NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

❌❌❌AREA KHUSUS 🔞 DI BAWAH UMUR BOLEH SKIP❌❌❌

...

Di dalam kamar penthouse yang megah itu, pendingin ruangan mendesis halus, namun hawa di sekitar ranjang terasa membara. Dinda masih memegang handuk kecil, namun tangannya bergetar hebat saat menyadari napas Alan berubah menjadi pendek dan berat. Mata Alan yang semula sayu karena alkohol, kini berkilat tajam dengan pupil yang melebar.

​"Tuan... Anda kenapa?" bisik Dinda ketakutan.

​Alan mencengkeram sprei sutra di bawahnya, urat-urat di lehernya menonjol. "Dinda... pergilah. Panggil supir kembali... atau siapapun. Ada yang tidak beres," geram Alan. Suaranya serak, menahan sesuatu yang meledak-ledak di dalam tubuhnya. "Wanita di kelab tadi... dia memasukkan sesuatu ke minumanku sebelum kau datang. Sialan!"

​Dinda terkesiap, langkahnya mundur teratur. "Obat? Maksud Tuan..."

​"Obat perangsang, Dinda! Pergi sekarang sebelum aku kehilangan akal!" Alan mengerang, menjatuhkan tubuhnya ke lantai, mencoba mencari suhu dingin dari marmer.

​Namun, saat Dinda hendak berbalik menuju pintu, rasa haus yang membakar di dalam darah Alan mengalahkan logikanya. Insting liarnya mengambil alih. Dalam satu gerakan cepat yang tak terduga, Alan menerjang dan menangkap pergelangan kaki Dinda hingga wanita itu jatuh tersungkur di atas karpet bulu yang tebal.

​"Tuan! Lepaskan! Anda bilang saya harus pergi!" jerit Dinda histeris.

​Alan tidak menjawab. Ia menarik tubuh Dinda ke atas ranjang dengan kekuatan yang tak sebanding. Wajahnya memerah, napasnya berbau alkohol dan gairah yang menyesakkan. "Aku tidak bisa... tubuhku terbakar, Dinda. Tolong aku..."

​"Tidak, Tuan! Sadarlah!"

​Tanpa peringatan, Alan membungkam bibir Dinda dengan ciuman yang kasar dan menuntut. Dinda memberontak, tangannya memukul-mukul dada bidang Alan, namun pria itu seolah tidak merasakan sakit. Gairah liar yang dipicu oleh obat itu membuat Alan kehilangan empati. Ia hanya menginginkan pelepasan.

​Alan melepaskan ikat pinggang kulitnya dengan tangan gemetar. Dengan gerakan cepat, ia membalik tubuh Dinda dan mengikat kedua tangan wanita itu di kepala ranjang yang terbuat dari ukiran kayu mewah.

​"Tuan Alan, saya mohon! Ingat siapa saya! Jangan lakukan ini!" Dinda menangis sejadi-jadinya, tubuhnya meronta hingga kulit pergelangan tangannya memerah tergesek ikat pinggang.

​"Diamlah, Dinda... kau sangat cantik malam ini. Aku menginginkanmu sejak pertama kali melihatmu di pabrik itu," racau Alan. Ia mulai merobek kancing kemeja kerja Dinda satu per satu. Kain itu terlepas, menampakkan kulit kuning langsat Dinda yang halus.

​Kamar itu kedap suara. Seberapa keras pun Dinda berteriak memohon pada Tuhan atau siapapun, suaranya hanya memantul di dinding-dinding mewah yang dingin. Saat Dinda hanya menyisakan bra dan celana dalam, mata Alan semakin menggelap. Obat itu benar-benar bekerja, menghancurkan sisa-sisa kehormatan sang CEO.

​Alan membenamkan wajahnya di leher Dinda, menghisap dan memberikan tanda kemerahan di sana. "Tuan... hiks... hentikan... saya mohon," isak Dinda yang mulai melemah.

​Namun Alan justru beralih ke gundukan kembar Dinda. Ia membuka pengait bra itu dengan kasar. Saat payudara Dinda menyembul, Alan mengerang puas. Ia meremasnya dengan telapak tangannya yang besar, lalu menjilat puting merah muda yang mengeras itu.

​"Ah... hiks... jangan..." Dinda merasakan sensasi aneh. Rasa takut yang luar biasa bercampur dengan getaran asing yang mulai menjalar ke perut bawahnya. Tubuhnya mengkhianati logikanya. Saat Alan menghisap kuat putingnya, Dinda tak kuasa menahan tubuhnya yang melengkung dan kelonjotan.

​"Kau menikmatinya, bukan? Tubuhmu tidak bisa berbohong, Adinda," bisik Alan jahat di telinganya.

