NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Yang Seharusnya di Sana

Kaisyaf melihat semuanya.

Dari anak-anak yang digendong ayah mereka. Dari tawa yang terdengar bahkan sampai ke tempatnya.

Dan, matanya berhenti pada satu titik. Alvian. Di atas pundak Fahri.

Napas Kaisyaf tertahan sejenak. Pemandangan itu… terasa asing. Bukan karena ia tidak mengenal Fahri. Tapi karena… posisi itu seharusnya miliknya.

Tangannya di setir perlahan mengencang. Ia melihat Fahri menahan kaki Alvian.

Melihat bagaimana bocah itu menggigit sendok dengan serius.

Melihat bagaimana… mereka berjalan bersama. Sampai garis akhir. Sampai Fahri menurunkannya. Sampai bocah itu bicara.

Kaisyaf tidak bisa mendengar jelas. Jaraknya terlalu jauh. Namun ia bisa melihat bibir kecil itu bergerak. Melihat ekspresi Fahri berubah.

Dan entah kenapa… dadanya terasa tidak nyaman.

Ia sedikit membuka kaca jendela. Suara samar mulai masuk. Tidak utuh. Tapi cukup.

“... boleh datang lagi?"

Suara kecil itu… terbawa angin. Kaisyaf membeku. Jemarinya di setir mengeras.

Dan kemudian—

“Daripada… gak ada yang datang.”

Kalimat itu. Sampai. Jelas. Tanpa terpotong. Tanpa salah dengar.

Napas Kaisyaf berhenti. Benar-benar berhenti. Beberapa detik.

Tatapannya masih ke depan. Namun tidak lagi melihat apa-apa. Hanya kalimat itu yang berputar. Berulang. Tanpa jeda.

“Daripada… gak ada yang datang.”

Tangannya perlahan terlepas dari setir. Jatuh lemas di pahanya.

Ia bahkan tidak punya jawaban. Tidak untuk orang lain. Tidak untuk dirinya sendiri.

Di kejauhan, Alvian sudah berjalan menjauh bersama Fahri.

Tidak menoleh. Tidak mencari. Tidak menunggu. Dan itu… lebih menyakitkan daripada ditolak.

Kaisyaf menutup matanya perlahan. Satu tarikan napas. Berat. Namun tetap tertahan. Lalu ia membuka mata lagi. Menatap Fahri.

Beberapa jam lalu di kantor Kaisyaf...

Fahri berdiri di depan meja kerja itu. Tatapannya tertuju pada Kaisyaf yang sejak tadi belum juga mengangkat wajah dari berkas di tangannya.

“Ada apa, Kak?” tanyanya akhirnya.

Tidak langsung dijawab. Beberapa detik… hanya suara kertas yang dibalik. Lalu—

“Kamu ke sekolah Alvian. Satu jam lagi acara dimulai.”

Kalimat itu keluar datar. Seolah tidak ada beban di dalamnya.

Fahri mengernyit.

“Sekolah?” ulangnya. “Acara apa?”

Kaisyaf akhirnya berhenti. Namun ia tidak langsung menatap Fahri.

“Hari ayah.”

Dua kata. Singkat.

Fahri terdiam sejenak. Lalu tertawa kecil, tidak percaya.

“Dan Kakak nyuruh aku datang?” Ia menatap Kaisyaf lekat. “Serius?”

Kali ini, Kaisyaf mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus. Tenang.

“Aku tidak bisa datang.”

Fahri menatapnya. Mencari sesuatu di sana. Penjelasan. Alasan. Namun yang ia dapat… hanya ketenangan yang terasa terlalu rapi.

“Kerjaan?” tanya Fahri.

Tidak ada jawaban. Hanya diam yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

Fahri menghembuskan napas kasar. “Al nungguin, Kak.” Kalimat itu sengaja ia tekan. “Kak Ayza juga.”

Tatapan Kaisyaf tidak berubah. “Aku tahu.”

Dua kata itu… justru terasa lebih berat.

Fahri menatapnya lebih lama. “Kalau tahu… kenapa gak datang sendiri?”

Kali ini, Kaisyaf berdiri. Ia merapikan kancing jasnya. Gerakannya tenang. Terukur.

“Karena aku memilih tidak datang.”

Jawaban itu jatuh begitu saja. Tanpa emosi.

Fahri terdiam. Untuk beberapa detik… ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.

“Kak…” suaranya merendah. “Ini bukan soal meeting atau deal bisnis.”

Ia melangkah mendekat satu langkah.

