NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15.Bayangan dibalik Gedung

Api unggun hanya menyisakan bara yang berderak pelan, memancarkan cahaya merah temaram yang bergoyang-goyang di permukaan batu dan pasir pantai. Hana dan Yuki sudah terlelap dengan kepala mereka bersandar satu sama lain di kursi lipat, mulut mereka sedikit terbuka karena kelelahan setelah hari penuh dengan perjalanan dan latihan yang melelahkan. Rin masih tertidur nyenyak di dalam mobil, wajahnya tenang di bawah sinar bulan yang jarang muncul dari balik awan. Suasana Kota Karasu benar-benar sunyi sekarang, hanya suara deburan ombak yang seperti irama tetap menghantam pasir dengan lembut.

Ren duduk di atas batu besar yang licin akibat ombak, siku-sikunya menyandar di lutut sementara matanya menatap cakrawala yang tidak terlihat jelas di kegelapan. Udara malam menusuk hingga ke tulang, tapi dia tidak merasa dingin—semua perhatiannya terfokus pada sosok Bu Keiko yang berdiri di sebelahnya, kedua tangan menyelimuti tubuhnya di bawah mantel tebalnya. Wanita itu tampak seperti sedang berjuang dengan sesuatu di dalam dirinya, ragu-ragu sebelum akhirnya menghela napas panjang yang mengubah menjadi uap putih tipis di udara dingin.

"Ren," panggilnya dengan suara yang lembut namun penuh bobot. Suaranya tidak lagi seperti guru yang selalu tenang dan terkendali, melainkan seperti seseorang yang telah membawa beban berat selama bertahun-tahun dan akhirnya siap melepaskannya. "Kamu pernah bertanya mengapa aku begitu membenci cara kerja Ryuji dan Asuka Jaya... mengapa aku rela melakukan apapun untuk membantu restoran ayahmu."

Ren menoleh sedikit, matanya menangkap cahaya bara api yang menerpa sisi wajah Keiko. Suaranya berbeda—ada getaran yang dalam di dalamnya, seolah-olah setiap kata yang keluar membutuhkan usaha besar. "Saya rasa ini bukan hanya tentang persaingan bisnis biasa, Bu."

Keiko mengeluarkan senyum kecut yang penuh kesedihan, matanya menatap ke arah laut yang gelap seperti kain hitam. "Dua puluh tahun yang lalu, Kota Karasu bukan seperti sekarang ini. Tidak ada gedung-gedung beton megah yang menjadi markas Asuka Jaya. Saat itu, kota ini adalah surga bagi para koki independen—setiap restoran punya ciri khas sendiri, setiap hidangan bercerita tentang sejarah dan hati sang pembuat. Ayahmu, Kudo, dan ibumu, Reina... mereka adalah sosok yang paling bersinar di masa itu. Dua orang muda yang penuh semangat, ingin membuktikan bahwa kuliner bukan hanya tentang keuntungan, tapi tentang menghubungkan hati manusia."

Ren terdiam sejenak. Ia jarang mendengar cerita tentang masa kejayaan orang tuanya selain dari beberapa kalimat singkat yang keluar dari mulut ayahnya saat sedang menikmati teh hangat di malam hari—cerita yang selalu dihentikan sebelum sampai pada bagian akhir.

"Keluarga Asuka saat itu hanya menjalankan usaha kecil yang mendistribusikan bahan makanan lokal," lanjut Keiko, langkahnya sedikit melangkah ke depan agar lebih dekat dengan Ren. "Tapi mereka punya ambisi yang tidak terbatas—bahkan mengerikan. Mereka tidak puas hanya menjadi penyedia; mereka ingin menguasai segalanya. Mulai dari pemasok bahan mentah hingga restoran terbaik di kota. Mereka mulai memonopoli pasokan bahan premium yang sulit didapatkan. Restoran yang menolak untuk bergabung atau menjual hak resep mereka akan langsung diputus pasokan, atau disabotase dengan cara yang sangat kotor—mulai dari menyebarkan kabar bohong tentang kebersihan hingga merusak peralatan dapur."

Cahaya bara api memantul di kacamata Keiko, membuat matanya tampak lebih dalam dan penuh kenangan pahit. "Ibumu, Reina... dia tidak bisa tinggal diam melihat hal itu. Dia adalah orang yang sangat berani, baik saat berdiri di depan kompor maupun saat harus berbicara dengan suara keras untuk kebenaran. Dia yang menggerakkan serikat koki lokal untuk melakukan boikot terhadap produk Asuka. Dan itu adalah saat di mana segalanya berubah menjadi sangat gelap."

Ren merasakan detak jantungnya menjadi lebih cepat, seperti ada sesuatu di dalam dada yang mulai terbangun. Beberapa gambar kabur dari masa kecilnya muncul sejenak—wajah ibunya yang tersenyum saat mengajarinya memotong sayuran, suara tangisan ayahnya di malam hari, dan kabar tentang restoran yang terbakar. Semua itu mulai menyatu seperti potongan puzzle yang lama hilang.

"Restoran mereka terbakar habis dalam sekejap di malam hari yang sangat gelap," bisik Keiko, suaranya hampir tenggelam oleh hembusan angin dan suara ombak. "Laporan polisi mengatakan itu kecelakaan akibat kebocoran gas. Tapi setiap orang yang ada di industri kuliner saat itu tahu—itu bukan kecelakaan. Tekanan yang diberikan Asuka menjadi semakin kuat setelah itu. Banyak koki menyerah, menjual resep mereka dengan harga murah hanya untuk bisa bertahan hidup dan memberi makan keluarga mereka. Hanya ayahmu yang tidak mau menyerah. Dia membuka Ren’s Cuisine di pinggiran kota, menggunakan bahan-bahan lokal yang ia tanam sendiri, dan mencoba menjaga sedikit saja dari api semangat yang ditinggalkan ibumu."

