"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Bima Baca Jurnal Rina
...GAMON...
...Bab 35: Bima Baca Jurnal Rina...
...POV Bima...
---
Kamis – 21.00 WIB
Rumah Baru – Ruang Tamu
Malam itu hujan. Deras. Air jatuh dari langit kayak ada yang nangis di atas. Bima dengar suara air nyiprat-nyiprat di genteng, di daun pisang belakang rumah, di aspal depan teras. Kadang diselingi suara petir jauh—gemuruh pelan yang bikin rumah sedikit bergetar.
Bima berdiri di depan jendela ruang tamu. Ponsel di tangan. Layar nyala, tapi matanya nggak fokus. Notifikasi dari kantor, dari grup keluarga, dari Doni. Semuanya dibaca, nggak ada yang dibales.
Rina di kamar mandi. Udah setengah jam. Air masih mengalir. Mungkin lagi mandi. Mungkin lagi diem di dalem. Atau mungkin lagi nangis. Bima nggak tahu. Dan dia nggak berani nanya.
Rumah baru ini mulai terasa sempit. Dinding-dinding yang kemarin masih putih bersih, sekarang keliatan kayak mulai mendekat. Rak buku di pojok, sofa abu-abu, meja kopi kayu jati—semua benda itu diam. Tapi diamnya berat.
Bima jalan ke sofa. Duduk. Tangan kiri di pangkuan, kanan di sandaran sofa. Posisi santai. Tapi bahunya tegang. Matanya ke rak buku. Ke baris paling atas. Ke buku biru itu. Yang cuma keliatan sedikit pinggirannya dari balik novel-novel tebal.
Dia ingat semalam. Rina nulis di sofa. Wajahnya serius. Tangannya pelan-pelan. Bima nanya, "Lo lagi nulis apa?" Rina jawab, "Catatan belanja."
Bohong.
Dia ingat kemarin. Pulang lebih awal. Rumah kosong. Buku biru itu terbuka di meja kopi. Dia liat sekilas. Kata-kata: capek, bayangan, Bima.
Dia nggak baca lebih. Tapi kata-kata itu nempel di kepala. Kayak duri. Kecil. Tapi setiap kali gerak, nyangkut.
---
21.15 WIB
Ruang Tamu – Masih di Sofa
Bima berdiri. Jalan ke rak buku. Diam-diam. Kakinya telanjang—sendal tertinggal di dekat pintu. Lantai keramik dingin nempel di telapak kaki. Dinginnya naik sampe betis.
Dia berdiri di depan rak. Tingginya nyampe dada. Empat rak. Rak paling bawah miring dikit—kakinya nggak rata, Rina belum sempet ganjel. Rak kedua berisi buku-buku motivasi. Rak ketiga novel-novel tipis. Rak paling atas, novel-novel tebal. Warna-warni. Merah, hijau, biru tua.
Dan di belakangnya, buku biru muda.
Bima angkat tangan. Jari-jarinya nyusuri punggung novel-novel itu. Kertasnya halus. Ada yang agak kasar—sampul buku murahan. Ada yang keras—novel hardcover pemberian teman.
Jarinya berhenti di buku biru.
Dia pegang. Tarik pelan. Buku itu keluar dari persembunyiannya.
Sampulnya biru muda. Lembut. Kayak belacu. Di sampul depan, nggak ada tulisan. Kosong. Tapi ada bekas air mata di pojok kanan bawah—kertasnya sedikit bergelombang, tinta biru luntur dikit. Rina nangis pas nulis ini.
Bima pegang buku itu. Berat. Bukan berat fisik. Tapi berat yang lain. Berat yang nyangkut di dada.
Dia balik ke sofa. Duduk. Buku di pangkuan.
Di luar, hujan masih deras. Petir makin deket.
Buka, Bim. Buka.
Tangan Bima gemetar. Bukan dingin. Tapi takut. Takut baca isinya. Takut tahu apa yang selama ini Rina sembunyiin. Takut tahu seberapa sakit Rina.
Dia buka halaman pertama.
---
Halaman 1
"Hari ini kita pindahan ke rumah baru.
Bima masih tidur. Aku bangun duluan. Seperti biasa.
Aku liat cincin di jari aku. Masih kinclong. Masih baru. Tapi kok rasanya berat, ya?
Mungkin karena aku tahu, di balik cincin ini, ada bayangan yang belum pergi.
Semalem aku nangis lagi. Bima nggak tahu. Aku nutup mulut pake bantal. Dia tidur nyenyak. Aku liat punggungnya dari belakang. Lebar. Tapi jauh.
