NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19

Aula Teater St. Jude’s telah disulap menjadi ruang kelas raksasa yang megah. Karpet merah marun yang tebal meredam suara langkah kaki, sementara langit-langit tinggi dengan ornamen klasik memberikan kesan prestisius yang menekan. Hari pertama kelas 12 dimulai dengan kekacauan yang terorganisir: perebutan kursi. Karena penggabungan dua kelas, aturan tempat duduk menjadi hukum rimba.

Salene Lumiere berdiri di tengah ruangan, memegang tas kulit mahalnya dengan anggun. Ia baru saja akan memberi kode pada Lauren untuk duduk di barisan tengah yang strategis, namun sahabatnya itu sudah melesat seperti anak panah yang lepas dari busur.

"Lauren! Mau ke mana?" panggil Salene.

Lauren menoleh sebentar, wajahnya penuh tekad yang gila. "Sorry, bubub! Aku harus duduk dengan suamiku! Ini kesempatan sekali seumur hidup, Alen! Di kelas 12 ini, masa depan harus diamankan. Agar anak masa depan kami bisa dicicil segera lewat belajar bersama!"

Salene hanya bisa memijat pelipisnya, menggelengkan kepala melihat Lauren yang kini sudah mendarat di kursi tepat di samping Kent. Kent sendiri sedang mengeluarkan buku catatannya, mencoba mengabaikan eksistensi Lauren yang baru saja menjatuhkan tas pink-nya dengan suara berdebam.

Namun, sesuatu yang tidak biasa terjadi. Kent, yang biasanya membisu seribu bahasa saat Lauren mengoceh tentang pernikahan, kali ini tidak membuang muka. Pria itu menoleh sedikit, menatap Lauren dengan mata tajam yang sulit diartikan.

"Emang... udah siap?" bisik Kent. Suaranya rendah, parau, dan sangat dalam—tipe suara yang bisa membuat bulu kuduk merinding.

Lauren membeku. Ia yang biasanya punya seribu kosakata untuk menggoda Kent, mendadak kehilangan lidahnya. Ia menelan ludah, menatap Kent dengan mata bulat yang polos. "Ken... kau bicara apa?"

Kent tidak melepaskan tatapannya. Ia condong ke arah Lauren, aroma parfum maskulin yang dingin menusuk indra penciuman gadis itu. "Kamu selalu bilang kamu istriku," ucap Kent lagi, suaranya tetap datar namun penuh penekanan. "Tapi perasaan... nggak pernah layanin, deh."

Deg.

Wajah Lauren yang tadinya ceria berubah menjadi semerah tomat matang. Ia adalah gadis yang paling cerewet soal "anak masa depan", tapi pada kenyatannya, Lauren hanyalah gadis polos yang bahkan belum pernah berciuman dengan benar. Ia terperangah, jantungnya berdegup seperti drum The Vultures.

"Ken... kamu... nggak mabuk, kan?" tanya Lauren dengan suara mencicit, benar-benar kehilangan keberaniannya.

"Nggak," jawab Kent singkat. Ia kembali menarik tubuhnya, membuka buku, dan kembali menjadi sosok es yang dingin seolah pembicaraan tadi tidak pernah terjadi.

Lauren terdiam seribu bahasa. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan buku. Ia yang biasanya seperti toa masjid, kini berubah menjadi "putri malu" yang hanya berani menatap ujung sepatunya sendiri.

Di barisan sebelah, Salene yang memperhatikan ekspresi sahabatnya dari kejauhan merasa bingung. Ia baru saja duduk di sebuah kursi kayu jati yang dipoles mengilap saat seseorang menggeser kursi di sampingnya.

Nikolas Martinez.

Pria itu duduk dengan gaya santai, menyandarkan satu lengannya di sandaran kursi Salene, seolah-olah kursi itu adalah miliknya sendiri.

"Kenapa dia?" tanya Salene pelan, melirik ke arah Lauren. "Kok jadi seperti putri malu begitu? Padahal tadi pagi dia berteriak ingin mencicil anak."

