Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Nara terkejut mendengarnya, matanya sedikit membelalak dan wajahnya menunjukkan rasa kebingungan. "Ah... maafkan aku, Ren. Aku tidak bermaksud... aku hanya---"
Rendra menyadari bahwa kata-katanya terlalu tajam dan membuat Nara tidak nyaman. Dia segera meraih tangan Nara dan menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku, Nara. Aku tidak seharusnya menyela dan berbicara seperti itu," ucapnya dengan suara penuh rasa sesal.
"Ini bukan tentang adikmu, aku yakin dia adalah gadis yang baik. Tapi..." dia terdiam sejenak, menatap mata Nara lebih dalam, "Aku sudah memiliki seseorang yang aku suka, jadi aku tidak ingin membuat adikmu salah paham dan berharap padaku nantinya,"
Suasana yang tadi terasa tegang kini perlahan mencair. Nara menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Ren, aku bisa mengerti."
Rendra menggenggam tangan Nara untuk mengalihkan suasana, "Ayo, aku ajak kamu untuk melihat-lihat sekitar villa ini, supaya suasana hatimu lebih baik,"
Nara menatap tangan kirinya yang digenggam oleh Rendra, lalu kembali menatap wajah pria itu dan tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk patuh, "Baiklah," jawabnya pelan, senyumnya kini terlihat lebih tulus.
Rendra membalas senyuman itu, kemudian dia berdiri dengan diikuti oleh Nara. Genggaman tangan Nara tidak dia lepaskan saat mereka berjalan keluar menuju teras luas yang menghadap langsung ke hamparan kebun teh. Angin segar pegunungan langsung menyapa, menerbangkan helai-helai rambut Nara yang membuat wanita itu terlihat semakin anggun dan mempesona di mata Rendra.
"Wah... pemandangan disini sangat luar biasa sekali, Ren," seru Nara takjub, matanya berbinar melihat hijaunya dedaunan yang terbentang di depan matanya. "Aku merasa seolah semua beban di pundakku hilang terbawa oleh angin."
"Memang tujuanku membawamu ke sini supaya kamu bisa tenang," ucap Rendra lembut, matanya tak lepas memandang wajah wanita di sampingnya. "Tempat ini memang surganya ketenangan. Cocok sekali untukmu."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang dihiasi bebatuan alam dengan Rendra yang menunjukkan sudut-sudut indah villa, mulai dari taman bunga yang tertata rapi, kolam ikan yang tenang, hingga area taman belakang yang lebih privat.
Nara tampak sangat menikmati setiap tempat yang mereka lalui. Sesekali dia berhenti untuk menyentuh kelopak bunga, suara tawa kecilnya yang renyah memecah keheningan tempat itu. Rendra tersenyum puas melihat perubahan pada Nara. Wanita itu terlihat jauh lebih hidup dibandingkan saat pertama kali datang. Namun, di balik senyumnya, tatapan Rendra menyimpan rasa cinta yang begitu dalam.
"Aku akan melakukan apa saja supaya kamu bisa tersenyum terus seperti ini Nara," bisiknya dalam hati.
-
-
-
Sementara Nara sedang menerima perhatian tulus dari Rendra, di kediaman orang tua Nara, suasana terasa berbeda. Wira duduk termenung di kursi goyang di halaman belakang, matanya menatap kosong ke arah kolam ikan yang tenang. Beberapa kali Wira menghela napas, seakan ada beban berat yang mengganjal di hatinya sejak tadi malam.
Anita berjalan pelan mendekat, membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. Dia meletakkannya di meja kecil di samping suaminya, lalu duduk di kursi sebelahnya.
"Minum dulu tehnya, Pa," ucap Anita lembut, mencoba menarik perhatian suaminya yang tampak gelisah.
Wira menghela napas panjang sebelum mengambil cangkir itu, menyesapnya sedikit untuk menghangatkan tenggorokannya yang terasa kering. "Terima kasih, Ma."
"Papa masih mikirin Nara ya?" tanya Anita pelan, matanya juga menyiratkan kekhawatiran yang sama.
Wira mengangguk pelan, wajahnya tampak sangat serius. "Iya, Ma. Papa tidak bisa tenang. Papa bisa melihat dari sorot mata Nara seperti ada kesedihan yang dia sembunyikan semalam. Papa takut... Papa takut Arga menyakiti hati Nara, Ma,"
Anita menghela napas, ikut merasa cemas. Dia juga merasakan hal yang sama, tapi dia tidak bisa menceritakan kegelisahan hatinya karena takut sakit suaminya kumat lagi.
