Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.
Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setetes Darah
Udara di halaman mansion terasa menyesakkan. Pisau di tangan Rendra masih menempel di leher Lyra.
Tangannya gemetar, Napasnya tidak stabil, Lyra mencoba tetap tenang, meskipun dadanya naik turun cepat, "Rendra… lepaskan."
Namun Rendra hanya menggeleng, "Aku hanya ingin bersamamu." Suara pria itu terdengar hampir putus asa. Namun saat ia menarik Lyra sedikit lagi ujung pisau itu tidak sengaja menggores kulit putih di leher Lyra, Garis merah tipis langsung muncul, Kemudian darah mulai mengalir, Lyra meringis " ahhhh Sakit…"
Matanya terpejam sebentar.
"Darius…"
Nama itu keluar hampir seperti bisikan, Dan itu cukup membuat dunia Darius berhenti, Tatapannya langsung berubah liar, "Lyra!" Suaranya terdengar penuh amarah, Pengawal menegang. Darius memberikan tanda kecil, Situasi hanya bertahan satu detik lagi, lalu...
DORR!!
Suara tembakan memecah udara pagi. Peluru dari penembak jitu mengenai tangan Rendra, Pisau itu langsung terlepas dari genggamannya, "AARGH!"
Rendra terjatuh ke samping sambil memegang tangannya yang berdarah, Lyra kehilangan keseimbangan, Tubuhnya terhuyung, dan jatuh ke lutut. Pengawal langsung bergerak, Namun seseorang lebih cepat.
"Darius..."
Lyra hampir tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Darius sudah berada di depannya. Ia langsung menangkap tubuh Lyra yang mulai lemas, Tangannya menahan kepala Lyra dengan hati-hati "Lyra."
Suaranya berubah menjadi jauh lebih lembut.
Lyra memegang lengannya."Sakit…" Darius melihat garis darah di lehernya, Rahangnya langsung mengeras. Namun ia menahan emosinya, Dengan hati-hati ia mengangkat Lyra ke dalam pelukannya.
Tubuh wanita itu terasa ringan di tangannya, Lyra menyandarkan kepala di bahunya. Sementara Darius berjalan cepat menuju pintu mansion, Langkahnya besar dan tegas, "Leon."
Leon langsung maju "Ya, Tuan."
Darius bahkan tidak menoleh, Namun suaranya terdengar dingin, "Atur sisanya."Ia berhenti sebentar di pintu, Tatapannya sekilas mengarah pada Rendra yang sudah ditahan pengawal. "Jangan biarkan Rendra datang lagi ke sini."
Nada itu tidak terdengar seperti perintah biasa.
Lebih seperti keputusan final, Leon menundukkan kepala "Dimengerti."
Sementara itu Darius sudah membawa Lyra masuk ke dalam mansion, Ia menurunkannya perlahan di sofa besar ruang tamu. Tangannya langsung mengambil saputangan dan menekan luka di leher Lyra dengan hati-hati, Lyra menatapnya dengan napas pelan,"Darius…"
Pria itu menatapnya sangat dekat, Matanya masih penuh amarah yang belum sepenuhnya reda, Namun tangannya sangat lembut, "Aku di sini."
Lyra akhirnya menutup matanya sebentar. Karena satu hal pasti hari ini hampir saja berakhir sangat berbeda.
Ruang tamu mansion masih dipenuhi ketegangan yang belum sepenuhnya hilang, Lyra duduk di sofa besar, Sementara Darius berlutut di depannya. Sapu tangan yang tadi ia tekan di leher Lyra sudah sedikit bernoda merah. Namun lukanya sebenarnya tidak dalam, Langkah cepat terdengar dari lorong, salah satu pelayan datang membawa sebuah kotak, "Tuan, ini kotak P3K-nya."
Darius langsung mengambilnya tanpa menoleh.
Ia membuka kotak itu dengan gerakan cepat, Kapas, Antiseptik, Perban kecil. Lyra memperhatikannya sambil tersenyum tipis, "Kita ke rumah sakit saja," kata Darius tiba-tiba, Nada suaranya masih tegang.
Lyra menghela napas kecil.
Ia menyentuh tangan Darius yang sedang membersihkan lukanya, "Tidak."Darius mengangkat matanya, "Ini luka kecil." Lyra tersenyum ringan.
"Panikmu berlebihan, sayang."
Namun pria itu tidak terlihat setuju sama sekali.
Ia membersihkan luka itu dengan sangat hati-hati.
Gerakannya perlahan, Seolah takut membuat Lyra kesakitan, Lyra sedikit meringis ketika antiseptik menyentuh lukanya. "Ah..."
Darius langsung berhenti, Matanya langsung menatap Lyra, "Sakit?" Lyra tertawa kecil "Hanya sedikit."
Namun ekspresi Darius tetap serius, Ia menempelkan perban kecil di leher Lyra, Tangannya berhenti beberapa detik di sana, Seolah memastikan semuanya baik-baik saja, Kemudian ia berkata pelan,
"Aku hampir kehilanganmu lagi."
