NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke pelukannya

Dari kejauhan, sahabat Rania berdiri di sudut dinding, memantau Rania yang tampak sedang mengobrol dengan Adrian dan tampak begitu bahagia.

"Kalian ngerasa gak kalau Adrian cuma memanfaatkan Rania lagi?" ucap Bunga.

"Bukan ngerasa lagi, Bun, tapi memang benar Rania cuma dimanfaatkan," jawab Freya.

"Kita harus bagaimana ini?" ucap Balqis cemas.

"Saat ini kita pantau saja dari jauh. Gue yakin Adrian merencanakan sesuatu pada Rania," jawab Freya dengan tegas. "Dan kita gak bisa biarin kejadian masa lalu terulang kembali. Bunga, kirim seseorang untuk memata-matai Adrian."

Bunga mengangguk, "Oke," ucapnya sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.

"Halo," ucap Bunga saat panggilan telepon terhubung.

"Halo, ada apa, Bos?" ucap seseorang di seberang sana.

"Gue ada kerjaan buat lo," ucap Bunga tanpa basa-basi.

"Kerjaan apa, bos?" tanyanya.

"Lo mata-matai gerak-gerik seseorang. Nanti gue kirimkan fotonya," jawab Bunga.

"Baik, Bos."

Bunga juga menjelaskan apa saja yang harus ia lakukan, lalu mematikan sambungan telepon.

"Aman," ucap Bunga sambil menatap sahabat-sahabatnya.

"Cabut."

~~

Seperti yang diucapkan Adrian sebelumnya, ia akan membawa Rania ke suatu tempat. Kini ia sudah menunggu Rania di depan kelasnya.

"Tak lama lagi," ucapnya sambil menatap Rania dari dalam kelas. Lengkungan tipis di bibirnya menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak.

"Hai," sapa Rania setelah ia keluar dari kelas.

"Hai, kita berangkat sekarang?" tanya Adrian.

Rania mengangguk.

Adrian tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Rania dan meninggalkan kelas bersama.

~~

"Mau ke mana mereka berdua?" ucap Bunga. Saat ini mereka bertiga berdiri tak jauh dari kelas Rania, melihat Rania bersama Adrian.

"Bunga, suruh anak buah lo sekarang awasi mereka berdua," ucap Freya dengan nada tegas.

"Sekarang dia sudah ada di depan sekolah, Freya. Dia sudah kabarin gue," balas Bunga.

"Bagus."

"Kira-kira Adrian mau ngajak pulang atau ke tempat lain dulu?" tebak Balqis. Tatapannya masih tertuju pada Rania yang sudah naik motor Adrian.

"Dia bakal ngajak Rania jalan," jawab Freya.

"Bagaimana kalau kita ke mansion Rania sekarang? Kita cari tahu alasan apa yang Rania berikan pada Tante Raisa," ajak Freya.

"Ide bagus."

Beberapa saat kemudian, sahabat Rania telah sampai di Mansion Valkon, mansion keluarga Rania.

Ting! Tong.

Bunga menekan bel.

Ceklek! Pintu terbuka. Raisa membukakan pintu.

"Eh, kalian," ucapnya sambil tersenyum.

"Hai, Tante. Apa kabar?" ucap Freya mewakili sambil salim, diikuti Balqis dan Bunga.

"Baik, dong. Tumben kalian mampir pulang sekolah. Biasanya kalian sore baru ke sini," ucap Raisa.

"Kami mau ketemu Rania, Tan. Ranianya ada?" tanya Bunga pura-pura tidak tahu.

"Rania katanya mau kerja kelompok dengan temannya. Rania gak ngasih tahu kalian?" ucap Raisa heran, biasanya Rania selalu memberi kabar pada sahabat-sahabatnya.

"Rania kerja kelompok?" ucap mereka sambil saling tatap.

"Rania gak ngasih tahu kita, Tan," ucap Freya.

"Atau mungkin dia lupa, Fre," ucap Bunga.

"Mungkin kali ya," ucap Freya. "Oh ya, Freya bawain buku Rania yang ketinggalan, Tan." Freya memberikan buku Rania pada Raisa.

"Makasih ya. Nanti Tante kasih ke Rania. Kita makan siang dulu yuk," ajak Raisa.

"Gak usah, Tan. Kami hanya mampir aja, Tan. Iya kan, guys?" ucap Balqis sambil mengedipkan matanya.

"Iya, Tante. Lain kali aja," ucap Bunga lalu buru-buru salim pada Raisa.

"Bye, Tante," ucap Freya lalu meninggalkan Raisa yang tampak kebingungan.

"Mereka kenapa aneh banget?" gumam Raisa.

~~

Cahaya matahari siang yang begitu terik menyinari kafe, tempat Rania dan Adrian duduk menghadap jalan yang dipenuhi pasangan yang berjalan bergandengan tangan.

"Kamu chat siapa?" tanya Rania, menatap Adrian yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.

"Cuma kabarin teman aku," jawab Adrian lalu menyimpan ponselnya di sakunya.

"Ini pesanannya," ucap pelayan sambil membawa pesanan mereka berdua dan menyajikannya di atas meja.

"Terima kasih," ucap Rania.

"Sama-sama, Dek. Kalau ada yang ingin kalian tambahkan, panggil saya saja," ucap pelayan itu. Rania membalasnya dengan anggukan, lalu pelayan tersebut meninggalkan mereka berdua.

