NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18: Memulai dari Nol

Matahari pagi di kediaman Setiawan terasa berbeda. Sinarnya yang menembus jendela kaca setinggi plafon seolah-olah dipoles oleh kemewahan, namun bagi Nara, cahaya itu tetap terasa dingin. Setelah badai yang dibawa Vanya mereda, atmosfer di mansion tersebut berubah menjadi sebuah "gencatan senjata" yang sunyi.

Nara menjalankan rutinitasnya dengan ketelitian seorang perawat profesional. Pukul enam pagi, ia sudah berada di kamar Tuan Surya. Dengan tangan yang stabil, ia membantu mertuanya meminum obat, mengganti kompres, dan membacakan berita pagi dengan suara lembut yang menenangkan.

Tuan Surya menatap menantunya itu dengan binar haru.

"Nara, kamu tidak perlu melakukan semua ini. Ada banyak perawat yang bisa disewa Danu."

Nara tersenyum tipis, sebuah senyum yang hanya mencapai bibir, tidak sampai ke mata.

"Merawat Ayah adalah cara saya merasa berguna di rumah ini, Pa. Lagipula, saya sudah terbiasa merawat Ayah saya sendiri."

Di ambang pintu, Danu berdiri diam. Ia memperhatikan interaksi itu. Ada rasa iri yang aneh menyelinap di hatinya iri melihat betapa mudahnya Nara memberikan ketulusan kepada ayahnya, sementara kepadanya, Nara hanya memberikan dinding es yang tebal.

Sarapan pagi itu hanya dihadiri oleh Danu dan Nara. Denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik di ruangan itu.

Danu sesekali melirik Nara yang tampak rapi, mengenakan gamis berwarna pastel dan kerudung yang disampirkan dengan anggun.

"Papa bilang kondisinya jauh lebih baik berkat kamu," Danu membuka suara, memecah keheningan yang mulai terasa mencekik.

Nara meletakkan garpunya. Ia menatap Danu lurus-urus. "Kondisi Papa memang stabil, tapi beliau tetap butuh pengawasan ketat. Jadwal obatnya tidak boleh meleset satu menit pun."

Danu mengangguk. "Aku tahu. Terima kasih."

Nara menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang sudah ia tumpuk sejak semalam.

"Ada satu hal yang ingin saya bicarakan, Pak Danu. Ini terkait poin ketiga dalam kontrak kita."

Danu menghentikan kunyahannya.

Matanya menyipit. "Kebebasan pribadi?"

"Saya ingin kembali bekerja," ucap Nara tegas. "Saya sudah menghubungi bimbingan belajar tempat saya mengajar dulu. Mereka masih membutuhkan tenaga pengajar untuk kelas sore.

Saya tidak bisa terus-menerus mengurung diri di rumah ini. Saya merindukan murid-murid saya... dan saya merindukan jati diri saya yang bukan sekadar 'pajangan' di mansion ini."

Danu bersandar di kursinya, melipat tangan di dada. Secara refleks, mode "negosiator bisnis"-nya muncul.

"Kamu tahu risikonya, Nara? Di luar sana, wartawan masih mencari tahu siapa istri Danu Setiawan. Jika kamu terlihat mengajar di bimbingan belajar kecil di pinggiran kota, itu akan menimbulkan spekulasi. Citra keluarga Setiawan bisa terganggu."

"Citra?" Nara tertawa getir.

"Apakah citra lebih penting daripada kewarasan saya? Saya di sini karena terpaksa, tapi saya tidak mau mati perlahan karena kehilangan profesi yang saya cintai. Saya guru, Pak Danu. Itulah satu-satunya hal yang membuat saya merasa masih memiliki martabat."

Danu menatap mata Nara yang berkilat penuh tekad. Ia teringat bagaimana Nara berdiri di depannya saat Vanya datang menghina. Wanita ini tidak butuh perlindungan fisik, dia butuh ruang untuk bernapas.

"Bagaimana dengan Papa?" tanya Danu, nada suaranya sedikit melunak. "Hanya kamu yang bisa membuatnya patuh minum obat. Perawat lain selalu dia usir."

"Saya sudah mengatur jadwal," jawab Nara cepat, seolah sudah menyiapkan presentasi. "Saya akan berangkat pukul dua siang setelah Papa makan siang dan tidur siang. Saya akan kembali sebelum jam tujuh malam untuk menyiapkan makan malam dan obat malamnya. Selama saya pergi, Andra bisa berjaga di depan pintu kamar Papa."

Danu terdiam cukup lama. Ia melihat Nara yang menunggu jawabannya dengan raut wajah yang siap untuk berperang jika ditolak.

"Baik," ucap Danu akhirnya. "Aku izinkan. Tapi ada syaratnya."

Nara mengernyit. "Syarat apa lagi?"

"Kamu tidak boleh naik angkutan umum. Supir mansion akan mengantarmu dan menjemputmu tepat waktu. Dan... kamu harus membawa ponsel yang aku berikan. Aku harus bisa menghubungimu kapan saja jika terjadi sesuatu pada Papa."

Nara sebenarnya keberatan dengan pengawalan itu, namun ia tahu ini adalah kompromi terbaik yang bisa ia dapatkan.

"Setuju. Asal Supir itu tidak masuk ke dalam area tempat saya mengajar."

Pukul dua siang, sebuah mobil sedan mewah hitam mengkilap berhenti di depan sebuah ruko sederhana di sudut kota yang padat. Nara turun dengan perasaan campur aduk. Ia meminta supir untuk parkir agak jauh agar tidak mencolok.

