NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

BAB 35: Benang Merah yang Kembali Terpilin

Perpustakaan Kastil Hohenzollern terasa lebih dingin malam itu, meski perapian menyala dengan lidah api yang menjilat-jilat kayu ek. Aurelius Renzo duduk di kursi besarnya, bayangannya memanjang di lantai marmer, tampak seperti raksasa yang sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Di depannya, Maximilian berdiri tegak, tak bergeming, menunggu jawaban dari janji yang baru saja diucapkan ayahnya.

Aurelius merosotkan bahunya. Untuk pertama kalinya, sang Kaisar Berlin terlihat kalah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kunci besi tua yang sudah berkarat. Benda itu tampak sangat kontras dengan kemewahan ruangan tersebut—sepotong logam tak berharga di tengah koleksi seni bernilai jutaan Euro.

"Kunci ini..." Aurelius memulai, suaranya serak dan rendah. "Ini bukan kunci menuju peti harta atau pintu rahasia di kastil ini, Max. Ini adalah kunci sebuah bengkel kecil di pinggiran Tokyo. Tempat di mana Ayah dulu pernah merasa... benar-benar hidup."

Max menatap kunci itu dengan mata abu-abunya yang tajam. "Tempat di mana Ayah bertemu Bibi itu?"

Aurelius mengangguk pahit. "Namanya Hana Asuka. Kami bertemu saat Ayah melarikan diri dari takhta ini. Dia adalah satu-satunya orang yang melihat Ayah sebagai 'Ren', bukan sebagai seorang Hohenzollern. Kunci ini adalah janji yang kami buat untuk masa depan yang ternyata tidak pernah ada. Kita terpisah karena kewajiban, Max. Dan rahasia di balik kunci ini adalah alasan mengapa Ayah selalu terlihat sedih setiap kali menatapmu... karena kau adalah pengingat akan dunia yang kutinggalkan, dan dia adalah pengingat akan hati yang kumatikan."

Hening sejenak. Max mencerna setiap kata ayahnya dengan kedewasaan yang menakutkan.

"Ayah takut padanya?" tanya Max polos.

Aurelius tersenyum miris. "Ayah takut pada perasaan Ayah sendiri jika melihatnya lagi. Itulah sebabnya, jika kau ingin menemuinya... Ayah tidak akan ikut. Ayah tidak bisa, Max. Tembok yang kubangun sudah terlalu rapuh untuk runtuh sekali lagi."

Dengan berat hati, Aurelius memanggil Elara ke ruangannya. Ia memberikan instruksi singkat yang membuat adiknya itu terperangah.

"Hubungi Hana Asuka. Katakan padanya... Max ingin menemuinya secara pribadi di Tokyo. Atur penerbangan besok. Julian dan kau akan menemani Max. Bawa sepuluh pengawal terbaik dari unit bayangan. Jangan sampai Kaito Tanaka atau klan Asuka lainnya tahu tentang ini sebelum Max mendarat."

Tokyo, Jepang - Dua Hari Kemudian

Hana Asuka berdiri di balkon restoran privat di lantai teratas Asuka Tower. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Pesan dari Elara von Hohenzollern dua hari lalu telah menjungkirbalikkan dunianya.

“Max ingin menemuimu. Aurelius mengizinkannya, tapi dia tidak ikut.”

Pintu geser restoran terbuka. Langkah kaki kecil yang teratur terdengar di atas lantai kayu. Hana berbalik dan napasnya tertahan.

Di sana, diapit oleh Julian yang tampak canggung dan Elara yang elegan, berdiri Maximilian. Sepuluh pengawal berseragam hitam berdiri sigap di luar pintu, menciptakan barikade yang tak tertembus. Max mengenakan mantel wol biru tua, wajahnya datar, namun matanya memindai sosok Hana dengan rasa ingin tahu yang mendalam.

"Bibi Elara, Paman Julian... bolehkah aku bicara dengannya sendirian?" Max bertanya tanpa menoleh.

Elara melirik Hana, lalu mengangguk kecil. "Kami akan menunggu di meja sebelah, Sayang. Jangan lama-lama."

Kini, hanya tersisa Hana dan anak dari pria yang paling ia cintai sekaligus benci. Hana berlutut agar sejajar dengan Max. Air mata mulai menggenang di matanya, namun ia menahannya agar tidak menakuti bocah itu.

"Halo, Maximilian," bisik Hana parau.

Max melangkah maju, berhenti tepat di depan Hana. Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil bermotif melati—milik Hana yang ia temukan di Singapura.

"Ini milikmu," ucap Max pendek.

Hana menerima sapu tangan itu, jemarinya gemetar. "Terima kasih, Max. Kau... kau menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengembalikan ini?"

"Tidak," Max menatap Hana lekat-lekat. "Aku datang karena Ayah menceritakan tentang kunci itu. Ayah bilang kau adalah orang yang mengenalnya sebagai 'Ren'. Aku ingin tahu... siapa 'Ren' itu? Karena di Berlin, dia hanya dikenal sebagai kaisar yang tidak pernah tersenyum."

Hana tersedak oleh isakannya sendiri. Ia menuntun Max untuk duduk di kursi yang menghadap pemandangan kota Tokyo.

