Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: CINTA DI BALIK DEBU SEMEN
Pagi itu, paviliun pribadi di sayap selatan istana tampak lengang, namun ketegangan menyelimuti batin Serena Arrinra. Ia berdiri di depan sebuah cermin perunggu besar, menatap pantulan dirinya yang tak biasa. Tidak ada mahkota platinum, tidak ada jubah perak, bahkan tidak ada pakaian ninja hitam yang biasa ia gunakan untuk memburu para pengkhianat. Serena mengenakan kebaya lusuh berwarna cokelat pudar dan kain jarik yang sudah agak kasar—pakaian khas gadis desa atau buruh pasar di Ibukota Arrinra.
"Anda benar-benar yakin dengan kegilaan ini, Yang Mulia?" Paman Bram berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi tak percaya.
Serena mengikat rambut panjangnya dengan seutas kain perca, menyisakan beberapa helai yang menutupi sebagian wajahnya agar tidak terlalu mudah dikenali. "Aku tidak bisa mengenal rakyatku hanya dari laporan di atas kertas perkamen, Paman. Dan aku tidak bisa mengenal Anton jika aku selalu datang sebagai Kaisar yang dikelilingi seribu prajurit."
"Anton sudah kembali ke baraknya kemarin setelah lukanya membaik," Bram mengingatkan. "Dia kembali bekerja di proyek jembatan sisi utara. Wilayah itu berdebu, panas, dan penuh dengan mulut-mulut kasar kuli bangunan. Itu bukan tempat untuk seorang penguasa wilayah seluas dua juta kilometer persegi."
Serena berbalik, matanya berkilat—bukan karena listrik, tapi karena tekad. "Justru karena wilayahku luas, Paman, aku tidak boleh kehilangan sentuhan pada akar rumput. Sebut aku egois, tapi aku ingin tahu siapa pemuda yang rela mati untukku itu. Kenapa dia melakukannya? Apakah karena dia setia pada takhta, atau karena dia memiliki hati yang tulus?"
"Jika para menteri tahu..."
"Maka pastikan mereka tidak tahu," potong Serena tegas. "Katakan pada dewan bahwa aku sedang melakukan meditasi batin di kuil tertutup selama tiga hari untuk memurnikan energi petirku. Jangan ada yang boleh masuk."
Di Antara Deru Mesin dan Debu
Serena menyelinap keluar melalui jalur rahasia yang biasa ia gunakan saat bertugas sebagai ninja. Tak lama kemudian, ia sudah berada di tengah hiruk-pikuk Distrik Utara. Bau semen yang menyengat, suara gesekan gergaji, dan teriakan mandor menjadi musik latar baru baginya.
Ia berjalan menuju bedeng-bedeng kuli, membawa sebuah keranjang anyaman berisi nasi bungkus daun pisang—penyamaran sempurnanya sebagai penjual makanan keliling. Nama samarannya sederhana: Rara.
"Nasi! Nasi bungkus murah!" teriak Serena, mencoba meniru cengkok para pedagang pasar. Suaranya yang biasa dingin dan berwibawa kini terdengar lebih renyah dan membumi.
"Heh, Cah ayu! Sini!" teriak seorang pria bertubuh besar yang sedang mengaduk semen. "Baru jualan ya? Belum pernah lihat wajahmu di sini."
Serena mendekat dengan kepala tertunduk. "Iya, Mas. Saya baru pindah dari wilayah selatan. Mencari nasib di ibukota."
"Wah, kebetulan. Perut kami sudah keroncongan sejak tadi. Berapa harganya?"
"Lima koin perunggu saja, Mas."
Saat sedang melayani para kuli, mata Serena mencari-cari. Di sudut proyek, di atas perancah bambu yang cukup tinggi, ia melihatnya. Anton Firmansyah. Pemuda itu sedang memaku papan penyangga, gerakannya mantap meskipun ada bekas perban kecil yang masih menempel di pelipisnya.
"Woi, Anton! Turun! Ada penjual nasi baru, cantik lho!" teriak kuli tadi sambil tertawa.
Anton menoleh, ia menyeka keringat di lehernya dengan handuk kumal dan menuruni perancah dengan lincah. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia berjalan mendekat. Serena menahan napas, khawatir penyamarannya terbongkar. Namun, debu semen yang menutupi wajahnya dan pakaian lusuhnya tampaknya cukup efektif.
"Satu bungkus, Mbak," ujar Anton sopan. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa koin tembaga. "Maaf, uang saya agak kotor."
Serena memberikan nasi bungkus itu. "Tidak apa-apa, Mas Anton. Uang hasil kerja keras tidak pernah kotor."