"Papa jangan berpikir macam-macam dulu," ucap Anita lembut, berusaha menyembunyikan kegelisahannya di balik senyum tenang. Dia tahu betul kondisi kesehatan suaminya, jadi dia harus tampak kuat meski di dalam hatinya juga bergemuruh.
"Mungkin Nara cuma kecapean saja, Pa. Kemarin kan kita tiba-tiba datang kerumahnya buat kasih kejutan, wajar kalau wajahnya terlihat lelah dan kurang bersemangat," tambahnya berusaha menenangkan, meski suaranya terdengar sedikit ragu.
Wira menggeleng pelan, matanya tetap menatap kosong ke permukaan air kolam. "Papa tahu betul karakter putri kita itu, Ma. Nara itu tipe anak yang kuat, dia tidak akan pernah menunjukkan wajah sedihnya di depan orang lain kalau tidak ada masalah besar. Tapi tadi malam... Papa melihat ketakutan dan kesedihan yang mendalam di matanya. Seperti dia sedang menahan beban sendirian."
Anita segera mengusap punggung tangan suaminya dengan lembut, berusaha menenangkan gejolak di hati pria itu. Dia memaksakan senyum setenang mungkin, meski di dalam dadanya sendiri rasa cemas itu justru semakin menggunung.
"Sudah ah, Pa. Jangan dipikirkan terus," ucapnya mencoba menenangkan, meski suaranya sedikit terdengar dipaksakan. "Lagipula ini kan cuma perasaan Papa saja. Nara kan sudah besar, sudah jadi istri orang, dia pasti tahu cara menjaga dirinya sendiri dan menyelesaikan masalahnya."
Anita berdiri, "Ayo Pa, kita masuk. Makan siangnya sudah siap di meja makan. Mama sudah masak sayur asem sama ikan goreng kesukaan Papa. Jangan dipikirin terus, nanti Nara malah jadi sedih kalau tahu Papanya sakit."
Wira menghela napas panjang, seakan ingin mengeluarkan semua beban yang ada di dadanya. Dia menatap istrinya sekilas, melihat kekhawatiran yang terpancar jelas di mata wanita itu.
"Baiklah, Ma. Papa masuk," jawabnya pelan, lalu berdiri. "Semoga dugaan Papa salah, Ma. Semoga Nara baik-baik saja di sana."
"Iya Pa, Nara pasti baik-baik saja," jawab Anita cepat, berusaha mengalihkan perhatian Wira sepenuhnya agar pikiran negatif itu segera pergi.
-
-
-
Nara berdiri di depan pintu kamar Rendra untuk memanggil Rendra dan mengajaknya makan siang. Namun sudah beberapa kali dia memanggil nama pria itu, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam.
"Ren... Rendra?" panggilnya sekali lagi, telinganya mendekat sedikit ke daun pintu namun dia tetap tidak bisa mendengar suara apapun.
"Apa mungkin dia sedang mandi jadi tidak dengar," gumam Nara pelan.
Karena khawatir terjadi sesuatu dengan Rendra didalam sana, Nara memberanikan diri untuk memutar gagang pintu. Ternyata tidak dikunci. Pintu itu terbuka pelan dengan bunyi berdecit halus.
"Ren?" panggilnya lagi sambil melangkahkan kakinya masuk secara perlahan, pandangannya menyapu sekitar kamar.
Ruangan itu luas dan berbau maskulin yang sangat wangi. Matanya langsung tertuju ke arah kamar mandi yang pintunya tertutup namun tidak rapat, dan dari balik celah kaca buram itu, dia bisa melihat siluet tubuh seorang pria yang sedang berdiri di bawah guyuran air.
Jantung Nara seakan berhenti berdetak sesaat. Wajahnya langsung memanas, rasa malu dan canggung langsung menyeruak. Dia ingin segera berbalik dan lari keluar dari sana, tapi kakinya seakan terpaku di lantai.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat napas Nara tercekat di tenggorokan. Dari balik dinding kaca itu, dia bisa melihat jelas gerakan tangan Rendra. Pria itu tidak hanya sekadar membersihkan tubuhnya. Tangan kirinya terlihat memegang bagian tubuhnya yang sudah tegak kaku, memainkannya dengan gerakan lambat namun pasti. Kepala Rendra terangkat ke atas, matanya terpejam rapat, dan ekspresi wajahnya terlihat sangat menikmati, seakan sedang membayangkan sesuatu yang sangat nikmat.
"Ah... Nara..."
Suara desahan rendah itu terdengar jelas sampai ke telinga Nara. Nara terperanjat, matanya membelalak lebar. Rendra... Rendra menyebut namanya?
-
-
-
Bersambung...