Aku kangen. Bukan kangen Bima. Tapi kangen... perasaan tenang. Perasaan yakin. Perasaan jadi satu-satunya.
Dulu, waktu Bima masih pacaran sama aku, aku merasa jadi satu-satunya. Ternyata, perasaan itu cuma karena aku nggak tahu kalau ada dia.
Keana.
Aku nulis nama lo, Kean. Maaf. Aku nggak kenal lo. Tapi aku ngerasa kenal. Karena bayangan lo ada di mana-mana. Di rumah ini. Di senyum Bima yang nggak sampe mata. Di matanya yang kosong pas liat ke laut.
Aku nggak benci lo. Aku cuma... capek.
Capek bersaing sama bayangan."
---
Bima berhenti.
Tangannya nggak gemetar lagi. Sekarang matanya yang gemetar. Air mata. Satu. Dua. Jatuh ke halaman. Tinta biru luntur dikit—nambahin bekas air mata yang udah ada sebelumnya.
Capek bersaing sama bayangan.
Rina nulis itu. Rina. Istrinya. Yang tiap pagi masakin sarapan. Yang tiap malem nunggu dia pulang. Yang tiap kali dia diem, nggak nanya. Yang tiap kali dia marah, sabar. Yang tiap kali dia gamon, diem.
Dia diem. Selama ini. Dan Bima pikir itu artinya Rina kuat. Ternyata bukan. Itu artinya Rina nyimpan semuanya. Sendirian. Di jurnal ini. Di kamar mandi. Di balik bantal.
Bima lanjut.
---
Halaman 10
"Hari ini Bima pulang lebih awal. Awalnya aku seneng. Tapi ternyata dia pulang cepet karena capek, bukan karena pengen bareng aku. Kita makan malam diam-diam. Nggak banyak omong. Aku tanya kabarnya, dia jawab 'biasa'. Dia tanya kabarku, aku jawab 'baik'.
Tapi nggak ada yang biasa. Nggak ada yang baik.
Aku liat dia liat ponsel tadi. Cuma sebentar. Liat, terus tutup. Mungkin cek email. Mungkin cek kerjaan. Tapi di dalem hati aku langsung mikir: 'Apa dia buka chat lama? Apa dia buka foto itu lagi?'
Aku tahu ini nggak sehat. Aku tahu aku harus percaya. Tapi bagaimana caranya percaya kalau luka masih segar?"
---
Bima tutup mata. Liat ponsel. Dia ingat. Beberapa hari lalu, dia buka galeri. Bukan nyari foto Keana. Tapi nyari foto lama buat kerjaan. Tapi Rina nggak tahu itu. Yang Rina liat: Bima buka ponsel, liat, tutup. Dan dari situ, Rina langsung mikir yang bukan-bukan.
Bukan salah Rina, pikir Bima. Salah gue. Karena gue udah bangun rasa nggak percaya itu. Dari dulu. Dari chat "maafin aku". Dari foto yang masih disimpen. Dari tiket bioskop yang masih ada di dompet.
Tiket bioskop.
Bima ingat. Tiket itu masih ada. Di dompetnya. Dari dulu. Dia pikir udah ilang. Ternyata masih. Dia nggak sengaja nyimpen. Atau mungkin sengaja, tapi nggak sadar.
Dia buka dompet. Di sela-sela kartu, ada kertas kecil. Lembek. Udah lusuh. Tiket bioskop. Tanggalnya udah luntur. Di belakang, tulisan tangan Keana: "Makasih buat malam pertama kita."
Bima pegang tiket itu. Liat. Lama.
Kertas itu kecil. Tapi beratnya kayak batu.
Dia lipat. Taruh di samping. Buka jurnal lagi.
---
Halaman 20
"Aku tahu Bima masih simpen sesuatu. Aku nggak tahu apa. Tapi aku tahu. Dari cara dia pegang dompetnya. Dari cara dia nutup cepet pas aku deket.
Aku pernah liat sekilas. Kertas kecil. Tiket bioskop mungkin. Atau apa. Tapi aku nggak berani nanya. Takut jawabannya.
Rin, lo payah. Lo nulis di jurnal tapi nggak berani ngomong langsung. Lo beli rak buku buat nyimpen rahasia. Lo mendingan ngomong aja sekalian.
Tapi nggak bisa. Aku nggak bisa. Belum.