Anton tertegun sejenak mendengarkan suara itu. Ia menatap mata 'Rara' cukup lama, membuat jantung Serena berdegup kencang melebihi saat ia menghadapi Jenderal Karsa.
"Suaramu... sepertinya aku pernah dengar," gumam Anton, menyipitkan mata.
"Mungkin hanya mirip saja, Mas," jawab Serena cepat sambil sibuk membereskan keranjangnya. "Banyak orang di Arrinra ini yang suaranya mirip karena sering menghirup debu jalanan."
Anton tertawa kecil, suara tawa yang jujur. "Mungkin juga. Silakan duduk dulu, Mbak Rara. Di sini panas, minum dulu air di gentong itu kalau haus."
Kejujuran di Balik Gubuk Reot
Selama dua hari berikutnya, Serena—atau Rara—menjadi pengunjung tetap di proyek itu. Ia mulai melihat sisi lain dari Anton yang tidak terlihat di istana. Anton bukan hanya kuli yang kuat; dia adalah pelindung bagi mereka yang lebih lemah.
Suatu sore, setelah jam kerja usai, Serena mengikuti Anton dari jauh. Pemuda itu tidak pulang ke barak, melainkan berjalan menuju sebuah gubuk agak jauh di pinggiran sungai. Di sana, Serena melihat enam anak kecil berlarian keluar menyambut Anton.
"Kak Anton pulang! Bawa apa Kak?" teriak mereka riang.
Anton menggendong salah satu anak yang paling kecil. "Cuma bawa roti sisa tadi siang, tapi Kakak punya berita bagus. Besok kita bisa beli buku baru karena Kakak dapat bonus dari Mandor."
Serena berdiri di balik pohon mangga, hatinya tersentuh. Ia mendekat perlahan. "Mas Anton?"
Anton menoleh, terkejut melihat si penjual nasi ada di sana. "Mbak Rara? Kok tahu rumah saya di sini?"
"Tadi lewat saja, kebetulan nasi saya masih sisa dua bungkus. Mau diberikan ke adik-adik ini?" Serena menyodorkan makanannya.
"Wah, Mbak Rara baik sekali. Ayo masuk, Mbak. Maaf rumahnya hanya beralaskan tanah," ajak Anton ramah.
Di dalam gubuk yang sempit itu, Serena duduk di atas tikar pandan yang sudah robek. Ia memperhatikan anak-anak itu makan dengan lahap.
"Mereka adik kandung Mas?" tanya Serena.
Anton menggeleng sambil mengusap kepala salah satu anak. "Bukan. Mereka anak-anak yatim piatu yang orang tuanya meninggal saat kerusuhan sepuluh tahun lalu, atau yang ayahnya hilang saat kerja paksa di zaman Karsa. Saya juga yatim piatu. Jadi, ya... kami keluarga karena nasib."
Serena terdiam. Ia teringat wilayahnya seluas dua juta kilometer persegi. Berapa banyak lagi gubuk seperti ini yang belum terjangkau oleh kebijakan-kebijakannya?
"Mas Anton bekerja keras sekali setiap hari. Apa tidak lelah? Padahal kalau Mas mau, Mas bisa minta jabatan bagus di istana setelah menyelamatkan Kaisar kemarin," pancing Serena.
Anton menatap langit-langit gubuknya yang bocor. "Minta jabatan? Mbak Rara ada-ada saja. Saya ini kuli, Mbak. Sekolah saja tidak tamat karena harus menghidupi mereka. Kalau saya masuk istana, siapa yang mau mengurus anak-anak ini? Lagipula, Kaisar itu... beliau orang hebat. Beliau butuh orang-orang pintar di sekelilingnya, bukan kuli seperti saya."
"Tapi Kaisar berhutang nyawa padamu," desak Serena.
"Saya menolong beliau bukan supaya beliau berhutang," jawab Anton tegas namun lembut. "Saya menolong karena beliau adalah harapan satu-satunya bagi kami. Sebelum Serena Arrinra kembali, kami hanya sampah di jalanan. Beliau memberi kami pekerjaan, memberi kami harga diri. Menyelamatkan beliau sama dengan menyelamatkan masa depan anak-anak ini."
Serena merasakan matanya panas. Ia belum pernah mendengar kejujuran seperti ini dari para menterinya yang selalu memuji setinggi langit hanya untuk mendapatkan keuntungan.
"Bagaimana kalau... Kaisar ternyata merindukanmu?" tanya Serena spontan.
Anton tertawa lepas. "Mbak Rara ini kebanyakan baca novel roman pasar ya? Mana mungkin seorang Kaisar yang bisa memerintah petir merindukan kuli yang baunya semen seperti saya? Kami hidup di dunia yang berbeda, Mbak. Beliau itu bintang di langit, saya ini hanya debu di bawah kakinya."