“Ini anak Kakak.”

Kaisyaf menatapnya. Dalam. Namun tetap dingin.

“Justru karena itu,” ucapnya pelan, “aku kirim kamu.”

Fahri mengernyit. “Maksudnya?”

“Kamu bisa ada di sana,” lanjut Kaisyaf. “Aku tidak.”

Nada itu tetap sama. Tidak naik. Tidak turun. Namun entah kenapa… ada sesuatu yang terasa disembunyikan di baliknya.

Fahri menggeleng pelan. “Ini gak masuk akal.”

Kaisyaf tidak membantah.

“Anggap saja… ini perintah.”

Kalimat itu membuat Fahri terdiam. Beberapa detik. Lalu ia terkekeh kecil. Pahit.

“Perintah?” ulangnya. “Untuk gantiin posisi Kakak?”

Kaisyaf tidak menjawab. Dan justru itu… adalah jawabannya.

Fahri mengusap wajahnya kasar. Frustrasi.

“Kalau Al nanya…?” tanyanya akhirnya.

Kali ini, ada jeda. Lebih lama dari sebelumnya.

Tatapan Kaisyaf sempat bergeser. Sepersekian detik saja. Namun cukup untuk menunjukkan sesuatu yang… tidak biasa.

“Bilang saja…” ucapnya pelan, “aku sedang bekerja.”

Fahri menatapnya tajam. “Padahal?”

Kaisyaf kembali menatapnya. “Padahal memang begitu.”

Dingin. Tegas. Tidak memberi celah.

Fahri tertawa pendek. Tanpa humor.

“Kadang aku gak ngerti Kakak.” Ia menggeleng. “Tapi satu hal yang aku tahu…” Tatapannya menajam..“Al gak butuh orang lain. Dia butuh ayahnya.”

Kali ini… Kaisyaf tidak menjawab. Ia hanya kembali duduk. Membuka berkas di depannya. Seolah pembicaraan itu… sudah selesai.

Fahri berdiri beberapa detik lagi. Menunggu. Mungkin berharap pria itu akan berubah pikiran. Namun tidak.

Akhirnya, ia berbalik. Melangkah keluar.

Pintu tertutup.

Dan akhirnya, Kaisyaf berhenti membaca. Tangannya terdiam di atas berkas. Tatapannya kosong. Lalu perlahan… ia mengembuskan napas. Pendek. Tertahan.

“Lebih baik…” gumamnya pelan. Sangat pelan. “Dia membenciku sekarang… daripada suatu hari… dia harus kehilangan aku sepenuhnya.”

Kembali ke saat ini..

Kaisyaf menarik napas yang terasa berat, lalu menatap Alvian.

Suara guru kembali terdengar.

“Sekarang kita lanjut ke lomba tarik tambang! Ayah dan anak satu tim, ya. Silakan ambil posisi!”

Tali besar dibentangkan di tengah lapangan.

Anak-anak langsung berlari ke arah ayah mereka. Ada yang tertawa, ada yang sudah menarik-narik tangan ayahnya agar cepat berdiri di barisan.

Alvian berdiri di tempatnya. Matanya melihat ke kanan. Ke kiri. Semua anak sudah punya pasangan.

Kakinya melangkah… lalu berhenti lagi. Seolah tidak tahu harus berdiri di mana.

“Al…”

Suara itu datang dari belakang. Alvian menoleh.

Fahri berdiri di sana. Menatapnya.

“Ke sini,” ucapnya singkat.

Alvian diam sebentar. Lalu… ia melangkah mendekat. Pelan.

Fahri menggenggam tangannya. Membawanya ke barisan.

“Pegang yang kuat, ya.”

Alvian mengangguk kecil. Tangannya menggenggam tali itu. Di belakangnya, Fahri berdiri. Posisi siap.

“Siap, semua?” seru guru.

“Siap!” jawab anak-anak serempak.

“Tarik!”

Tali langsung menegang. Semua orang menarik sekuat tenaga. Anak-anak berteriak. Ayah-ayah memberi semangat.

“Ayo! Sedikit lagi!”

“Tarik yang kuat!”

Alvian ikut menarik. Tubuh kecilnya condong ke belakang. Kakinya menahan tanah. Tangannya mengepal di tali.

Di belakang nya, Fahri ikut menarik. Kuat. Stabil.

“Bagus, Al!” ucapnya. “Tahan!”