Ren mengepalkan tangannya hingga buku tangannya memucat. Rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya bukan lagi dari udara malam, melainkan dari amarah yang dalam yang selama ini terkubur jauh di dalam dirinya—sebuah rasa sakit yang baru saja menemukan sumbernya.

"Lalu... apa hubungannya denganmu, Bu?" tanya Ren, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya, seolah-olah setiap kata membutuhkan kekuatan besar untuk keluar.

Keiko menundukkan kepalanya, jari-jarinya secara tidak sengaja memainkan ujung tepi mantelnya yang sudah mulai aus. "Aku adalah adik kelas ibumu saat kita masih bersekolah di sini. Dia yang mengajarkanku bahwa kuliner bukan hanya tentang angka dan teknik yang sempurna—melainkan tentang rasa yang tulus dan keberanian untuk berdiri tegak. Saat dia... pergi, aku bersumpah akan tetap di Kota Karasu. Aku akan menjaga apa yang dia tinggalkan, mengawasi setiap langkah Asuka Jaya dari balik meja sekolahku. Itulah sebabnya aku selalu memperhatikan murid-murid berbakat—karena aku tahu, salah satu dari mereka mungkin menjadi orang yang bisa mengubah segalanya."

Keiko mengangkat kepalanya, tatapannya penuh dengan harapan dan sedikit kesedihan yang menyentuh hati Ren. "Ketika melihatmu memasak di penyisihan kemarin... rasanya seperti melihat Reina kembali hidup. Cara kamu memegang pisau dengan percaya diri, cara kamu melindungi teman-temanmu tanpa berpikir dua kali... Asuka Jaya takut padamu, Ren. Ryuji takut padamu. Kamu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa mereka hitung dengan rumus bisnis mereka."

Suasana di bawah langit malam yang penuh bintang itu terasa sangat pekat. Setiap kata yang keluar dari mulut Keiko menyambungkan bagian-bagian cerita yang selama ini Ren tidak ketahui, membuatnya menyadari bahwa dukungan Bu Keiko bukan sekadar tugas seorang guru. Ini adalah komitmen pribadi—sebuah janji untuk masa lalu yang tidak bisa dia selamatkan.

Jantung Keiko berdebar lebih cepat saat dia melihat ekspresi wajah Ren yang semakin jelas. Ada kepercayaan yang dalam yang muncul di matanya, seolah-olah akhirnya menemukan seseorang yang bisa dia percayai sepenuhnya dengan rahasia ini.

"Jadi mereka ingin menghancurkanku sebelum aku menjadi ancaman yang terlalu besar bagi mereka," gumam Ren, matanya kini menatap ke arah arah kota yang jauh di kejauhan—di mana cahaya dari gedung Asuka Jaya masih terlihat menyala terang.

"Betul sekali," Keiko mengangguk dengan tegas. "Mereka tidak akan berhenti hanya dengan foto-foto atau mengintai di dermaga. Di final kompetisi nanti, mereka akan menggunakan segala cara yang bisa mereka pikirkan—baik itu mencoba membelimu dengan tawaran besar, atau menghancurkan reputasimu secara total di depan semua warga Kota Karasu."

Ren berdiri perlahan, badannya tampak lebih tegak dari sebelumnya. Ia menatap ombak yang kini tampak seperti gelombang besar yang siap menyerang, seolah-olah mewakili semua tantangan yang akan datang. "Biarkan mereka mencoba. Ibumu mungkin kehilangan restorannya, tapi dia tidak pernah kehilangan rasa dan prinsipnya. Dan aku adalah orang yang akan membawa kembali apa yang menjadi milik kota ini."

Ia menoleh ke arah Keiko dan memberikan anggukan kecil yang penuh rasa hormat dan keseriusan—sebuah gerakan yang membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dari usianya. "Terima kasih sudah memberitahuku semua ini, Bu. Sekarang aku tahu—kompetisi ini bukan hanya tentang menang. Ini tentang mengembalikan Kota Karasu kepada mereka yang benar-benar mencintainya."

Keiko merasa seperti ada batu besar yang terangkat dari bahunya setelah bertahun-tahun membawanya. Sosok muda di depannya bukan lagi murid yang sering membuatnya khawatir, melainkan seorang pemimpin yang siap mengemban takdirnya dengan bahu yang kuat.

"Sudah sangat larut," ucap Ren dengan suara yang kembali tenang namun kini lebih tegas dari sebelumnya. "Kita harus membangunkan Hana dan Yuki. Akan ada banyak hal yang harus kita siapkan. Besok, latihan kita akan jauh lebih keras dari hari-hari sebelumnya—kita harus siap menghadapi apa saja."

Keiko mengeluarkan senyuman tulus yang penuh kebanggaan. "Aku akan menyusun semua informasi yang kamu butuhkan tentang sistem persediaan dan taktik yang pernah digunakan Asuka Jaya di kompetisi sebelumnya. Siap mengikuti perintahmu, Kapten."

Malam itu, saat mereka mulai berkemas untuk meninggalkan pantai, Ren menoleh sejenak ke arah dermaga tua yang sudah mulai samar di cahaya fajar yang akan datang. Bayang-bayang besar memang ada di sana, tapi kini dia sudah tahu apa yang ada di baliknya—dan punya alasan yang kuat untuk menghadapinya dengan percaya diri.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!