Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air di Antara Api
Suasana di dalam kabin sedan hitam itu begitu sunyi, hanya deru mesin yang halus dan embusan pendingin udara yang membelah keheningan. Leah Ramiro menyandarkan pelipisnya pada kaca jendela yang dingin, menatap deretan ruko dan pepohonan yang berlalu dengan cepat di luar sana. Di tangan kanannya, ia masih meremas sapu tangan biru tua milik Denzel, sebuah benda sederhana yang kini terasa seperti jangkar bagi jiwanya yang hampir tenggelam.
Di kursi kemudi, Denzel Shaquille fokus pada jalanan. Punggungnya tegak, kedua tangannya memegang setir dengan posisi sepuluh dan dua yang sempurna. Ia tidak menyetel musik, tidak pula mencoba membuka percakapan yang tidak perlu. Ia tahu Leah sedang mengumpulkan kembali kepingan-kepingan dirinya yang baru saja dihancurkan oleh intimidasi Jeff Chevalier.
"Denzel," panggil Leah lirih, suaranya hampir tertelan oleh suara ban yang bergesekan dengan aspal.
"Iya, Leah?" balas Denzel tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, namun nada suaranya sangat penuh perhatian.
"Apa menurutmu aku terlalu kekanak-kanakan?" Leah menoleh, menatap profil samping wajah Denzel. Rahang pria itu tegas, dengan sedikit bayangan janggut tipis yang tercukur sangat rapi. Ada kedewasaan yang tenang di sana, sesuatu yang membuat Leah merasa kecil namun terlindungi. "Maksudku... Jeff adalah sahabat baik Kak Zefan. Dia dosen yang hebat. Semua orang memujanya. Tapi kenapa setiap kali dia ada di dekatku, aku merasa seperti oksigen di sekitarku dicuri?"
Denzel terdiam sejenak. Ia menginjak pedal rem perlahan saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Ia menoleh ke arah Leah, menatap mata cokelat gadis itu yang masih terlihat sembab.
"Perasaan tidak pernah salah, Leah," ucap Denzel pelan. "Logika mungkin bisa memaksamu untuk menghormati posisi Tuan Chevalier sebagai dosen atau sahabat kakakmu. Tapi instingmu... instingmu sedang memberitahumu bahwa ada sesuatu yang tidak seimbang dalam cara dia memperlakukanmu."
Leah menghela napas panjang, sebuah embusan yang sarat akan beban. "Dia bilang dia melindungiku. Dia bilang Daniel itu bahaya. Tapi cara Jeff mengusirnya... itu tidak terasa seperti perlindungan, Denzel. Itu terasa seperti... seperti singa yang sedang mengusir dubuk karena tidak mau mangsanya diganggu."
Denzel merasakan dadanya berdenyut perih. Analogi Leah sangat tepat, dan itu menyakitkan bagi Denzel karena ia tahu ia berada di posisi yang sama dengan dubuk itu jika ia berani menunjukkan perasaannya—ia akan diusir, atau lebih buruk lagi, dihancurkan oleh kekuasaan Jeff dan Zefan. Namun, bagi Leah, Denzel memilih untuk menjadi air. Air yang akan memadamkan api kecemasan gadis itu.
"Jika Tuan Chevalier adalah api yang membara, maka Anda butuh ruang yang cukup luas agar tidak ikut terbakar," kata Denzel dengan metafora yang hati-hati. "Saya mengerti kenapa Anda merasa tertekan. Perlindungan yang tulus seharusnya memberikan rasa lega, bukan rasa takut."
"Tepat sekali!" seru Leah, sedikit lebih bersemangat karena merasa dipahami. "Itulah yang kurasakan! Bersama Jeff, aku merasa seperti mahasiswi yang terus-menerus diawasi di bawah mikroskop. Tapi bersamamu..." Leah menjeda kalimatnya, membuat jantung Denzel berdetak satu kali lebih cepat. "...bersamamu, aku merasa bisa bernapas. Kau tidak pernah menuntut apa pun dariku, Denzel."
Denzel memaksakan dirinya untuk tetap menatap lurus ke depan saat lampu berubah hijau. Kalimat "Kau tidak pernah menuntut apa pun dariku" adalah pujian sekaligus kutukan. Ia tidak menuntut karena ia tidak punya hak untuk menuntut. Ia mencintai Leah dengan cara yang paling murni namun paling pengecut: dengan cara tidak membiarkan Leah tahu.
"Itu karena tugas saya adalah melayani Anda, Leah. Bukan memiliki Anda," ucap Denzel, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.
Leah tersenyum tipis, sebuah lengkungan manis yang jarang terlihat hari ini. "Kau selalu bicara soal tugas. Apa kau pernah melakukan sesuatu untukku bukan karena tugas dari Kak Zefan?"
Pertanyaan itu menjebak. Denzel teringat malam-malam di mana ia memeriksa kembali rute perjalanan Leah untuk memastikan tidak ada perbaikan jalan yang akan membuatnya terjebak macet. Ia teringat saat ia diam-diam membelikan cokelat kesukaan Leah dan meletakkannya di meja dapur tanpa nama, membiarkan Leah berpikir itu dari Zefan. Ia teringat bagaimana ia menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari akuntansi dasar hanya agar ia bisa mengerti apa yang Leah keluhkan saat mereka sedang di jalan.
