Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Kamar tidur Paris Desmon malam itu terasa lebih sempit dari biasanya. Di bawah temaram lampu meja, Paris meringkuk di atas tempat tidur, menatap kantong plastik kecil dari apotek yang ia letakkan di sudut nakas seolah benda itu adalah zat beracun.
Pikirannya berkecamuk. Ia terus memutar ulang kejadian di apartemen Kay tadi malam. Wajah Luciano yang gelisah, keringat tipis di pelipis kekasihnya itu, dan cara Luciano mengunci pintu kamar seolah-olah mereka sedang merencanakan sesuatu yang terlarang.
Kenapa Luciano terlihat sangat tertekan? batin Paris.
Ia mencintai Luciano. Ia mengagumi kecerdasan dan ketenangan pria itu. Namun, malam tadi, Luciano tampak seperti orang asing yang kehilangan arah. Kegelisahan Luciano terasa menular, membuat Paris merasa ada sesuatu yang dipaksakan dalam hubungan mereka. Apakah Luciano merasa terbebani dengan status backstreet ini? Ataukah tekanan dari keluarganya sudah mencapai puncaknya?
Lalu, bayangan itu muncul. Kay.
Paris mengepalkan tangannya saat mengingat wajah ketus Michael Brown di dalam mobil sport-nya. Cara Kay melempar pil pencegah kehamilan itu benar-benar penghinaan paling rendah yang pernah ia terima.
"Dia pikir aku ini apa?" bisik Paris pada kegelapan kamarnya. "Dia pikir Luciano sejahat itu? Si mulut pedas itu benar-benar tidak punya hati."
Paris merasa merinding membayangkan betapa rusaknya pikiran Kay. Di mata Paris, Kay adalah personifikasi dari gaya hidup hedonis New York yang busuk—yang menganggap setiap pertemuan antara laki-laki dan perempuan di ruang tertutup harus berakhir dengan tidur bersama. Ia merasa mual karena Kay telah mencemari hubungan sucinya dengan Luciano dengan prasangka yang begitu kotor.
"Dia tidak tahu apa-apa tentang kita, Lucian," gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Luciano tetaplah "pangeran" yang ia kenal.
Di tempat lain, di dalam kamar tidurnya yang serba putih di Upper East Side, Luciano Russo sedang duduk di lantai, bersandar pada kaki ranjangnya yang megah. Ruangan itu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang seirama dengan denyut kepalanya yang berdenyut kencang.
Luciano merasa seperti orang bodoh. Benar-benar bodoh.
Seorang jenius matematika yang mampu menyelesaikan persamaan paling kompleks dalam hitungan detik, ternyata tidak mampu memecahkan kode sederhana tentang keintiman. Di dalam kamar tamu apartemen Kay tadi, ia merasa lumpuh.
Untuk memulai sebuah ciuman saja aku tidak berani, batin Luciano pahit.
Ia teringat betapa tangannya gemetar saat mencoba menyentuh Paris. Ia teringat betapa tenggorokannya kering saat ia ingin mengajak Paris melangkah lebih jauh sesuai instruksi Max. Luciano menatap tangannya sendiri. Tidak ada hasrat yang menggebu. Tidak ada gairah yang membakar seperti yang selalu dideskripsikan Max dengan begitu liar.
Yang ia rasakan hanyalah ketakutan akan kegagalan. Ia takut jika ia menyentuh Paris, ia akan merusak variabel yang selama ini membuatnya merasa "aman".
"Bagaimana mungkin aku akan meniduri Paris?" Luciano mengacak rambutnya dengan frustrasi. "Oh, shit. Lagi-lagi aku merasa seperti orang bodoh."
Ia menyadari kebenaran dari kata-kata Paris semalam. Umur tujuh belas tahun memang terlalu dini untuk terjun ke dalam labirin nafsu yang bahkan belum ia pahami definisinya. Paris benar. Mereka harus fokus pada ujian. Mereka harus fokus pada masa depan.
Namun, di balik itu, Luciano merasa terjebak dalam kebohongannya sendiri. Ia sudah terlanjur membual di depan Max dan Kay. Ia sudah terlanjur menciptakan imej bahwa ia telah menaklukkan segalanya. Sekarang, ia harus menanggung beban dari sebuah kemenangan fiktif yang tidak pernah ia raih.
Luciano berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap Central Park. Ia melihat lampu-lampu kota yang seolah mengejek kekalahannya malam ini.
Eksperimen ini mulai berubah menjadi bumerang. Ia mendekati Paris untuk mencari tahu tentang jati diri dan emosi, namun yang ia temukan justru cermin yang menunjukkan betapa pengecutnya dia. Paris adalah satu-satunya orang yang tulus di sekelilingnya, namun ia justru menjadikan gadis itu sebagai bahan taruhan mental dengan dua sahabatnya.
Apa yang sedang kulakukan pada hidupku? Luciano bertanya pada pantulannya di kaca.
Ia merasa iri pada Kay. Kay mungkin bermulut pedas dan kasar, tapi setidaknya Kay jujur dengan ketidaksukaannya. Sedangkan dirinya? Ia bersembunyi di balik topeng kecerdasan dan kata-kata manis, sementara di dalamnya ia hanyalah remaja yang kebingungan mencari pegangan.
Luciano merogoh ponselnya. Ia ingin mengirim pesan pada Paris, meminta maaf atas kegelisahannya tadi malam. Namun, jarinya ragu. Jika ia terlalu lembut, Max akan mencium kelemahannya. Jika ia terlalu dingin, ia takut Paris akan menjauh.
"Aku butuh waktu," gumam Luciano.
Ia memutuskan untuk mengikuti saran Paris: fokus pada ujian dan olimpiade selanjutnya. Mungkin dengan menjauhkan diri dari desakan liar Max, ia bisa menemukan kembali logikanya yang hilang. Ia harus berhenti mencoba menjadi orang lain. Ia harus berhenti mencoba menjadi "laki-laki sejati" versi Max yang menjijikkan.
Malam itu, Luciano tidur dengan perasaan hampa yang lebih berat dari biasanya. Di satu sisi Manhattan, seorang gadis pendiam tetap mencintainya dengan segala kesuciannya.
Di sisi lain, sang jenius mulai menyadari bahwa beberapa hal dalam hidup ini tidak bisa diselesaikan dengan rumus matematika—terutama jika variabelnya melibatkan hati yang tulus.
Dan di tengah-tengah mereka, kebohongan yang telah Luciano tanam mulai tumbuh menjadi duri yang siap melukai siapa pun yang mencoba mendekat.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