Lyra terdiam, Nada suara itu berbeda dari biasanya.
Lebih jujur, Lebih rapuh, Lyra mengangkat tangannya.
Menyentuh wajah Darius "Aku masih di sini."
Darius menatapnya dalam beberapa detik, Kemudian ia menghela napas panjang. Namun sebelum suasana itu benar-benar tenang Leon kembali masuk dengan ekspresi serius,"Tuan."
Darius menoleh, "Apa?"
Leon menjawab pelan, "Rendra sudah dibawa pergi."
Beberapa detik ruangan itu sunyi. Namun Leon melanjutkan dengan kalimat yang membuat suasana berubah lagi.
"Dan…"
"Ada pesan yang dikirim ke ponsel pengawal."
Darius menyipitkan mata.
"Pesan?"
Leon mengangguk.
"Ya, Tuan."
Ia menatap Darius dengan serius.
"Itu dari Viktor."
Lyra langsung menoleh, Sementara Darius berdiri perlahan, Tatapannya kembali berubah dingin.
"Dia bilang…"
Leon berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
"'Permainan ini baru saja dimulai.'"
-----
Ruang tamu kembali sunyi setelah Leon pergi. Pesan dari Viktor masih menggantung di udara seperti ancaman yang belum selesai, Darius berdiri di dekat meja. Ponselnya masih di tangannya, Tatapannya dingin, Penuh perhitungan, Ia hendak melangkah pergi ketika sebuah tangan menahan pergelangan tangannya, "Darius…" Suara Lyra pelan, Namun cukup untuk menghentikannya, Darius menoleh.
Lyra masih duduk di sofa, menatapnya dengan mata yang berbeda dari biasanya, Bukan hanya lembut, Ada sesuatu yang lebih dalam, Lebih serius. " ada apa lagi dengan Viktor?"
Pertanyaan itu membuat ruangan terasa sedikit lebih berat, Darius tidak langsung menjawab, Lyra berdiri perlahan, Langkahnya mendekat. Tangannya masih memegang tangan Darius, "Darius… katakan?"
Darius menghela napas pelan "Lyra,..."
Namun Lyra memotongnya, "Siapa kamu sebenarnya?"
Kalimat itu membuat Darius benar-benar terdiam sekarang, Lyra menatapnya dalam,.Seolah mencoba membaca sesuatu yang selama ini tersembunyi.
"Apa yang kamu lakukan?", Ia menelan napas pelan.
"Kenapa semakin lama…" Tangannya naik menyentuh wajah Darius, Gerakan itu lembut. Namun kata-katanya membuat udara terasa lebih berat.
"...aku merasa kamu semakin mirip dengan Papa."
Darius tidak bergerak, Matanya hanya menatap Lyra.
Lyra melanjutkan dengan suara lebih pelan. "Hidupnya selalu dikelilingi orang-orang yang berbahaya." Matanya sedikit berkaca, "Selalu ada musuh." Tangannya perlahan turun dari wajah Darius.
Namun pertanyaan terakhirnya keluar dengan sangat jujur, "Kau bukan…" Ia berhenti sebentar, Seolah bahkan kata itu sulit diucapkan."...mafia, kan?, seperti Papa, aku tau setelah papa meninggal semua orang bilang papa mafia"
Sunyi, Benar-benar sunyi. Beberapa detik yang terasa sangat panjang. Darius menatap Lyra tanpa berkedip.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, Namun sesuatu dalam matanya berubah, Lebih gelap, Lebih jujur. Akhirnya ia berkata pelan,
"Apa pun yang aku lakukan…" Tangannya perlahan menggenggam tangan Lyra.
"...itu untuk melindungimu."
Lyra menatapnya, "Itu bukan jawaban." Darius tersenyum tipis, Senyum yang tidak sepenuhnya hangat, "Kadang…" Ia menyentuh pipi Lyra pelan.
"...lebih baik kamu tidak tahu semuanya."
Lyra menggeleng kecil, "Aku sudah ada di dalam semua ini, Darius." Matanya tegas. "Aku pantas tahu."
Darius terdiam beberapa detik lagi, Lalu akhirnya berkata pelan,
" Papamu…"
Lyra langsung menegang, "Apa?"
Darius menatapnya sangat serius sekarang.
" Papa mu bukan orang biasa."
Jantung Lyra berdetak lebih cepat."Apa maksudmu?"
Namun sebelum Darius bisa menjawab ponselnya tiba-tiba berdering, Leon.
Darius menjawab, "Apa?"
Suara Leon terdengar tegang."Tuan."
"Kami baru menerima informasi."
Darius menyipitkan mata.
"Apa lagi?"
Leon berkata pelan,
"Viktor…" Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan."Dia menuju ke kota ini."
Darius menutup matanya sejenak, Ketika ia membukanya kembali tatapannya berubah menjadi sangat dingin, "Biarkan dia datang."
Sementara Lyra berdiri di sana menyadari satu hal.
Mungkin ia benar-benar belum mengenal pria yang ia cintai.