NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
​Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
​Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

​Mata Rendi berbinar. “Benar! Kakakku sudah nemenin kamu bertahun-tahun. Kalau putus, kamu harus bayar 'uang putus'!”

​Memanfaatkan kelengahan Arga, Bu Lastri tiba-tiba menerjang hendak merampas mangkuk itu. Arga dengan sigap menghindar ke samping.

​Gubrak!

​Bu Lastri tersungkur ke aspal.

​“Arga! Kamu apakan Ibuku?!” teriak Tiara sambil menolong ibunya.

​“Ganti rugi! Kamu harus bayar! Tanpa 3 juta, jangan harap kamu bisa pergi!” maki Bu Lastri sambil meringis kesakitan.

​Arga mengeluarkan ponselnya dan langsung menekan nomor 110. “Halo, kantor polisi? Ada percobaan perampokan di depan Toko Jati Lawas, Jalan Pemuda. Mohon segera datang.”

​Keluarga itu terperanjat.

​“Kalian tidak mau aku pergi, kan? Ya sudah, mari kita tunggu polisi bareng-bareng!”

​Wajah Tiara memucat. “Arga! Kenapa kamu jadi sekejam ini? Kasih saja mangkuk itu, dan urusan kita selesai! Kenapa kamu pelit sekali? Apa nuranimu sudah hilang?!”

​“Nuraniku?” Arga tersenyum dingin. “Nuraniku tidak hilang—aku cuma sudah berhenti jadi donatur buat vampir seperti kalian!”

​Tanpa menunggu balasan, Arga melangkah pergi meninggalkan mereka yang terpaku ketakutan mendengar kata "polisi". Begitu Arga menjauh, wajah keluarga itu tampak kelam.

​“Ibu, kita tidak bisa diam saja!” teriak Rendi histeris. Di matanya, Arga seharusnya adalah mesin uang yang bisa diperas selamanya.

​“Uang itu harusnya buat bayar utangku! Kenapa dia malah beli mangkuk sampah?!” Rendi menggeram.

​“Rendi, tenang dulu,” ujar Bu Lastri sambil memegangi punggungnya. “Nanti kalau Tiara sudah resmi sama Nak Yuda, kita suruh Nak Yuda pakai orang buat kasih pelajaran sama si Arga!”

​Tiara menatap punggung Arga dengan kebencian mendalam. “Benar! Mas Yuda itu orang kaya beneran. Kalau aku sudah jadi istrinya, akan aku buat Arga memohon-mohon di kakiku!”

......................

​Di sisi lain, dalam perjalanan pulang, Arga tiba-tiba menghentikan langkahnya. Di seberang jalan, ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenal—sosok yang di kehidupan sebelumnya adalah penyesalan terbesarnya karena tidak pernah ia perjuangkan.

​Jantungnya berdegup kencang. Itu... benar-benar dia!

​Perempuan muda yang berjalan ke arahnya bernama Sherly.

​Saat ini, ia mengenakan setelan kerja putih khas kalangan profesional Jakarta. Kakinya yang jenjang terbalut stoking hitam, tubuhnya tinggi dengan proporsi sempurna. Setiap langkahnya di trotoar tampak laksana seorang supermodel yang sedang melenggang di atas catwalk.

​Raut wajahnya begitu halus dan indah, seolah dipahat oleh tangan pemahat ulung. Setiap pria yang berpapasan dengannya—tanpa memandang usia—tak kuasa menahan diri untuk meliriknya lebih dari sekali.

​Pada saat itu, entah ia teringat sesuatu yang membahagiakan, senyum tipis pun terbit di sudut bibirnya. Senyum itu membuat Arga merasa seperti diterpa angin pegunungan yang sejuk; hatinya seolah terbuai dan mabuk oleh kehangatan yang lembut.

​“Dia tersenyum begitu indah… seperti bunga yang mekar di musim semi,” gumam Arga pelan.

​Sherly adalah teman sekelas Arga semasa SMA—sekaligus dewi sekolah yang paling populer di antara para siswa laki-laki. Kala itu, keluarga Arga hidup dalam kemiskinan. Ia pendiam, jujur, dan kerap menjadi sasaran perundungan. Namun, setiap kali ia ditindas, Sherly selalu menjadi satu-satunya orang yang berani maju membelanya.

​Sejak saat itu, Arga menempatkan Sherly sebagai dewi dalam hatinya. Namun, jarak di antara mereka terlalu jauh. Pada akhirnya, Sherly dikirim oleh keluarganya untuk melanjutkan studi ke luar negeri, sementara Arga hanya diterima di sebuah universitas negeri biasa. Sejak saat itu, keduanya putus kontak sama sekali.

