Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan deras : 20
Intan menelisik wanita cantik, sorot mata tegas. Rambut panjangnya diikat satu, dia mengenakan jaket kulit, celana jeans, dan sepatu boot, tengah memegang satu batang lintingan tembakau.
“Apa dirimu memiliki korek?” tanyanya ulang seraya bergeser ke samping.
Intan terkesiap, matanya memicing memandang lima pria tengah memperhatikan dirinya dari jarak dua meter, di teras ruko selang dua bangunan.
"Aku tak merokok, jadi tidak memiliki benda itu,” sekarang dirinya paham, ini bukan hanya tentang alat pemantik, tetapi juga pertanyakan ‘Apa kau kenal mereka?’
“Kau tengah berada ditempat sepi, harusnya tingkatkan kewaspadaan. Kejahatan bisa datang dari arah mana saja,” si wanita berdiri seraya bersedekap tangan, lengan atas kanannya bersandar di rolling door, memperingati Intan Rasyid.
Salah satu pria dari lima sosok layaknya preman, membuang puntung rokok, dia berjalan seraya menyeringai.
Brakk!
Pintu sebuah mobil Fortuner, yang setengah bodinya terlindungi dari curah hujan dikarenakan naik ke teras ruko kosong, dibanting oleh dua orang sekaligus.
Dua laki-laki mengenakan kaos pas badan, keluar dari dalam mobil sambil memanggul tongkat baseball.
Langsung saja kelima pria tadi cepat-cepat pergi dari sana, mengetahui bila wanita berpakaian ala-ala gadis koboi bukan orang sembarangan, memiliki dua pengawal pribadi.
Intan kedinginan, giginya sampai bergemeretak, dia menatap hormat pada wanita yang baru saja menjauhkannya dari marabahaya. “Terima kasih, Kak.”
Jemari lentik itu menjentik, mengode seseorang untuk mendekat.
Pria plontos mengenakan kaos berkerah mengikis jarak, memberikan korek api.
Nyala kemerahan membakar ujung tembakau yang tengah dihisap, lalu alat pemantik dikembalikan, dan si pria masuk lagi ke dalam mobil.
“Hanya bantuan kecil, jangan dianggap serius apalagi merasa tak enak hati.” Ia mengedikkan kedua bahu. Gayanya sangat santai menghisap sebatang nikotin.
Intan mengangguk pelan, sama sekali tidak terganggu oleh aksi wanita itu. Lagipula asap rokok tidak mengarah ke dia.
"Sepertinya kau bukan warga sini?” tanyanya tanpa benar-benar tertarik melihat Intan.
"Iya. Saya baru saja mengantarkan salah satu pasien dari puskesmas pedalaman, ini tengah menunggu seseorang menjemput,” tak ada alasan untuk tidak menjelaskan.
“Lain kali lebih hati-hati. Kendatipun seandainya kau bisa bela diri, tidak menutup kemungkinan kalah dari mereka. Terlebih hujan, dan sunyi seperti ini.”
“Terima kasih, Kak. Akan saya ingat nasehat tadi. Kalau boleh tahu, nama kakak siapa? Apa warga sini?” tanyanya sopan, merasa terharu oleh perhatian kecil di bawah lampu teras, keadaan masih hujan, membuatnya tidak merasa sendirian.
“Panggil saja, Disty. Aku kebetulan lewat, melihat perempuan berteduh tengah diintai dari jarak dekat, dan sialnya dia tak tahu.” Disty menghembuskan asap rokok.
Intan akui dia ceroboh. Terlalu fokus melihat kedepan, memperhatikan kendaraan lalu lalang, sampai tidak menyadari keadaan sekitar.
“Saya Intan.” Dia maju dua langkah, mengulurkan tangannya.
Disty menyambut baik uluran tangan itu, sesudahnya melepaskan, dan asik dengan benda dijepit antara jari telunjuk dan tengah.
Sebuah mobil berhenti ditepi jalan, selang semenit kemudian, seseorang keluar dengan membuka payung besar.
Kamal Nugraha berlari kecil menembus hujan. Raut cemasnya sangat kentara, memperhatikan wanita tengah mengusap-usap lengan.
“Sayang maaf. Jalanan macet, kau baik-baik saja kan, Intan?” tanyanya cemas.
"Seperti yang kau lihat,” Intan tidak ingin berkata lebih, sungkan dikarenakan ada orang lain.
“Kak, terima kasih sudah menemani.” Ia mengangguk, melangkah lebih dulu sampai batas atap teras.
Kamal berniat mengucapkan terima kasih kepada wanita yang dianggap tidak benar, merokok seperti sudah kebiasaannya. Terlihat dari cara memegang nikotin itu begitu lihai.
