ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24—Operasi Kado Rahasia dan Jebakan Kamera Paparazzi
BAB 24
Pentas seni farewell party kelas 12 SMA Garuda akan segera dilaksanakan, tersisa h-1 sebelum acara dimulai. Namun malam itu rahmat tidak menyiapkan diri dengan latihan yang ekstrim seperti para pendaftar lain, melainkan dia malah pergi ke sebuah mall malam hari sendirian.
Dia berjalan di tempat fashion dan aksesoris. Alasan datang ke sini simpel. Untuk hadiah sang kakak kelas, Anisa yang sebentar lagi akan lulus.
Bagi Rahmat dia setuju ikut pentas seni bukan cuma untuk sekedar menyelesaikan misi sistem, tapi juga demi menunjukan pertunjukan terbaik untuk Anisa.
Namun hanya dengan konser dirasa cukup kurang maka dari itu, dia pergi kesini sendirian. Seharusnya begitu, namun kelopak matanya diam-diam mengamati sosok gadis berambut kuncir dua dengan kacamata hitam yang begitu familiar.
Dia terlihat jongkok sendiri, melihat boneka-boneka cewek. Seperti kebingungan.
“Itu … Kanaya?” Gumamnya terheran-heran. Apa yang dilakukan seorang idol malam-malam gini dengan pakaian yang mencurigakan gitu.
Baru saja ia mau melangkah menghampiri, bahu Rahmat bersenggolan dengan seseorang yang memakai hoodie kebesaran dengan tudung yang menutupi setengah wajahnya.
"Maaf..." suara lembut itu terdengar familiar.
Rahmat menoleh. Dari balik tudung itu, sepasang mata jernih menatapnya balik dengan keterkejutan yang luar biasa.
"R-Rahmat?!" bisik gadis itu panik sembari menarik tudungnya lebih rapat.
"Alya?" Rahmat melongo. "Kamu ngapain di sini malam-malam pakai kostum mencurigakan begini?"
Alya meremas kantong belanjanya yang masih kosong. Wajahnya memerah di balik tudung. "Aku... aku cuma mau cari... sesuatu. Buat Kak Anissa."
"Sama," jawab Rahmat singkat.
Pandangan Rahmat kembali ke arah Kanaya yang masih asyik menimbang-nimbang antara boneka beruang cokelat atau kelinci putih. Alya mengikuti arah pandang Rahmat dan matanya membelalak.
"Itu... Kanaya?" Alya menutup mulutnya. "Jadi dia juga punya pikiran yang sama?"
Rahmat terkekeh kecil. Sepertinya insting tim tiro star ini sedang selaras. Tanpa ba-bi-bu, Rahmat berjalan mendekat dan berdiri tepat di belakang Kanaya yang masih jongkok.
"Pilih yang kelinci saja, lebih mirip kamu kalau lagi marah," ucap Rahmat santai.
"EH?! SIAPA?!" Kanaya tersentak kaget sampai terduduk di lantai. Kacamata hitamnya miring sebelah. Ia menoleh dengan wajah garang, tapi begitu melihat Rahmat dan Alya yang berdiri di belakangnya, wajahnya langsung pucat.
"R-Rahmat?! Alya?! Kenapa kalian bisa di sini?!" teriak Kanaya tertahan, sembari buru-buru membetulkan kacamatanya.
“Itu juga yang ingin kutanya.” Jawab Rahmat lesu.
*
Kini mereka bertiga berdiri di tengah lorong mall, menciptakan aura canggung yang membuat pengunjung lain lewat dengan cepat.
"Jadi..." Rahmat memulai, menatap dua gadis di depannya. "Kalian berdua berniat memberi hadiah perpisahan buat Kak Anisa juga?"
"Ya... habisnya Kak Anisa sudah banyak membantuku di sekolah ini. Mulai dari perlindungan, dan lain-lain," Kanaya menunduk malu, tangannya memainkan ujung rambutnya "Ini alasanku mau ikut juga. Aku ingin memberikan sesuatu yang personal.”
Alya menambahkan "Aku juga, kak Anisa itu keren dan banyak membantu serta berjasa atas perkembangan sekolah, jadi aku rasa memberi hadiah adalah pilihan yang tepat.”
