Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARSITEK KEHANCURAN YANG TENANG
Retakan itu… tidak terlihat.
Tidak ada alarm. Tidak ada kepanikan.
Namun di dalam sesuatu yang selama ini berdiri di atas kepastian—
sebuah deviasi kecil mulai menyebar.
—
Raka tidak bergerak.
Namun keberadaannya di dalam sistem… mulai terasa.
Bukan sebagai pengguna. Bukan sebagai ancaman.
Tapi sebagai… pusat gravitasi baru.
—
Layar di depannya berubah lagi.
Daftar nama itu kini tidak lagi statis.
Satu per satu—
mereka bergerak.
Berubah posisi. Terhubung. Terputus.
Seolah-olah sistem sedang… menunggu keputusan.
—
“Ini bukan daftar,” kata Raka pelan.
“Tidak,” jawab Larasati.
“Ini simulasi.”
—
Raka menyipitkan mata.
“Simulasi apa?”
Larasati menatap layar sebentar. Lalu kembali ke Raka.
“Konsekuensi.”
—
Sunyi.
—
Raka memperhatikan lebih dalam.
Ketika satu nama disentuh— jalur lain berubah.
Ketika satu koneksi diputus— rantai peristiwa di tempat lain ikut runtuh.
—
“Efek domino,” gumamnya.
“Lebih dari itu,” kata Larasati.
“Ini bukan tentang siapa yang jatuh…”
Ia berhenti sejenak.
“…tapi siapa yang ikut terseret saat mereka jatuh.”
—
Raka diam.
Matanya bergerak cepat.
Menghitung. Menganalisis. Membaca sesuatu yang bahkan belum terjadi.
—
Di sisi lain kota—
Dian duduk sekarang.
Tangannya menggenggam ponsel lebih erat dari sebelumnya.
“Ini tidak masuk akal,” katanya.
Arka menatapnya sekilas. “Sejak kapan kita bermain dalam sesuatu yang masuk akal?”
—
Dian tidak menjawab.
Karena ia tahu jawabannya.
—
“Kalau dia benar-benar masuk…” suara Dian melemah, “maka dia bukan lagi bagian dari kita.”
Arka terdiam beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Bukan. Dia masih bagian dari kita.”
Dian menatapnya.
“Dia hanya… tidak lagi bermain di sisi yang sama.”
—
Sunyi.
Lebih berat dari sebelumnya.
—
Kembali ke ruangan Larasati.
“Jadi ini ujian?” tanya Raka.
“Bukan,” jawab Larasati.
“Ini adaptasi.”
—
Raka mengernyit sedikit.
“Bedanya?”
“Ujian punya jawaban yang benar,” katanya tenang.
“Ini tidak.”
—
Raka menatap layar lagi.
Lalu tanpa peringatan—
ia mengangkat tangannya.
Menyentuh satu nama.
—
Seketika—
seluruh pola berubah.
—
Di ruangan lain—
seorang pria berdiri tiba-tiba.
“Ada perubahan!”
“Dari mana?”
“Tidak ada sumber—”
Ia berhenti.
Matanya membesar.
“…tidak ada input.”
—
Kembali ke Raka.
Ia tidak menunjukkan reaksi.
Seolah-olah apa yang terjadi… sudah ia perkirakan.
—
“Menarik,” katanya pelan.
“Reaksinya terlalu cepat.”
Larasati mengangkat alis sedikit.
“Terlalu cepat?”
Raka mengangguk.
“Artinya sistem ini tidak hanya membaca keputusan…”
Ia berhenti sejenak.
“…tapi mengantisipasinya.”
—
Larasati tersenyum tipis.
“Kamu belajar cepat.”
—
Raka menoleh sedikit.
“Bukan belajar.”
Tatapannya kembali ke layar.
“Mengingat.”
—
Untuk pertama kalinya—
Larasati tidak langsung menjawab.
—
Ada sesuatu dalam cara Raka melihat sistem itu.
Bukan seperti orang yang baru mengenal.
Tapi seperti seseorang yang… pernah menjadi bagian darinya.
—
“Siapa kamu sebenarnya?” tanyanya pelan.
—
Raka tidak menjawab.
Karena bahkan ia sendiri—
tidak sepenuhnya yakin.
—
Namun tangannya bergerak lagi.
Kali ini lebih cepat.
Lebih pasti.
—
Satu nama.
Dua koneksi diputus.
Tiga jalur baru terbentuk.
—
Dan di saat itu—
sesuatu terjadi.
—
Bukan di layar.
—
Di dunia nyata.
—
Di sebuah gedung tinggi—
seorang eksekutif menerima panggilan mendadak.
