1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARIAN MAUT DI GARIS PERBATASAN
Suasana di markas garis depan Veyris mencekam. Langit malam yang tadinya sunyi mendadak pecah oleh dentuman meriam mana milik Batalion Serigala Besi Drakmor. Hutan pinus yang menjadi benteng alami wilayah ini mulai terbakar, menciptakan siluet merah darah di cakrawala.
Count Aldric berdiri di atas barikade kayu yang mulai retak. Baju zirahnya yang keperakan memantulkan cahaya api, namun napasnya berat. Racun mana di dadanya bergejolak hebat setiap kali ia mencoba memicu aura untuk menangkis serangan lawan.
"Count! Barisan kiri kita jebol! Ksatria Level 4 mereka, 'Si Penjaggal Galt', baru saja menebas kapten unit ketiga!" teriak seorang ajudan dengan wajah penuh jelaga.
Aldric menggertak gigi, tangannya mencengkeram gagang pedang esnya. "Tahan posisi! Jangan biarkan satu pun dari anjing Drakmor itu menginjakkan kaki di tanah pemukiman!"
Namun di dalam hatinya, Aldric tahu. Valdoria—kerajaan pusat yang seharusnya mengirim bantuan—sengaja memperlambat gerak pasukan mereka. Mereka ingin Aldric mati dan Veyris hancur agar mereka bisa mengambil alih tanah ini sebagai aset langsung kerajaan tanpa harus berurusan dengan keluarga Veyris yang keras kepala.
"Sialan... apakah ini akhirnya?" gumam Aldric, merasakan pandangannya sedikit mengabur karena rasa sakit.
Satu kilometer dari garis belakang, di puncak sebuah bukit karang yang tersembunyi oleh kabut tebal, tiga sosok berdiri tegak.
Kaelan, yang kini berusia enam tahun, mengenakan jubah hitam dengan sulaman benang perak berbentuk bintang mati di punggungnya. Di samping kirinya, Mira berdiri dengan mata yang bersinar ungu tajam, tangannya memegang tongkat kayu pendek yang berfungsi sebagai fokus ruang. Di kanannya, Nox berlutut, belati Destruction-nya sudah mengeluarkan uap hitam yang haus darah.
"Waktunya," ucap Kaelan singkat.
"Tuan, apakah kita akan muncul secara terang-terangan sebagai ksatria Veyris?" tanya Mira.
Kaelan tersenyum dingin. "Tidak. Jika kita muncul sebagai ksatria Veyris, Valdoria akan mencurigai kekuatanku. Kita akan muncul sebagai Nox Astra. Biarkan dunia mengira ada organisasi tentara bayaran misterius yang melindungi tempat ini."
Kaelan menjentikkan jarinya. "Mira, lakukan Spatial Gate (Gerbang Ruang). Target: Titik buta di belakang barisan artileri Drakmor. Nox, kau tahu tugasmu. Habisi para penyihir mereka sebelum mereka sempat berkedip."
"Dimengerti, Tuan," jawab Nox, suaranya sedingin es.
Mira menghentakkan tongkatnya ke tanah. Ruang di depan mereka mendadak robek, menciptakan lubang hitam yang memancarkan energi kosmik. Nox melompat masuk ke dalamnya tanpa ragu, disusul oleh Mira.
Kaelan adalah yang terakhir masuk. Sebelum melangkah, ia membisikkan sebuah mantra dari buku kuno: "Aether Armor". Seluruh tubuh kecilnya terbungkus oleh lapisan mana transparan yang sangat keras, membuatnya kebal terhadap serangan fisik tingkat rendah.
Wush!
Di garis belakang pasukan Drakmor, kepanikan mendadak meledak.
Seorang penyihir artileri Drakmor baru saja hendak meluncurkan bola api raksasa ketika ia merasakan hawa dingin di tenggorokannya. Ia menoleh, namun tidak melihat apa-apa. Sedetik kemudian, kepalanya menggelinding di tanah.
Nox bergerak seperti bayangan yang memiliki nyawa sendiri. Dengan teknik Silent Step dan Mana Ghosting yang sudah mencapai level sempurna untuk anak seusianya, ia menebas satu demi satu penyihir musuh. Darah muncrat di mana-mana, namun tidak ada satu pun tetesan yang mengenai jubah hitamnya.
