Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab IV—LEVEL UP
Jeritan manusia menggema di sepanjang jalan kota.
Suara kaca pecah, klakson mobil yang tidak berhenti berbunyi, dan langkah kaki orang orang yang berlari bercampur menjadi satu. Beberapa kendaraan terbengkalai di tengah jalan, pintunya terbuka lebar seolah pemiliknya melarikan diri dalam keadaan panik. Dari kejauhan, asap hitam mulai membumbung dari sebuah bangunan yang entah bagaimana telah terbakar.
Di langit, retakan besar masih terbuka seperti luka raksasa. Dari dalamnya, bayangan bayangan kecil terus jatuh ke bumi.
Goblin.
Makhluk berkulit hijau itu menyebar ke seluruh penjuru kota seperti kawanan hewan liar yang baru dilepaskan dari kandang. Sebagian mengejar manusia yang berlari ketakutan, sebagian lagi mengobrak abrik toko dan kendaraan yang ditinggalkan pemiliknya.
Seorang pria terjatuh di tengah jalan ketika mencoba melarikan diri. Seekor goblin langsung melompat ke arahnya sambil mengangkat pisau karat di tangannya. Jeritan pria itu terpotong oleh suara benturan keras.
Tidak jauh dari sana, dua wanita menangis sambil berlari sekuat tenaga melewati trotoar. Kedua wanita itu menangis keras, kakinya berlari oleh rasa takut, sementara dua goblin kecil berlari mengejar mereka dengan tawa serak yang membuat bulu kuduk merinding.
Kota yang beberapa jam lalu masih terasa normal kini telah berubah menjadi medan kekacauan.
Namun di tengah semua itu, ada satu orang yang tidak berlari.
Jay berdiri di tepi jalan dengan pisau goblin di tangannya. Matanya mengamati sekeliling dengan tenang. Ia melihat orang orang yang berlari. Ia melihat monster yang menyebar ke berbagai arah. Ia juga melihat sesuatu yang mungkin tidak disadari orang lain.
Pola.
Goblin goblin itu tidak bergerak secara acak. Mereka menyebar, mencari mangsa, lalu menyerang dalam kelompok kecil.
Jay menghela napas perlahan.
“Baiklah…” gumamnya pelan.
Ia menatap pisau di tangannya.
Jika monster memberikan EXP, maka membunuh mereka berarti akan membuatnya menjadi lebih kuat.
Dan di dunia yang sudah berubah menjadi seperti ini, kekuatan mungkin satu satunya hal yang bisa membuat seseorang tetap bertahan hidup.
Jay menggenggam gagang pisau itu lebih erat.
“Kalau memang seperti di dalam game atau komik komik…” Matanya menatap seekor goblin yang sedang mengendus kantong sampah di dekat taman kecil. “…maka aku harus mulai bermain dengan serius kan?.”
Tanpa ragu lagi, Jay mulai bergerak.
Perburuan pun dimulai.
Dan tanpa ia sadari, ia baru saja mengambil langkah pertamanya untuk memanfaatkan dunia yang telah berubah kacau ini.
Jay menatap sekelilingnya sekali lagi. Kota yang ia kenal selama ini kini terasa seperti tempat yang sama sekali berbeda. Jalanan dipenuhi suara sirene, jeritan manusia, dan sesekali teriakan makhluk aneh yang baru saja muncul dari langit yang retak. Beberapa orang masih berlarian mencoba menyelamatkan diri, sementara yang lain bersembunyi di dalam bangunan dengan wajah penuh ketakutan. Sebuah mobil terbengkalai di tengah jalan dengan pintu terbuka lebar, sementara di kejauhan asap hitam mulai membumbung dari salah satu gedung yang terbakar.
Namun Jay tidak lagi hanya melihat kekacauan.
Ia melihat sesuatu yang lain.
Peluang.
Jika monster memberikan EXP, maka membunuh mereka berarti menjadi lebih kuat. Dan di dunia seperti ini, kekuatan mungkin satu satunya hal yang bisa membuat seseorang tetap hidup.
Jay menggenggam pisau goblin di tangannya lebih erat.
“Kalau memang seperti permainan…” gumamnya pelan, “maka aku harus mulai bermain dengan serius.”
Ia mulai berjalan menyusuri trotoar dengan langkah hati hati. Tidak seperti orang orang lain yang berlari tanpa arah, Jay justru memperhatikan setiap sudut jalan. Ia mengamati bayangan di gang sempit, mendengar setiap suara langkah kecil, dan mencoba mengenali pola gerakan para goblin.
Tidak butuh waktu lama sebelum ia menemukan target.
Seekor goblin sedang mengendus endus kantong sampah di dekat taman kecil. Makhluk itu terlihat sibuk mengobrak abrik plastik dan sisa makanan tanpa menyadari bahwa seseorang sedang mendekatinya dari belakang.
Jay menahan napas.
Lalu menyerang.
Pisau di tangannya bergerak cepat, menusuk bahu goblin itu sebelum makhluk itu sempat berbalik. Goblin itu menjerit nyaring dan mencoba mengayunkan tangannya, tetapi Jay sudah melangkah ke samping dan menebas lehernya.