Rahmat menghela napas panjang, menatap dua gadis di depannya yang biasanya selalu bertengkar di sekolah, tapi malam ini malah kompak menunjukkan sisi lembut mereka.
"Jadi intinya, kita semua di sini adalah 'anak asuh' yang mau balas budi ke induk semangnya," celetuk Rahmat santai, membuat Kanaya dan Alya merona merah.
"B-bukan anak asuh juga! Aku ini rekan kerja profesional!" protes Kanaya sambil membetulkan kacamata hitamnya yang masih miring.
"Sudahlah," Rahmat memotong sebelum Kanaya memulai drama idolanya. "Karena kita sudah kumpul di sini, mending cari bareng. Daripada kalian jongkok-jongkok mencurigakan terus dikira mau maling boneka, mending
Mereka bertiga mulai berjalan menyusuri lorong mall. Pemandangan ini benar-benar unik: Seorang pemuda tampan berjalan di tengah, diapit oleh seorang gadis ber-hoodie misterius dan seorang lagi berkacamata hitam besar yang gayanya sangat mencolok.
Beberapa pada kayak kenal akan bentuk tubuh dan style si gadis berkacamata hitam berbisik karena itu mirip seperti idol yang sering muncul.
"Kak Anissa itu orangnya praktis," Alya memulai analisisnya. "Dia tidak suka barang yang terlalu mencolok, tapi dia suka sesuatu yang punya nilai guna."
"Tapi dia juga perempuan!" sela Kanaya cepat. "Dia butuh sesuatu yang elegan. Aku tadi lihat gelang perak di lantai bawah, kurasa itu cocok untuk pergelangan tangannya yang kurus."
Kanaya berhenti di depan sebuah butik jam tangan mewah yang memajang koleksi terbatas. Matanya tertuju pada sebuah jam tangan dengan desain minimalis namun berkelas, dengan aksen kristal kecil di angka dua belas.
"Gimana kalau ini?" Kanaya menunjuk ke arah etalase. "Kelihatannya cocok buat Kak Anisa yang disiplin soal waktu. Aku yakin dia tipe yang lihat jam terus setiap saat.”
Rahmat dan Alya mendekat, menempelkan wajah mereka ke kaca etalase.
"Wah... elegan sekali," gumam Alya kagum.
"Harganya juga 'elegan' banget! Kamu yakin?!" seru Alya saat melihat label harganya yang setara dengan motor matic baru.
Kanaya hanya mengangguk kepala. Dia idol, setiap tampil konser dia dibayar mahal, membeli satu perhiasan kaya gini bukan masalah besar.
Terlebih untuk seseorang yang dianggap sebagai penyelamat hidupnya, jika dia bukan karena kak anisa dia tidak bisa membayangkan, dia pasti masih diteror oleh orang orang mencurigakan.
Rahmat hanya mengangkat bahu, tangannya sudah meraba kartu Black Card di sakunya. “Gak perlu masalah soal biaya. Kalian semua belanja sesuka kalian gue yang—”
“Jangan!”
“Aku juga gak mau!”
Tolak Keduanya tegas.
“Eh?” Rahmat membeo bingung.
"Aku punya uang sendiri!" Kanaya membusungkan dada.
"Aku sudah menabung..." tambah Alya lirih.
“Lagian kalau kamu yang bayar ini namanya buka hadiah personal dari kita.” Tambah kanaya.
Oke, kalau tekad Keduanya sebesar ini dia tidak bisa memaksa.
“Baik, santai. Aku tidak memaksa.”
Alya dan kanaya masing masing sibuj untuk mencari hadiah, sementara Rahmat masih bingung sendiri.
Anisa buka tipe orang yang suka diberi hadiah besar besaran. Lalu di saat itulah mata dia terbelalak, terbuka lebar.
Lalu tersenyum. Dia Melihat sesuatu yang cocok untuk kak anisa.
“Aku ambil ini saja.”
Kedua gadis utu menoleh terkejut.
“Eh kamu yakin memberikan itu ke kak anisa?”
“kamu punya selera yang unik Rahmat.”
