NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."

Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.

Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.

Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.

Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#12

Jika ada penghargaan jenderal muda yang disegani dikota ini, sudah tentu nama Adriel voss akan keluar sebagai pemenang tanpa perlu mengikuti voting. Dengan tinggi 180 cm, dada bidang dan bahu yang tegap membuatnya tampak 2x lipat lebih besar dari orang-orang yang berjalan di sekitarnya.

Adriel baru selesai menjalani pelatihan bersama para anggotanya, jas yang menjadi kebanggaan nya ia lepas dan ia sampirkan di pundak, menyisakan kaos hitam polos yang mencetak otot-otot yang selama ini terbentuk dengan latihan yang keras. Sifat dan kekuatan yang diturunkan ayahnya membuat ia selalu terampil dan disiplin hingga ditakuti musuh- musuhnya sementara wajah yang diturunkan ibunya, membuat ia menjadi primadona dikalangan para wanita.

Dua sahabatnya yang sekaligus adalah anak buahnya, Daniel dan Rangga menghampiri dengan nafas terengah-engah, seperti mereka habis dikejar- kejar oleh orang gila.

"Adriel." Panggil Daniel dengan raut wajah yang tampak menyimpan kekhawatiran. Sementara adriel tidak menoleh, tangannya sibuk mengalirkan air dari kran yang tubuhnya yang kotor, bekas latihan tadi sementara setelah ini ia akan menghadiri rapat dengan jenderal lain. Sebuah rapat penting.

"Tuan Grayson Voss. Ayahmu! dia sekarang ada do camp, ingin bertemu dengan mu! "

Mendengar nama itu di sebut, Adriel sontak menghentikan gerakan tangannya, matanya memancarkan sesuatu yang lain, sebuah dendam yang dulu sempat padam, tapi kini kembali membara.

Adriel tidak langsung menjawab.

Ia masih berdiri di depan kran itu, air mengalir membasahi tangannya tapi tidak lagi digosok. Matanya menatap kosong ke depan, rahangnya mengeras pelan-pelan seperti seseorang yang sedang menyiapkan diri untuk sesuatu yang tidak ia inginkan tapi tidak bisa dihindari.

Daniel dan Rangga saling melempar pandang.

"Adriel." Rangga mencoba lagi, lebih hati-hati. "Dia bilang kalau kamu tidak keluar, dia yang akan masuk ke sini."

Adriel mematikan krannya.

Mengambil handuk kecil di sebelahnya, mengelap tangan, lalu memakai jas dinasnya kembali ke badan atletis nya dengan gerakan yang terlalu terkontrol untuk situasi yang jelas tidak terkontrol.

"Di mana dia sekarang?"

"Pintu depan camp." jawab Rangga. Mereka bertiga sudah berteman sejak di akademik militer, bahkan orang tua mereka saling berteman baik, itu sebabnya bagi Rangga dan Daniel yang mengerti betul kondisi keluarga Adriel merasa sangat khawatir dengan Adriel saat ini, karena sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah seorang Grayson voss datang sendiri ke kantor putranya ini kecuali ada sesuatu yang tidak beres dan emergency.

Adriel berjalan tanpa bilang apa-apa lagi.

Daniel dan Rangga lantas mengikuti dari belakang dengan langkah yang sedikit lebih lambat, jarak yang cukup untuk menunjukkan mereka ikut, tapi tidak cukup dekat untuk ikut terseret ke dalam apapun yang akan terjadi selanjutnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu Grayson Voss berdiri di depan pintu masuk camp dengan tangan di belakang punggung dan wajah yang tidak kenal kompromi.

Usianya mungkin sudah lewat enam puluh tapi posturnya tidak mengkhianati itu. Ia masih tetap tegap, masih lebar, masih memancarkan aura laki-laki yang terbiasa dipatuhi tanpa perlu meminta dua kali. Rambutnya sudah memutih semua tapi matanya masih tajam, mata yang sama persis dengan yang Adriel lihat setiap kali bercermin, hanya saja versi yang jauh lebih dingin dan tidak punya sisa kemanusiaan yang sama.

Beberapa anggota yang lewat langsung mempercepat langkah mereka begitu melihat laki-laki itu berdiri di sana.

Adriel berhenti dua meter di depannya.

Keduanya bertatapan.

"Kau terlambat." Suara Grayson datar.

"Saya sedang latihan."

"Saya tidak peduli."

Adriel tidak menjawab. Matanya tidak bergeser dari wajah ayahnya.

"Kita bicara di dalam." Grayson sudah melangkah masuk sebelum menunggu jawaban, karena ia tidak terbiasa menunggu jawaban dari siapapun termasuk anaknya sendiri.

Daniel menyentuh lengan Adriel pelan dari belakang. "Kau baik-baik saja? apa perlu kita temani? "

"Pergi." Adriel mengucapkannya tanpa menoleh. "Kalian tidak perlu lagi ada di sini."

*****

Ruangan kecil di sayap kiri camp itu sepi.

Grayson voss berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan masih di belakang punggung, memandangi Adriel yang menutup pintu dan berbalik menghadapnya.

"Jelaskan," ujar Grayson. Singkat, padat dan to the point.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan."

"Kau menikah tanpa izinku."

"Saya sudah cukup umur untuk tidak membutuhkan izin siapapun."

Rahang Grayson bergerak. "Jangan kurang ajar kau! saat ini kau sedang bicara dengan ayahmu! "

"Saya bicara dengan seseorang yang datang ke tempat kerja saya tanpa pemberitahuan dan menginterupsi jadwal latihan puluhan anggota." Adriel menatap ayahnya langsung. "Itu yang saya tanggapi."

Grayson melangkah mendekat.