"Terima kasih telah _”
“Kau memanggilnya sayang, tapi membiarkan dia sendirian di kegelapan, hanya bercahayakan lampu remang-remang, diantara ruko kosong dan cuaca buruk. Apakah panggilan itu cuma kiasan belaka? Sedangkan aksimu sama sekali tidak menunjukkan bentuk kasih sayang.”
Disty membuang puntung rokok masih sisa setengah, menginjak batangnya, lalu dia mengusap telapak tangan. Tanpa menoleh, melangkah tenang, masuk ke dalam mobilnya.
Kamal termangu, dia tidak mengenal wanita itu, tapi kalimatnya sangat menohok.
Intan mendengar ucapan wanita baru dikenalnya, hatinya langsung panas. “Apa mau sampai besok pagi kita berdiri di sini?”
“Maaf.” Kamal tersadar, berjalan mendekati Intan, dan memayunginya.
Sepasang kekasih melangkah beriringan, saling diam di bawah payung. Begitu sampai di bagian pintu penumpang, Intan menolak dibukakan pintu, dia menarik handle, belum juga naik sudah di sapa suara ramah, aroma makanan.
"Cepat masuk kak Intan, hujannya masih sangat lebat.” Lanira bergeser ke pinggir pintu sebelah kanan.
"Ini ada handuk lembut, Kak. Boleh dipakai untuk mengelap air hujan di wajah.” Rania menyodorkan kain terlipat rapi, dia duduk di sebelah jok pengemudi.
Brakk!
Tubuh kedua wanita tersebut terhenyak, terkejut mendengar bantingan pintu sangat kuat.
Intan bungkam seribu bahasa, tidak menerima handuk yang diulurkan.
Kamal baru saja masuk ke dalam mobil, dan duduk dibalik setir kemudi. Ia menoleh kebelakang, memandang serba salah pada Intan yang melihat keluar terhalang kaca jendela buram dikarenakan rintik hujan.
“Kita mau kemana, Intan?” tanyanya lembut.
“Ke hunian ayah tua,” jawabnya singkat.
Baik Rania, Lanira, sama-sama diam. Merasa suasana didalam mobil jauh lebih dingin daripada suhu hujan diluar sana.
Mobil melaju pelan. Kesunyian menjadi teman perjalanan pulang.
Intan bersikap layaknya orang buta, tidak peduli pada calon adik ipar dan adik sepupunya. Hatinya sakit sekali, terlebih mencium aroma makanan. Sekarang dirinya tahu alasan keterlambatan Kamal Nugraha.
Perjalanan seharusnya cuma setengah jam, sampai satu jam lebih pria itu juga belum tiba, ternyata singgah membeli makanan dulu.
***
Pintu gerbang otomatis bergeser setelah Kamal menekan tombol remote dari dalam mobil.
Kendaraan roda empat tersebut memasuki halaman luas perumahan mewah terletak di kawasan strategis. Dekat dengan kota, dan universitas tempat kedua keturunan Nugraha menimba ilmu.
Mesin dimatikan kala mobil telah terparkir pada garasi sengaja tidak ditutup pintu.
Rania, Lanira, turun secara bersamaan. Mereka menjinjing kantong plastik berlabel nama restoran ternama.
Intan menyusul, masih diam dan rautnya datar. Ekspresi yang sangat jarang diperlihatkannya.
Kamal membawa dua kantong plastik, camilan adiknya serta Lanira.
Ketika mereka masuk ke dalam rumah melalui pintu terhubung dengan garasi, tiba-tiba Intan Rasyid menyeletuk.
“Apa kalian akan mati jika tak membeli menu restoran itu?” sarkasnya tajam.
Rania, dan sahabatnya terpaku, bergeming, tidak berani menoleh ke belakang.
Kamal berusaha menjelaskan, bukan untuk membela diri melainkan berkata apa adanya. “Intan, tadi hujan deras, jalanan sedikit macet. Kalau semisal terlebih dahulu menjemputmu, maka kita akan memutar arah bila mau beli menu di restoran langganan _”
“Kamal Nugraha!” Intan berbalik, menunjuk tepat wajah sang tunangan. “Kau lebih mementingkan makanan permintaan mereka daripada keselamatanku? Kau anggap apa aku ini, hah?!”
.
.
Bersambung.
...----------------...
Semoga hasil retensinya bagus, supaya bisa lanjut sampai tamat, Aamiin.
Terima kasih banyak, Kak – sudah berkenan mendukung karya ini 🙏🥰
...----------------...
mkanya jgn mnguji ksabaran intan....
orh macam intan... sdh mau brsusah payah mngalah.... eeee mlah kalian tetap bebal... mlah makin mnambah kadar drama.... dengan mnyembunyikn si lanira di tmpat lain...
kalau memang harus hancur ikatan pertunangannya segera saja biar menjadi kristal
uji coba dulu
Repot dah..
Lagian Kamal kok bisa nakalyadan Lanira kamu kenapa...
😬😬😬