"Debu yang menyelamatkan bintang," bisik Serena.
Percikan di Tengah Hujan
Tiba-tiba, guntur menggelegar di kejauhan. Hujan deras khas Arrinra turun seketika, membasahi bumi dengan ganas. Serena terpaksa tertahan di gubuk Anton. Anak-anak sudah tidur di sudut ruangan, menyisakan Serena dan Anton yang duduk di dekat pintu, menatap hujan.
Hawa dingin mulai menusuk. Serena menggigil sedikit karena kebayanya yang tipis mulai basah.
"Dingin ya?" Anton bangkit dan mengambil sebuah jaket kain yang tebal tapi bersih. "Pakai ini, Mbak. Maaf kalau bau matahari."
"Terima kasih, Mas."
Saat Anton menyerahkan jaket itu, tangan mereka bersentuhan. Serena merasakan aliran listrik—bukan jurus petirnya, melainkan sesuatu yang jauh lebih kuat menjalar ke seluruh tubuhnya. Anton juga tampak tertegun, ia tidak segera menarik tangannya.
"Mbak Rara..." Anton menatap wajah Serena dalam remang cahaya lampu minyak. "Kenapa tanganmu... halus sekali untuk seorang penjual nasi?"
Serena panik. Ia segera menarik tangannya. "Eh, itu... karena saya rajin pakai lulur sisa jualan, Mas."
Anton tersenyum, tapi tatapannya menjadi lebih serius. "Mbak Rara, terima kasih sudah mau mampir. Di dunia yang keras ini, jarang ada orang yang mau melihat kami yang tinggal di pinggiran seperti ini. Kehadiranmu... membuat gubuk ini terasa lebih terang."
Serena menatap wajah Anton. Di bawah cahaya redup, ia melihat ketulusan yang murni. Ia menyadari satu hal: ia mencintai pria ini. Bukan karena dia tampan atau kuat, tapi karena dia adalah manusia paling nyata yang pernah ia temui selama 27 tahun hidupnya.
"Mas Anton juga membuat ibukota ini terasa lebih bermakna bagi saya," sahut Serena tulus.
Malam itu, di tengah suara hujan yang menghantam atap seng, Serena Arrinra belajar tentang arti pengabdian yang sesungguhnya. Ia belajar bahwa Kekaisaran Ser tidak dibangun dengan batu bata dan semen saja, tapi dengan cinta dan kepedulian seperti yang ditunjukkan Anton.
Kabar dari Bayangan
Namun, kedamaian itu pecah ketika sebuah anak panah kecil dengan pesan tertulis melesat dari kegelapan hujan dan menancap di tiang gubuk. Anton terkejut dan hendak mencabutnya, tapi Serena lebih cepat. Ia tahu itu adalah kode rahasia dari Paman Bram.
Serena membaca pesan itu sekejap: PEMBERONTAK SISA KARSA BERGERAK KE ARAH PROYEK UTARA. ISTANA TERANCAM. KEMBALILAH SEKARANG.
Wajah Serena berubah tegang. Aura otoritasnya yang tertidur tiba-tiba bangkit kembali.
"Mas Anton, saya harus pergi," ujar Serena, melepaskan jaket Anton.
"Hujan masih deras, Mbak! Bahaya!" teriak Anton.
"Ada sesuatu yang lebih berbahaya dari hujan yang harus saya selesaikan," kata Serena. Ia menatap Anton dengan tatapan yang sangat dalam. "Berjanjilah satu hal, Mas. Tetaplah menjadi pria yang jujur. Jangan pernah berubah."
Tanpa menunggu jawaban, Serena berlari menembus hujan. Anton mencoba mengejar, namun langkah 'Mbak Rara' begitu cepat, hampir seperti bayangan yang menghilang ditelan kegelapan dan kilatan petir.
Anton berdiri di depan pintunya, bingung. Ia memungut sebuah benda yang terjatuh dari saku Mbak Rara saat ia berlari tadi. Sebuah lencana kecil dari emas murni berbentuk kilat—lambang pribadi sang Kaisar.
Mata Anton membelalak. Ia menatap lencana itu, lalu menatap ke arah kegelapan tempat Rara menghilang.
"Tidak mungkin..." bisik Anton, tangannya bergetar. "Rara... adalah Yang Mulia?"
Di tengah deru badai, rahasia besar itu mulai terkuak. Serena Arrinra telah menemukan cintanya di balik debu semen, namun ia juga tahu bahwa cinta ini akan menjadi ujian politik terbesar dalam sejarah kekaisarannya. Sejarah baru akan segera tertulis, di mana petir dan debu akan bersatu atau justru saling menghancurkan.