Karina, seorang wanita cantik yang sangat mandiri. Karena di usianya yang baru 23 tahun sudah memiliki toko bakery sendiri hasil kerja kerasnya.
Namun, tiba-tiba saja hidupnya berubah drastis saat ada seorang laki-laki yang datang ke tokonya mencari roti untuk sang ibu, hingga membuat hidupnya terus di hantui oleh laki-laki itu yang ternyata seorang duda.
Andrian Jayatama Persadha, seorang duda berusia 41 tahun, yang sudah menduda selama 7 tahun tiba-tiba saja di paksa menikah lagi oleh ibunya, hingga dia bertemu seorang wanita cantik yang menurutnya tipe idaman ibunya sekali.
Akankah perjuangan Andrian membuahkan hasil untuk mendapatkan hati Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
Sepanjang dalam perjalanan menuju rumah sakit, Adrian terus berusaha memastikan keadaan Karina baik-baik saja. Begitu sampai di rumah sakit, Adrian langsung membawa Karina ke IGD untuk mendapatkan perawatan pertama.
"Om?"
"It's oke. Kamu akan baik-baik saja." ujar Adrian ketika Karina menahan dirinya agar tidak pergi.
"Saya pergi ke administrasi sebentar oke." ucap Adrian dengan lembut pada Karina yang sudah mendapatkan perawatan dan sebentar lagi setelah dia menyelesaikan administrasinya, gadis cantik itu bisa di pindahkan ke ruangan rawat inap.
Karena masih terlalu lemas, Karina membiarkan laki-laki itu pergi meninggalkannya. Sedangkan Adrian langsung kembali ke ruangan Karina sebelum gadis cantiknya di pindahkan ke ruangan.
"Sudah lebih nyaman?" tanya Adrian memastikan keadaan Karina.
"Heem..." jawabnya lembut.
"Minum dulu. Kamu dehidrasi, dan kurang istirahat. Untuk beberapa hari kamu harus di rawat sampai benar-benar sehat."
"Akh baik-baik aja, Om. Aku harus buka toko karena anak-anak gajinya dari sana dan-"
"Jangan bilang ini soal mama kamu lagi, Karina!." potong Adrian yang mulai menyadari beban Karina.
Mendengar penuturan Adrian membuat Karina terkejut. Bagaimana bisa laki-laki ini tau tentang mamanya? Apa dia pernah bercerita tentang mamanya? Tapi seingat Karina tidak.
Yang terjadi sebenarnya Karina tidak sadar saat mengatakan hal itu. Karena ketika dia mengatakan hal itu, badannya terlalu panas hingga membuatnya tanpa sadar mengatakan hal itu pada Adrian.
Ponsel Karina berdering dan itu panggilan masuk dari mamanya. "Siapa?" tanga Adrian saat menyadari tatapan Karina.
"Om, mau apa?" tanya Karina panik melihat Adrian merebut ponselnya begitu saja.
"Biar saya yang bicara dengan mama kamu!"
"Om, siniin hp aku, Om." pinta Karina mencegah Adrian untuk tidak bicara dengan mamanya.
"Halo Karina, kamu dimana? kenapa toko tutup? Kalau toko tutup gimana kamu bisa kasih mama uang untuk arisan?" mendengar apa yang wanita itu katakan membuat rahang Adrian mengetat sempurna.
Bagaimana bisa ada seorang ibu yang tidak mengkhawatirkan keadaan putrinya yang sedang di rawat dirumah sakit?
"Halo, Karina?"
"Apa ada yang ingin anda bicarakan lagi?" mamanya terkejut saat mendengar suara laki-laki yang menjawab panggilan telepon darinya.
"Kamu siapa? dimana Karina?"
"Katakan berapa yang anda inginkan, saya akan membayarnya!" ucap Adrian menahan kesalnya.
"Apa maksudnya hah?" tanya mama Karina tidak terima.
"Katakan saja berapa banyak uang yang anda inginkan agar Karina bisa beristirahat dengan tenang? Saat ini putri anda sedang di rawat di rumah sakit dan anda tidak menanyakan keadaannya sama sekali. Bahkan dengan tidak tahu malunya anda meminta uang pada anak anda yang sedang sakit? Dimana hati nurani anda sebagai seorang ibu?" cibir Adrian.
Sedangkan Karina sendiri terus berusaha meminta ponselnya pada Adrian yang masih bicara dengan mamanya.
"Om, siniin hpnya. Biar aku yang ngomong sama mama." pinta Karina dengan kondisi yang masih lemas.
"Siapa kamu? Berani-beraninya bicara seperti itu pada saya. Lagi pula Karina itu anak saya dan sudah seharusnya dia membalas Budi pada orang tuanya bukan?" semakin kesini Adrian semakin kesal di buat wanita itu.
Adrian tidak peduli, tanpa izin dari Karina dia membongkar isi ponsel gadis itu untuk mencari tau nomor rekening mamanya.
"Om, om mau apa?" tanya Karina panik.
"Membayar itu kamu agar dia membiarkan kamu istirahat!" jawab Adrian tanpa beban sedikitpun.
"Om, jangan. Biar aku aja yang ngomong sama mama." Adrian sama sekali tidak peduli, sampai dia menemukan sebuah nomor yang dia yakini itu adalah nomor mama Karina.
"Apa ini?" tanya Adrian pada Karina yang tidak menjawabnya.
Diamnya Karina sudah menjadi jawaban untuknya, membuat Adrian langsung mengirimkan sejumlah uang yang dia pikir cukup untuk wanita itu.
"Saya sudah membayarnya, dan jangan ganggu Karina untuk seminggu kedepan!" ucap Adrian yang kembali menghubungi wanita itu, lalu memutuskan sambungan telepon mereka begitu saja tanpa menunggu lagi.
"Om apa-apaan sih, seenaknya aja!" gerutu Karina.
"Saya hanya membayar ibu kamu agar dia bisa membiarkan kamu istirahat selama seminggu Karina dan saya rasa 50 juta cukup untuk membuat ibu kamu yang tidak tau diri itu." jawab Adrian seenaknya membuat Karina benar-benar tidak bicara lagi di buatnya.
"Terserah om aja deh. Aku mau tidur!" pungkas Karina yang tidak ingin berdebat lagi dengan Adrian.
Mendebat laki-laki itu percuma dan tidak akan pernah menang bukan?
"Karina, jangan marah. Saya hanya ingin kamu istirahat saja. Dokter bilang kamu kelelahan, dan kamu-"
"Iya deh iya. Aku istirahat dan om boleh keluar!"
"Kamu mengusir saya?" tanya Adrian tidak percaya ketika Karina mengusir dirinya.
"Kan kata om aku harus istirahat kan? Yaudah, keluar aja biar aku istirahat!" ucapnya yang membuat Adrian hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
"Yasudah, hubungi saya jika butuh sesuatu oke?" ujar Adrian sebelum pergi.
"Karina?"
"Om, plis! Jangan kayak gini! Aku bisa urus diri aku sendiri! Aku gak mau jadi beban buat orang lain!" sentak Karina membuat Adrian terengah.
"Kamu bukan beban bagi saya, Karina." ucap Adrian dengan lembut. Berharap Karina bisa mengerti.
"Om, tolong tinggalin aku sendiri."
"Tapi, Karina -"
"Om, tolong. Aku mohon tinggalin aku sendirian." ucap Karina lagi membuat Adrian akhirnya mengalah dan membiarkan gadis itu sendirian.
***
belajar memangil mas jan om