NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cara Arga Meminta Maaf

Suasana apartemen mendadak sunyi senyap pas pintu depan kebuka pelan. Arga masuk sambil jinjing kantong plastik berisi sushi premium dari tempat favorit mereka dulu—niatnya emang buat ngerayu Nara biar nggak ngambek lagi gara-gara drama Vanya tadi. Dia ngerasa bersalah banget udah ninggalin Nara sendirian, apalagi tadi di restoran Vanya nggak berhenti ngoceh soal masa lalu yang bikin Arga sendiri ngerasa risih.

"Ra? Gue pulang nih. Gue bawain salmon aburi kesukaan lo," panggil Arga sambil ngelepas jasnya, disampirin asal di punggung sofa.

Nggak ada jawaban.

Arga jalan nuju kamar, tapi langkahnya berhenti pas liat lampu ruang tengah masih mati. Dia ngerasa ada yang aneh. Pas dia masuk ke kamar utama, dia liat Nara lagi duduk di pojok tempat tidur, meluk lututnya sendiri sambil natap ke arah jendela yang nampilin lampu-lampu Jakarta.

"Ra... lo belum tidur?" Arga nyamperin, terus duduk di pinggir kasur, jaga jarak dikit biar Nara nggak ngerasa keganggu.

Nara cuma geleng kepala pelan tanpa nengok. "Vanya udah pulang?"

"Udah, gue anterin pakai taksi tadi. Gue nggak mau dia lama-lama di sini, ganggu privasi kita," sahut Arga, suaranya lembut banget, beda jauh sama nada bicaranya yang biasanya kaku kayak papan pengumuman.

Arga ngehela napas panjang, terus dia pelan-pelan ngeraih tangan Nara yang dingin. "Gue minta maaf ya, Ra. Soal Vanya tadi... dia emang tipe orang yang nggak punya rem kalau ngomong. Gue nggak bermaksud ngeremehin lo atau bikin lo ngerasa asing di rumah sendiri."

Nara akhirnya nengok, matanya kelihatan agak sembab, tapi dia nyoba buat tetep kelihatan tegar. "Lo nggak perlu minta maaf, Ga. Gue cuma... gue cuma sadar diri aja. Temen-temen lo, lingkungan lo, semuanya beda banget sama dunia gue yang berantakan ini."

"Dunia lo nggak berantakan, Nara. Dunia lo itu cuma lagi proses penulisan ulang, dan gue mau jadi editornya kalau lo izinin," kata Arga sambil nangkup pipi Nara pakai kedua tangannya.

Cara Arga minta maaf itu emang nggak pakai bunga atau puisi alay. Dia cuma natap mata Nara dalem-dalem, seolah mau nyalurin semua keyakinan yang dia punya. "Besok kita berangkat ke London. Gue udah batalin semua janji temu sama Vanya di sana. Cuma ada gue sama lo. Gue nggak butuh 'circle' yang lo maksud kalau di situ nggak ada lo."

Nara ngerasa hatinya makin tersayat. Kata-kata Arga itu bener-bener tulus, tapi justru itu yang bikin rencana perginya ke Paris makin kerasa berat. Di satu sisi, dia pengen banget percaya sama Arga. Di sisi lain, bayangan Pak Surya dan masa depannya Arga terus ngebayangi.

"Makan yuk? Nanti sushinya keburu nggak enak," ajak Arga, nyoba nyairin suasana.

Dia narik Nara berdiri, terus mereka jalan ke meja makan. Arga dengan telaten ngebukain sumpit buat Nara, nuangin kecap asin, sampai nyiapin wasabi-nya. Gerakan-gerakan kecil yang sebenernya simpel, tapi buat Nara itu adalah cara paling nyata dari Arga buat bilang "lo penting buat gue".

"Ga... kalau suatu saat gue bikin kesalahan gede, lo masih bakal maafin gue kayak gini?" tanya Nara tiba-tiba di sela makan mereka.

Arga diem bentar, terus dia senyum tipis—tipe senyum yang jarang banget dia kasih ke orang lain. "Tergantung kesalahannya. Kalau lo ngilang tanpa kabar, mungkin gue bakal marah besar. Tapi kalau cuma soal masa lalu atau ketidaksengajaan... gue rasa gue nggak punya alasan buat nggak maafin 'rumah' gue sendiri."

