NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

"Tuan Gidion, apa yang kau pikirkan saat menatap lampu-lampu neon itu?" suara Jek memecah keheningan di dalam kabin kendaraan lapis baja yang sedang meluncur membelah kegelapan menuju perbatasan.

Gidion, yang sedari tadi sibuk mengagumi kehalusan kain rompi barunya, menoleh. Ia melepaskan napas panjang yang tertahan sejak jamuan makan malam tadi. "Aku berpikir betapa mudahnya orang-orang di sana melupakan cara berkeringat, Jek. Mereka punya segalanya, tapi saat Dr. Arra bicara padaku, matanya terlihat... lapar. Bukan lapar nasi, tapi lapar akan sesuatu yang nyata."

Rara, yang duduk di pojok sambil membersihkan belati kecilnya—kebiasaan yang sulit hilang meski di dalam kendaraan mewah—menyahut tanpa mendongak. "Itu karena mereka hidup dalam simulasi kenyamanan. Begitu filter air mereka mampet, mereka panik seolah kiamat datang lagi. Kita? Kita sudah terbiasa hidup di tengah kiamat setiap hari."

Jek menyandarkan kepalanya ke dinding besi yang dingin. Topeng lasnya tergeletak di pangkuan, tampak seperti tengkorak logam yang membisu. "Itulah sandera kita, Ra. Ketidakmampuan mereka untuk menderita adalah rantai yang mengikat mereka pada kita. Selama kita tetap 'kotor', mereka akan tetap butuh kita untuk mencuci tangan mereka."

Maya, yang sejak tadi sibuk mengotak-atik sebuah perangkat komunikasi kecil yang ia "pinjam" dari meja perjamuan tanpa izin, tiba-tiba terkekeh. "Jek, kau harus lihat ini. Arra benar-benar membiarkan pintu belakang sistem mereka terbuka sedikit. Dia memberiku akses ke arsip lama tentang 'Ares'."

Jek menegakkan duduknya, matanya menyipit. "Apa isinya?"

"Bukan kode senjata atau lokasi emas," Maya memutar layar kecil itu ke arah Jek. "Tapi daftar nama. Orang-orang yang dulu bekerja di bawahmu, yang dianggap sudah 'dihapus' saat sistem runtuh. Beberapa dari mereka ternyata masih hidup di Sektor Luar, menyamar sebagai pemulung atau teknisi mesin cuci tua."

Suasana di dalam kabin mendadak berat. Jek menatap deretan nama yang bergulir di layar—kawan, lawan, dan orang-orang yang pernah ia perintah dengan satu jentikan jari di masa lalu.

"Dia ingin kau mengumpulkan mereka," bisik Rara, menyadari implikasi dari informasi tersebut. "Arra tidak hanya ingin filter air. Dia ingin membangun kembali struktur yang bisa mengatur dunia ini, dan dia tahu hanya kau yang punya 'buku alamatnya'."

Jek terdiam cukup lama, melihat pepohonan hutan jati yang mulai terlihat di balik jendela, menandakan mereka hampir sampai di rumah—Kamp Sampah yang bau, berisik, namun jujur.

"Biarkan mereka tetap terhapus," ujar Jek akhirnya dengan nada dingin yang final. "Dunia tidak butuh 'Ares' yang baru. Dunia hanya butuh lebih banyak orang yang tahu cara menanam ubi tanpa bantuan satelit."

Ia mengambil kembali topeng lasnya, memakainya sejenak, lalu melepaskannya lagi—sebuah gestur melepaskan beban masa lalu. "Besok pagi, Gidion, kau harus membagikan antibiotik itu ke tenda pengungsian di sektor barat. Rara, pastikan kain-kain hangat sampai ke tangan ibu-ibu yang bayinya baru lahir."

"Dan kau sendiri, Jek?" tanya Maya sambil mematikan perangkat curiannya.

Jek tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya muncul saat ia merasa benar-benar bebas. "Aku? Aku punya janji dengan cangkulku. Dan sepertinya, aku harus mulai memikirkan pupuk organik yang disarankan wanita tua itu. Ubi kita harus jadi yang terbaik di dunia ini, bukan?"

Kendaraan itu berhenti dengan sentakan pelan di depan gerbang kayu Kamp Sampah. Saat pintu terbuka, aroma asap api unggun dan tawa warga menyambut mereka. Jek melangkah turun, kembali menjadi kuli yang sakit punggung, berjalan menuju gubuknya di bawah naungan rembulan yang tidak lagi terlihat seperti pusat kontrol, melainkan hanya sebuah lampu malam bagi mereka yang berani bermimpi di atas tumpukan rongsokan.

Tiga hari setelah kepulangan dari Sektor Inti, Kamp Sampah tidak lagi sama. Meski Jek tetap mencangkul di ladang ubi yang sama, ada ketegangan yang merayap di udara—seperti listrik statis sebelum badai petir.

Gidion kini duduk di atas tumpukan ban bekas, dikelilingi oleh pemuda-pemuda kamp yang biasanya hanya tahu cara memilah tembaga. Sekarang, mereka memegang botol-botol vitamin seolah-olah itu adalah butiran emas.