“Kalian pikir begitu? Aku rasa dia akan cocok pakai ini.” Rahmat tersenyum. Ia tidak bisa membayangkan reaksi anisa jika melihat ini.
Tepat saat Rahmat akan melangkah ke kasir, indra tajamnya menangkap pergerakan di balik pilar besar dekat eskalator. Seorang pria dengan jaket hoodie gelap dan topi baseball sedang memegang kamera dengan lensa telephoto pendek.
Cekrek.
Bukan suara kamera ponsel biasa, tapi suara sensor kamera profesional yang disamarkan. Rahmat tidak menoleh, tapi matanya melirik pantulan di pilar kaca. Di sana, seorang pria memakai topi baseball dan jaket gelap sedang berpura-pura menelpon, namun lensa kameranya mengarah tepat ke arah mereka bertiga.
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SISTEM PERINGATAN: SHADOW TRACKER DETECTED]
Subjek: penguntit
Tindakan: Pengambilan bukti visual "Skandal Kencan Tiga Aset Utama SMA Garuda".
Potensi Bahaya: Tinggi. Foto ini akan digunakan untuk menghancurkan mental Alya dan Kanaya saat tampil besok, pelaku ingin membuat skandal besar.
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat tiba-tiba berbalik dan merangkul bahu Alya dan Kanaya secara bersamaan, menarik mereka mendekat hingga kepala mereka hampir bersentuhan.
"Eh?! R-Rahmat! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Kanaya dengan wajah memerah padam.
Alya bahkan tidak bisa bersuara, tubuhnya kaku seperti patung saat merasakan tangan Rahmat di bahunya.
"Sstt... diam sebentar. Anggap saja kita lagi diskusi serius soal kado," bisik Rahmat tepat di tengah mereka. Matanya melirik tajam ke arah pilar.
Benar saja, sang fotografer bayangan itu langsung menekan tombol shutter-nya berkali-kali. Bagi orang awam, foto itu akan terlihat seperti "Kencan Segitiga Rahasia di Mall".
"Rahmat... ini memalukan," cicit Alya pelan.
“Sstt... diam saja sebentar," bisik Rahmat di antara mereka berdua. "Ada penguntit. Kalau kita kelihatan mesra begini, dia bakal makin semangat ambil foto. Dan besok, aku akan buat dia menyesal karena sudah menekan tombol shutter itu."
Di kejauhan, sang penguntit tersenyum kemenangan melihat hasil fotonya. Ia segera mengetik pesan di grup rahasianya: "Target sudah masuk jebakan. Besok SMA Garuda akan gempar.”
"Biarkan saja," jawab Rahmat dengan senyum miring yang menyeramkan. "Biarkan dia mengambil foto sebanyak yang dia mau. Besok, foto-foto ini akan menjadi bukti betapa bodohnya dia."
Rahmat melepaskan rangkulannya setelah merasa sang penguntit pergi dengan terburu-buru. Ia segera membayar semua itu dengan Black Card-nya.
"Kalian berdua, sudah selesai pilihnya?" tanya Rahmat kembali ke mode santai.
"S-sudah! Aku ambil jam tangan ini!" Kanaya buru-buru menyerahkan kartunya ke kasir lain, berusaha menutupi kegugupannya.
Alya juga menyerahkan sebuah kotak kecil berisi pulpen fountain elegan yang sudah ia incar sejak lama.
Malam itu berakhir dengan mereka bertiga keluar dari mall dengan membawa kantong belanjaan masing-masing. Namun, saat menuju parkiran, dengan tanpa sengaja dia melihat soso alfian yang juga berjalan keluar, dia terlihat makan cilok dengan santainya.
"Lho? Kalian bertiga kencan bareng?" sapa Alfian . "Kebetulan banget!"
Rahmat tersenyum. Justru yang kebetulan itu dia, siapa sangka bertemu sang gardian depan alya di tempat seperti ini. Dia butuh bantuannya untuk kejadian seseorang yang memfoto dia barusan.
"Al, kamu datang di waktu yang tepat. Kesini sebentar!"
"Hii!" Alfian tersentak ngeri. "Pertama jangan keluarkan senyuman itu kalau mau minta tolong!”