NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bo de dan Chu Hua

Sejak menemukan gulungan itu, malam di goa terdalam tak lagi terasa sama.

Pada siang hari, Shou Wei dan Hui Song tetap bekerja seperti biasa. Mereka menggali, memecah batu, mengisi keranjang, lalu menyerahkan hasil tanpa menimbulkan kecurigaan. Wajah mereka tetap letih. Gerakan mereka tetap lambat seperti anak-anak yang terkuras tenaga. Mereka tak berbicara terlalu banyak, tak saling melirik terlalu lama, dan tak sekali pun menunjukkan bahwa di balik dinding batu tempat mereka bekerja, tersembunyi sebuah kitab yang mungkin dapat mengubah nasib mereka.

Namun saat malam tiba dan lorong kembali sunyi, Shou Wei akan mengeluarkan gulungan itu dari celah sempit di bawah tumpukan batu, lalu membukanya di bawah cahaya obor kecil.

Ia membaca.

Mengingat.

Menyusun.

Kitab itu tidak ditulis dengan bahasa biasa. Sebagian besar isi hanya berupa lambang arah, garis aliran tenaga, titik simpul, dan susunan formasi bertingkat. Bagi orang lain, semua itu mungkin tampak seperti coretan tak berguna. Namun bagi Shou Wei, pola-pola itu seperti pintu yang perlahan terbuka.

Ia belum pernah belajar formasi secara resmi.

Tetapi ingatannya tentang gulungan-gulungan lama di rumah keluarga Shou, digabung dengan kecerdasan alaminya, membuatnya mampu menangkap maksud di balik simbol-simbol kuno itu. Setiap malam ia mempelajari satu bagian kecil, lalu menggores ulang pola-pola utama di lantai dengan serpihan batu.

Hui Song mengawasinya dengan alis berkerut.

“Sudah tiga malam,” kata pemuda itu suatu ketika. “Apa kau benar-benar mengerti?”

Shou Wei duduk bersila di lantai, matanya masih menatap simbol yang baru ia gambar. “Sebagian.”

“Bagian mana?”

“Bagian yang paling penting.”

Hui Song mendecak pelan. “Itu bukan jawaban.”

Shou Wei akhirnya mengangkat kepala. Wajahnya pucat karena kurang tidur, tetapi matanya justru tampak semakin hidup. “Ini formasi warisan darah. Empat orang harus berdiri di empat arah mata angin. Masing-masing mengorbankan darah dari nadi mereka. Kalau formasi berhasil, tubuh mereka akan menerima jejak roh suci.”

Hui Song terdiam.

“Kalau gagal?” tanyanya.

Shou Wei menatap garis di lantai. “Kitabnya tidak menjelaskan banyak. Tapi dari cara penulisan dan susunan pengunci rohnya...” Ia berhenti sejenak. “Kemungkinan besar mati.”

Goa terdalam kembali sunyi.

Api obor berderak kecil. Dari jauh terdengar gema cangkul para pekerja lain di lorong lain, samar seperti suara dari dunia berbeda.

Hui Song duduk di samping gambar formasi itu. Ia menatap empat titik utama yang telah ditandai Shou Wei. “Kita cuma berdua.”

Shou Wei mengangguk. “Kita butuh empat orang. Empat orang yang tidak memiliki dasar kultivasi.”

Gui Song berkata.  “Dan butuh banyak batu roh.”

“Itu juga.”

Mereka sama-sama tahu masalah terbesar bukan hanya soal jumlah orang. Ini bukan permainan anak-anak. Tak ada jaminan siapa pun akan mau mempertaruhkan nyawa demi sebuah formasi kuno yang bahkan mereka sendiri belum sepenuhnya pahami. Formasi, Batu Roh dan empat jiwa yang belum memiliki dasar kultivasi.

Namun justru karena itulah, Shou Wei mulai memperhatikan Chu Hua dan Bo De dengan lebih sungguh-sungguh.

Keesokan harinya, seperti biasa Chu Hua datang membawa makanan. Mangkuk bubur hari itu bahkan lebih encer dari sebelumnya. Hampir hanya air panas berwarna putih.

