Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Dita yang membuat Arjuna patah hati
Rasa asin air mata yang membasahi bibir Dita akhirnya menembus kabut amarah dan cemburu di benak Arjuna. Kesadaran menghantamnya seperti godam, ia baru saja menyakiti wanita yang seharusnya ia lindungi. Arjuna melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, napasnya memburu, matanya yang tadi merah padam kini meredup digantikan kengerian atas perbuatannya sendiri.
"Dita... aku... maafkan aku. Aku tidak bermaksud..." suara Arjuna bergetar hebat, tangannya yang gemetar terulur ingin menyentuh wajah Dita, namun Dita menepisnya dengan benci.
Dita berdiri tegak, meski bahunya masih terguncang oleh isak tangis. Ia menghapus air mata dengan kasar dan mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Arjuna dengan tatapan yang tajam dan terluka.
"Ya, benar! Aku dan Angga adalah sepasang kekasih!" teriak Dita, suaranya pecah di kesunyian kamar. "Kami saling mencintai... dan semua itu hancur karena pernikahan ini! Karena kau hadir di antara kami!"
Deg!
Arjuna membeku. Pernyataan itu menghujam jantungnya lebih dalam daripada pisau belati milik Gareng. Dadanya terasa sesak, seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan rasa perih yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Namun Dita belum selesai. Emosi yang selama ini ia pendam meledak hebat, dipicu oleh perlakuan kasar Arjuna tadi. "Asal kau tahu, Pak... sampai detik ini, aku masih sangat mencintainya! Hatiku masih milik Angga!"
Mendengar kata-kata itu, Arjuna merasa dunianya runtuh seketika. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Ia tidak sanggup lagi menatap Dita. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar dengan terburu-buru, menyisakan suara bantingan pintu yang memekakkan telinga.
Di dalam kamar, tubuh Dita ambruk ke lantai. Ia menangis tersedu-sedu, tangannya mencengkeram sprei ranjang dengan erat dan memukul-mukul kasur seolah ingin melampiaskan segala kepahitannya.
"Kenapa... kenapa takdirku harus sekejam ini?" ratap Dita di sela tangisnya. "Pak Juna, kenapa kau tega? Kau telah mencuri ciuman pertamaku dengan cara yang menjijikkan seperti ini!"
Dita terus menggosok bibirnya dengan punggung tangan hingga memerah, seolah ingin menghapus jejak Arjuna sepenuhnya. Rasa jijik dan kecewa bercampur menjadi satu, membuatnya merasa asing dengan pria yang menyandang status suaminya itu.
Sementara itu, Arjuna berdiri di halaman depan rumah, membiarkan angin malam yang dingin menusuk kulitnya. Ia menyandarkan kepalanya ke pilar beton, matanya terpejam menahan penyesalan yang membuncah. Ia marah pada keadaan, marah pada dirinya sendiri, dan cemburu pada adiknya sendiri.
Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar berhenti di depan pagar. Maudy keluar dari mobil dengan langkah anggun, menggenggam ponselnya yang kini telah berfungsi normal. Ia tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman penuh kemenangan saat melihat Arjuna sedang berdiri sendirian dengan wajah yang tampak kacau.
"Mas Juna? Kenapa di luar malam-malam begini?" tanya Maudy dengan nada yang dibuat-buat manis, meski matanya berkilat licik. Ia mendekat, jarinya sudah bersiap membuka galeri foto. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Aku punya sesuatu yang sudah lama ingin aku tunjukkan padamu. Sesuatu yang akan membukakan matamu tentang siapa sebenarnya wanita yang kau banggakan itu."
Arjuna hanya menatap Maudy dengan pandangan kosong dan dingin, tidak menyadari bahwa badai yang lebih besar akan segera menghantam rumah tangganya yang sudah di ambang kehancuran.
