NovelToon NovelToon
Hanya Sebatas Ranjang Pengganti

Hanya Sebatas Ranjang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nonecis

Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.

Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.

Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.

Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"

Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 Dekat

Anak-anak panti asuhan terlihat bermain, Alea duduk di salah satu bangku tampak tersenyum melihat bagaimana cerianya anak-anak panti itu.

Raidan melangkah menghampirinya dengan memberikan air mineral kepada Alea.

"Terima kasih," ucap Alea mengambilnya dan kemudian Raidan duduk di sebelah Alea.

"Ternyata kamu adalah salah satu donatur terbesar di panti asuhan ini, sungguh aku cukup kaget mendengarnya," ucap Alea sembari ingin membuka botol minuman tersebut.

Tetapi Raidan langsung mengambilnya dan membuka tutup botolnya kemudian memberikan kembali kepada Alea. Alea tersenyum mendapatkan perlakuan khusus seperti itu.

"Saya juga kaget, ternyata Panti asuhan ini adalah milik kamu," sahut Raidan.

"Tetapi sebagai pemiliknya sungguh sangat memalukan tidak mengenali dan donatur terbesar di Panti ini," ucap Alea.

"Kamu terlalu berlebihan, bukan hanya saya donatur di Panti ini, sudah pasti banyak yang lain," ucap Raidan tampak merendah diri.

"Aku sudah memeriksanya dan memang, kamu merupakan donatur tetap di Panti asuhan ini, pengasuh dan anak-anak di sini juga sangat mengenali kamu," ucap Alea.

"Sudahlah jangan terus membahas hal itu," sahut Raidan.

Alea menganggukkan kepala dengan tersenyum. Keduanya sama-sama melihat anak-anak panti masih tetap bermain.

"Mereka semakin besar," ucap Alea.

"Kamu merawat mereka dari kecil?" tanya Raidan.

"Benar! mereka berasal entah dari mana saja, orang tua mereka meninggalkan mereka di depan panti, ada yang dapat di jalanan, huhhh sungguh benar-benar kasihan, tetapi siapa sangka mereka tumbuh menjadi anak yang kuat dan ceria," ucap Alea.

"Suatu saat nanti mereka pasti menjadi anak yang sukses," ucap Raidan.

"Terima kasih untuk doanya, aku juga mengharapkan hal seperti itu," sahut Alea membuat Raidan menganggukkan kepala.

"Hmmm, maaf aku harus meninggalkan kamu sebentar, ini sudah waktunya anak-anak makan siang, aku harus membantu pengasuh untuk menyiapkan makanan," ucap Alea.

"Pergilah," sahut Raidan membuat Alea buru-buru berdiri tetapi saat heelsnya tampak tersandung, hampir saja membuatnya tengkurap ke tanah dan untung saja Raidan tampak siga dengan menahan tubuh Alea.

Jantung Alea berdebar begitu kencang dengan kepalanya terangkat melihat Raidan tampak wajah keduanya saling berdekatan. Raidan dan Alea saling melihat satu sama lain dengan tatapan mata keduanya begitu dalam.

"Maaf!" Raidan melepaskan pegangan itu secara perlahan dengan menegakkan posisi berdiri Alea.

Alea berusaha untuk mengendalikan diri dengan mengatur nafas, wajahnya seketika memerah dengan penuh salah tingkah, bahkan seketika cuaca berubah menjadi panas dan sangat canggung.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Raidan.

"Hmmm," Alea menjawab dengan menganggukkan kepala.

"Lain kali kamu harus hati-hati," ucap Raidan.

Alea menganggukkan kepala dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Raidan.

Alea saat ini terlihat membagi makanan pada anak-anak panti. Raidan juga berada di sana hanya duduk sendiri memperhatikan bagaimana anak-anak kita makan dengan lahap.

Alea melihat ke arah Raidan membuatnya inisiatif mengambil makanan dengan memasukkan ke dalam piring dan kemudian menghampiri Raidan.

"Makanlah!" ucap Alea memberikan.

"Memang hanya apa adanya, tetapi makanan ini yang sudah sangat spesial untuk anak-anak panti," ucap Alea.

Raidan mengambil makanan tersebut dan Alea duduk di sebelahnya.

"Rasanya enak, pantas saja makanan ini sangat spesial untuk anak-anak," sahut Raidan.

"Benarkah," sahut Alea.

"Hmmm, . Apa kamu ikut memasaknya?" tanya Raidan.

"Hanya membantu memotong sayuran dan untuk menakar bumbu dan lain sebagainya urusan pengasuh bagian memasak," jawab Alea.

"Enak, kamu kenapa tidak makan?" tanya Raidan.

"Iya, aku pasti akan makan," jawab Alea dengan tersenyum.