​Kemudian, setelah Arga terjebak dalam pernikahan beracun dengan Tiara, ia benar-benar terluka—lahir dan batin. Saat mengenang masa lalu yang pahit itu, sebuah pikiran gila tiba-tiba muncul di benaknya: bercerai, lalu mencari Sherly!

​Sejak hari itu, Arga mulai mati-matian mencari informasi tentang Sherly. Ayah Sherly, Pak Gunawan, adalah seorang taipan properti ternama di Semarang, dengan kekayaan yang menempati jajaran sepuluh besar di wilayah tersebut. Namun, nasib malang menimpa keluarga itu. Ibunya meninggal dunia akibat kecelakaan, dan sejak itu Sherly menderita depresi berat.

​Pada tahun yang sama, bisnis Pak Gunawan mengalami kegagalan besar. Perusahaannya bangkrut dan terlilit utang dalam jumlah sangat besar. Demi bangkit kembali, Pak Gunawan memilih jalan pernikahan bisnis—menikahkan putrinya dengan anak dari keluarga kaya raya. Pada malam pertama pernikahan itu, Sherly memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

​Ketika mendengar kabar tersebut di kehidupan sebelumnya, Arga terguncang hebat. Ia bersumpah, jika Tuhan memberinya satu kesempatan lagi untuk bertemu Sherly, ia akan melakukan apa pun untuk melindungi "Cahaya Putih" yang bersemayam di dalam hatinya.

​Mengingat semua itu, Arga menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri, lalu melangkah maju sambil menyapa dengan tenang dan sopan, "Hai."

​Namun, Sherly hanya meliriknya dengan tatapan aneh, memaksakan sebuah senyum sopan, lalu segera berlalu pergi.

​“Tidak mengenaliku?” Arga menyentuh hidungnya dengan canggung.

​Ia tidak menyerah. Arga tahu, saat ini Sherly bekerja sebagai analis sekuritas di Semarang Sekuritas. Kebetulan, dalam waktu dekat akan terjadi gejolak besar pada pasar berjangka nikel internasional. Sebagai orang biasa, mustahil membuka akun di luar negeri untuk berspekulasi secara mandiri—semua harus melalui lembaga profesional.

​Dengan pertimbangan itu, Arga pun melangkah masuk ke Gedung Semarang Sekuritas. Baru saja melewati pintu masuk—terdengar keributan keras.

​Saat menoleh, Arga melihat Sherly sedang dimarahi oleh seorang perempuan paruh baya yang masih tampak cantik namun berwajah garang. Wajah Sherly memerah, jelas terlihat bekas tamparan, bahkan ada dua goresan berdarah di pipi kanannya—bekas cakaran kuku.

​“Kamu perempuan jalang! Baru masuk kantor sudah berani menggoda suamiku?! Tidak tahu malu!”

​“Nyonya Setiawan, saya… saya tidak—”

​“Tidak apa? Mataku ini buta, ya?! Berlutut dan minta maaf padaku sekarang juga!”

​Arogan. Sewenang-wenang. Sama sekali tidak masuk akal! Namun, tak seorang pun di sekeliling berani membantu Sherly. Perempuan paruh baya itu bernama Ratna Setiawan, istri Hadi Setiawan, pimpinan tertinggi Bank Semarang!

​Ratna terkenal sangat picik dan pencemburu. Biasanya, setiap melihat perempuan cantik dan modis di jalan, ia akan langsung melabelinya sebagai perempuan murahan. Hari ini, ia menemani suaminya melakukan kunjungan bisnis, dan kebetulan Sherly yang menyambut mereka. Hanya karena Sherly tersenyum sopan kepada Hadi, wajah Ratna langsung berubah muram.

​Saat ini, Sherly benar-benar merasa terzalimi dan ketakutan. Ia baru saja lulus kuliah dan kembali ke Indonesia—kapan ia pernah berhadapan dengan perempuan semacam ini?

​“Hei! Aku menyuruhmu berlutut dan minta maaf! Apa kamu tidak mengerti bahasa manusia?! Aku akan memukulmu sampai mati, perempuan jalang!”

​Sambil berkata demikian, Ratna kembali mengangkat tangannya. Namun—sebuah tangan yang kuat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya, membuatnya tak dapat bergerak sama sekali.

1
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Jack Strom
Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom: Eh jangan, entar leduk... 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!