"Serangan dari belakang! Ada penyusup!" teriak komandan Drakmor.
Namun, sebelum para ksatria pelindung bisa berbalik, tanah di bawah kaki mereka mendadak bergeser.
"Spatial Collapse (Runtuhan Ruang)!" seru Mira dari atas dahan pohon.
Ruang di sekitar barisan artileri itu mendadak mengecil secara paksa, menghancurkan meriam-meriam mana dan ksatria di sekitarnya hingga menjadi tumpukan daging dan logam yang hancur. Ini adalah sihir Grade S yang sebenarnya—sihir yang mampu memanipulasi hukum alam.
Di tengah kekacauan itu, Kaelan melayang turun dengan perlahan, seolah-olah gravitasi tidak berlaku baginya. Ia menatap ke arah garis depan tempat ayahnya sedang dikepung oleh 'Si Penjaggal Galt' dan sepuluh ksatria elit Drakmor.
"Kalian terlalu berisik," gumam Kaelan.
Ia mengangkat tangannya ke langit. Dari telapak tangan mungilnya, muncul sebuah bola cahaya biru pekat yang sangat kecil, namun energinya membuat seluruh hutan bergetar. Teknik dari buku kuno: "Celestial Ray" (Sinar Surgawi).
ZINGGGG!
Sebuah garis cahaya murni melesat dari bukit, membelah kegelapan malam dengan kecepatan cahaya. Sinar itu melewati kepala para prajurit Veyris yang ketakutan dan langsung meledak tepat di tengah-tengah ksatria elit yang mengepung Aldric.
BOOM!
Ledakan itu tidak menghasilkan api, melainkan gelombang kejut mana yang menghancurkan semua musuh dalam radius dua puluh meter menjadi debu. Galt, sang penjaggal Level 4 yang ditakuti, bahkan tidak sempat berteriak sebelum tubuhnya hancur berkeping-keping.
Aldric terhuyung, ia melihat ke arah asal serangan itu. Di sana, di atas bukit, ia melihat tiga sosok berjubah hitam yang dikelilingi oleh aura yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
"Siapa... siapa kalian?" tanya Aldric dengan suara serak.
Kaelan, dari kejauhan, menggunakan teknik transmisi suara mana langsung ke telinga ayahnya.
"Ingatlah nama kami, Count Veyris. Kami adalah bayangan yang akan menelan musuhmu. Kami adalah Nox Astra."
Setelah mengucapkan itu, Mira segera menutup gerbang ruang, dan ketiga sosok itu menghilang secara instan, meninggalkan pasukan Drakmor yang tersisa dalam keadaan kocar-kacir dan ketakutan luar biasa.
Malam itu, Veyris menang. Secara ajaib, ancaman invasi yang seharusnya menghancurkan wilayah itu musnah hanya dalam satu jam oleh intervensi tiga orang misterius.
Kaelan kembali ke kamarnya di mansion melalui pintu rahasia tepat sebelum fajar. Ia sangat lelah, mana-nya terkuras hampir habis, namun matanya bercahaya puas.
Ia mendengar langkah kaki ayahnya di koridor. Aldric masuk ke kamar Kaelan dengan wajah penuh luka namun matanya bersinar dengan harapan.
"Kaelan... kau sudah bangun?" tanya Aldric pelan.
Kaelan mengucek matanya, berpura-pura baru bangun tidur. "Papa? Papa selamat! Kaelan takut banget tadi denger suara ledakan."
Aldric memeluk putranya dengan erat. "Ya, jagoan. Papa selamat. Sesuatu yang luar biasa terjadi malam ini. Ada sekelompok ksatria... tidak, mereka lebih seperti dewa... yang menyelamatkan kita."
Aldric melepaskan pelukannya dan menatap Kaelan. "Mereka menyebut diri mereka Nox Astra. Kaelan, dunia ini mulai berubah. Dan Papa bersumpah, Papa akan menjadi cukup kuat untuk melindungimu sampai kau bisa berdiri di samping pahlawan-pahlawan seperti mereka."
Kaelan tersenyum lebar, membenamkan wajahnya di dada ayahnya.
Papa... pahlawan yang kau cari ada di depan matamu, batin Kaelan tenang.