NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Ia Tidak Pernah Pergi

Malam kedua dimulai dengan ketukan yang membuat Mu Qingxue langsung duduk tegak di tempat tidurnya.

“Nyonya Mu.”

Panggil bocah itu dari balik pintu depan rumah. Masih dengan nada yang dia kenal, meski ada getaran di tepinya yang berbeda dari siang hari.

“Nyonya Mu, aku takut,” rengek bocah itu, suaranya mulai pecah. “Aku baru saja bermimpi buruk.”

Mu Qingxue sendiri masih terduduk di tepi tempat tidur beberapa waktu untuk mendengarkan. Setelah jeda yang cukup lama, terdengar telapak tangan menepuk pintu lagi, lebih pelan dari sebelumnya, seperti orang yang sudah kehilangan tenaga untuk mengetuk.

Maka wanita itu pun berdiri.

Pintu depan dibuka dan bocah itu sedang berdiri di luar dengan selimut dari lumbung yang masih menggantung di bahunya, wajahnya pucat di bawah cahaya bulan. Matanya merah di tepinya tapi warnanya normal, coklat gelap yang sudah dia kenal.

“Mimpi apa?” tanya Mu Qingxue.

Bocah itu menggeleng. “Aku tidak mau cerita.”

“Masuklah.” Mu Qingxue membuka pintu lebih lebar. “Kau boleh tidur di ruang tamu,” tuturnya. “Ambil bantal dari kursi besar.”

Bocah itu pun masuk dengan langkah yang masih belum sepenuhnya yakin, melingkarkan selimutnya di atas bantal yang dia ambil, dan berbaring di atas tikar yang belum sempat digulung sejak kemarin. Dalam sepuluh menit, napasnya sudah teratur.

Sementara Mu Qingxue kembali ke kamarnya dan tidak tidur sampai fajar.

Malam berikutnya, bocah itu sudah mengetuk sebelum Mu Qingxue sempat memadamkan lampu minyak.

Dia tidak banyak bertanya kali ini. Hanya membuka pintu, bocah itu masuk dengan selimutnya, mengambil bantal dari tempatnya sendiri yang sudah hafal, dan berbaring. Tersenyum kecil sebelum matanya menutup dan berterimakasih.

Adapun hal-hal yang lebih mudah dibiarkan menjadi rutinitas daripada diperdebatkan setiap malam, dan Mu Qingxue sudah terlalu lelah untuk memutuskan mana yang seharusnya menjadi kekhawatiran dan mana yang seharusnya dibiarkan.

Huang Shen kembali besok, pikirnya. Satu malam lagi.

Tapi masalahnya siang itu membuat besok terasa sangat jauh.

Bocah itu membantu Mu Qingxue menyiangi rumput di sisi kebun yang belum dikerjakan Huang Shen. Pekerjaan yang tidak memerlukan banyak arahan, dan bocah itu sudah tahu cara melakukannya. Mu Qingxue mengerjakan bagian lebih jauh, sesekali menoleh untuk memastikan dia tidak mencabut tanaman yang salah.

Manakala dia menoleh untuk ketiga kalinya, bocah itu tidak ada di baris tempat dia bekerja.

Langsung saja Mu Qingxue menegakkan punggungnya was-was sembari memindai kebun. Lalu matanya menemukan bocah itu di sudut paling jauh kebun, di antara bayangan dinding dan pohon persik tua yang tumbuh di sisi pagar. Punggungnya menghadap ke arah wanita itu dengan wajah ke tembok.

“Hei,” panggil Mu Qingxue karena selama ini tidak pernah bertanya namanya karena takut terluhat akrab di depan Huang Shen.

Namun tidak ada respons apapun.

Alhasil dia berjalan mendekati bocah itu. Dari jarak beberapa langkah, terlihat bahwa bahu bocah itu tidak naik turun dengan ritme pernapasan yang wajar.

“Hei,” ulang Mu Qingxue, lebih keras.

Bocah itu pun berbalik.

Satu detik sebelum wajahnya menghadap ke arahnya sepenuhnya, matanya hitam pekat dari tepi ke tepi, tidak ada coklat, tidak ada putih. Lalu bocah itu berkedip, dan warnanya kembali.

“Nyonya Mu?” Senyumnya muncul seperti tidak ada yang terjadi. “Maaf, aku melamun.”

Mu Qingxue menatapnya. “Sudah berapa lama kau berdiri di sana?”

Bocah itu mengernyit. “Tidak lama. Baru saja.”

Gerutu kecil terdengar dari dalam dada Mu Qingxue tapi tidak keluar melalui mulutnya. Dia sudah menoleh tiga kali sejak mulai bekerja, dan tiga kali itu si bocah masih di barisnya. Berdirinya bukan baru saja.

