NovelToon NovelToon
Melintasi Waktu Bersama Sistem Keluarga

Melintasi Waktu Bersama Sistem Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:648
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Fei Xing berasal dari abad masa depan—tahun 3080—dimana hampir semua aspek kehidupan dikuasai oleh mesin pintar canggih.

Kemajuan teknologi yang terlalu cepat mengakibatkan banyak kerusuhan dan konflik di seluruh dunia.

Ayahnya, seorang profesor jenius di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan sebuah sistem canggih yang terpasang pada jam pintar Fei Xing.

Tujuan utama penciptaan sistem itu adalah untuk melindungi anaknya dengan mengirimkannya pergi dari tahun 3080 yang penuh bahaya.

Di dunia baru ini, Fei Xing bebas mengendalikan sistemnya sesuai keinginannya.

Sistem kecerdasan buatan ini sangat pintar dan memiliki protokol dasar: tidak boleh menyakiti atau melawan tuannya.

Dalam kurun waktu 100 tahun, Fei Xing sudah sering melakukan perjalanan lintas dunia—dari zaman modern, masa lalu, hingga dunia saat ini—hanya untuk bertahan hidup dan mengembangkan kemampuannya.

Namun Sistemnya membutuhkan energi untuk tetap beroperasi dan menjaga kelangsungan hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suku Hu

Suasana pagi di hutan sangat indah, sinar matahari yang lembut menerobos dedaunan pohon dan masuk ke dalam kamar Fei Xing, menerangi setiap sudut ruangan.

Sosok di tempat tidur mengerliat sejenak sebelum perlahan membuka matanya dengan mata yang masih sedikit mengantuk.

[Tuan, selamat pagi!] ucap sistem dengan nada ceria.

"Pagi....." Fei Xing mendengus lembut lalu perlahan bangun dari tempat tidurnya, turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk memulai hari baru.

Di tenda yang terletak di halaman belakang, Hu Zen dan seluruh kelompoknya sudah bangun sejak lama dan tengah berjalan-jalan menyusuri taman sekitar rumah Fei Xing.

Mereka hanya berkeliling di area yang sudah dikenal dan tidak berani menjelajah terlalu jauh, takut merusak atau memasuki tempat yang tidak boleh mereka datangi.

Mereka sering melihat ke arah bangunan persegi besar yang menjadi rumah "Tuan Muda"—dengan ukuran yang begitu luas, mereka bertanya-tanya berapa banyak orang yang bisa ditampung di dalamnya.

Fei Xing yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian pergi ke balkon kamar tidurnya.

Saat dia membuka pintu balkon, pandangannya langsung jatuh pada sekelompok pria muda berotot yang sedang berjalan dengan wajah riang di atas rerumputan hijau yang rapi.

"Seperti anak-anak...." Dia memberikan senyum kecil, lalu turun melalui tangga samping balkon yang langsung mengarah ke halaman bawah.

Zi Kun yang sedang melihat-lihat keindahan vila Fei Xing segera menyadari bahwa dia sudah bangun. Dengan semangat dia menyapa: "Tuan muda!"

Hu Zen dan yang lainnya segera mendongak dan melihat bahwa pria yang mereka sebut Tuan Muda telah berganti pakaian santai baru, rambutnya diikat rapi ke belakang, dan sedang membawa gelas berisi kopi hangat di tangannya.

"Tuan muda!" mereka menyapa dengan sopan dan penuh antusias, semua berdiri tegak sebagai tanda rasa hormat.

Fei Xing berjalan dengan santai ke arah mereka. "Pagi... Apa kalian lapar? Ayo sarapan bersama...."

Hu Zen dan lainnya mengangguk cepat tak berani menolak kebaikan ini. Fei Xing lalu meminta mereka mengikutinya ke arah halaman belakang rumah, di mana dia sudah menyuruh sistem menyiapkan hidangan pagi.

"Rumah Tuan muda benar-benar luas dan banyak tempat yang tak terduga..." bisik Da Wang dengan mata yang masih terpana melihat taman dan bangunan di sekelilingnya.

Zi Kun dan para pria muda lainnya juga mengangguk setuju dengan rasa kagum."..Tapi apa Dukun—maaf, maksudku Tuan muda—tinggal seorang diri saja?"

Hu Zen juga sedang memikirkan hal yang sama. Apakah benar-benar hanya dia seorang yang tinggal di tempat yang sebesar dan ajaib ini?

Tak lama kemudian mereka sampai di bagian halaman belakang, di mana sebuah meja makan kayu besar sudah siap dengan berbagai hidangan yang menggugah selera.

Fei Xing sendiri suka makan yang ringan di pagi hari, namun dia tahu bahwa makanan ringan tidak akan cukup untuk memenuhi perut kelompok pria muda yang memiliki nafsu makan besar.