"Dengar," suara Gidion berat dan berwibawa, hasil didikan Jek yang mulai meresap ke tulang sumsumnya. "Kita tidak lagi cuma tukang rongsok. Kita adalah satu-satunya alasan orang-orang dengan seragam wangi di balik tembok itu bisa minum air tanpa mati keracunan. Jadi, bersihkan wajahmu, tegakkan punggungmu. Jangan biarkan mereka melihat kita sebagai sampah."

Rara berdiri di bayang-bayang gubuk, mengawasi setiap gerak-gerik warga. Matanya yang tajam menangkap sesosok orang asing di pinggiran kamp—seorang pria dengan jubah kumal, namun cara berjalannya terlalu tegak untuk seorang gelandangan.

"Jek," bisik Rara, muncul tiba-tiba di samping Jek yang sedang menyeka keringat. "Kita punya tamu. Bukan orang Sektor Inti. Dia dari Sektor Luar."

Jek tidak berhenti mencangkul. "Nama di daftar Maya?"

"Nomor tujuh," jawab Rara singkat. "Hafiz. Mantan kepala logistikmu di Ares."

Jek menghentikan gerakan cangkulnya. Ia menatap tanah merah yang basah di bawah kakinya. Ingatan tentang ruang kendali yang dingin dan layar-layar holografik yang berkedip kembali menghantamnya sejenak. Hafiz adalah orang yang tahu persis siapa Alif sebenarnya—dia adalah orang yang memegang kunci gudang senjata otomatis sebelum semuanya runtuh.

Pria berjubah itu mendekat, berhenti tepat di batas ladang ubi. Ia melepas tudungnya, menyingkap wajah yang penuh bekas luka bakar, namun matanya masih memancarkan kesetiaan yang berbahaya.

"Tuan," suara Hafiz parau. Ia berlutut di atas tanah berlumpur, sebuah pemandangan yang membuat warga kamp yang lewat berhenti dan berbisik heran. "Kami mendengar sinyal dari Sektor Inti. Protokol filter air itu... hanya satu orang yang bisa merancang algoritma analog seindah itu. Saya tahu Anda masih hidup."

Jek menghela napas panjang. Ia menancapkan cangkulnya dalam-dalam ke tanah. "Hafiz, di sini tidak ada Tuan. Yang ada hanya Jek, kuli yang sedang berusaha agar ubinya tidak dimakan ulat."

"Dunia sedang membusuk, Tuan," Hafiz mendongak, matanya berkaca-kaca namun tajam. "Dr. Arra sedang mencoba menyatukan kembali potongan-potongan sistem. Tapi dia butuh pusat. Dia butuh perintah Anda. Orang-orang kita... sisa-sisa Ares... mereka tersebar dan sekarat. Berikan perintah, dan kami akan menjadikan Kamp Sampah ini benteng yang tak tertembus."

Jek berjalan mendekati Hafiz, lalu mengulurkan tangannya yang kasar dan penuh kapalan. Bukannya memberikan perintah, ia justru menyerahkan sebuah umbi ubi yang baru saja ia gali.

"Makanlah," ujar Jek pelan. "Kau terlihat lapar. Dan setelah kau kenyang, ambil cangkul di gubuk Maya. Kita punya ladang baru yang harus dibuka di sisi timur."

Hafiz tertegun, menatap ubi di tangannya seolah-olah itu adalah artefak asing. "Anda... Anda menolak kembali?"

"Aku tidak menolak kembali, Hafiz. Aku memilih untuk tetap di sini," Jek menatap ke arah pemukiman kamp di mana anak-anak sedang tertawa mengejar ayam. "Dulu kita mengatur dunia dari atas awan, dan lihat apa yang terjadi. Sekarang, aku ingin mengatur dunia dari bawah tanah. Lewat perut yang kenyang dan air yang bersih. Itu jauh lebih kuat daripada protokol keamanan mana pun."

Maya muncul dari balik pohon mangga, memegang tablet curiannya. "Jek, sensor perbatasan menangkap pergerakan. Arra mengirimkan tim teknisi. Mereka bilang ingin 'belajar' lebih lanjut tentang mikro-pori tanah liat kita."

Jek tersenyum tipis, sebuah seringai yang menunjukkan bahwa Sang Arsitek belum sepenuhnya hilang.

"Bagus. Beri mereka cangkul juga. Jika mereka ingin teknologi kita, mereka harus tahu bagaimana rasanya menyentuh tanah," Jek kembali ke pekerjaannya. "Dunia lama sudah mati, Hafiz. Tapi di atas sampahnya, kita sedang menanam sesuatu yang tidak bisa mereka hapus dengan tombol reset."

Malam itu, di Kamp Sampah, ada satu mantan jenderal logistik yang belajar cara menanam ubi, dan sepuluh teknisi kota yang belajar cara tidur di atas tikar pandan. Jek duduk di batu besarnya, menatap bintang-bintang yang kini terasa lebih dekat. Ia bukan lagi kaisar yang menguasai data, melainkan akar yang perlahan tapi pasti, merambat dan mengikat kembali dunia yang pecah.

Bagian ini menunjukkan bahwa masa lalu Jek mulai mengejarnya, namun ia menghadapinya dengan cara yang berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!