Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bom Waktu Dimulai
Pagi itu, suasana di lobi kediaman Sinclair terasa lebih dingin dari biasanya. Nathaniel berdiri bersandar di pintu mobil, melirik jam tangannya dengan tidak sabar. Namun, ketika pintu utama rumah terbuka dan sosok Alessia muncul, napas Nathaniel seolah tertahan di tenggorokan, bukan karena kagum, melainkan karena rasa protektifnya yang mendadak melonjak ke level bahaya.
Alessia melangkah dengan anggun, mengenakan setelan office wear yang sangat modis namun berani. Rok span hitamnya jatuh beberapa sentimeter di atas lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya yang terbalut stocking tipis, dipadukan dengan stiletto yang membuatnya tampak jauh lebih dewasa, dan jauh lebih menantang.
"Mau ketemu klien yang jual wine pakaian kamu seperti ini?" tanya Nathaniel ketus saat Alessia sudah berdiri di hadapannya. Matanya menatap tajam, seolah ingin memanjangkan rok itu hanya dengan kekuatan pikiran.
Alessia hanya mengangkat bahu dengan santai, mengabaikan kilat kemarahan di mata Nathaniel. "Kenapa, Kak? Ini wajar saja. Ini pakaian standar untuk ke kantor juga, kan? Lagipula, kita akan bertemu di lounge hotel mewah, bukan di pasar," jawab Alessia tenang, sengaja menunjukkan sisi mandirinya.
Nathaniel mendengus kasar, tangannya terkepal di saku celana. "Terserah kamu saja. Ini sudah terlalu lambat untuk berganti pakaian kalau kita tidak mau terlambat," ucap Nathaniel yang sudah kehabisan kata-kata. Ia segera membukakan pintu mobil dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari biasanya, tanda bahwa egonya sedang terusik hebat.
Sepanjang perjalanan, Nathaniel hanya diam membisu, namun matanya terus mencuri pandang ke arah kaki Alessia yang terpampang jelas di kursi sebelah. Ia merasa geram pada dirinya sendiri karena tidak bisa melarang Alessia lebih keras, sekaligus geram pada pria-pria di luar sana yang nanti akan menatap adiknya itu.
Sesampainya di lokasi pertemuan, mereka disambut oleh klien distributor wine ternama yang merupakan seorang pria paruh baya yang sangat ramah, namun memiliki tatapan yang terlalu sering singgah di kaki Alessia saat mereka duduk di sofa rendah lounge tersebut.
Nathaniel yang menyadari arah pandangan sang klien langsung merasakan darahnya mendidih. Tanpa interupsi di tengah pembicaraan bisnis yang sedang berlangsung, Nathaniel berdiri sebentar, melepas jas mahalnya yang berwarna gelap, lalu dengan gerakan posesif yang sangat natural, ia menyampirkan jas itu di atas pangkuan Alessia, menutupi paha gadis itu sepenuhnya.
"Suhu di ruangan ini agak terlalu dingin untukmu, Al," ucap Nathaniel pelan namun penuh penekanan, matanya menatap tajam ke arah sang klien seolah memberikan peringatan tak kasat mata.
Alessia tertegun sejenak merasakan berat dan kehangatan jas Nathaniel yang masih menyimpan aroma parfum maskulin pria itu. Di balik dokumen kontrak yang ia pegang, sebuah senyuman penuh kemenangan terukir di wajahnya.
"Misi kedua: sukses besar," batin Alessia. Ia tahu, sekeras apa pun Nathaniel mencoba menjadi "kakak" yang profesional, pria itu tidak akan pernah bisa membiarkan pria lain menatap apa yang secara naluriah ia anggap sebagai miliknya.
Suasana di dalam ruang kerja eksekutif itu mendadak terasa mencekam sekembalinya mereka dari pertemuan bisnis. Alessia melangkah masuk lebih dulu, meletakkan tasnya dengan gerakan santai yang dibuat-buat. Ia melepas blazer elegannya, menyisakan kemeja putih berbahan halus yang mengikuti lekuk tubuhnya dengan sempurna, sebuah pilihan busana yang jauh lebih berani dari biasanya.
Dengan sengaja, sambil menatap pantulan dirinya di kaca besar ruangan, Alessia membuka dua kancing teratas kemejanya. Ia seolah ingin menghirup udara lebih bebas, namun matanya melirik ke arah Nathaniel yang baru saja menutup pintu.
Nathaniel membeku. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Pemandangan itu, ditambah dengan rok pendek yang tadi sempat ia tutupi dengan jasnya, benar-benar memutus sirkuit kesabaran yang ia bangun selama sepuluh tahun.
"Kamu mau dilihat sama staf berpakaian seperti itu?" tanya Nathaniel, suaranya rendah namun bergetar karena amarah yang tertahan.
"Memang salah, Kak? Ini gerah sekali," jawab Alessia menantang, ia berbalik dan menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja, menatap Nathaniel dengan binar provokatif.