Semua itu bukan tugas. Itu adalah pengabdian batin.
"Setiap detik saya berada di dekat Anda adalah pilihan saya, Leah," jawab Denzel diplomatis, namun mengandung kebenaran yang dalam. "Tuan Zefan mungkin membayar waktu saya, tapi dia tidak bisa mengatur bagaimana saya mendengarkan Anda."
Leah menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil yang empuk. Rasa lelah yang luar biasa mulai menyergapnya. Ketegangan di kantin tadi benar-benar menguras energinya. "Terima kasih, Denzel. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau asisten kakakku bukan orang sepertimu. Mungkin aku sudah gila menghadapi Jeff dan Daniel sendirian."
Denzel tidak membalas. Ia hanya terus mengemudi dengan tenang. Di dalam pikirannya, sebuah konfrontasi imajiner terjadi. Ia membayangkan dirinya berdiri di depan Jeff Chevalier, menyatakan bahwa pria itu tidak berhak memperlakukan Leah seperti properti. Namun, bayangan itu segera pudar saat ia mengingat wajah Zefan Ramiro—pria yang telah mengangkatnya dari kemiskinan, memberikan pekerjaan layak, dan mempercayainya sepenuhnya.
Denzel terjepit di antara loyalitas kepada bosnya dan cinta terlarang kepada adik bosnya. Dan di antara keduanya, ada Jeff, sang sahabat bos yang memiliki segala kelebihan yang tidak dimiliki Denzel: harta, status sosial, dan keberanian untuk bersikap kurang ajar.
"Apa kau pikir Jeff benar?" tanya Leah tiba-tiba, memecah lamunan Denzel. "Dia tadi menghinaku, bilang aku tidak bisa menjaga diri. Dia seolah ingin bilang kalau tanpa dia, aku hanya gadis bodoh yang akan terus celaka."
Denzel memutar kemudi, memasuki kawasan perumahan elit tempat keluarga Ramiro tinggal. "Anda tidak bodoh, Leah. Anda hanya terlalu baik, dan dunia ini sering kali bersikap kasar pada orang baik. Tuan Chevalier hanya menggunakan ketakutan Anda sebagai alat untuk membuat dirinya terlihat sangat dibutuhkan."
Leah merenungkan kata-kata itu. "Kau benar. Dia membuatku merasa lemah agar dia bisa bersikap kuat." Leah menatap punggung tangan Denzel yang masih kokoh memegang setir. "Kenapa kau tidak pernah mencoba bersikap kuat di depanku, Denzel? Kau selalu mengalah, selalu menuruti apa pun maunya Kak Zefan atau permintaanku."
"Kekuatan tidak selalu harus ditunjukkan dengan dominasi, Leah," sahut Denzel tenang. "Terkadang, kekuatan terbesar adalah kemampuan untuk menahan diri. Untuk tetap berdiri di tempat yang sama meski badai sedang mengamuk."
Mobil akhirnya berhenti dengan sempurna di depan lobi kediaman Ramiro yang megah namun terasa dingin. Denzel segera turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Leah. Saat Leah turun, angin sore menerbangkan beberapa helai rambutnya. Denzel secara refleks mengangkat tangannya untuk merapikan rambut itu agar tidak menutupi mata Leah, namun ia berhenti tepat satu inci sebelum kulitnya bersentuhan dengan helai rambut gadis itu. Ia menarik tangannya kembali, menggantinya dengan sebuah bungkukan hormat yang kaku.
"Kita sudah sampai, Leah. Silakan masuk. Saya akan membawa tas Anda ke dalam."
Leah menatap Denzel sejenak, ada sesuatu yang aneh di matanya—mungkin rasa kecewa yang kecil karena Denzel tidak meneruskan gerakannya tadi. "Sapu tanganmu... akan kucuci dulu sebelum kukembalikan."
"Tidak perlu terburu-buru," jawab Denzel.
Leah berjalan masuk ke dalam rumah, namun di ambang pintu, ia menoleh kembali. "Denzel? Besok... apa kau yang akan menjemputku lagi?"
Denzel menatap Leah, memberikan janji yang paling tulus yang bisa ia berikan dalam posisinya. "Selama saya masih bernapas, saya yang akan menjemput Anda, Leah."
Leah tersenyum, kali ini lebih tulus, sebelum menghilang di balik pintu jati yang besar.
Denzel berdiri mematung di samping mobil selama beberapa saat. Ia menatap tangannya yang tadi hampir menyentuh Leah. Gemetar kecil menjalar di sana. Ia adalah air yang mencoba memadamkan api, namun ia sering kali lupa bahwa air pun bisa menguap dan habis jika terlalu lama berada di dekat panas yang luar biasa.
Ia menarik napas dalam-dalam, menelan kembali rasa pahit di pangkal tenggorokannya. Ia harus kembali menjadi asisten yang sempurna. Karena di dalam sana, Zefan Ramiro sedang menunggunya dengan tumpukan masalah perusahaan yang hampir bangkrut, dan di luar sana, Jeff Chevalier sedang menyusun rencana untuk mengklaim Leah seutuhnya.
Denzel hanyalah asisten peliharaan, begitu kata Jeff. Dan hari ini, Denzel membuktikan bahwa asisten peliharaan setidaknya tahu cara menjaga agar tuannya tetap bisa tersenyum, sesuatu yang gagal dilakukan oleh sang dosen jenius.