Alea memperhatikan bagaimana Raidan memakan makanan tersebut dengan sangat lahap.

"Ternyata dia tidak cuek seperti yang aku pikir, jika sudah diajak berbicara maka banyak sekali topik yang keluar, selama ini aku pikir dia tipe laki-laki dingin, ternyata orangnya cukup asyik di ajak mengobrol," batin Alea terus memperhatikan Raidan.

Alea dan Raidan pulang dari Panti secara bersamaan. Anak-anak panti asuhan sangat menyukai Raidan, mereka kerap kali membujuk Raidan agar tidak pulang. Alea juga tidak bisa melakukan apa-apa sehingga mereka pulang sampai malam hari.

Raidan tidak mungkin membiarkan Alea pulang sendirian, sudah pasti menemani Alea sampai kedepan pintu Apartemen Alea.

"Lagi dan lagi aku berulang kali merepotkan kamu, maaf harus mengantarkan aku pulang padahal sudah malam, pekerjaan kamu juga banyak terkendala karena berada di Panti asuhan," ucap Alea merasa tidak enak.

"Aku sudah mengatakan berkali-kali kepada kamu bahwa tidak merepotkan sama sekali, lagi pula tadi memang tidak ada pekerjaan dan maka dari itu aku betah di panti asuhan," jawab Raidan.

"Sekali lagi terima kasih untuk hari ini," ucap Alea.

"Saya juga mengucapkan terima kasih kepada kamu karena sudah memberikan saya makan siang," sahut Raidan.

Mendengar hal seperti itu membuat Alea tertawa lucu.

"Baiklah, kamu istirahat saja, saya permisi dulu!" ucap Raidan membuat Alea menganggukkan kepala.

Baru saja Raidan ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja lampu mati dan seketika menjadi gelap.

Alea terlihat begitu panik dengan melihat di sekelilingnya.

"Kenapa tiba-tiba mati lampu seperti ini," ucap Alea dengan suaranya tampak serak.

Seolah tempat itu seketika menjadi sempit dan dirinya merasa terhimpit, suara nafasnya juga terdengar tidak baik saja.

Raidan menyadari jika wanita di hadapannya itu takut akan kegelapan membuat Raidan mengambil ponselnya dan menghidupkan flash.

Barulah Alea sedikit merasa tenang, Raidan bisa melihat dengan bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah cantik Alea ketika berubah menjadi pucat.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Raidan.

Alea mengangguk-anggukan kepala.

"Aku, aku tidak berani sendirian, apa boleh aku menunggu sampai lampunya kembali hidup?" tanya Alea tampak begitu ragu meminta hal yang menurutnya tidak masuk akal.

"Baiklah, ayo masuk, saya akan mencoba untuk mencari penerang agar kamu jauh lebih tenang," ucap Raidan ternyata tidak keberatan membuat Alea menganggukkan kepala.

Alea saat ini duduk di sofa dengan waspada, Alea masih terlalu takut karena ruangan tersebut masih gelap dan dia hanya menggunakan flash yang sejati dia pegang.

Satu persatu cahaya mulai timbul di dalam apartemen tersebut. Raidan ternyata mencari sesuatu yang bisa menjadi penerang dan untung saja menemukan beberapa lilin.

Raidan memasang lilin tersebut dan meletakkan di atas meja yang terdapat di sudut ruangan.

Dengan jarak yang cukup berjauhan dapat membuat ruangan itu seketika menjadi terang walau tidak seterang cahaya lampu.

Alea saat ini sudah merasa jauh lebih baik daripada sebelumnya.

"Terima kasih kamu sudah membuat rumah ini jauh lebih terang," ucap Alea berdiri dari tempat duduknya menghampiri Raidan.

"Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada saya," sahut Raidan.

Alea menganggukkan kepala.

Tarrrr.

"Aaaaa!" Alea refleks memeluk Raidan ketika suara petir tiba-tiba saja terdengar begitu keras.

Alea terlihat semakin ketakutan dan sampai akhirnya menyadari apa yang dia lakukan dan dengan cepat melepas pelukan itu.

"Maaf, aku reflek melakukannya karena kaget," ucap Alea dengan pipinya memerah.

Alea terus menunduk, tidak tahu harus melakukan apa kepada Raidan, sungguh seketika suasana menjadi canggung dan tiba-tiba saja Raidan memegang dagu Alea dengan sejajarkan wajah mereka.

Alea dan Raidan saling menatap satu sama lain, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka saat ini. Tatapan mata Raidan juga tampak berbeda pada Alea.

Bersambung....

1
Dew666
💎💎
Dew666
🪻🪻🪻
Dew666
👄👄
Dew666
💃💃💃
Dew666
💜💜💜
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!