Maudy melangkah mendekat dengan senyum kemenangan yang semakin lebar. Ia merasa di atas angin, yakin bahwa detik ini juga, kehancuran Dita ada di ujung jarinya. Dengan gerakan dramatis, ia menyalakan layar ponselnya dan mencari foto yang ia anggap sebagai kartu as untuk memenangkan hati Arjuna kembali.
"Mas Juna, lihat ini. Foto ini diambil tepat sebelum penculikan itu terjadi. Istri kecilmu yang tampak polos itu ternyata sedang berpelukan mesra dengan... "
SRET!
Belum sempat Maudy menyelesaikan kalimatnya, tangan Arjuna bergerak secepat kilat. Dengan gerakan kasar yang tak terduga, ia merampas ponsel itu dari tangan Maudy.
"Mas! Apa yang kamu... "
BRAK!
Arjuna tidak membuang waktu. Ia membanting ponsel mahal itu ke aspal jalanan dengan sekuat tenaga, lalu menginjaknya dengan sepatu botnya hingga layar kacanya hancur berkeping-keping dan komponen di dalamnya mencuat keluar. Ponsel itu mati total, hancur menjadi sampah tak berguna dalam sekejap.
Maudy terpekik histeris, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya terbelalak menatap puing-ponselnya di bawah kaki Arjuna. "Mas Juna! Kamu gila?! Itu bukti kalau Dita berselingkuh dengan adikmu sendiri! Kenapa kamu malah menghancurkannya?!"
Arjuna melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Maudy terpaksa mundur karena ketakutan melihat kilat amarah yang membara di mata pria itu.
"Pergilah dari sini, Maudy! Aku sudah muak melihat tampangmu yang sok polos, padahal sebenarnya hatimu busuk!" bentak Arjuna dengan suara menggelegar, membuat suasana malam yang sunyi menjadi mencekam.
"Mas... aku hanya ingin menyelamatkanmu..." rintih Maudy dengan suara gemetar.
"Menyelamatkanku? Atau memuaskan obsesimu?" Arjuna mencengkeram udara dengan tangannya yang bebas, menahan diri agar tidak meledak lebih hebat. "Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah membaca surat dari Angga. Aku tahu sejarah mereka, dan aku tidak butuh foto sampah darimu untuk memberitahuku apa yang harus aku lakukan!"
Arjuna menunjuk ke arah gerbang dengan tegas. "Asal kau tahu, Maudy... aku telah mencintai Dita! Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitinya, termasuk kamu! Jika kau berani mengusik ketenangan keluargaku lagi, aku sendiri yang akan memastikan kau menyesal seumur hidupmu!"
Kalimat itu menghantam jantung Maudy lebih keras daripada bantingan ponsel tadi. Dunianya terasa runtuh. Kata-kata "Aku telah mencintai Dita" bergema di telinganya bagaikan lonceng kematian bagi harapannya selama bertahun-tahun. Pupus sudah rencananya untuk kembali ke pelukan Arjuna.
Maudy menatap Arjuna dengan tatapan yang hancur, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang tertutup riasan tebal. Rasa kecewa, marah, dan malu bercampur menjadi satu hingga dadanya terasa sesak.
"Kamu akan menyesal, Mas... Kamu akan menyesal karena lebih memilih wanita itu daripada aku!" teriak Maudy dengan suara serak di sela isak tangisnya.
Tanpa menoleh lagi, Maudy berbalik dan berlari menuju mobilnya. Ia memacu kendaraannya pergi dari kediaman Diningrat dalam keadaan hancur lebur, meninggalkan Arjuna yang masih berdiri mematung di bawah cahaya lampu jalan.
Arjuna mengembuskan napas panjang, ia menunduk menatap puing-puing ponsel Maudy di bawah kakinya. Meski ia telah mengusir Maudy, hatinya sendiri belum tenang. Pengakuannya bahwa ia mencintai Dita baru saja ia ucapkan dengan lantang, namun ia tahu, di dalam kamar sana, ada seorang wanita yang sedang menangis dan mungkin membencinya setengah mati karena ciuman brutalnya tadi.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna