NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 - Ibu Mertua

Pagi setelah pernikahan itu terasa lebih sunyi dari yang Alyssa bayangkan, bahkan udara di dalam kamar terasa berbeda dari malam sebelumnya. Ia terbangun perlahan di ranjang besar yang masih asing, tubuhnya sedikit kaku karena semalam tertidur tanpa benar-benar beristirahat dengan tenang. Gaun pengantin sudah ia ganti dengan pakaian tidur sederhana yang disediakan di lemari, tetapi suasana di sekitarnya tetap membuatnya seperti orang yang tersesat di tempat yang terlalu luas untuk dirinya sendiri.

Beberapa detik ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit, membiarkan pikirannya mengambang tanpa arah yang jelas. Ingatan tentang hari kemarin muncul satu per satu, mulai dari resepsi yang penuh tatapan dingin hingga percakapan singkat yang menghapus harapan apa pun tentang pernikahan ini. Ia menghela napas pelan, mencoba menerima kenyataan bahwa semua itu bukan mimpi buruk yang akan hilang saat ia membuka mata.

Alyssa perlahan duduk, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sambil menyentuh wajahnya yang masih terasa berat. Bekas tangis semalam belum sepenuhnya hilang, meninggalkan sembap samar yang hanya bisa ia rasakan sendiri. Ia menarik napas dalam, menahannya sejenak, lalu menghembuskannya perlahan seperti mencoba mengusir sisa emosi yang belum benar-benar reda.

Hari ini ia harus pindah ke rumah keluarga Daren, tempat yang kini secara resmi menjadi tempat tinggalnya meski hatinya belum pernah merasa memiliki. Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak, tetapi ia tidak punya pilihan selain melangkah maju. Ia menyingkirkan selimut, berdiri dari ranjang, lalu berjalan ke arah jendela dengan langkah yang masih sedikit ragu.

Cahaya matahari masuk dari sela tirai, menyinari lantai kamar yang luas dan mengilap. Segalanya tampak rapi dan teratur, seolah tidak pernah tersentuh oleh kekacauan emosi yang ia rasakan. Namun keindahan itu tetap terasa dingin, seperti ruangan yang hanya indah di permukaan tanpa kehidupan di dalamnya.

Alyssa memejamkan mata sejenak, membiarkan cahaya hangat menyentuh wajahnya, lalu berbalik menuju kamar mandi. Ia bersiap dalam diam, memilih pakaian yang tidak terlalu mencolok tetapi tetap rapi, mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan yang belum ia pahami sepenuhnya. Setiap gerakan ia lakukan dengan hati-hati, seolah takut melakukan kesalahan sejak langkah pertama.

Ketika ia keluar dari kamar, lorong panjang di depannya terlihat lengang dan sunyi. Beberapa pelayan berlalu-lalang dengan langkah cepat, tetapi tidak ada yang benar-benar menatapnya dengan jelas. Alyssa tidak tahu apakah mereka sengaja menghindari atau memang tidak menganggapnya penting, tetapi perasaan diabaikan itu tetap terasa.

Ia berjalan perlahan, mengingat arah yang sempat ia lihat sekilas semalam, lalu menuruni tangga besar yang mengarah ke lantai bawah. Suasana di rumah itu terasa berbeda dari luar, lebih tenang, lebih teratur, tetapi juga lebih menekan. Begitu sampai di ruang utama, pandangannya langsung tertuju pada seorang wanita yang duduk dengan anggun di sofa.

Wanita itu mengenakan pakaian formal yang sederhana tetapi jelas mahal, dengan sikap duduk yang tegak dan tenang. Rambutnya tersisir rapi, dan wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit ditebak, namun aura yang ia pancarkan cukup untuk membuat Alyssa berhenti sejenak sebelum melangkah lebih dekat. Tanpa perlu diperkenalkan, ia sudah tahu bahwa wanita itu adalah ibu Daren.

Alyssa melangkah mendekat dengan hati-hati, mencoba menjaga sikapnya tetap sopan meski rasa gugup mulai muncul. Ia menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk hormat, lalu membuka suara dengan pelan.

“Selamat pagi, Bu.”

