Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama, Senyum dan Pertanyaan
Kami masih duduk santai di bangku taman ketika ponselku tiba-tiba bergetar.
Aku melirik layar.
Kak Marisa menelepon.
“Sebentar ya,” kataku pada Cila sebelum mengangkat telepon.
“Halo, Kak?”
“Rendra, kamu lagi di mana?” suara Kak Marisa terdengar tegas tapi ramah.
“Lagi di taman komplek, sama Cila.”
“Oh. Kamu bisa pulang sekarang? Kita harus beli perlengkapan sekolahmu hari ini. Kalau nanti, takutnya Kakak sibuk dan nggak sempat.”
Aku menoleh ke arah Cila yang sedang memainkan ujung botol minumannya.
“Yaudah, aku pulang” kataku sambil menutup telepon.
“Kenapa?” tanya Cila.
“Kak Marisa ngajak beli perlengkapan sekolah, katanya mumpung lagi santai.”
“Oh,” jawab Cila singkat, lalu berdiri dan langsung menaiki sepeda.
Cila tertawa kecil sambil tergesa, “Siapa yang belakangan suka garuk pantat.”
“Dih!” balasku sambil sertawa kecil lalu mengejar
Akhirnya kami sampai depan gerbang sambil ngos ngosan, dan aku yang sampe duluan 😄
"Ciaha, aku sampe duluan, berarti kamu yang suka garuk pantat 😄"
Cila menoleh, “Kan tadi aku bilang, yang belakangan maksudnya yang terakhir naik sepeda di awal. Wle” Ia menjulurkan lidahnya bercanda.
“Dih, oh gitu cara mainnya. Baik kalo gitu,” jawabku dengan ekspresi 😏.
Akupun buru-buru masuk pintu gerbang rumah Cila untung segera mengembalikan sepedanya
"Siapa yang nyimpen sepeda belakangan, keteknya bau 😄"
“Dih, curang!” balasnya sambil mengikuti.
Aku tertawa, “Hahaha.”
Singkat cerita, aku mengajak Cila ikut ke mall untuk membeli perlengkapan sekolah. Di rumah, Kak Marisa sudah siap dan menunggu.
Kamipun berangkat menuju mall, tempat yang lengkap untuk membeli perlengkapan sekolah. Kak Marisa menunjuk ke satu ruangan, “Kamu sama Cila pilih-pilih disana ya. Kakak mau belanja keperluan di sebelah.”
Aku dan Cila mulai memilih pakaian, mencari ukuran yang pas, dan saling memberi saran. Saat memilih tas, Cila menunjuk sebuah tas pink dengan maksud bercanda.
“Eh, ini tas lucu banget, kayaknya cocok buat kamu,” katanya.
“Dih… aku kan cowok. Yaudah deh, boleh satu,” jawabku.
“Dih, beneran dipilih?” tanya Cila, ekspresinya kaget dan merasa lucu.
“Ya enggak lah, yang maskulin dong. Tas gendong atau selempang,” jawabku sambil mengangkat alis.
“Gimana kalau koper?” Cila dengan ekspresi 😏
Aku: 😑 “Serius napa…”
Kami pun tertawa terus, bercanda sambil memilih perlengkapan sekolah.
Tak lama kemudian, Kak Marisa memanggil, “Ndraa, udah selesai belum? Setelah ini kita makan ya, kakak yang traktir.”
Setelah melakukan pembayaran, kami makan dan jajan, semuanya dibayarin Kak Marisa karena uang cash-ku habis.
Kami juga sempat mampir ke barber shop supaya aku cukur rambut, Kak Marisa tetap yang membayar.
Dalam perjalanan pulang, Kak Marisa berkomentar, “Kalian baru sehari ketemu, tapi udah akur ya."
Kami diam
"Kalian temenan yang baik ya, karena kemungkinan ayah dan ibu kalian akan sibuk masing-masing.” Lanjutnya
Aku dan Cila hanya tersenyum.
Sesampainya di rumah, aku masuk kamar, merapikan barang, lalu mandi. Setelah itu, aku rebahan sambil scrol scrol hp dan senyum-senyum sendiri mengingat semua kejadian hari ini.
Tak terasa, hari mulai larut.
“Waduh… Selama disini aku enggak solat sama sekali. Kalau Abah tahu, pasti dimarahin,” pikirku. Tapi sudahlah, Abahkan ga ada disini, jadi ga perlu di pikirin 😄
Tapi selama disini aku mulai malas, dan gak peduli dengan hal itu
Tak lama, Ibu memanggil untuk makan malam. Semua sudah tersedia. Saat itu aku tidak melihat Ayah. Aku bertanya.
“Ayah mana, Bu?”
“Hmm… Ayah kerja di pertambangan. Jadi sebulan sekali baru pulang,” jawab Ibu.
“Ooh,” kataku.
Aku pun mulai makan, dan ketika selesai aku kembali ke kamar tanpa sepatah kata pun. Di kamar aku melamun dalam hati aku bertanya-tanya soal tes DNA yang di bahas tadi malam.Kira kira udah Ibu bahas atau belum. Tapi biarlah mungkin mereka sibuk, jadi ga sempat membahas itu.
Setelah beberapa saat, Ibu datang dan masuk kamar.
Lalu Ibu bertanya, “Ndra, perlengkapan sekolahmu udah siap semua belum?”
“Udah, Bu.” jawabku
Ibu menatapku, “Kamu masih kepikiran tentang Ayah, ya?”
Aku diam.
Ibu melanjutkan, “Kamu tenang aja, soal sikap Ayah nanti Ibu yang urus.”
Lalu aku tanya dengan pelan karena penasaran “Tapi kenapa kok Ayah bisa berpikir seperti itu? Ga mungkin kan cemburu tanpa alasan,”
“Ini cuma salah paham, sudah tenang aja. Kamu nggak usah mikirin hal yang nggak perlu,” jawab Ibu coba menenangkan.
Aku hanya diam.
“Udah ya, jangan tidur terlalu malam,” kata Ibu sebelum keluar kamar.
Di pikiranku, *“Ga usah mikirin yang nggak perlu gimana, orang kepikiran. Sebenernya aku anak siapa sih? Jangan-jangan aku anak pungut karena Ibu pengen banget anak laki-laki. Atau… gimana kalau aku memang anak hasil hubungan gelap?”*
Aku susah tidur malam itu, karena pertanyaan itu terus mengusikku.
Dan hari itu berakhir dengan pikiran campur aduk, antara senang dengan teman baru dan penasaran soal keluargaku sendiri.