Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Amara daripada duduk sendirian di meja makan marmer yang luas, menatap kosong piring-piring yang berisi makanan dingin. Di luar, lampu-lampu kota memantulkan cahaya lembut melalui jendela besar, tapi di dalam hati Amara, semuanya terasa gelap. Hari ulang tahun pernikahan mereka yang keenam—seharusnya menjadi momen bahagia—hancur berkeping-keping.
Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Foto-foto itu membuat dadanya serasa diremas. Tobias, suaminya, terlihat begitu dekat dengan wanita lain. Senyum hangat itu, pelukan lembut itu, semuanya untuk wanita yang bukan dirinya. Selama enam tahun menikah, Tobias selalu dingin, selalu menjaga jarak. Sekarang, wajahnya yang selalu datar itu tersenyum penuh cinta pada orang lain.
Amara menatap layar, merasakan sesuatu di dalam dirinya retak. Ia tahu sejak awal, pernikahan mereka hanyalah kontrak—perjanjian bisnis yang menyamar sebagai cinta. Namun, pernahkah ia mengira rasa sakit akan datang secepat ini?
Dan wanita itu… Celestine. Satu-satunya cinta sejati Tobias.
Pesan masuk dari nomor tak dikenal membuat jantung Amara berhenti sebentar.
Bagaimana rasanya ditinggalkan sendirian di hari ulang tahun pernikahanmu?
Amara mengetatkan genggaman ponselnya. Nada congkak dan sinis itu terlalu familiar. Celestine selalu tahu cara menyakiti, selalu tahu cara membuat Amara merasa tidak berharga. Pesan demi pesan datang, mengancam posisinya sebagai Nyonya Larsen.
“Beraninya dia…” Amara berbisik pelan, matanya menyipit. Semua pengorbanannya, semua kesetiaannya—seolah tidak pernah ada artinya.
Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam, dan mengetik pesan singkat kepada Tobias. Hatinya bergetar saat menekan “kirim.” Ia ingin bicara. Ia ingin mencari jawaban. Ia ingin menyelamatkan pernikahan ini.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbanting terbuka. Tobias berdiri di ambang pintu, wajahnya dipenuhi kemarahan. Tanpa sepatah kata, ia melangkah mendekat.
Amara ingin menahan diri, ingin tetap tegar. Tapi melihat Tobias di depannya, melihat ketegasan yang selalu membuatnya terpukau, ia merasa rapuh. Kata-kata pun menghilang, tergantikan oleh rasa campur aduk—marah, terluka, tapi juga… rindu.
Tobias menatapnya dengan mata yang sulit ia pahami. Amara bisa merasakan ketegangan di udara, gelombang emosi yang membingungkan. Hatinya berkata untuk menolak, namun tubuhnya seakan tak bisa menahan magnet yang selalu menariknya pada pria itu.
Setelah beberapa saat yang terasa abadi, Tobias akhirnya berbicara—suara datar, dingin, tanpa kehangatan:
“Kita tidak perlu melanjutkan sandiwara pernikahan ini lagi, Amara. Ayo bercerai.”
Amara menatapnya, mulutnya kaku. Kata-kata itu seperti pisau, menusuk perlahan ke hatinya yang sudah rapuh. Dunia di sekitarnya terasa hening.
Di luar, lampu kota masih memantul lembut di kaca. Tapi di dalam hati Amara, tidak ada cahaya sama sekali.
Ia menyadari, meskipun tubuh mereka pernah dekat, meskipun Tobias pernah membuatnya merasa hidup, kenyataan tetaplah kenyataan: cinta sejati Tobias tidak pernah menjadi miliknya. Dan pernikahan yang ia pertahankan dengan penuh pengorbanan, kini akan runtuh di depan matanya sendiri.
Keheningan di antara mereka terasa mencekik, seperti tali yang perlahan menarik oksigen dari paru-paru Amara. Suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti hantaman palu di telinga.
“Apa?”
Akhirnya, Amara berhasil memecah kesunyian itu. Suaranya serak, nyaris tak terdengar, membawa harapan rapuh bahwa telinganya baru saja mengkhianatinya. Namun, tatapan pria di depannya menghancurkan harapan itu berkeping-keping.
“Kau tidak salah dengar,” jawab Tobias. Suaranya datar, sedingin es yang membeku di puncak gunung tertinggi. “Sekarang, setelah Kakek tiada, aku rasa sudah waktunya kita bercerai.”
Napas Amara tercekat. Air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh begitu saja, membasahi pipinya yang pucat. Ironis. Amara-lah yang pertama kali melemparkan kata 'cerai' dalam pesan singkat tempo hari, lengkap dengan gertakan mengenai pembagian harta warisan mendiang Gustavo. Ia hanya ingin memancing reaksi Tobias, ingin pria itu menoleh padanya, ingin memperbaiki retakan dalam pernikahan mereka.
Namun, umpan itu justru menjadi senjata makan tuan. Tobias datang bukan untuk memohon maaf, melainkan untuk mengakhiri segalanya.
“Kau… ingin bercerai?” Bibir Amara gemetar hebat. “Lalu kenapa kau masih… tidur denganku tadi?”
Pertanyaan itu pecah di udara, meninggalkan rasa getir yang menyesakkan. Amara menunduk, mencium samar aroma tubuh mereka yang masih tertinggal di seprai sutra di bawahnya. Tubuhnya masih lemas, sisa-sisa gairah yang baru saja mereka lalui masih berdenyut di nadinya. Bagaimana bisa seorang pria bercinta dengan begitu intens, lalu membuang pasangannya beberapa menit kemudian seolah ia hanyalah sampah?