​Alan kemudian menarik paksa celana dalam Dinda. Saat kain segitiga itu menghalangi, Alan merobeknya hingga hancur. Ia membuka kedua kaki Dinda dengan paksa, memamerkan lembah merah muda yang masih suci di bawah cahaya lampu redup.

​"Indah sekali..." gumam Alan takjub. Ia membelai daging lunak itu dengan jarinya, merasakan kelembapan yang mulai muncul di sana.

​"TIDAK! JANGAN DI SANA!" teriak Dinda saat Alan membenamkan wajahnya di antara pangkal pahanya.

​Lidah Alan bergerak liar, memainkan pusat kenikmatan Dinda. Dinda yang semula histeris perlahan terdiam. Suaranya tertahan di tenggorokan. Rasa nikmat yang dipaksakan itu mulai melumpuhkan syaraf-syaraf penolaknya. Ia membenci dirinya sendiri karena mulai menikmati sentuhan lidah Alan. Tangan Alan yang lain tetap meremas gundukan kembarnya, menciptakan harmoni rangsangan yang mematikan.

​"Mendesahlah untukku, Dinda. Katakan kau menyukainya," tantang Alan.

​Dinda menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia tidak ingin Alan menang. Namun, saat tempo lidah Alan semakin cepat, pertahanan Dinda runtuh. "Ah... mmhh... Tuan... cukup..." sebuah erangan lolos dari bibirnya. Tubuhnya menegang hebat, hingga akhirnya ia mencapai klimaks pertamanya dalam tangis yang memilukan.

​Namun, itu barulah awal bagi Alan. Pria itu berdiri, melepas celananya sendiri. Juniornya yang besar, tegang, dan berurat berdiri gagah, siap menembus pertahanan terakhir Dinda.

​"Tuan, saya mohon... jangan yang itu... sakit," rintih Dinda saat melihat ukuran milik Alan. Ia teringat Dika, teringat janjinya untuk menjaga kehormatan keluarga.

​"Aku akan bertanggung jawab, Dinda. Aku mencintaimu... sejak lama," bisik Alan penuh tipu daya gairah.

​Alan mengarahkan juniornya ke mulut lembah Dinda yang masih sempit. Ia mendorongnya pelan, namun rasa sakit yang luar biasa membuat Dinda menjerit hingga suaranya serak. "SAKIT! TUAN, KELUARKAN! SAKIT SEKALI!"

​Alan berhenti sejenak, peluh membasahi tubuhnya. Ia mencium bibir Dinda dalam-dalam untuk meredam teriakan itu, sembari terus mendorong perlahan. Juniornya yang besar terasa merobek segalanya di dalam sana.

​Bless.

​Dinda merasa dunianya hancur saat junior Alan masuk sepenuhnya, merobek selaput daranya. Darah segar menetes di atas sprei putih. Dinda memejamkan mata, merasa dirinya sudah tidak berharga lagi.

​"Maafkan aku... oh, Dinda... kau sangat sempit," desah Alan, mulai bergerak maju mundur secara perlahan.

​Rasa sakit itu perlahan memudar, digantikan oleh gesekan panas yang menuntut kenikmatan lebih. Alan mempercepat pompanya. Desahan Alan yang berat memenuhi ruangan. Tanpa sadar, Dinda mulai mengikuti irama itu. Tangisnya masih mengalir, namun tubuhnya bergerak selaras dengan Alan.

​"Ah... Tuan Alan... hiks... mhh..." Dinda mendesah panjang saat Alan menghujamnya semakin dalam.

​"Ya, sebut namaku, Sayang! Katakan kau milikku!" seru Alan semakin semangat. Ia memompa lebih cepat, mengabaikan fakta bahwa tangan Dinda masih terikat.

"AKKKHH.."

​Hingga akhirnya, setelah pergulatan yang panjang dan panas, keduanya melenguh panjang secara bersamaan. Alan menyemprotkan seluruh benihnya sangat dalam ke rahim Dinda, seolah ingin menandai wanita itu selamanya.

​Alan ambruk di atas tubuh Dinda yang lemas. Ia melepaskan ikat pinggang yang mengunci tangan Dinda, lalu memeluk wanita itu erat-erat.

​"Jangan tinggalkan aku... maafkan aku, Dinda," bisik Alan sebelum kesadarannya hilang karena kelelahan dan sisa obat.

​Dinda hanya bisa menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Tubuhnya terasa hancur, hatinya jauh lebih hancur. Ia membenci Alan, namun ia tidak punya kekuatan untuk beranjak. Di dalam kegelapan apartemen itu, Dinda hanya bisa menangis dalam diam, meratapi nasibnya yang kini telah berubah selamanya.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!