Jadi dia telah meminta sistem memasak hidangan yang cukup banyak: enam ekor ayam kalkun panggang dan rebus, tumis sayuran beragam jenis, nasi hangat pulen, serta berbagai buah-buahan segar untuk cuci mulut.

Saat semuanya sudah duduk dengan rapi, Fei Xing mempersilahkan mereka untuk makan.

"Ayo makan...."Dia menaruh gelas kopinya di tepi meja dan mulai menggerakkan sumpitnya untuk mengambil makanan di depannya.

Hu Zen mulai mengambil makan dari meja, namun beberapa orang di sekelilingnya hanya melihat pada ayam kalkun yang tampak sangat lezat tanpa berani menyentuhnya.

[Tuan, mereka terlihat canggung untuk mengambil dagingnya.] sistem memberitahu Fei Xing.

Dia mendongak dan melihat bahwa mereka hanya makan nasi dan sayuran, sementara potongan kalkun masih utuh tak tersentuh.

"Apa kalian tidak suka daging?" tanyanya dengan tatapan penuh perhatian. Si Bin meliriknya dengan wajah malu. "Kami suka..."

Namun mereka merasa tidak sopan jika memakan daging dengan cara yang biasa mereka lakukan—mengigit langsung dengan tangan dan mungkin membuat wajah dan tubuh mereka berlumuran minyak dan bumbu di depan tuan rumah yang baik hati pada mereka.

Fei Xing menaruh sumpitnya dan bertanya lagi:"...Siapa yang paling tua di kelompok kalian?"

"Itu Hu Zen..." sahut salah satu pria di sebelah Da Wang. Fei Xing menoleh pada pria yang disebut tersebut. "..Berapa usiamu?"

"18 tahun...." jawab Hu Zen dengan punggung tetap tegak. Mata Fei Xing sedikit melebar—dia melihat Hu Zen lalu pada para pria lainnya yang ternyata masih sangat muda."Bagaimana dengan mereka?"

"Da Wang, Zi Kun dan Si Bin berusia 17 tahun...." jelas Hu Zen dengan tenang. Kemudian dia menunjuk pada tiga orang yang tersisa. "Min Zi dan Yun Da 16 tahun, dan Er Gao 15 tahun...."

"........" Bukankah ini hanya kumpulan anak-anak?

Sistem segera menjelaskan di benaknya bahwa di suku Hu Zen, para pria muda sudah mulai diajari cara berburu dan bertahan hidup di hutan sejak mereka berusia 10 tahun.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa anak-anak yang mencapai usia 15 tahun dianggap cukup dewasa untuk ikut dalam misi berburu yang penting untuk kelangsungan suku.

Fei Xing mengangguk perlahan setelah memahami penjelasan sistemnya. Dia kemudian berkata pada Hu Zen: "..Lalu kamu yang akan membagi daging pada saudara-saudaramu......"

Hu Zen mengangguk setuju. Tanpa berlama-lama, dia mengambil potongan kalkun yang paling besar dan mulai membanginya dengan tangan kosong, membagikannya secara merata kepada Da Wang dan yang lainnya.

Mereka segera berseru dengan kegembiraan saat merasakan tekstur kalkun panggang yang empuk dan lezat.

Ada sedikit rasa manis dan pedas yang menyengat di lidah mereka, namun itu hanya membuat mereka semakin bersemangat makan tanpa berhenti sejenak.

Setelah semua orang merasa kenyang, mereka istirahat sebentar di halaman belakang sambil mengobrol dengan suasana yang riang dan santai.

Da Wang adalah yang paling cerewet di antara mereka—dia banyak bercerita tentang kehidupan dan orang-orang di sukunya. Fei Xing mendengarkan dengan saksama setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Dari pembicaraan itu, Fei Xing mengetahui bahwa Hu Zen sebenarnya hidup sendiri, orang tuanya telah lama meninggal karena penyakit.

Tak hanya dia, beberapa di antara kelompok itu juga memiliki nasib yang sama dan tinggal bersama keluarga besar suku.

Mereka juga mengatakan bahwa saat musim hujan deras atau musim dingin yang panjang datang, suku mereka sering kesusahan mencari pasokan makanan yang cukup.

Banyak yang harus puasa atau hanya makan sekali sehari karena hasil buruan sulit didapat dan tanaman liar pun sulit ditemukan.

Fei Xing jadi mengingat kata-kata Si Bin yang ingin menanam padi di wilayah suku mereka.

Tanpa berlama-lama, dia segera bertanya pada sistemnya: [Berapa banyak koin yang aku dapat dari dua ekor babi tanduk muda itu?]