Wanita itu tidak langsung menjawab, hanya mengangkat pandangannya perlahan dan menatap Alyssa dari atas hingga bawah. Tatapan itu bukan sekadar melihat, melainkan menilai dengan jelas, seolah setiap detail pada diri Alyssa tidak luput dari perhatiannya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbicara.

“Kamu bangun juga.”

Nada suaranya datar tanpa kehangatan, membuat sapaan itu terasa seperti pernyataan biasa. Alyssa mengangguk pelan, mencoba tetap tenang meski suasana mulai terasa canggung.

“Iya, Bu.”

Tidak ada undangan untuk duduk atau percakapan lanjutan yang terasa ramah. Alyssa tetap berdiri di tempatnya, merasakan jarak yang sengaja diciptakan sejak awal pertemuan. Ia menahan diri untuk tidak bergerak sembarangan, menunggu apakah wanita itu akan mengatakan sesuatu lagi.

“Daren sudah berangkat. Dia tidak biasa sarapan di rumah.”

Informasi itu disampaikan dengan nada yang sama, tetapi entah mengapa terasa seperti penegasan bahwa Alyssa tidak perlu berharap apa pun dari suaminya di pagi hari. Ia menunduk sedikit, menerima kalimat itu tanpa komentar.

“Baik, Bu.”

Wanita itu kembali menatapnya beberapa detik, lalu mengajukan pertanyaan berikutnya dengan nada yang sedikit lebih tegas.

“Kamu sudah diberi tahu aturan di rumah ini?”

Alyssa terdiam sejenak sebelum menjawab dengan jujur.

“Belum, Bu.”

“Kalau begitu dengarkan sekarang.”

Nada suaranya berubah lebih jelas, membuat Alyssa langsung menegakkan tubuhnya. Ia memusatkan perhatian, mencoba menangkap setiap kata yang akan diucapkan.

“Di rumah ini semua berjalan teratur. Cara berpakaian, cara berbicara, dan cara bersikap harus sesuai dengan standar keluarga kami. Jangan sampai kamu mempermalukan nama keluarga.”

Setiap kalimat diucapkan dengan jelas dan tanpa ragu, seolah Alyssa adalah seseorang yang harus diawasi sejak awal. Ia menelan ludah, lalu menjawab dengan pelan namun tegas.

“Saya akan berusaha menyesuaikan diri.”

Wanita itu tidak menunjukkan kepuasan, tetapi juga tidak membantah. Ia hanya mengangguk singkat sebelum mengalihkan pandangannya.

“Kita lihat saja.”

Suasana kembali hening setelah itu, membuat Alyssa merasa tidak punya alasan untuk tetap berdiri di sana lebih lama. Ia memberanikan diri bertanya dengan sopan.

“Apakah saya boleh sarapan?”

Wanita itu melirik ke arah ruang makan tanpa mengubah ekspresinya.

“Sudah disiapkan.”

Tidak ada ajakan atau keinginan untuk menemani, hanya jawaban yang terasa seperti formalitas. Alyssa mengangguk, lalu berjalan menuju ruang makan dengan langkah yang terukur.

Meja panjang sudah terisi berbagai hidangan yang tersusun rapi dan menggugah selera. Namun ketika ia duduk, keheningan di sekitarnya membuat suasana terasa kosong. Ia mengambil beberapa makanan secukupnya, mencoba makan perlahan meski selera makannya tidak benar-benar ada.

Seorang pelayan datang untuk menuangkan air ke gelasnya, dan Alyssa memberikan senyum kecil sebagai tanda terima kasih.

“Terima kasih.”

Pelayan itu hanya mengangguk singkat tanpa membalas senyumnya, lalu pergi begitu saja. Alyssa mencoba mengabaikan hal itu, fokus pada makanannya, meski pikirannya terus berputar.

Tidak lama kemudian, ia menyadari ada pelayan lain yang berdiri tidak jauh, berbisik pelan dengan rekannya. Suara mereka memang tidak keras, tetapi cukup jelas untuk sampai ke telinganya.

“Dia yang menggantikan, kan?”

“Iya. Katanya kakaknya kabur.”