Alvian menggigit bibirnya. Berusaha lebih kuat. Namun sesekali… ia melirik ke samping. Melihat tangan Fahri. Besar. Kuat. Menahan tali itu dengan mudah.

Dan tanpa sadar, tangannya sedikit bergeser. Mendekat. Hingga… menyentuh tangan Fahri.

Fahri tersentak sedikit.

Namun ia tidak menarik tangannya.

Ia hanya menggeser genggamannya, memastikan tangan kecil itu tetap aman di bawahnya. Jarinya menekan lebih kuat pada tambang. Bukan untuk dirinya. Tapi untuk anak itu.

“Tarik, Al!” suaranya lebih dalam.

Tali bergerak. Sedikit. Sedikit lagi—

“Menang!”

Sorak sorai pecah. Beberapa anak melompat kegirangan.

Alvian terhuyung sedikit ke depan. Namun Fahri cepat menahannya.

“Hati-hati,” ucapnya.

Alvian menatapnya. Napasnya masih terengah. Lalu, senyum itu muncul. Lepas. Refleks. Seperti anak-anak lain yang baru saja menang.

Namun senyum itu… tidak bertahan lama. Perlahan memudar. Menjadi lebih tenang. Lebih dalam.

“Om…” panggilnya pelan.

Fahri mengangguk. “Iya?”

 

...🔸🔸🔸...

...“Kehadiran yang salah… tetap lebih baik daripada kekosongan.”...

...“Tidak semua anak menang dengan bahagia, meski mereka berdiri di tim yang menang.”...

...“Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi digantikan.”...

...“Ada yang memilih tidak datang… meski tahu ada yang menunggu.”...

...“Kadang, luka terbesar bukan karena kehilangan… tapi karena tahu seseorang memilih untuk tidak ada.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
septiana
lanjut kak Nana semangat 💪🥰
Wardi's
terbaik...
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Semoga Ridho datang menemui Ayza untuk menjelaskan kesehatan Kaysaf bahkan lebih bagus lagi Nara sebagai dokter yang menangani Kaysaf yang menemui Ayza & menjelaskan secara rinci tentang kesehatan
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
ah terserah lo dah... lebih sakit ditinggal pergi tanpa kejelasan....
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
kaysaf jodoh maut kan rahasia allah... kl emang ente pergi duluan seharusya biarkan istrimu menjalani peranya mendapatkan syurga telah mengurusmu ini namay tak percaya dong.... ah susah jelasin sma orang pikiranya sensitif
abimasta
reza mau jadi pebinor,merusak rumah tangga orang
Muhammad Fauzan
suka
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Gadis misterius
Seharsnya kaysaf klu bnr2 mencintai ayza biarkan diakhir hidupnya tetap dirawat ayza dan diwkt mau maninggal baru ngasih wasiat sruh menikah dngn fahri agar fahri menjaga ayza dan all supaya tdk ada yg mengangu apa lagi dr mantan yg tdk tau diri itu sungguh kasian ayza klu setiap hari hrus berusan dngn buaya buntung ...untungya ayahya reza peka klu reza orangnya licik dan pinter bersilat lidah
Syarifah: Setuju
total 1 replies
naifa Al Adlin
padahal itu dokter
naifa Al Adlin
tuh kan bener, kaisyaf sakit. dia g mau lihat ayza sedih. makanya dia berpura2 selingkuh
ngatun Lestari
makin seru ini.... ditunggu lanjutannya... semangat dan sabar ya ayza
Dew666
💜💜💜
Wardi's
waduuh siapa yg datang... yg gk diharapkan datang pst bukan klrg dekat.., zahron, semoga gk muncul lg..
Hanima
Reza kah?.
Siti Jumiati
lanjut Kak nana💪🙏
Yunita Sophi
wlo Reza mengejar tolak Ayza dgn tegas... banyak pria baik di dunia ini selain Reza...
Dek Sri
jangan mengharapkan ayza lagi Reza, ayza gak akan mau sama kamu yang udah pernah nyakitin dia
Anitha Ramto
mimpi kamu terlalu tinggi Reza ingin mendekati Ayza dan balikan lagi itu tidak akan terjadi,,Fahri yang akan mendaji garda terdepan untuk melindungi Ayza darimu Reza....

Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Anonim
Nara yang cuma sahabat - merasa hancur lihat kondisi Kaisyaf. Ia jadi bisa merasakan bagaimana istrinya Kaisyaf.

Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.

Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.

Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.

Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.

Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
love_me🧡
tenang pak Rahman mungkin sebentar lagi Fahri akan menikah+bonus dapat cucu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!