[6 juta koin, Tuan! Dengan jumlah itu bisa ditukar dengan 10 karung beras utuh (bisa untuk dimasak maupun ditanam), 3 karung tepung gandum, 5 kilo telur ayam segar, dan 4 kantong buah kering sebagai cadangan makanan!]

Fei Xing kemudian melihat pada seluruh kelompok dan berkata dengan suara jelas:"...Aku sudah menetapkan nilai tukar untuk kedua babi tanduk itu dengan barang-barang milikku..."

Dia menjelaskan semua rincian yang diberitahu sistemnya kepada Hu Zen dan yang lainnya.

Mendengar hal itu, mereka langsung bersemangat—jumlah barang yang akan mereka dapatkan jauh lebih banyak dari yang mereka harapkan, terutama 10 karung beras yang bisa mereka tanam untuk memastikan pasokan makanan suku di masa depan.

Tak ingin membuang waktu, Fei Xing segera mengajak mereka pergi ke gudang yang terletak di belakang pasar swalayan miliknya untuk mengambil barang-barang tersebut.

Gudang itu sangat luas—memiliki panjang hingga 100 meter dengan berbagai jenis bahan makanan berkualitas baik yang disusun rapi di rak-rak baja yang kokoh.

Da Wang dan beberapa teman lainnya bahkan jatuh ke tanah takjub saat melihat tumpukan makanan yang menjulang tinggi ada di depan mata mereka.

Hu Zen melebarkan matanya dengan perasaan campur aduk antara kagum dan tidak percaya—dia tidak pernah membayangkan bisa melihat jumlah beras sebanyak itu dalam satu waktu.

Fei Xing pergi ke arah troli yang tersedia di sudut gudang dan mengambil dua buah. Dia memberikan satu troli pada Hu Zen dan Si Bin."Bawa ini dan ikuti aku.."

"Baik!" jawab mereka dengan suara sedikit gemetar karena kegembiraan.

Fei Xing berjalan memimpin di depan, sementara mereka mengikuti melalui lorong-lorong rak yang penuh dengan barang-barang beragam jenis yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Saat sampai di rak khusus beras, Fei Xing meminta mereka mengambil 10 karung dan menaruhnya dengan hati-hati di troli.

Hu Zen segera memerintahkan Zi Kun dan dua orang lainnya untuk membantu mengangkut karung beras yang masing-masing memiliki bobot 15 kilo itu, menatanya dengan rapi agar tidak jatuh atau merusak kemasan.

Setelah itu, Fei Xing berjalan kembali ke arah rak gandum dan meminta mereka mengambil 3 karung tambahan.

Tanpa mereka sadari, troli sudah hampir penuh dengan barang-barang berat.

Untungnya para pemuda ini sudah terbiasa dengan aktivitas berburu dan mengangkat benda berat, jadi mereka bisa dengan mudah mendorong troli keluar dari gudang menuju arah pasar swalayan.

Fei Xing berbalik melihat mereka dan berkata:"Kita akan ke pasar swalayan untuk mengambil telur dan buah kering. Namun hanya 2 orang yang boleh masuk...."

Da Wang segera menyenggol lengan Hu Zen lalu menunjuk dengan diam-diam ke arah pasar swalayan. "Kau bisa masuk dengan si kecil Er Gao..."

Fei Xing berbalik melihat ke arah yang ditunjuk, dan semua orang melihat pada remaja berusia 15 tahun itu yang sedang menempelkan wajahnya pada kaca besar pasar swalayan sambil melihat-lihat dengan mata penuh rasa penasaran.

Hu Zen menghela nafas tak berdaya lalu menoleh pada Fei Xing. "..Kami yang akan masuk saja..."

Fei Xing mengangguk setuju, lalu keduanya berjalan mendekati pintu pasar swalayan.

Mendengar suara langkah kaki mereka, Er Gao segera menjauh dari kaca dan melompat mundur tiga langkah dengan cepat.

Fei Xing merasa kagum—anak itu cukup gesit.Dia berjalan ke arah pintu dan pintu otomatis terbuka lebar tanpa ada yang menyentuhnya.

"Masuk dulu saja kalian berdua..." katanya dengan ringan.

Hu Zen dan Er Gao menelan ludahnya dengan tergesa-gesa sebelum berjalan masuk ke dalam.

Mereka segera terdiam terkejut saat disambut dengan berbagai barang dan dekorasi yang sama sekali belum pernah mereka lihat di hidup mereka.

Fei Xing masuk sebagai yang terakhir, dan Da Wang serta yang lainnya yang menunggu tak jauh melihat bahwa setelah Tuan Muda masuk, pintu pasar swalayan itu tertutup kembali dengan sendirinya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!