Tubuh kecil itu jatuh ke tanah.
Sebuah jendela biru muncul di depan mata Jay.
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.1 telah dikalahkan...
...EXP +10...
...----------------...
Jay hanya melirik sebentar sebelum menutupnya.
“Tidak buruk juga.”
Ia mulai bergerak lagi.
Di sebuah gang sempit beberapa meter dari taman, dua goblin sedang berebut sesuatu yang tampak seperti roti basi. Mereka saling mendorong dan menggeram satu sama lain seperti hewan liar.
Jay melihat kesempatan.
Ia berlari.
Goblin pertama bahkan tidak sempat bereaksi ketika pisau Jay menancap di perutnya. Goblin kedua menjerit marah dan melompat ke arahnya, tetapi Jay sudah belajar dari pertarungan sebelumnya. Ia menghindar ke samping dan menendang lutut makhluk itu hingga terjatuh.
Satu tebasan cepat dan selesai.
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.1 telah dikalahkan...
...EXP +10...
...----------------...
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.1 telah dikalahkan...
...EXP +10...
...----------------...
Jay menghela napas pendek.
“Dua sekaligus,” gumamnya.
Ia mulai menyadari sesuatu. Goblin goblin ini memang berbahaya bagi orang biasa, tetapi mereka tidak terlalu kuat jika dilawan dengan tenang.
Yang membuat mereka menakutkan hanyalah kekacauan yang terjadi di kota.
Beberapa menit kemudian, Jay melihat goblin lain mencoba mengejar seorang pria yang berlari panik di jalan. Pria itu tersandung dan jatuh. Goblin itu mengangkat pisau karatnya. Jay berlari tanpa berpikir panjang.
Pisau di tangannya menembus punggung goblin itu sebelum makhluk itu sempat menyerang korban.
Goblin itu menjerit, lalu jatuh.
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.1 telah dikalahkan...
...EXP +10...
...----------------...
Pria yang diselamatkannya menatap Jay dengan wajah pucat.
“Terima kasih… terima kasih…”
Namun Jay hanya mengangguk singkat sebelum berjalan pergi. Ia tidak punya waktu untuk percakapan panjang.
Beberapa saat kemudian, Jay memasuki jalan yang lebih sepi. Di sana ia menemukan tiga goblin sekaligus sedang mengacak acak sebuah kios makanan yang sudah ditinggalkan pemiliknya.
Jay berhenti.
Tiga sekaligus.
Ia menarik napas panjang.
“Baiklah… mari kita coba.”
Goblin pertama menyerangnya begitu melihatnya. Jay memutar tubuhnya dan menebas tangan makhluk itu. Goblin kedua melompat dari meja kios, tetapi Jay menendang bangku ke arahnya hingga makhluk itu jatuh terguling.
Pertarungan berlangsung lebih kacau kali ini.
Namun tak ada 3 menit, kemudian semuanya berakhir.
Tiga tubuh goblin tergeletak di tanah lalu menghilang.
Beberapa jendela biru muncul berturut turut.
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.1 telah dikalahkan...
...EXP +10...
...----------------...
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.1 telah dikalahkan...
...EXP +10...
...----------------...
...----------------...
...[NOTIFIKASI SISTEM]...
...Goblin Lv.1 telah dikalahkan...
...EXP +10...
...----------------...
Jay berdiri di tengah jalan dengan napas berat.
Tangannya berlumuran darah hitam dari goblin yang telah ia kalahkan.
Namun sebelum ia sempat beristirahat, cahaya biru lain muncul.
Cahaya itu lebih terang dari sebelumnya.
...----------------...
...[LEVEL UP]...
...Level meningkat...
...Level 1 → Level 3...
...Mendapatkan 10 point...
...EXP direset...
...----------------...
Jay terdiam.
Sebuah sensasi hangat tiba tiba menyebar ke seluruh tubuhnya. Otot ototnya terasa lebih ringan, napasnya kembali stabil, dan kelelahan yang tadi ia rasakan perlahan menghilang.
Ia mengepalkan tangannya.
Kuat.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Jay menatap jendela sistem itu beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Jadi benar,” gumamnya.
“Cara kerjanya memang seperti ini.”
Ia menutup jendela sistem dan melihat sekelilingnya.
Kota masih dalam kondisi kacau. Portal di langit masih terbuka. Monster masih terus bermunculan. Namun kali ini Jay tidak lagi merasa seperti orang yang tersesat di tengah bencana.
Ia mulai merasa seperti seseorang yang memahami aturan permainan. Jay mengangkat pisau goblin di tangannya dan memandang jalan yang dipenuhi kekacauan di depannya.
“Kalau level tiga saja sudah seperti ini…”
Ia tersenyum tipis.
“…aku penasaran seberapa kuat aku nanti.”
Dan tanpa ragu sedikit pun, Jay mulai berjalan lagi mengelilingi kota.
Mencari goblin berikutnya untuk ia buru.