sisi dirinya tidak mau memberi Maelric kepuasan atas kemenangannya. Tapi Camilla tidak berhak menanggung akibat dari pertarungan ego ini.

Dengan enggan, ia menarik piring salad yang sudah disiapkan Camilla dan mulai memakannya. Rasanya enak, memang selalu enak, tapi nafsu makannya tetap tidak ada.

"Kamu perlu tenaga, Sayang." Maelric mengatakannya dengan nada yang terdengar lebih seperti pengingat daripada kepedulian, sambil menyantap telur dan ham di piringnya. "Sebentar lagi ada kejutan untukmu."

"Aku tidak suka kejutan."

"Yang satu ini pasti kamu suka."

**

Ternyata Maelric memang menghukumnya hanya caranya yang tidak langsung. Ia tidak menyebut satu kata pun soal hukuman. Ia cukup memastikan bahwa dua kali Liora ingin pergi ke klubnya, selalu ada alasan yang muncul untuk mencegahnya. Halus, rapi, tidak bisa dibantah.

Setidaknya botol wiski favoritnya sudah berhasil ia bawa pulang ke kamar.

"Di rumah kamu tidak sebanyak ini minumnya."

Liora hampir tersedak. Ia memutar tubuhnya dan di ambang pintu berdiri Zevran, dengan senyum lebar yang sudah sangat ia rindukan.

"Zevran!" Ia meletakkan gelasnya dan berlari. Zevran membuka tangannya dan menariknya masuk ke dalam pelukan yang erat.

Liora tidak peduli bagaimana caranya masuk. Yang penting ia di sini.

"Aku sudah datang," kata Zevran sederhana.

Setelah beberapa saat, Liora melepaskan diri dan memperhatikan wajah adiknya. Zevran berusaha terlihat santai, tapi Liora terlalu hafal ekspresinya untuk tertipu. Ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Lalu kesadaran itu muncul, menabrak seperti air dingin.

"Kamu harus pergi sekarang." Liora melirik ke kiri dan kanan. "Kalau Maelric menemukanmu di sini--"

"Santai. Dia yang mengundangku." Zevran mengangkat alis, membaca ekspresi Liora yang bingung. "Aku juga tidak menyangka. Tapi ia sendiri yang menghubungi."

Liora terdiam sebentar. Jadi ini kejutan yang dimaksud. Tapi alih-alih lega, perasaan yang muncul justru lebih mirip waspada. Maelric tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan.

Apa yang sedang ia rencanakan?

"Tetap saja, lebih baik kamu tidak lama-lama di sini."

Zevran mendengus. "Aku susah payah kesini, dan kamu mau langsung mengusirku. Tidak sopan sekali." Ia melangkah ke meja dan dengan santai mengambil gelas Liora, lalu menghabiskan isinya begitu saja.

"Setidaknya minta izin dulu," gumam Liora, tapi duduk di sofa. Zevran mengisi ulang gelas itu, untuk dirinya sendiri dan bergabung.

"Maelric sepertinya cukup toleran padaku. Mungkin karena rompi itu." Ia menghentikan kalimatnya sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius. "Ronan masih ribut, tapi Ayah berhasil meredamnya. Ayah juga... senang melihat pengaruhmu pada Maelric."

"Aku tidak punya pengaruh apa pun atasnya."

Zevran menatapnya dengan ekspresi yang dengan jelas berkata: kamu salah.

"Kamu tidak sadar betapa besar efekmu padanya. Paman Deris memang tidak bisa diselamatkan, tapi Ronan masih hidup sampai sekarang, dan itu karena kamu." Liora mengambil napas dalam-dalam, mendorong bayangan yang berusaha muncul kembali ke sudut paling jauh dari pikirannya.

"Sebelumnya aku masih bisa pergi ke klub. Sedikit, tapi itu cukup untuk bernapas." Liora bersandar ke sofa. "Sekarang bahkan itu pun sudah diambil."

Zevran melingkarkan lengannya di bahu Liora. "Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Lagipula--" ia menurunkan suaranya seperti berbagi rahasia "--katanya baru bisa mengunjungimu lagi dua minggu setelah ini. Kurasa kalian akan pergi ke suatu tempat yang menarik."

Liora memutar matanya. Ia sudah bisa membayangkan seperti apa perjalanan itu nantinya.

Maelric akan menempatkannya di hotel atau vila mewah, jauh dari siapa pun yang ia kenal. Dan sisanya sudah bisa ditebak, ia terlalu berharga sebagai penerus keturunan untuk dibiarkan begitu saja.

Hanya itu gunanya aku.

Zevran menghabiskan dua jam bersamanya. Maelric tidak muncul sekalipun, tampaknya memang sengaja memberi jarak, tidak berniat bertukar satu kata pun dengan adik iparnya. Setelah Zevran pergi, kesunyian kembali menguasai kamar, dan perasaan sepi yang belakangan ini selalu mengikutinya pun kembali hadir.

Dulu Liora tidak mengenal rasa sepi seperti ini. Sekarang rasanya sudah seperti teman tetap.

**

Keesokan paginya, mereka berangkat.

Tentu saja bukan dengan pesawat biasa. Maelric memiliki jet pribadi, sesuatu yang tidak mengejutkan Liora, meski ia tidak akan mengatakannya keras-keras. Ayahnya pun punya yang serupa, hanya saja mereka selalu terbang bersama-sama sebagai keluarga.

"Kalau kamu takut, bilang saja. Aku siap memelukmu," kata Maelric saat mereka duduk dan Liora mulai mengenakan sabuk pengaman berwarna krem, senada dengan warna kulit kursi di sekelilingnya.

"Aku sudah sering terbang. Bisa mengurus diri sendiri." Liora menyelesaikan pengamannya lalu menatap ke depan. "Ada makanan di sini?"

Maelric meliriknya sebentar, tampak sedikit heran, lalu menekan sebuah tombol kecil di panel samping kursinya. Liora sempat mengira itu remote televisi.

Beberapa detik kemudian, seorang pria muda muncul dari bagian belakang kabin. Liora menarik kesimpulan dalam satu detik: pria ini seharusnya mempertimbangkan karier di dunia mode, bukan menjadi pelayan di jet pribadi orang kaya.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan nada formal.

"Istri saya lapar," kata Maelric, langsung, tanpa basa-basi. Penekanannya pada kata istri terasa disengaja, seolah ingin memastikan tidak ada kesalahpahaman tentang hubungan mereka.

Pria itu mengalihkan pandangannya ke Liora. Dan dari jarak dekat, Liora semakin yakin dengan kesimpulan awalnya.

"Ada permintaan khusus, Nyonya?"

"Apa yang tersedia?"

"Ada wrap ayam. Atau jika Nyonya menginginkan yang lain, bisa saya usahakan."

"Wrap ayam saja."

Pria itu mengangguk dan menghilang kembali ke belakang.

Liora menoleh dan mendapati Maelric sedang menatapnya.

"Kenapa?" tanyanya.

"Tidak ada," jawab Maelric singkat.

Tapi rahangnya sedikit mengeras. Dan matanya tidak benar-benar kosong.

Liora berpaling ke jendela, menyembunyikan sesuatu yang hampir menjadi senyum.

1
Resiana dewi
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!