“Kembali ke barismu,” perintah Mu Qingxue menahan takut.

Bocah itu pun mengangguk riang dan berlari kembali ke tempat rumputnya belum selesai dicabut.

Sementara Mu Qingxue tidak segera kembali ke pekerjaannya. Dia berdiri di sudut itu beberapa saat setelah bocah itu pergi, menatap tempat bocah itu berdiri, dan memperhatikan bahwa rumput di sekitar titik itu layu meski sisa kebun masih hijau.

Hingga matahari tenggelam, sore itu kepalanya mulai berat. Mu Qingxue meminum air, duduk sebentar, lalu berdiri lagi karena masih ada yang perlu dikerjakan. Tapi ketika matahari mulai turun dan tubuhnya terasa seperti diisi pasir basah, dia menyerah.

Tatkala bocah itu kembali dari kebun dengan tangan penuh tanah, Mu Qingxue sudah duduk di kursi ruang tamu dengan kain basah di dahinya.

“Nyonya Mu?” Bocah itu berdiri di pintu. “Kau sakit?”

“Sedikit,” jawab Mu Qingxue sambil memegangi kepalanya. “Kau tidur di lumbung malam ini. Aku perlu istirahat.”

“Tapi… .”

“Di lumbung. Malam ini. Atau Kak Huang Shen akan marah saat dia datang besok.”

Bocah itu diam sejenak. Lalu mengangguk.

Akan tetapi justru itu yang membuat Mu Qingxue memperhatikan, karena bocah itu biasanya tidak langsung menyerah pada hal-hal yang tidak dia suka. Kali ini tidak ada protes, tidak ada mata yang berkaca-kaca, tidak ada cara berlapis untuk meminta pertimbangan ulang.

Hanya anggukan. Dan kemudian tersenyum. Ini aneh.

Senyuman yang terlalu lebar untuk wajah seukuran itu. Yang menarik sisi-sisi mulutnya lebih jauh dari yang biasanya dia lakukan.

“Semoga kau cepat sembuh, Nyonya Mu,” tuturnya.

Lalu berbalik dan pergi ke lumbung.

Mu Qingxue pun duduk di kursi itu lama setelah suara langkahnya menghilang, menatap pintu belakang yang sudah tertutup, dan tidak bisa memutuskan bagian mana dari sepuluh detik terakhir yang paling membuat dadanya tidak nyaman.

Alhasil dia terlelap lebih cepat dari yang diharapkan, tubuhnya yang lelah mengambil alih sebelum pikirannya sempat membuat daftar hal-hal yang perlu dikhawatirkan.

Tidurnya tidak nyenyak. Mimpi datang dalam potongan-potongan yang tidak berurutan, gambar-gambar tanpa konteks yang bergerak terlalu cepat untuk diikuti. Suara yang datang dan pergi. Cahaya yang datang dari arah yang tidak seharusnya.

Kemudian di antara potongan-potongan itu, ada tarikan pelan di ujung selimutnya, seperti seseorang mencoba mengambil tanpa membangunkan. Mu Qingxue merasakan serat kainnya bergerak di bawah tangannya, perlahan, konsisten.

Bocah itu, pikirnya dalam kesadarannya yang setengah aktif. Pasti kedinginan. Pasti tidak bisa tidur di lumbung dan kembali lagi.

Dia hendak berkata sesuatu. Mulutnya membuka sedikit, kata-kata sudah di ujung lidah.

Tapi kemudian tarikan itu berhenti.

Dan sesuatu yang tidak bersuara berdiri di samping tempat tidurnya.

Mu Qingxue merasakan kehadirannya sebelum melihatnya, cara udara di sisi kanan tempat tidurnya berubah kualitasnya, menjadi lebih padat dan dingin dari suhu malam yang seharusnya. Kelopak matanya belum sepenuhnya terbuka, masih di antara tidur dan sadar, akan tetapi apa yang ada di tepi penglihatannya yang mulai terbuka itu tidak bergerak.

Tidak mendekat ataupun mundur, hanya berdiri di sana seperti patung.

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
DanaBrekker: Memang di novel ini sengaja aku buat bertahap penjelasan kultivasinya, mengikuti perjalanan Huang Shen 😄

Tapi kalau mau lihat urutan lengkapnya bisa lihat di bawah ini ;

1. Pemurnian Qi
2. Pembentukan Dasar
3. Inti Emas
4. Jiwa Baru
5. Pembentuk Jiwa
6. Transformasi Jiwa
7. Manusia Abadi
8. Emas Keabadian
9. Keabadian Agung
10. Dewa Purba
11. Puncak Keabadian

Huang Shen saat ini di Inti Emas level 8. Terima kasih atas pertanyaannya. 👍
total 1 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!