Nara cuma bisa nunduk, pura-pura sibuk sama sushinya biar air matanya nggak jatuh ke piring. Cara Arga minta maaf malam ini bener-bener bikin pertahanannya goyah. Tapi di dalem tasnya, tiket ke Paris itu seolah terus manggil-manggil, ngingetin kalau waktu mereka tinggal hitungan jam.

Malam itu, mereka tidur dengan punggung yang saling bersentuhan, tanpa pembatas bantal. Arga pikir semuanya udah baik-baik aja, sementara Nara lagi ngitung mundur waktu perpisahan yang bakal dia lakuin demi "kebaikan" cowok di sampingnya itu.

---

Nara menatap sushi di depannya dengan pandangan kosong. Rasa salmon aburi yang biasanya dia gila-gilain sekarang kerasa hambar banget di lidah. Setiap suapan kerasa kayak batu yang susah ditelan. Di sampingnya, Arga masih telaten ngebukain sumpit dan nyiapin ocha hangat, seolah-olah dia lagi berusaha nebus dosanya gara-gara insiden Vanya tadi.

"Kenapa makannya dikit banget? Nggak enak?" tanya Arga, matanya nyari jawaban di muka Nara.

"Enak kok, Ga. Gue cuma... masih kepikiran soal packing aja. Takut ada yang ketinggalan buat ke London besok," dusta Nara. Padahal, yang dia pikirin adalah gimana cara dia ninggalin Arga tanpa bikin cowok itu hancur.

Arga naruh sumpitnya, terus dia muter kursinya biar bener-bener berhadapan sama Nara. Dia ngeraih dagu Nara, maksa cewek itu buat liat matanya. "Nara, dengerin gue. Vanya itu masa lalu yang nggak penting. Lo itu masa depan yang lagi gue bangun. Jangan bandingin diri lo sama dia, atau sama siapa pun di 'circle' gue. Lo punya apa yang mereka nggak punya."

"Apa?" bisik Nara.

"Ketulusan," jawab Arga singkat tapi dalem banget. "Gue udah bosen sama orang yang deketin gue karena saham Xan-Land. Cuma lo yang berani nyubit gue pas gue kaku, dan cuma lo yang bikin gue ngerasa jadi manusia biasa, bukan cuma mesin pencetak uang."

Nara ngerasa dadanya sesek. Kalimat Arga itu harusnya jadi obat, tapi buat Nara sekarang malah jadi racun yang bikin dia makin ngerasa bersalah karena udah mutusin buat pergi ke Paris.

"Lo beneran bakal maafin gue, Ga? Apapun yang terjadi?" tanya Nara lagi, suaranya parau.

Arga diem sebentar, tatapannya jadi lembut banget. Dia nunduk dikit, terus ngecup dahi Nara lama banget. Dinginnya AC apartemen kalah sama angetnya kecupan Arga. "Selama lo nggak pergi ninggalin gue, gue bakal maafin semuanya, Ra. Apapun itu."

Deg. Kata-kata "jangan pergi" itu kayak hantaman keras di ulu hati Nara.

Habis makan, Arga nuntun Nara balik ke kamar. Dia nggak minta Nara buat tidur di kasur tamu lagi. Dia malah ngebukain selimut di kamar utama, terus nepuk sisi kasur di sebelahnya. "Tidur sini. Gue pengen besok pagi pas bangun, orang pertama yang gue liat itu lo, bukan koper."

Nara nurut dengan gerakan kaku. Dia berbaring di samping Arga, ngerasain tangan Arga yang gede itu melingkar pelan di pinggangnya, narik dia buat makin deket. Posisi mereka sekarang bener-bener intim, tanpa ada jarak, tanpa ada rahasia—seharusnya.

Di tengah kegelapan kamar, Nara denger napas Arga yang mulai teratur. Arga udah tidur, capek setelah seharian perang lawan Rio dan Vanya. Tapi Nara? Matanya melek lebar. Dia ngerasain detak jantung Arga di punggungnya.

Pelan-pelan, Nara ngeraih tasnya yang ditaruh di nakas. Dia ngeraba map biru dari Pak Surya yang ada di dalem sana. Besok adalah hari penentuan. Antara ego buat tetep di samping Arga dan ngerusak karir cowok itu, atau pergi ke Paris dan ngebiarin Arga terbang tinggi tanpa beban.

"Maafin gue, Ga... cara gue minta maaf mungkin bakal bikin lo benci sama gue selamanya," bisik Nara pelan banget sampai cuma dia yang denger.