Begitu ia melangkah masuk ke dalam gedung bimbel, bau spidol dan suara riuh rendah anak-anak menyambutnya. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Nara merasa paru-parunya benar-benar terisi oksigen.

"Bu Nara!" teriak seorang siswa SMP yang langsung berlari memeluknya.

"Ibu ke mana saja? Kami kangen belajar bersama Ibu!"

Air mata Nara hampir tumpah. Ia mengusap kepala muridnya itu. "Ibu ada urusan keluarga, Sayang. Sekarang, ayo masuk kelas. Kita selesaikan soal-soalseperti biasa."

Selama empat jam, Nara benar-benar lupa bahwa ia adalah istri dari seorang jutawan yang dingin.

Di depan papan tulis, ia kembali menjadi Nara yang penuh semangat, yang tertawa saat muridnya berhasil memecahkan soal sulit, dan yang dengan sabar menjelaskan rumus berkali-kali.

Di kejauhan, dari dalam mobil yang terparkir di seberang jalan, Danu memperhatikan dari balik kaca film yang gelap. Ia tidak ke kantor sore itu. Ia ingin memastikan sendiri apa yang sebenarnya dicari Nara di tempat biasa dan berisik ini.

Ia melihat Nara melalui jendela kelas yang terbuka. Ia melihat Nara tertawa, sebuah tawa lepas yang belum pernah ia lihat selama Nara berada di mansionnya. Danu tertegun.

Ternyata dia hanya butuh papan tulis dan spidol untuk bahagia, batin Danu. Bukan berlian atau tas mahal yang coba aku tawarkan sebagai 'uang damai'.

Tepat pukul enam sore, Nara segera merapikan tasnya. Ia menolak ajakan teman-teman gurunya untuk makan bakso di depan ruko. Ia ingat janjinya. Ia ingat kontraknya. Dan yang terpenting, ia ingat Tuan Surya yang sudah menunggunya.

Begitu ia sampai di rumah, ia langsung menuju kamar mertuanya. Tuan Surya tampak sedang duduk di kursi roda, menatap taman.

"Papa sudah bangun?" Nara mendekat, suaranya kembali lembut.

"Sudah, Nak. Bagaimana mengajarnya? Anak-anak nakal tidak?" tanya Tuan Surya dengan suara serak namun hangat.

"Mereka luar biasa, Pa. Mereka membuat Nara merasa hidup lagi," jawab Nara sambil mulai menyiapkan obat malam.

Danu berdiri di pintu, baru saja kembali dari pengamatannya yang rahasia. Ia melihat Nara yang masih berkeringat, ada bekas spidol di ujung gamisnya, namun wajahnya tampak berseri-seri.

"Kamu tepat waktu," ucap Danu.

Nara menoleh, sedikit terkejut. "Saya selalu menepati janji saya, Pak Danu."

Setelah Tuan Surya tidur, Nara duduk di beranda belakang, menatap kolam renang yang airnya tenang. Danu mendekat, membawa dua cangkir teh hangat. Ia memberikan satu kepada Nara.

Nara menerimanya dengan ragu. "Terima kasih."

"Aku melihatmu tadi," Danu membuka suara.

Nara tersentak. "Bapak membuntuti saya?"

"Aku hanya ingin memastikan keamanan istriku," kilah Danu, meski ia tahu itu alasan yang lemah. "Kamu terlihat... berbeda saat mengajar. Kamu terlihat seperti orang yang sama sekali tidak punya beban."

Nara menunduk, menatap uap tehnya. "Karena di sana, tidak ada yang mengenal saya sebagai istri Bapak. Di sana, saya hanya Nara. Orang-orang menghargai saya karena ilmu saya, bukan karena berapa banyak saldo di rekening suami saya."

Danu terdiam. Ia mulai menyadari bahwa setiap tindakannya untuk "membeli" atau "mengontrol" Nara justru semakin menjauhkan hati wanita itu.

"Nara..." Danu memanggil namanya dengan nada yang berbeda. Bukan nada perintah, bukan nada sindiran. "Tentang kejadian di paviliun... dan tentang semua perlakuanku sebelumnya... aku tahu kata maaf tidak akan mengubah apa pun. Tapi melihatmu hari ini, aku menyadari bahwa aku telah mencoba memadamkan cahaya yang seharusnya tidak pernah aku sentuh."

Nara menoleh, terkejut mendengar kejujuran pria di sampingnya.

"Kenapa Bapak bicara seperti ini?"

"Karena aku lelah berperang denganmu," jawab Danu jujur. "Aku lelah melihatmu menatapku seolah aku adalah kuman yang menjijikkan. Bisakah kita... mulai dari nol? Tanpa paksaan, tanpa intimidasi?"

Nara tersenyum pahit. "Mulai dari nol? Pak Danu, kaca yang sudah pecah tidak bisa kembali utuh hanya dengan kata-kata. Tapi... jika Bapak benar-benar ingin berubah, biarkan saya tetap memiliki dunia saya. Biarkan saya mengajar, biarkan saya merawat Papa dengan cara saya, dan berhentilah memandang saya sebagai tawanan."

Danu mengangguk pelan. "Kesepakatan diterima."

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka duduk bersisian tanpa ada aura kebencian yang menusuk. Langit malam di atas mansion Setiawan masih gelap, namun ada setitik bintang yang mulai muncul sebuah harapan kecil bahwa di tengah pernikahan yang dipaksakan ini, mungkin ada sebuah jalan menuju kedamaian yang sesungguhnya.

...***...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!