"Makan dulu, Ran," ucap Adrian.

"Iya," balas Rania lalu mulai menikmati hidangan yang ada di depan matanya.

Setelah beberapa saat, makanan mereka pun habis. Adrian tiba-tiba menggenggam tangan Rania.

"Rania, aku ingin bicara serius sama kamu," ucapnya dengan nada serius sambil menatap Rania.

"Mau ngomong apa?" ucap Rania, berusaha tetap tenang.

"Rania, kamu harus tahu kehilanganmu adalah salah satu kesalahan terbesar yang pernah aku buat, dan aku akan menyesalinya seumur hidupku. Aku harap kamu bisa memaafkanku karena aku masih menyayangimu." Adrian berhenti sejenak, lalu kembali berkata, "Aku tahu sudah terlambat untuk mengungkapkan ini, tapi aku ingin kamu tahu betapa aku masih mencintaimu, meski kita telah berpisah. Walaupun kita tidak bersama lagi, kamu selalu ada di hatiku. Aku ingin kau tahu bahwa dirimu adalah salah satu orang yang paling berharga dalam hidupku, meski aku tahu kau tak pernah menganggapku seperti itu. Rania, maukah kamu kembali padaku, memulai dari awal?"

Rania terdiam. Ia tidak menyangka secepat ini Adrian mengajaknya kembali.

"Aku... aku..." Rania tampak ragu-ragu. "Aku akan menerima kamu kembali, tapi kamu janji akan memperbaiki kesalahan dulu."

Adrian tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Rania. Aku janji," ucapnya. "Bagaimana, Ran?"

Dengan malu-malu, Rania mengangguk.

"Rania..."

"Iya, aku terima kamu kembali," ucap Rania malu-malu lalu mengalihkan pandangannya dari Adrian.

"Kamu serius?" ucap Adrian ingin memastikan.

"Iya, aku serius. Aku juga masih sayang sama kamu," jawab Rania.

"Makasih ya, Rania. Aku janji akan memperbaiki kesalahanku di masa lalu," ucap Adrian lalu memeluk Rania.

Dalam pelukan Adrian, Rania tersenyum lebar dan berharap Adrian benar-benar berubah. Ia juga berharap suatu hari bisa mengenalkan Adrian kembali pada sahabat-sahabatnya.

Adrian melepaskan pelukannya lalu menatap Rania. "Makasih ya, Ran. Kamu masih terima aku."

"Iya," balas Rania sambil tersenyum malu.

Kafe itu menjadi saksi hubungan Rania yang kembali pada Adrian. Angin sore bertiup pelan dari jalanan luar, sementara keduanya masih duduk saling menatap dengan senyum yang tak lepas dari wajah mereka.

Mereka terus mengobrol. Terkadang mereka saling menyuapi makanan, hingga tanpa sadar matahari sudah hampir tenggelam.

"Balik yuk, sudah sore banget ini," ucap Rania.

"Sudah sore ya, gak kerasa kita ngobrol lama banget," ucap Adrian yang dibalas anggukan oleh Rania.

"Ya udah, aku bayar dulu." Adrian beranjak dari duduknya dan melangkah ke kasir.

"Akhirnya gue berhasil," ucapnya pelan, senyum tipis tersungging di bibirnya.

~~

Seperti biasa, Adrian tidak bisa mengantar Rania sampai ke rumahnya dan membuat Rania harus berjalan kaki.

Sesampainya di mansion, ia melihat mobil Daddy-nya terparkir, membuat jantung Rania berdegup kencang karena takut diinterogasi olehnya. Namun Rania berusaha tetap tenang dan melangkah masuk.

"Kamu baru pulang."

Suara Radit mengagetkan Rania. Ia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.

"Iya, Dad," jawab Rania berusaha tetap tenang.

"Dari mana kamu? Sore baru pulang," ucap Radit menatap putrinya penuh selidik.

"Mommy gak ngasih tahu Daddy?" tanya Rania balik.

"Kerja tugas?"

"Itu Daddy tahu. Rania dari kerja tugas bareng teman, Dad," jelas Rania dengan nada meyakinkan.

"Betul kamu dari kerja kelompok?"

"Iya, Dad. Udah ya wawancaranya. Rania mau mandi, gerah tahu," ucap Rania mengalihkan pembicaraan.

"Ya sudah sana kamu ganti baju. Bau asem kamu," ucap Radit.

"Apaan sih, Dad," ucap Rania cemberut sambil menghentakkan kakinya lalu meninggalkan Daddy-nya.

"Akhirnya aman," gumam Rania sambil mengelus dadanya saat sudah sampai di kamar.

Ting.

Bunyi notifikasi ponsel Rania terdengar.

(Adrian)

{Kamu sudah sampai, sayang}

Melihat pesan Adrian, Rania buru-buru membalasnya.

{Iya aku sudah sampai. Kamu?}

{Aku singgah dulu di rumah teman, sayang}

{Kapan baliknya?}

{Mungkin malam}

Rania terus saling berkirim pesan dengan sang kekasih. Namun tiba-tiba ia bergumam pelan,

"Kok perasaan gue hambar, ya?"

Dan tanpa Rania sadari, Daddy-nya berdiri di depan pintu menatapnya dari luar, karena pintu kamarnya ia lupa tutup.

Radit menatapnya datar, lalu menghubungi seseorang.

"Awasi putriku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!