Hui Song menerimanya sambil mengerutkan dahi. “Apakah mereka ingin kita mati pelan-pelan?”

Chu Hua menjawab datar, “Kalau mati terlalu cepat, mereka rugi. Kalau terlalu kenyang, kalian bisa melawan. Jadi segini pas.”

Nada suaranya begitu tenang hingga Hui Song hanya bisa mengembuskan napas kasar.

Sementara Hui Song makan, Shou Wei memperhatikan Chu Hua. Gadis itu tetap berdiri dekat pintu masuk lorong, seperti biasa. Tapi kali ini ia tampak lebih waspada. Matanya beberapa kali menyapu dinding, lantai, dan tumpukan batu di pojok.

“Kau sedang mencari sesuatu?” tanya Shou Wei.

Chu Hua menoleh.

“Tidak.”

“Kau bohong.”

Hui Song melirik keduanya, lalu menghentikan gerakan makannya.

Chu Hua menyipitkan mata. “Kau terlalu banyak bicara untuk anak yang baru dicambuk sampai hampir mati.”

Shou Wei tak tersinggung. “Kau juga terlalu tenang untuk anak sepuluh tahun.”

Untuk sesaat, tak ada yang bicara. Udara di goa menjadi tegang. Chu Hua menatap Shou Wei cukup lama, lalu perlahan berkata, “Dua malam lalu, cahaya obor kalian masih hidup lebih lama daripada biasanya.”

Hui Song langsung meletakkan mangkuknya.

“Lalu semalam,” lanjut Chu Hua, “aku lihat ada goresan baru di lantai dekat dinding kanan. Kalian menyapunya, tapi tidak bersih.”

Itu bukan menyapu tapi menutupi formasi yang telah di buat.

Hui Song mengumpat pelan. Shou Wei justru merasa dingin di tengkuknya.

Ia benar. Chu Hua bukan anak biasa.

“Kau ingin melapor?” tanya Shou Wei.

Chu Hua tertawa kecil, tapi tawanya tidak mengandung kegembiraan. “Kalau aku suka melapor, kalian sudah mati sejak kemarin.”

“Lalu kenapa kau bilang ini pada kami?”

Tatapan Chu Hua turun sebentar, lalu kembali naik. “Karena aku ingin tahu apakah kalian cukup bodoh untuk mempercayaiku.”

Shou Wei dan Hui Song saling pandang.

Setelah beberapa detik, Shou Wei berkata pelan, “Kami menemukan sesuatu.”

Hui Song menoleh tajam. Ia jelas tidak sepenuhnya setuju mengatakannya secepat ini. Namun Shou Wei tetap melanjutkan.

“Sesuatu yang bisa jadi jalan keluar.”

Chu Hua tak berkedip. “Kabur?”

“Lebih dari itu.”

Gadis kecil itu tetap diam, tapi jari-jarinya yang kecil mengencang pada tepi baki kayu. Itu satu-satunya tanda bahwa kalimat itu menyentuh sesuatu dalam dirinya.

“Kenapa aku harus percaya?” katanya akhirnya.

Shou Wei balik bertanya, “Kenapa kau masih hidup?”

Pertanyaan itu membuat Chu Hua membeku sesaat.

Shou Wei melanjutkan, suaranya rendah dan stabil. “Karena kau menahan diri. Kau lihat, dengar, dan ingat lebih banyak daripada yang kau tunjukkan. Orang seperti kau tidak hidup hanya untuk membawa makanan. Orang seperti kau hidup karena sedang menunggu kesempatan.”

Mata Chu Hua berubah.

Di balik wajah kotor dan tubuh kecilnya, ada bara yang selama ini disembunyikan rapat-rapat. Bara itu kini tampak.

“Ayahku dibunuh di depan rumah,” katanya lirih. “Ibuku digantung di pohon persik karena mencoba melindungiku. Aku dibawa kemari bersama tiga anak lain dari desa. Dua mati di jalan. Satu lagi mati di sini tahun lalu.”

Hui Song menunduk pelan. Ia tidak terlihat terkejut. Kisah seperti itu terlalu biasa di tambang ini.