“Itu hanya seks,” ujar Tobias tanpa beban sembari mengancingkan kemejanya. “Lagipula, bukankah itu yang kau mau? Kau menikmatinya. Tapi bagiku, itu cuma cara untuk menyampaikan kebenaran. Meski tubuhku sudah terbiasa denganmu selama enam tahun ini, bukan berarti aku mencintaimu.”
Setiap kata yang keluar dari bibir Tobias terasa seperti belati yang diputar di jantung Amara.
“Jangan bersikap seolah kau korban, Amara!” Tobias membentak, suaranya menggelegar di kamar yang luas itu. “Kau tahu kenapa kita menikah! Kau menyelamatkan kakekku, lalu memanfaatkan momen itu untuk mengancamnya agar dia memaksaku menikahimu!”
“Tidak, Tobias!” Amara menggeleng keras. “Aku mencintaimu! Aku tidak pernah mengancam siapa pun!”
“Cukup!” Tobias memotong kasar. Ia mengeluarkan sebuah kartu hitam dan melemparkannya ke atas ranjang, tepat di depan wajah Amara. “Ambil ini. Lima puluh juta. Cukup untuk menghidupi beberapa generasi. Tanda tangani dokumen cerainya besok, tanpa drama. Atau kau akan tahu seberapa kejam aku bisa bertindak.”
Tanpa menoleh sedikit pun, pria itu melangkah keluar, meninggalkan Amara dalam kehancuran yang total.
Transformasi Sang Pewaris
Hujan badai mengguyur London malam itu, seolah langit turut meratapi nasib Amara Crawford. Ya, Crawford. Nama yang selama enam tahun ini ia sembunyikan rapat-rapat demi menjadi istri yang penurut bagi Tobias Larsen.
Di bawah guyuran hujan di depan gerbang kediaman Larsen, sebuah payung hitam besar tiba-tiba menaunginya. Seorang pria paruh baya dengan setelan pelayan yang sangat rapi berdiri di sana.
“Nyonya Crawford,” suara Xavier terdengar tenang namun penuh otoritas. Ia menyampirkan mantel kasmir tebal ke bahu Amara yang menggigil. “Batas waktu Anda hampir habis. Sang Master menunggu Anda kembali untuk mengambil alih takhta yang sah.”
Amara menyeka air matanya. Kesedihan di matanya perlahan memudar, digantikan oleh kilatan dingin yang tajam. “Sudah waktunya pulang, Xavier.”
Di dalam mobil GMC Yukon yang mewah, Amara menerima panggilan dari kakeknya, sang penguasa bisnis global, Elvis Crawford.
“Apakah kamu sudah selesai bermain rumah-rumahan, Amara?” Suara berat Elvis terdengar dari seberang telepon.
“Ya, Kakek. Aku akan kembali,” jawab Amara tegas. Tidak ada lagi getaran di suaranya. “Tapi beri aku waktu satu tahun. Aku akan memimpin cabang London dan meningkatkan keuntungan tiga puluh persen sebagai bukti aku layak mewarisi namamu.”
“Tiga puluh persen? Itu tiga miliar dolar, Amara.”
“Aku tahu. Dan aku akan melakukannya tanpa bantuan pernikahan mana pun.”
“Baiklah,” Elvis terkekeh rendah. “Tunjukkan pada bajingan Larsen itu apa yang telah dia buang.”
Amara menutup teleponnya dan menatap lurus ke depan. “Xavier, persiapkan akuisisi perusahaan kosmetik Melanie Woods. Pastikan kita bergerak lebih cepat dari Larsen Group. Aku ingin Tobias tahu, bahwa mulai saat ini, aku adalah predatornya.”
Malam Pembalasan
Beberapa hari kemudian, klub malam paling eksklusif di London menjadi saksi lahirnya kembali Amara Crawford.
Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya yang mengenakan gaun kulit hitam ketat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut cokelatnya dikuncir kuda tinggi, menonjolkan leher jenjang dan tatapan matanya yang mematikan.
“Kau tampak seperti dewi, Mara!” seru Melanie, sahabatnya, sambil menyodorkan segelas wiski. “Mari kita rayakan kebebasanmu!”
Amara meneguk minumannya dalam sekali teguk. Ia berdansa, tertawa, dan menjadi pusat perhatian seluruh ruangan. Ia tidak lagi peduli pada bayang-bayang Tobias.
Namun, pintu klub terbuka. Tobias Larsen melangkah masuk dengan gaya angkuhnya, sementara Celestine—wanita yang selama ini menjadi duri dalam pernikahan Amara—menggelayut manja di lengannya.
Langkah Tobias mendadak kaku. Matanya menyipit, menatap ke tengah lantai dansa di mana seorang wanita tampak begitu bersinar, begitu liar, dan begitu… asing.
Jantung Tobias berdegup kencang secara tidak wajar. Wanita itu adalah Amara. Istrinya—atau calon mantan istrinya—yang biasanya hanya memakai daster rumahan dan menunggunya dengan meja makan penuh hidangan.
Kini, Amara menoleh ke arahnya. Bukannya tatapan memohon atau air mata, Amara justru memberikan senyuman tipis yang penuh penghinaan sebelum kembali berputar mengikuti irama musik, seolah Tobias hanyalah debu di bawah sepatunya.
Perang baru saja dimulai.