Besok aku mau beli tanaman hias. Buat halaman belakang. Biar rumah ini keliatan lebih hidup. Karena kalau rumahnya hidup, mungkin aku juga bisa hidup."
---
Bima tutup jurnal.
Tangannya di atas sampul. Air mata jatuh. Nggak banyak. Tapi berat.
Rina beli rak buku. Bukan buat koleksi. Tapi buat nyimpen rahasia. Rina beli tanaman. Biar rumah keliatan hidup. Karena di dalam, dia mati.
Dan Bima? Bima nggak lihat itu. Selama ini. Dia sibuk sama masa lalunya. Sampai nggak sadar, istrinya mati di sampingnya.
---
21.45 WIB
Ruang Tamu – Masih di Sofa
Suara air di kamar mandi berhenti.
Bima kaget. Cepet-cepet tutup jurnal. Berdiri. Taruh balik di rak. Di baris paling atas. Di belakang novel-novel tebal. Tangan gemetar. Buku hampir jatuh—ditahan. Ditaruh pelan-pelan.
Dia balik ke sofa. Duduk. Ambil ponsel. Pura-pura scroll. Tangan masih gemetar. Mata masih merah. Napas masih ngos-ngosan.
Pintu kamar mandi terbuka. Uap keluar. Wangi sabun.
Rina keluar. Rambut dibungkus handuk. Wajah segar. Mata agak merah—mungkin kena sampo. Atau mungkin nangis. Bima nggak tahu.
"Bim, lo belum tidur?"
"Belum." Suara Bima serak.
Rina jalan ke rak. Ambil handuk kecil—yang disimpan di rak kedua. Jari-jarinya lewat di depan novel-novel tebal. Di depan buku biru. Nggak berhenti. Dia nggak tahu kalau buku itu baru saja dibuka. Kalau isinya baru saja dibaca. Kalau rahasianya udah nggak rahasia lagi.
Dia balik. Liat Bima.
"Lo kenapa? Matanya merah."
Bima geleng. "Nggak. Debu kali."
Rina diem. Liat sekeliling. Jendela tertutup. Rumah bersih. Debu dari mana?
Tapi dia nggak nanya.
"Udah, tidur. Kamu besok kan ada rapat."
"Iya."
Bima berdiri. Jalan ke kamar. Rina di belakang. Mereka masuk kamar. Lampu dimatikan. Gelap.
Bima rebahan di sisi kiri. Rina di kanan. Jarak satu lengan. Kayak biasa.
Tapi Bima tahu, semuanya udah nggak biasa.
---
23.00 WIB
Kamar – Gelap
Rina udah tidur. Atau pura-pura tidur. Napasnya teratur. Pelan. Tangannya di atas selimut—jari-jari kecil, cincin kawin masih melingkar.
Bima buka mata. Liat langit-langit. Gelap. Tapi di kepalanya, terang. Kata-kata Rina berputar-putar.
"Aku nggak benci lo. Aku cuma capek."
"Capek bersaing sama bayangan."
"Aku liat punggungnya dari belakang. Lebar. Tapi jauh."
"Rin, lo payah. Lo nulis di jurnal tapi nggak berani ngomong langsung."
Rina bilang dirinya payah. Padahal Bima yang payah. Bima yang nggak berani ngomong. Bima yang milih diem, milih nyimpen, milih lari ke masa lalu.
Dia balik badan. Hadap Rina. Gelap. Tapi dia bisa lihat garis wajahnya. Alis, hidung, bibir. Bibir yang tadi pagi nyium keningnya sebelum berangkat kerja.
Rin, aku baca jurnal lo. Aku tahu semuanya. Aku tahu lo sakit. Aku tahu lo capek. Aku tahu lo nangis di kamar mandi, di balik bantal, di jurnal ini.
Maaf. Maaf gue nggak liat. Maaf gue sibuk sama luka gue sendiri sampe lupa kalau lo juga punya luka.
Tapi kata-kata itu nggak keluar. Cuma di dalam kepala. Di antara dinding kamar yang sempit. Di antara jarak satu lengan yang rasanya selebas lautan.
---
Bersambung ke Bab 36: Rina Tahu Bima Baca
---
...📝 Preview Bab 36:...
Besok pagi, Rina bangun lebih dulu. Dia liat rak buku. Liat buku biru. Ada yang beda. Posisinya bergeser. Jari-jarinya nyusuri sampul. Ada bekas air mata baru.
Dia tahu. Bima baca.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya, Rina nggak bisa pura-pura lagi.
Bab 36: Rina Tahu Bima Baca—segera.