Malam itu, Nara mutusin buat nggak tidur. Dia mau nikmatin setiap detik sisa waktunya bareng Arga. Dia ngerasain angetnya pelukan itu buat terakhir kalinya, nyimpen baunya di dalem ingatan, sebelum besok semuanya cuma bakal jadi draf novel yang nggak pernah selesai dia tulis.

---

Nara bener-bener gak bisa tidur. Matanya terus natap jam digital di nakas yang angkanya terus jalan, seolah lagi ngitung mundur waktu eksekusi hukuman matinya sendiri. Di sampingnya, Arga tidur pules banget, tangan kirinya masih posesif melingkar di pinggang Nara, seolah takut kalau Nara bakal ilang kalau dia lepas sedetik aja.

"Kenapa lo harus se-baik ini sih, Ga?" bisik Nara pelan banget, hampir nggak kedengeran.

Dia ngerasa kayak penjahat kelas kakap. Arga udah ngelepasin egonya, minta maaf dengan caranya yang paling tulus, bahkan udah ngebayangin masa depan mereka di London. Tapi di sisi lain, Nara udah megang tiket ke Paris hasil "sogokan" bapaknya Arga sendiri.

Pelan-pelan, Nara ngelepasin tangan Arga dari pinggangnya. Dia gerak pelan banget, lebih pelan daripada maling, takut kasur mahal itu bunyi dan ngebangunin si pemilik rumah. Begitu kakinya nyentuh lantai yang dingin, Nara narik napas panjang.

Dia jalan nuju meja kerja Arga yang ada di sudut kamar. Di sana ada laptop Arga yang masih nyala mode sleep. Nara ngelihat ada satu bingkai foto kecil di sana—bukan foto keluarga atau foto bisnis, tapi foto candid Nara yang lagi ketiduran di perpustakaan rumah kakek kemarin. Arga diem-diem moto dia.

"Lo beneran sesayang itu ya sama gue?" air mata Nara akhirnya jatuh juga, netes tepat di atas meja kayu itu.

Nara ngeraih secarik kertas kecil dari tumpukan dokumen Arga. Dia ambil pulpen, tangannya gemeteran hebat pas mau nulis. Dia mau nulis surat perpisahan, tapi bingung harus mulai dari mana.

Ga, maaf gue pengecut.

Ga, karir lo lebih penting daripada gue.

Ga, gue sayang lo, makanya gue pergi.

Semua kalimat itu kerasa sampah banget di mata Nara. Akhirnya, dia cuma nulis satu kalimat pendek yang paling jujur dari lubuk hatinya:

> "Jangan cari gue, fokus aja sama mimpi lo di London. Karir lo terlalu mahal buat rusak gara-gara gue. Makasih buat 'rumah' singkatnya, Ga."

Nara naruh kertas itu di bawah jam tangan mewah Arga yang dilepas di atas nakas. Dia tahu, itu hal pertama yang bakal Arga pegang pas bangun pagi nanti.

Pas Nara mau balik ke kasur buat ngambil tasnya, tiba-tiba Arga ngeracau dalam tidurnya. "Nara... jangan... jangan jauh-jauh..."

Nara matung. Jantungnya serasa berhenti detak. Dia ngelihat Arga yang ngeraba-raba sisi kasur yang kosong, nyari keberadaan Nara. Buru-buru Nara naik lagi ke kasur, nyelip ke pelukan Arga biar cowok itu tenang lagi. Begitu ngerasa Nara udah balik, Arga langsung meluk lebih erat, kepalanya diselipin di ceruk leher Nara.

"Sstt... gue di sini, Ga. Tidur lagi ya," bisik Nara sambil ngusap rambut Arga.

Nara ngerasain sesak yang makin luar biasa di dadanya. Ini pelukan terakhir. Bau parfum woodsy Arga ini bakal jadi memori paling menyakitkan yang bakal dia bawa ke Paris. Di sisa malam itu, Nara cuma bisa berdoa semoga keputusannya ini bener, semoga Arga bisa bersinar di London tanpa ada bayang-bayang skandal masa lalu istrinya yang cuma "kontrak" ini.

1
Fahlevy
banyak amat kak syaratnya😍🤭
Azkia Amalia
sumpah....
jadi mewek beneran thor
R.E.Y: aku juga yang nulis jadi mewek, kadang juga salting😭☺️
total 1 replies
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!