"Ren..." Hana memulai, matanya menerawang jauh. "Ren adalah pria yang sangat hebat, Max. Dia bukan kaisar. Dia adalah seorang mekanik yang tangannya selalu kotor oleh oli mesin, namun hatinya sangat bersih. Dia pria yang bisa tertawa lepas hanya karena berhasil memperbaiki mesin motor tua. Dia pria yang berjanji akan menjagaku selamanya."

"Lalu kenapa dia tidak melakukannya?" tanya Max dengan nada dingin yang sangat mirip Aurelius. "Kenapa dia memilih untuk menikah dengan Ibuku dan membiarkanmu bersama Paman Kaito yang pemarah?"

Hana menatap Max, terkejut dengan ketajaman analisis bocah itu. "Karena dunia kita terlalu besar untuk cinta yang sederhana, Max. Ibumu, Sophia... dia memberikan sesuatu yang tidak bisa kuberikan pada saat itu. Dia memberikanmu. Keberadaanmu adalah hal terpenting bagi klan Hohenzollern. Ayahmu memilih untuk membesarkanmu di atas segalanya, termasuk di atas kebahagiaannya sendiri."

Max terdiam, jemari kecilnya mengetuk meja. "Ayah bilang dia mencintai Ibu sebelum dia meninggal. Tapi aku melihatnya menangis diam-diam saat memegang kunci itu. Apakah mungkin seseorang mencintai dua orang sekaligus?"

Hana tersenyum sedih, ia memberanikan diri mengelus rambut Max. Kali ini, Max tidak menghindar. Rambutnya terasa sehalus sutra, persis seperti rambut Aurelius.

"Hati manusia itu sangat luas, Max. Ayahmu menghormati dan menyayangi ibumu karena dia adalah wanita yang hebat. Tapi bagian dari dirinya yang bernama 'Ren'... bagian itu akan selalu tertinggal di bengkel tua bersama kunci itu. Dan kau... kau adalah jembatan di antara kedua dunia itu."

Max menatap Hana dengan ekspresi yang sedikit melunak. "Kau terlihat sedih, Bibi Hana. Apakah kau membenciku karena aku adalah anak dari wanita yang merebut Ayah darimu?"

Hana menarik napas tajam, lalu ia memeluk Max dengan sangat erat. Kali ini, Max membiarkannya. "Tidak, Maximilian. Tidak pernah sedikit pun. Kau adalah mukjizat. Melihatmu adalah seperti melihat bagian dari Ren yang masih hidup dan murni. Aku mencintai ayahmu, dan karena aku mencintainya, aku juga menyayangimu."

Max menyandarkan kepalanya di bahu Hana. Untuk pertama kalinya, bocah yang dikenal sedingin marmer itu merasakan kehangatan yang berbeda dari yang diberikan Elara atau Sophia dalam foto-fotonya. Ini adalah kehangatan yang tulus, yang tidak menuntutnya untuk menjadi seorang pewaris, melainkan hanya sebagai seorang anak kecil.

"Bibi Hana," bisik Max pelan.

"Ya, Sayang?"

"Jika suatu hari nanti aku menjadi pemimpin klan... aku akan menjemputmu ke Berlin. Aku tidak akan membiarkan Ayah terus menatap kunci itu sendirian."

Hana melepaskan pelukannya dan menatap Max dengan takjub. Bocah ini baru berusia lima tahun, namun ia sudah memiliki tekad seorang penakluk. Hana mengecup kening Max dengan lembut.

"Terima kasih, Max. Tapi untuk sekarang, jadilah anak yang baik untuk Ayahmu. Dia sangat kesepian di kastil besar itu."

Pertemuan itu berlangsung selama dua jam. Mereka membicarakan banyak hal—tentang hobi Max yang suka membaca laporan pasar (yang membuat Hana tertawa), tentang bengkel Ota yang kini sudah berubah, dan tentang bagaimana Max sangat mirip dengan ayahnya saat sedang berpikir.

Saat tiba waktunya untuk berpisah, Max berdiri tegak kembali. Topeng kaku itu kembali terpasang, namun matanya memancarkan cahaya yang berbeda.

"Aku akan pergi sekarang. Paman Julian bilang kita harus segera ke bandara sebelum matahari terbenam," ucap Max.

Hana mengangguk, ia mengantar Max hingga ke pintu. Sebelum pergi, Max berbalik dan memberikan sebuah amplop kecil pada Hana.

"Ayah tidak tahu aku membawa ini. Ini adalah foto terakhir Ayah dengan rambut panjangnya sebelum Ibu memintanya memotongnya. Ayah ingin membuangnya, tapi aku menyimpannya untukmu."

Max berjalan pergi, diikuti oleh Julian, Elara, dan barisan pengawal hitam. Hana berdiri terpaku, memegang amplop itu di dadanya. Di dalamnya, ia menemukan foto Aurelius—Ren—yang sedang menatap kamera dengan tatapan rindu yang paling dalam, dengan rambut wolf cut yang acak-acakan.

Hana jatuh berlutut di lantai restoran, menangis sejadi-jadinya. Di bawah langit Tokyo, benang merah yang sempat terputus itu kini kembali terjalin melalui seorang bocah kecil yang memiliki hati sekeras baja namun selembut sutra. Perang mungkin akan tetap berlanjut, namun hari ini, sebuah perdamaian kecil telah tercipta di antara dua jiwa yang terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!