Di sebuah bandara—
sebuah penerbangan tertunda tanpa alasan jelas.
Di sebuah kantor pemerintahan—
sebuah dokumen tiba-tiba hilang dari sistem.
—
Efeknya tidak langsung terlihat.
Namun arah dunia—
mulai bergeser.
—
Kembali ke Raka.
Ia berhenti.
Menatap hasilnya.
—
“Ini terlalu mudah,” katanya.
—
Larasati menatapnya tajam.
“Tidak.”
—
Ia melangkah mendekat.
“Ini baru terasa mudah… karena kamu belum melihat dampaknya sepenuhnya.”
—
Raka tersenyum tipis.
“Tidak.”
—
Ia menoleh sedikit.
Tatapannya dingin.
—
“Aku bilang ini mudah… karena sistemnya masih terlalu manusia.”
—
Sunyi.
—
Kalimat itu menggantung.
Berat.
—
Untuk pertama kalinya—
Larasati tidak tersenyum.
—
“Jelaskan,” katanya pelan.
—
Raka kembali ke layar.
Menunjuk satu pola.
—
“Semua ini masih dibangun di atas asumsi…”
Ia menggeser satu koneksi.
“…bahwa keputusan diambil berdasarkan kepentingan.”
—
Ia berhenti.
Lalu menambahkan:
“Padahal keputusan paling berbahaya…”
Tatapannya naik.
Bertemu dengan mata Larasati.
—
“…diambil tanpa kepentingan.”
—
Sunyi.
—
Dan di detik itu—
Larasati menyadari sesuatu.
—
Ia tidak sedang merekrut seseorang.
—
Ia sedang membuka pintu—
untuk sesuatu yang bahkan sistem ini belum siap hadapi.
—
“Kalau begitu,” katanya pelan, “tunjukkan.”
—
Raka tidak tersenyum.
—
Ia hanya mengangkat tangannya lagi.
Namun kali ini—
ia tidak menyentuh satu nama.
—
Ia menyentuh… pola.
—
Dan saat itu terjadi—
seluruh sistem—
berhenti.
—
Bukan crash. Bukan error.
—
Berhenti… seperti sesuatu yang sedang berpikir.
—
Di ruang kontrol—
semua layar membeku.
“Kenapa tidak ada respon?!”
“Bukan tidak ada—”
suara itu gemetar.
“…sistem sedang memproses sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.”
—
Kembali ke Raka.
Layar di depannya gelap.
Kosong.
—
Beberapa detik.
—
Lalu—
satu kalimat muncul.
—
DEFINE NEW RULE
—
Raka menatapnya.
Tidak kaget.
Tidak ragu.
—
Larasati menatap Raka.
Untuk pertama kalinya—
ada sesuatu di matanya.
—
Bukan takut.
—
Tapi… antisipasi.
—
“Sekarang,” katanya pelan, “kita lihat…”
—
Raka mengangkat tangannya.
—
“…apakah kamu benar-benar berbeda.”
—
Sunyi.
—
Dan dengan satu gerakan—
Raka mulai menulis.
—
Bukan di keyboard.
Bukan di layar.
—
Tapi… di dalam sistem itu sendiri.
—
Aturan yang tidak pernah ada sebelumnya.
—
Aturan yang tidak dibangun untuk menang.
—
Aturan yang tidak dibangun untuk bertahan.
—
Tapi untuk…
menghancurkan konsep keduanya.
—
Dan di saat aturan itu terbentuk—
di tempat yang jauh—
Arka tiba-tiba berdiri.
—
Dian terkejut.
“Apa—?”
—
Arka menatap kosong ke depan.
—
“Dia sudah mulai,” katanya pelan.
—
“Mulai apa?”
—
Arka tersenyum tipis.
Namun kali ini—
tidak ada ketenangan di dalamnya.
—
“Mulai mengubah permainan…”
Ia berhenti.
—
“…menjadi sesuatu yang bahkan kita tidak bisa ikuti lagi.”
—
Kembali ke Raka.
—
Kalimat terakhir selesai.
—
Sistem membaca.
Memproses.
—
Dan kemudian—
untuk pertama kalinya sejak diciptakan—
ia… berubah arah.
—
RULE ACCEPTED
—
Dan di detik itu—
dunia tidak hancur.
—
Tidak juga kacau.
—
Justru—
terlalu tenang.
—
Karena sesuatu yang lebih berbahaya dari kekacauan…
baru saja lahir.
—
Keteraturan baru.
—
Yang tidak dimengerti siapa pun—
kecuali satu orang.
—
Raka.
—