NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar Emas dan Benang Merah

Pagi itu, Jakarta terasa lebih bersahabat, namun bagi Laras Maheswari, segalanya terasa tidak nyata. Di hadapannya berdiri sebuah gedung apartemen di kawasan pusat kota yang menjulang tinggi, dengan fasad kaca yang memantulkan langit biru. Ini bukan lagi gang sempit dengan aroma selokan yang mampet; ini adalah dunia baru yang diberikan oleh Nusantara Arts Foundation.

"Ras, cubit aku sekarang. Aku pasti masih mimpi di bawah kipas angin kosan kita yang berdecit itu," gumam Maya, matanya membelalak menatap lobi apartemen yang dilapisi marmer putih mengkilap.

Laras hanya tersenyum tipis, meski tangannya dingin. "Ini nyata, May. Pak pengacara kemarin bilang ini bagian dari fasilitas kontrak. Mereka ingin aku fokus berlatih tanpa harus memikirkan transportasi atau keamanan."

Seorang petugas concierge berseragam rapi menyambut mereka dengan ramah, seolah mereka adalah tamu kehormatan. Laras dan Maya dibawa ke lantai dua puluh dua. Begitu pintu unit apartemen dibuka, Laras merasa napasnya tertahan. Unit itu luas, dengan jendela setinggi langit-langit yang memperlihatkan pemandangan kota. Di sudut ruangan, terdapat sebuah ruang kosong yang luas dengan lantai parket kayu berkualitas tinggi dan cermin besar yang menutupi satu sisi dinding.

"Ruang latihan pribadi..." bisik Laras. Ia berjalan mendekati cermin itu, menyentuh permukaannya yang dingin. Selama ini, ia berlatih di atas lantai kayu lapuk yang membuat kakinya sering tertusuk serpihan kayu. Sekarang, ia memiliki panggungnya sendiri di dalam rumah.

Laras merasa sangat bersyukur, namun di balik rasa syukur itu, ada secercah kegelisahan yang tulus. Siapakah sosok di balik yayasan ini? Mengapa mereka begitu dermawan pada seorang penari panggilan seperti dirinya? Ia merasa seperti karakter dalam dongeng yang tiba-tiba dijemput kereta kencana, namun ia tahu di dunia nyata, setiap kereta kencana memiliki kusir yang memegang kendali.

***

Satu minggu berlalu. Laras telah memulai jadwal latihannya yang padat di gedung utama yayasan. Ia mendapatkan instruktur terbaik, asupan nutrisi yang diatur, dan kostum-kostum indah yang mulai dijahit sesuai ukuran tubuhnya. Namun, ia belum pernah bertemu dengan sosok pemimpin tertinggi yayasan tersebut.

Hingga suatu sore, suasana di studio latihan utama mendadak berubah tegang. Para staf berlarian merapikan barisan kursi, dan instruktur kepala tampak berkali-kali merapikan kerah bajunya.

"Ada apa, Mbak?" tanya Laras pada seorang asisten kostum.

"Donatur utama yayasan mau datang meninjau, Laras. Beliau jarang sekali ke sini. Beliau orang paling berpengaruh, jangan sampai ada kesalahan, ya," jawab asisten itu dengan nada cemas.

Laras mengangguk, ia segera berdiri di tengah studio, mencoba mengatur napasnya. Ia mengenakan baju latihan hitam yang ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang gemulai dan atletis. Rambutnya disanggul rapi ke atas, menampakkan leher jenjangnya yang indah.

Pintu besar studio terbuka. Langkah kaki yang berat dan berirama terdengar menggema. Sekelompok pria berjas masuk, namun hanya satu pria yang berdiri di paling depan yang sanggup menghentikan detak jantung Laras.

Pria itu tinggi, dengan bahu lebar yang dibalut jas abu-abu gelap potongan tailor-made. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang keras dan mata tajam yang seolah bisa menembus dinding beton. Itu adalah pria yang sama yang Laras bayangkan ada di balik kaca gelap The Eagle. Pria yang aromanya—cendana dan kulit—pernah memenuhi kabin mobil yang mengantarnya pulang.

Elang Dirgantara.

Laras membeku. Dunianya seolah berputar. Ia mengenali tatapan itu. Tatapan dingin yang kini tertuju padanya dengan intensitas yang sanggup membakar.

"Tuan Elang, ini adalah Laras Maheswari, bakat baru yang kami ceritakan," ucap Kepala Yayasan dengan nada menghamba.

Elang tidak melepaskan pandangannya dari Laras. Ia melangkah maju, perlahan, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa dua meter. Aura dominasi Elang memenuhi ruangan, membuat oksigen di sekitar Laras seolah menipis.

"Laras Maheswari," Elang menyebut namanya. Suaranya rendah, serak, dan penuh otoritas yang membuat bulu kuduk Laras meremang. "Akhirnya kita bertemu secara resmi."

Laras berusaha menguasai dirinya. Ia membungkuk hormat, gerakan yang sudah menjadi refleks sebagai seorang penari tradisional. "Selamat sore, Tuan. Terima kasih atas kesempatan yang Anda berikan kepada saya di yayasan ini."