"Kancing gak!" teriak Nathaniel. Suaranya menggelegar di ruangan yang kedap suara itu, membuat bahu Alessia sedikit tersentak, namun gadis itu tetap pada posisinya.
"Gak mau!" jawab Alessia lantang.
Tanpa berkata-kata lagi, Nathaniel meraih remote di saku jasnya. Sekali tekan, kaca-kaca transparan yang membatasi ruangan mereka dengan area staf di luar langsung berubah buram seketika. Ruangan itu kini menjadi ruang isolasi yang hanya berisi mereka berdua.
Nathaniel melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka dalam hitungan detik. Ia mengungkung tubuh Alessia di antara kedua lengannya yang bertumpu pada meja, memerangkap gadis itu dalam zona intim yang menyesakkan. Aroma maskulin Nathaniel yang bercampur dengan kemarahan dingin seketika mengepung indra Alessia.
"Aku sudah menahannya dengan sekuat tenaga, kamu jangan memancing, Al," bisik Nathaniel tepat di depan wajah Alessia. Napasnya yang memburu terasa panas di kulit pipi gadis itu.
Matanya yang biasanya teduh kini berkilat gelap, menunjukkan sisi "singa jantan" yang selama ini ia kurung rapat-rapat demi martabat keluarga Sinclair.
"Jangan pernah berpakaian aneh di depan orang lain, selain aku! Paham?" tekan Nathaniel dengan nada posesif yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Sebelum Alessia sempat membalas, Nathaniel membungkam bibirnya. Ia melumat bibir Alessia dengan intensitas yang meledak, sebuah ciuman yang sarat akan rasa frustrasi, keinginan yang terpendam lama, dan pengakuan tak terucap bahwa ia telah kalah pada perasaannya sendiri. Di ruangan yang terkunci rapat itu, dinding "Kakak-Adik" yang mereka jaga selama satu dekade akhirnya runtuh berkeping-keping.
Napas Nathaniel memburu, dahinya bersandar pada dahi Alessia setelah ciuman yang memutus logika itu berakhir. Ruangan yang kini tertutup rapat dari pandangan luar terasa begitu sempit dan panas. Tangan Nathaniel yang tadinya mengungkung meja, kini beralih mencengkeram bahu Alessia, seolah sedang menahan diri agar tidak hancur berkeping-keping.
"Kamu tanya aku suka kamu atau tidak?" suara Nathaniel serak, penuh dengan luka yang selama ini ia tutup rapat. "Iya, Al. Sangat. Aku mencintaimu sampai rasanya mau gila setiap kali ada pria lain yang menyentuhmu."
Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Alessia dengan sorot penuh keputusasaan. "Tapi bagaimana bisa? Setelah semua yang ayahmu berikan padaku? Pendidikan, posisi ini, martabat... dia memberiku hidup saat aku tidak punya apa-apa. Dan sekarang, apa yang kulakukan? Aku mencuri putrinya? Aku mengkhianati kepercayaannya?"
Setiap kata yang keluar dari mulut Nathaniel terasa seperti pengakuan dosa. Baginya, mencintai Alessia bukan sekadar perasaan, tapi sebuah beban moral yang sangat berat. Ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah di rumah tuannya sendiri.
Alessia menatap wajah pria di depannya, pria yang selama ini tampak tak tersentuh, kini terlihat begitu rapuh di hadapannya. Ia meraih tangan Nathaniel, menggenggamnya erat untuk menyalurkan keberanian yang ia miliki.
"Kak... kita rahasiakan saja, bagaimana?" saran Alessia lirih, namun penuh keyakinan.
Mata Alessia berkilat, ia tidak ingin kehilangan Nathaniel hanya karena aturan tak tertulis tentang balas budi. "Kita jalani ini diam-diam. Ayah tidak perlu tahu sekarang. Ibu juga tidak. Biarkan ini jadi dunia kita sendiri di dalam kantor ini, di balik pintu-pintu yang terkunci. Kita hanya butuh waktu sampai aku benar-benar siap menggantikan posisi Ayah."
Nathaniel terdiam, menatap bibir Alessia yang masih sedikit bengkak karena ulahnya. Ide "hubungan rahasia" itu terdengar seperti racun yang manis. Itu adalah solusi sekaligus bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Jika William tahu, bukan hanya kariernya yang hancur, tapi juga kehormatan yang ia jaga selama sepuluh tahun.
Namun, menatap mata Alessia yang penuh harap, Nathaniel menyadari bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali menjadi sekadar "kakak".
"Rahasia?" Nathaniel mengulang kata itu, suaranya kini lebih tenang namun sarat akan bahaya. Ia menarik Alessia kembali ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu.
"Jika kita memulai ini, Al... tidak akan ada jalan kembali. Kamu akan terjebak dalam kebohongan besar bersamaku."