Adriel tidak mundur.

"Siapa perempuan itu." Suara Grayson turun satu nada, jenis suara yang dulu waktu kecil selalu berhasil membuat Adriel berhenti bernapas sebentar. "Anak pungut Hartawan. Kau menikahi anak pungut?! "

"Itu pilihan saya."

"Pilihan kamu." Grayson mengulang kalimat itu dengan nada yang mengandung sesuatu antara muak dan tidak percaya. "Kau pikir nama Voss itu bisa kau bawa ke mana saja dan kau sandingkan dengan siapa saja seenaknya? Kau pikir darah yang mengalir di tubuhmu itu tidak punya harga?"

"Saya tidak pernah meminta dilahirkan dengan nama itu."

Plak!

Tamparan itu mendarat di pipi kiri Adriel sebelum kalimat terakhirnya selesai bergema di ruangan itu.

Kepala Adriel terdorong ke samping.

Ia tidak jatuh. Tidak mundur. Hanya berdiri di tempat yang sama dengan kepala yang baru kembali ke posisi semula, menatap ayahnya dengan tatapan yang tidak berubah sejak tadi, tidak marah yang meledak, tidak juga hancur.

Kosong.

Jenis kosong yang terbentuk bukan karena tidak ada rasa tapi karena rasanya sudah terlalu sering dialami sampai tubuh belajar untuk tidak bereaksi lagi.

Lantas melihat putranya hanya bergeming saja membuat Grayson kembali naik pitam, ia kembali menampar putranya itu, kiri dan kanan, secara bergantian.

Dulu tamparan seperti ini dijadikan Grayson sebagai sebuah latihan agar anak tumbuh dengan mental kuat tanpa ia sadari justru itu menanam trauma dan kebencian yang pelan- pelan menjadi dendam di hati Adriel yang kini mengeras.

Sementara Adriel masih bergeming, tidak tergoyahkan sama sekali.

Setelah puas melampiaskan kemarahannya, tubuh Grayson voss kembali tegak, menatap putranya dengan tajam.

"Bawa perempuan itu ke hadapanku minggu depan." Grayson merapikan mansetnya dengan gerakan yang rapi seperti tidak terjadi apapun. "Saya ingin melihat sendiri apa yang kau pilih. Dan kalau saya tidak suka dengan apa yang saya lihat, kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."

Ia kemudian berjalan ke pintu.

"Nama Voss tidak boleh ternoda, Adriel. Itu satu-satunya hal yang perlu kau ingat."

Pintu terbuka dan tertutup.

Adriel berdiri sendirian di ruangan itu.

Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, pelan, lalu dilepas lagi. Ia mengangkat satu tangan, menyentuh pipi dan rahangnya yang sudah mulai terasa hangat dengan cara yang tidak biasa.

Di luar, suara camp kembali ramai seperti biasa.

Seolah tidak ada yang terjadi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Disisi lain, Violet masih berada di kamarnya, perutnya mulai berbunyi.

Ia akhirnya bangkit dan berjalan ke meja kecil dekat jendela, matanya menatap nampan berisi sarapan itu sementara jam sudah menunjukkan pukul sebelas.

Dari dekat, sarapan itu keliatan lebih rapi dari yang ia kira untuk sesuatu yang dibuat oleh laki-laki yang hidupnya lebih banyak di lapangan daripada di dapur. Telurnya tidak gosong, nasinya matang dengan warnanya yang merata. Supnya bening dan terlihat menggugah selera.

Sederhana. Tapi entah kenapa terasa seperti ada sesuatu di baliknya.

Waktu Violet hendak mengambil sendok, matanya menangkap sesuatu.

Di bawah piring buah, ternyata ada sebuah kertas kecil yang terlipat. Seperti sobekan dari sudut buku catatan.

Rasa penasaran yang menyerbu nya membuat ia akhirnya mengambil kertas itu lalu kemudian membukanya.

Ketika dibuka isi tulisannya begitu rapi, tegak tapi tidak kaku. Huruf-hurufnya kecil tapi tampak jelas.

(Malam tadi saya tidak seharusnya melakukan itu. Saya minta maaf. Sarapan ini bukan untuk membeli maaf, tapi karena saya tidak tahu cara lain untuk memulai hari ini. Makan yang cukup.)

Tidak ada nama, tapi memang tidak perlu karena tak diberitahu pun ia tahu siapa yang menulis nya.

Violet membaca kalimat itu lagi sampai tiga kali.

Lantas ia duduk di kursi dekat jendela, kertas kecil itu masih di tangannya, lalu ia menatap jalanan di luar yang sudah mulai ramai.

Jadi begini rupanya Adriel Voss yang asli.

Laki-laki yang beritanya selalu hitam pekat, yang namanya yang membuat orang menunduk, yang wajahnya tidak pernah keliatan punya ekspresi lain selain dingin, ternyata bisa menulis kalimat seperti itu. Di atas sobekan kertas biasa. Dengan tulisan tangan yang rapi.

Violet kemudian melipat kertas itu pelan-pelan, lalu menyimpan nya di laci meja rias.

Setelah melakukannya, ia berbalik ke meja, mengambil sendok, dan mulai memakan sup beningnya yang masih sedikit hangat.

Sendirian di kamarnya, dengan jendela terbuka dan angin pagi yang menyusup pelan, Violet menikmati sarapannya yang rasanya biasa saja, tapi terasa tidak biasa sama sekali. Karena kini pipinya memancarkan semburat kemerahan tanpa ia sadari.

****

BERSAMBUNG

1
Arai Cadella
Aku tinggalkan jejak. Aku suka pemilihan kata-katanya, sederhana namun sampai.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!