NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Kematian, bagi sebagian besar jiwa fana, digambarkan sebagai sebuah tidur panjang yang sunyi. Sebuah pembebasan dari rasa sakit fisik dan beban duniawi. Tidak ada lagi lapar, tidak ada lagi peperangan, hanya ada keheningan abadi di bawah naungan para dewa.

Namun bagi Senopati Gatotkaca, kematian ternyata bukanlah sebuah keheningan. Kematian adalah sebuah padang pasir kelabu yang tak berujung, di mana langitnya tidak memiliki bintang dan udaranya terasa seberat lautan timah.

Sang penjaga awan perlahan membuka matanya. Tidak ada rasa sakit yang menyengat dadanya. Ujung pusaka Konta Wijayadanu yang menembus jantungnya di Tegal Kurusetra tidak lagi terasa membakar urat nadinya. Ia menunduk menatap tubuhnya sendiri. Zirah Antakusumanya yang hancur, sayap bajanya yang patah, dan noda darah musuh yang melumurinya telah lenyap. Ia mengenakan wujudnya yang paling murni: tubuh separuh raksasanya yang terbentuk dari siluet cahaya pucat, tanpa bekas luka, tanpa cacat sedikit pun.

Ia telah tiba di Yamaloka, alam bayang-bayang tempat jiwa-jiwa menunggu pengadilan sebelum disebar ke Swargaloka (surga) atau Kawah Neraka.

Gatotkaca bangkit berdiri. Kakinya tidak memijak tanah berbatu maupun rumput, melainkan kabut tebal yang bergulung-gulung pelan layaknya ombak di lautan mati. Di sekelilingnya, ribuan jiwa lain yang berwujud siluet putih berbaris dalam kebisuan yang absolut. Mereka berjalan lambat, terseret-seret menuju sebuah sungai hitam pekat yang membentang membelah alam kegelapan itu. Sungai Serayu Hitam—batas akhir yang memisahkan kehidupan dari memori yang terlupakan.

Sang ksatria Pringgandani memutar kepalanya, mengamati sekeliling dengan insting jenderal yang belum sepenuhnya mati.

"Jadi inikah akhirnya," gumam Gatotkaca. Suaranya tidak memantul. Di alam ini, kata-kata tidak memiliki gema.

Ia mulai melangkah maju, bergabung dengan barisan panjang jiwa-jiwa yang gugur di Tegal Kurusetra. Ia melihat siluet prajurit-prajurit Astina yang kepalanya ia putus beberapa hari lalu. Ia melihat wajah-wajah pasukan Amarta yang terbakar oleh panah Adipati Karna. Di alam ini, tidak ada lagi panji kerajaan. Tidak ada lagi musuh atau sekutu. Kematian telah menyamaratakan mereka semua menjadi pengantre yang patuh di depan gerbang pengadilan.

Gatotkaca memejamkan mata, membiarkan dirinya terseret oleh arus ribuan jiwa yang bergerak menuju Sungai Serayu Hitam. Ia merasa... lelah. Sebuah kelelahan yang berakar hingga ke dasar eksistensinya. Ia telah menunaikan tugasnya. Ia telah menjadi perisai bagi keluarganya, dan yang terpenting, ia telah memastikan Dewi Pregiwa duduk dengan selamat di atas singgasana Swantipura. Darma-nya telah paripurna. Kini, ia hanya ingin menyeberangi sungai hitam itu, meminum air sungainya agar ingatannya tentang senyum Pregiwa terhapus, dan akhirnya bisa tidur dengan damai.

Namun, semakin dekat ia dengan bibir Sungai Serayu Hitam, sebuah anomali mulai terjadi di dalam wujud rohnya.

Air Sungai Serayu Hitam memiliki kekuatan untuk memadamkan segala hawa duniawi. Jiwa-jiwa yang mendekatinya akan merasa semakin ringan, semakin dingin, dan perlahan kehilangan wujud mereka untuk menyatu dengan ketiadaan. Tetapi bagi Gatotkaca, hawa dingin sungai itu justru memicu sebuah reaksi purba yang sangat menakutkan.

Dada roh Gatotkaca mulai berpendar. Sebuah titik cahaya merah keemasan sebesar biji saga muncul tepat di tempat di mana Konta Wijayadanu menembus jantung fisiknya. Cahaya itu berkedip-kedip, memancarkan hawa panas yang luar biasa.

*Sreett!*

Gatotkaca tersentak mundur. Ia mencengkeram dadanya sendiri. Panas. Panas yang sangat tidak masuk akal kembali membakar jiwanya. Itu bukan panas dari senjata Konta. Itu adalah sisa-sisa lahar Kawah Candradimuka yang dulu digunakan untuk menempanya saat bayi. Sihir para dewa yang membentuk urat kawat dan tulang besinya rupanya tidak terbatas pada tubuh fisiknya saja; sihir itu telah mengakar, bermutasi, dan menyatu dengan inti jiwanya.

Dan Kawah Candradimuka... menolak untuk tunduk pada dinginnya air Sungai Kematian.

"Apa yang terjadi..." desis Gatotkaca, jatuh berlutut di atas kabut. Cahaya merah di dadanya semakin terang, menyilaukan dan menyedot perhatian ribuan jiwa di sekitarnya yang perlahan mundur ketakutan.

Tiba-tiba, dari kegelapan di seberang sungai, sesosok entitas raksasa bertubuh biru kelam muncul melayang di atas air hitam. Entitas itu memiliki empat lengan, memegang gada berduri yang terbuat dari tulang naga, dan matanya memancarkan api kebiruan yang sanggup melihat seluruh dosa di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Itulah Batara Yamadipati, sang Dewa Kematian penguasa Yamaloka.

"Jabang Tutuka... Gatotkaca dari Pringgandani," suara Yamadipati menggema layaknya guntur yang membelah bumi, menghentikan seluruh pergerakan di alam baka. "Putra Bima. Bidak terkuat para dewa. Mengapa jiwamu menolak untuk melepaskan api fana itu di hadapan gerbangku?"

Gatotkaca memaksa dirinya untuk berdiri tegak, meski panas di dadanya terasa seperti sedang melelehkan eksistensinya. Ia memberikan penghormatan kaku kepada sang dewa.

"Ampun, Batara yang Agung," jawab Gatotkaca, menahan rasa sakit gaib yang mencabik-cabik jiwanya. "Hamba tidak memiliki niat untuk menentang hukum alam baka. Hamba hanya ingin menyeberang. Hamba memohon... padamkanlah api di dada hamba ini, agar hamba bisa melupakan segalanya dan beristirahat."

Yamadipati mengayunkan gada tulangnya, menciptakan sebuah pusaran air di Sungai Serayu Hitam. Matanya yang menyala biru menatap lekat-lekat ke dalam dada Gatotkaca.

"Api Candradimuka di jiwamu tidak menyala karena ia menolak kematian, Ksatria," ucap Yamadipati dengan nada yang dingin namun dipenuhi wibawa absolut. "Ia menyala... karena ada sebuah ikatan di dunia fana yang terus menariknya kembali. Kau tidak bisa menyeberangi sungaiku, Gatotkaca. Bukan sebelum karma yang mengikat lehermu benar-benar terputus."

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!