“Pantas saja…”

Alyssa menghentikan gerakannya sejenak, tetapi ia tidak mengangkat kepala. Ia memilih melanjutkan makan, berpura-pura tidak mendengar, meski setiap kata terasa menempel di pikirannya.

Setelah selesai, ia berdiri dan berniat kembali ke kamar, tetapi salah satu pelayan mendekat untuk mengambil piringnya.

“Nona, biar kami yang bereskan.”

Alyssa mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

Pelayan itu menerima piringnya, tetapi tatapannya berbeda dari sebelumnya. Tidak ada rasa hormat yang jelas, hanya penilaian yang tidak diucapkan. Alyssa menahan diri untuk tidak bereaksi, lalu berjalan keluar dari ruang makan.

Namun langkahnya melambat ketika suara lain terdengar di belakangnya.

“Padahal bukan yang seharusnya…”

“Kok bisa jadi nyonya rumah di sini ya…”

Alyssa berhenti sejenak, tangannya mengepal tanpa ia sadari. Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan langkahnya tanpa menoleh, berusaha menjaga dirinya tetap tenang meski hatinya tidak sepenuhnya kuat.

Saat kembali ke ruang tengah, ibu Daren masih duduk di tempat yang sama, seolah tidak pernah berpindah sejak tadi. Alyssa mendekat lagi, kali ini dengan perasaan yang lebih berat, tetapi tetap mencoba menjaga sopan santunnya.

“Bu, apakah ada yang bisa saya bantu?”

Wanita itu menatapnya lebih lama dari sebelumnya, seolah mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya berbicara.

“Kamu tahu bagaimana mengurus rumah sebesar ini?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi maknanya jelas. Alyssa menggeleng pelan, lalu menjawab dengan hati-hati.

“Belum, Bu. Tapi saya bisa belajar.”

Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang tidak membawa kehangatan.

“Belajar? Ini bukan tempat untuk mulai dari nol.”

Alyssa menahan napas, tetapi tetap berusaha menjawab dengan tenang.

“Saya akan berusaha cepat menyesuaikan diri.”

Wanita itu berdiri perlahan, lalu berjalan mendekat hingga jarak di antara mereka hanya beberapa langkah. Tatapannya kini lebih tajam, membuat Alyssa sulit menghindar.

“Dengar baik-baik. Kami tidak pernah mengharapkan kamu.”

Kalimat itu jatuh dengan berat, membuat Alyssa menatapnya tanpa bisa langsung merespon.

“Tapi karena keadaan, kamu ada di sini sekarang. Jadi setidaknya, jangan menjadi beban.”

Alyssa menggigit bagian dalam bibirnya, menahan banyak hal yang ingin ia katakan. Pada akhirnya, ia hanya mengangguk pelan.

“Baik, Bu.”

Wanita itu menghela napas pendek, lalu menatapnya sekali lagi.

“Kamu tahu kenapa Arin dipilih sejak awal? Karena dia punya kelas, cara bicara dan latar belakang yang sesuai.”

Alyssa menunduk, mendengarkan tanpa menyela.

“Tapi kamu… tidak pantas menjadi bagian keluarga ini.”

Sunyi langsung menyelimuti ruangan, membuat kata-kata itu terasa lebih berat dari yang lain. Alyssa tidak menjawab, hanya berdiri diam dengan perasaan yang perlahan menekan dari dalam.

Beberapa detik kemudian, ia menarik napas pelan.

“Saya mengerti.”

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi membutuhkan lebih banyak kekuatan dari yang terlihat. Wanita itu mengangguk singkat, lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.

Alyssa tetap berdiri di tempatnya, tangannya masih mengepal di sisi tubuhnya. Kata-kata yang baru saja ia dengar terus berputar di kepalanya, bercampur dengan semua yang terjadi sejak kemarin.

Ia menutup matanya sejenak, berusaha menenangkan diri sebelum semuanya benar-benar runtuh. Ketika ia membuka mata kembali, ada sesuatu yang berubah, bukan karena ia kuat, tetapi karena ia tahu tidak ada pilihan lain.

Jika ini memang tempatnya sekarang, maka ia harus bertahan meski setiap langkah terasa berat. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, ia menyadari bahwa perjuangan ini tidak akan singkat, bahkan mungkin akan jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!