Nikolas melirik ke arah Kent, lalu terkekeh kecil. "Mungkin dia sudah connect dengan frekuensi Kent yang dingin. Kent kalau sudah bicara serius, memang bisa membuat orang kehilangan nyali."

Salene mendengus, mencoba memusatkan perhatiannya pada papan tulis digital di depan. Namun, ia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Kehadiran Nik di sampingnya menciptakan medan magnet yang kuat. Salene merasa kulit lengannya yang tidak tertutup kain seragam terasa hangat karena jarak mereka yang sangat dekat.

Tanpa sadar, Salene mencuri pandang ke arah samping. Ia melihat profil wajah Nik dari samping—hidung yang mancung, garis rahang yang kokoh, dan sedikit bekas luka kecil di dekat pelipisnya yang justru menambah kesan maskulin. Nikolas tampak tenang, jemarinya memutar-mutar sebuah pulpen perak dengan lincah.

Tiba-tiba, Nik menoleh. Mata mereka bertabrakan.

Salene segera membuang muka, punggungnya langsung tegak lurus sempurna, tidak menyentuh sandaran kursi sama sekali. Ia memegang pulpennya dengan sangat kaku, mencoba terlihat seperti siswa teladan yang sedang fokus.

"Apa tidak pegal duduk seperti itu, Sal?" tanya Nikolas tiba-tiba.

Salene tetap menatap ke depan. "Duduk seperti ini adalah standar etiket keluarga Lumiere. Punggung tegak mencerminkan disiplin diri."

"Disiplin diri atau siksaan diri?" Nik mendekatkan wajahnya sedikit ke arah telinga Salene, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Kita akan berada di sini selama tiga jam untuk pelajaran pertama. Kalau kau terus duduk seperti patung porselen, besok kau harus ke tukang pijat."

Salene merasakan napas hangat Nik di kulit lehernya. Pipinya mulai memerah, namun ia tetap bertahan. "Aku sudah terbiasa, Nik. Kau tidak perlu khawatir."

"Aku tidak khawatir," bohong Nikolas dengan suara serak. "Aku hanya berpikir, sayang sekali kalau punggung seindah itu harus menderita karena aturan Madame yang ketinggalan zaman."

Nikolas kemudian menyandarkan tubuhnya dengan sangat santai, menatap Salene dengan binar jenaka. "Lagipula, sekarang Lauren sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak akan ada yang melihat kalau kau bersandar sedikit saja."

Salene melirik Lauren yang masih diam seribu bahasa, lalu melirik Nikolas. Ada sesuatu dalam tatapan Nikolas yang seolah memberinya izin untuk melanggar aturan. Sedikit demi sedikit, Salene mengendurkan otot punggungnya. Ia bersandar sangat tipis pada kursi itu. Rasanya... sangat lega.

"Nah, begitu lebih baik, kan?" gumam Nikolas puas.

Salene tidak menjawab, tapi ia tidak kembali ke posisi tegaknya. Di ruangan teater yang luas itu, di tengah hiruk-pikuk siswa kelas 12 lainnya, Salene merasa seolah-olah ia baru saja berbagi rahasia kecil dengan pria di sampingnya. Rahasia tentang bagaimana rasanya menjadi manusia biasa, meski hanya satu inci sandaran kursi.

"Nik..." bisik Salene tanpa menoleh.

"Hm?"

"Terima kasih untuk kursinya."

Nikolas tersenyum tipis, tangannya secara tidak sengaja—atau mungkin sengaja—menyentuh ujung jemari Salene yang ada di atas meja. "Sama-sama, Tuan Putri. Kelas 12 baru saja dimulai. Pastikan kau tidak pingsan karena menahan napas terlalu lama di sampingku."

Salene hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang hampir saja meledak, sementara di barisan sebelah, Lauren masih mencoba mengatur detak jantungnya yang berantakan karena "serangan" mendadak dari sang suami es.

🌷🌷🌷🌷

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!