Elang memperhatikan setiap detail gerakan Laras. Bagaimana lehernya menekuk, bagaimana jemarinya yang lentik sedikit bergetar karena gugup. Ia merasa kemenangan kecil di dalam dadanya. Ia telah berhasil menarik bidadari ini keluar dari lumpur dan menempatkannya di sangkar yang layak.

"Jangan berterima kasih kepadaku," ucap Elang dingin, namun matanya berkilat posesif. "Berterima kasihlah pada bakatmu. Tapi ingat, bakat sehebat ini... harus dijaga dengan benar. Aku tidak suka jika ada miliku yang rusak karena lingkungan yang salah."

Laras mendongak, matanya yang teduh bertemu dengan mata Elang yang gelap. "Milik Anda?"

Elang tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata namun terlihat sangat berbahaya. "Yayasan ini milikku, Laras. Dan setiap penari di sini adalah tanggung jawabku. Terutama penari utama... sepertimu."

*

Sesi latihan dimulai di bawah pengawasan langsung Elang. Laras harus menari di depan pria itu. Musik mulai mengalun, dan Laras mencoba mengabaikan kehadiran Elang di kursi penonton yang ada di sudut studio.

Namun, ia gagal. Setiap kali ia berputar, setiap kali ia meliukkan tubuhnya, ia bisa merasakan mata Elang mengikuti setiap inci gerakannya. Tatapan itu terasa seperti sentuhan fisik di kulitnya. Elang tidak berpaling sedetik pun. Ia memperhatikan bagaimana keringat mulai membasahi pelipis Laras, bagaimana dadanya naik turun saat ia mengambil napas dalam.

Bagi Elang, menonton Laras menari di tempat ini jauh lebih memuaskan daripada di The Eagle. Di sini, Laras murni miliknya. Tidak ada tamu mabuk, tidak ada dentum musik yang mengganggu. Hanya ada dia dan tarian Laras.

Setelah sesi latihan berakhir, semua orang meninggalkan studio atas instruksi mata Elang, kecuali Laras.

"Tuan, ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Laras, ia merasa sangat tidak nyaman ditinggal berdua dengan pria sekuat Elang.

Elang berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Laras. Ia mengambil sebotol air mineral yang masih tertutup dan menyodorkannya pada Laras. "Minum."

Laras menerimanya dengan ragu. "Terima kasih, Tuan."

"Apartemen barumu. Apakah kamu menyukainya?" tanya Elang tiba-tiba.

Laras tertegun. "Bagaimana Tuan tahu saya sudah pindah?"

Elang melangkah satu langkah lebih dekat, memangkas ruang pribadi Laras. Ia sedikit membungkuk, sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Laras. Aroma tubuh Elang yang maskulin menyergap indra penciuman Laras, membuatnya sedikit pusing.

"Aku tahu segalanya tentangmu, Laras Maheswari. Aku tahu kamu tidak punya siapa-siapa selain sahabatmu itu. Aku tahu kamu pernah diganggu oleh preman-preman tak berguna di gangmu," bisik Elang. Suaranya terdengar lembut namun posesif. "Itulah sebabnya aku membawamu ke sini. Di sini, tidak akan ada yang berani menyentuhmu. Tidak ada yang berani menghinamu."

Laras merasa jantungnya berdebar kencang. Bukan hanya karena takut, tapi karena ada sesuatu dalam nada bicara Elang yang terdengar sangat protektif, namun sekaligus mengurung. "Tuan... mengapa Anda melakukan semua ini untuk saya? Saya hanya seorang penari biasa."

Elang mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya jemari kokohnya menyentuh dagu Laras, memaksanya untuk tetap menatap matanya. "Karena kamu tidak biasa, Laras. Kamu adalah keindahan yang tersesat di tempat yang salah. Dan aku... aku punya kebiasaan mengoleksi hal-hal indah untuk kusimpan sendiri."

Laras terkesiap. Sifat posesif Elang mulai terlihat dengan sangat jelas. Ini bukan sekadar donatur dan penari; ini adalah penguasa yang sedang menandai wilayahnya.

"Menarilah dengan baik untuk pementasan nanti," lanjut Elang, ibu jarinya mengusap bibir bawah Laras dengan gerakan yang sangat pelan dan menggoda. "Dan ingat satu hal. Panggung ini, apartemen itu, bahkan udara yang kamu hirup di yayasan ini... semuanya adalah pemberianku. Jadi, jangan pernah berpikir untuk menari untuk orang lain selain aku."

Elang melepaskan dagu Laras dan berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Laras yang berdiri mematung di tengah studio yang luas. Laras menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat karena sentuhan Elang.

Di balik kemewahan ini, Laras mulai menyadari bahwa ia baru saja menandatangani kontrak yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan menari. Ia telah menyerahkan dirinya ke dalam kekuasaan seorang Elang Dirgantara—pria yang dingin pada dunia, namun tampaknya memiliki api yang membara dan berbahaya hanya untuknya.

Malam itu, saat Laras kembali ke apartemen mewahnya, ia tidak lagi merasa sesenang sebelumnya. Ia menatap pemandangan kota dari jendela besarnya dan merasa... terkurung. Indah, mewah, namun tetap sebuah kurungan.

Dan di seberang sana, di gedung kantornya yang tinggi, Elang berdiri menatap ke arah apartemen Laras dengan segelas wiski di tangan. "Kamu sudah ada di dalam genggamanku, Laras. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu, apa pun taruhannya."

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!