NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Konvoi Menuju Kegelapan

Suasana di luar restoran tidak mereda, justru semakin liar. Di bawah pengaruh alkohol yang sudah naik ke kepala, ide gila yang dilemparkan Riko tentang "Dukun Sakti" itu tiba-tiba menjadi magnet bagi semua orang. Mereka yang tadinya hanya ingin berpesta, kini merasa tertantang untuk melakukan petualangan mistis di tengah malam.

"Ayo! Kita buktikan apa dukun itu benar-benar hebat!" teriak Bram sambil mengangkat botol Miras-nya ke udara. "Siapa tahu dia bisa meramal kapan aku jadi bos!"

"Atau mencarikan jodoh buat Colette! Biar dia tidak murung terus seperti hantu!" sahut Linda dengan tawa melengking yang pecah di tengah kesunyian malam.

Tanpa memedulikan kondisi Colette yang masih terguncang, rekan-rekan kerjanya mulai bergerak rusuh menuju mobil masing-masing. Mereka berteriak, tertawa, dan saling tantang untuk berangkat ke lokasi tersembunyi yang disebutkan Riko. Bagi mereka, ini hanya hiburan tambahan setelah mabuk. Namun bagi Colette, ini adalah awal dari mimpi buruk yang baru.

Suasana di luar restoran bukan lagi sekadar riuh, tapi sudah berubah menjadi kegilaan yang terencana. Di bawah pengaruh alkohol, rasa kemanusiaan rekan-rekan kerja Colette seolah menguap, digantikan oleh naluri berburu yang kejam.

"Hei! Semuanya dengar!" teriak Linda sambil berdiri di atas pembatas jalan, botol minuman di tangannya bergoyang-goyang. "Riko bilang ada dukun hebat di pinggiran kota. Kita ke sana sekarang! Kita lihat apa dukun itu bisa mengusir hantu yang ada di dalam tubuh Colette!"

Gelak tawa pecah menyambut ide itu. Mereka tidak melihat Colette sebagai teman yang sedang sakit, melainkan sebagai objek hiburan—sebuah "properti" untuk melengkapi petualangan mistis mereka malam itu.

"Benar! Ayo bawa si hantu ini!" Bram berseru sambil menghampiri Colette yang masih terduduk lemas di trotoar.

Paksaan di Tengah Malam

Jude mencoba pasang badan, lengannya terentang menghalangi mereka. "Jangan sentuh dia! Dia sedang tidak sehat!"

Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Beberapa pria yang sudah mabuk berat menarik Jude menjauh, sementara Linda dan dua rekan wanita lainnya mencengkeram lengan Colette dengan kasar. Mereka menariknya berdiri tanpa memedulikan kaki Colette yang lemas dan hampir terseret di aspal.

"Ayo, Colette! Jangan sombong," Linda berbisik tajam tepat di telinganya, bau alkoholnya membuat Colette mual. "Kau selalu diam seperti mayat, kan? Kita lihat nanti, apa kau tetap bisa diam saat dukun itu membongkar isi kepalamu yang aneh itu."

Colette tidak bisa melawan. Ia dikerubungi oleh tawa ejekan dan tarikan kasar. Di dalam kepalanya, suara-suara dari masa lalunya kembali bergema—suara tawa pria-pria di kebun kosong itu seolah bersatu dengan tawa rekan-rekannya sekarang. Ia merasa seperti domba yang sedang diseret menuju tempat penjagalan.

"Masukan dia ke mobil belakang!" perintah seseorang.

Jude, yang tidak bisa menghentikan kerumunan orang mabuk itu, akhirnya terpaksa ikut masuk ke dalam mobil karena ia tak akan membiarkan Colette sendirian bersama mereka.

Ia duduk di samping Colette yang kini meringkuk di pojok kursi belakang, memeluk tasnya dengan tubuh yang bergetar hebat.

Iring-iringan tiga mobil itu membelah malam, meninggalkan lampu kota menuju jalanan setapak yang dikelilingi pohon-pohon jati yang menjulang tinggi. Sepanjang jalan, orang-orang di dalam mobil tidak berhenti mengolok-olok.

"Kira-kira dukunnya bakal takut tidak ya lihat Colette?"

"Mungkin dukunnya malah mengira Colette itu salah satu pasien yang kabur dari alam kubur!"

"Hahaha! Hei hantu, jangan lupa minta ramalan jodoh ya! Siapa tahu ada genderuwo yang naksir!"

Colette hanya memejamkan mata rapat-rapat. Air mata mengalir dalam diam,

Iring-iringan mobil itu membelah kegelapan malam, meninggalkan peradaban menuju pinggiran kota yang hanya berisi pepohonan jati dan rimbun semak belukar. Di dalam kabin mobil yang pengap, udara terasa berat bukan hanya karena asap rokok dan sisa alkohol, tapi karena kebencian yang dilemparkan bertubi-tubi.

"Lihat dia," celetuk Linda sambil melirik Colette lewat kaca spion tengah. "Bahkan di kegelapan begini, wajahnya tetap lebih pucat dari lampu jalan. Benar-benar hantu."

Bram yang duduk di depan tertawa terbahak-bahak, menyandarkan kepalanya ke kursi sambil memegang botol minuman yang hampir kosong.

"Hei, hantu! Nanti kalau sudah sampai di depan Si Mbah, jangan sampai kau pula yang merasuki dukunnya ya? Aku tidak mau pulang membawa mayat hidup sepertimu!"

Tawa mereka meledak, memenuhi ruang sempit itu dengan suara-suara yang menyakitkan. Colette hanya bisa meringkuk di sudut kursi, memalingkan wajahnya ke arah jendela yang gelap. Ia tidak membalas. Ia tidak pernah membalas.

Jemari pucatnya terus bergerak secara ritmik, menghapus sisa air mata yang jatuh di pipinya dengan gerakan cepat dan sembunyi-sembunyi. Ia tidak ingin mereka melihatnya menangis; ia tidak ingin memberi mereka kepuasan bahwa mereka telah berhasil menghancurkannya.

Namun, setiap kata ejekan yang keluar dari mulut rekan-rekannya terasa seperti silet yang mengiris kulitnya yang sudah luka.

Pantas saja kau sendirian.

Kau itu pembawa sial.

Lihat, bahkan ibumu sendiri pasti malu punya anak sepertimu.

Suara-suara itu terus berdengung di telinganya. Colette memejamkan mata rapat-rapat, namun air mata itu terus merembes keluar, membasahi ujung kemejanya yang kotor.

Jude, yang mengemudi di barisan belakang dengan perasaan campur aduk, hanya bisa menatap punggung Colette dari kejauhan setiap kali lampu rem mobil di depannya menyala.

Ia merasa sangat tidak berdaya. Ia ingin menghentikan semua ini, tapi ia tahu orang-orang mabuk ini sudah kehilangan hati nurani mereka malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!