Chu Hua menatap Shou Wei tanpa berkedip. “Kalau yang kalian temukan hanya mimpi bodoh, jangan seret aku. Tapi kalau itu benar-benar bisa membunuh mereka...” Suaranya turun setingkat. “Aku ikut.”

Shou Wei mengangguk.

“Jangan bicara pada siapa pun dulu,” katanya. “Bahkan pada Bo De.”

Chu Hua mendengus tipis. “Aku tidak sebodoh itu.”

Setelah ia pergi, Hui Song menoleh pada Shou Wei. “Kau cepat sekali memutuskan.”

“Dia sudah memutuskan jauh sebelum aku bicara,” jawab Shou Wei. “Aku hanya memastikannya.”

“Dan Bo De?”

“Kita lihat dulu.”

Kesempatan itu datang sore hari.

Bo De masuk dengan keranjang kosong di punggungnya seperti biasa, lalu mulai memungut bongkahan batu hasil galian. Hari itu wajahnya lebih suram dari biasanya. Ada memar biru di tulang pipinya.

“Siapa yang memukulmu?” tanya Hui Song.

“Anjing penjaga.”

“Itu bukan jawaban.”

Bo De mengangkat bahu. “Bandit yang sama saja. Mau satu atau sepuluh, tetap anjing.”

Ia terus bekerja cepat, tapi Shou Wei menangkap sesuatu yang aneh. Di antara bongkahan batu besar, Bo De diam-diam menyisihkan satu batu roh kecil yang kualitasnya lebih baik, lalu menyelipkannya ke lipatan baju bagian dalam. Gerakannya sangat halus. Kalau bukan karena Shou Wei memang sedang mengamati, hal itu pasti luput.

“Kau mencuri,” kata Shou Wei datar.

Bo De berhenti. Perlahan ia menoleh.

“Apa?”

“Kau mencuri batu roh sedikit demi sedikit.”

Hui Song mengangkat alis. Tatapannya ikut jatuh ke dada Bo De.

Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenalnya, wajah Bo De benar-benar berubah. Bukan takut, melainkan siap menyerang. Anak itu menjatuhkan dua bongkahan batu, lalu mundur setengah langkah. Tubuhnya menegang seperti binatang kecil yang siap menggigit.

“Kalau kalian mau lapor,” katanya dingin, “lakukan saja. Tapi sebelum aku mati, aku akan menusuk mata salah satu dari kalian dengan pecahan batu.”

Hui Song justru hampir tersenyum. “Setidaknya kau punya nyali.”

Shou Wei menggeleng pelan. “Kalau kami mau melapor, kami tak akan mengatakannya langsung.”

Bo De masih belum santai. “Lalu?”

“Batu roh itu untuk apa?”

Bo De diam beberapa lama sebelum menjawab, “Kalian tak perlu tahu.”

“Untuk lari?”

“Tidak cukup.”

“Untuk menukar makanan?”

Bo De menyeringai tipis. “Di sini batu roh lebih berharga daripada nyawa. Tak ada yang mau menukar apa pun dengan bocah budak.”

Hui Song menyilangkan tangan. “Jadi untuk apa?”

Bo De akhirnya menghela napas kesal. “Aku menabung. Sedikit demi sedikit. Kalau suatu hari ada celah, aku mau punya sesuatu di tangan. Pisau, racun, bekal, apa saja. Orang tanpa apa-apa akan mati lebih dulu.”

Shou Wei memandangnya lurus. “Kalau ada jalan yang lebih besar daripada sekadar menyimpan serpihan batu?”

Bo De menatap tajam. “Apa maksudmu?”

Shou Wei tidak menjawab langsung. Ia mengambil satu batu kecil, lalu menggambar lingkaran sederhana di lantai dengan ujungnya. Empat titik. Empat arah. Satu pusat.

Bo De menatap gambar itu, lalu wajahnya berubah hati-hati. “Kalian menyembunyikan sesuatu.”

Hui Song maju setengah langkah. “Bagaimana kalau benar?”

“Bagaimana kalau aku berteriak sekarang?”

Shou Wei berkata tenang, “Kalau kau benar-benar ingin berteriak, kau sudah melakukannya sejak tadi.”

Bo De terdiam.

Shou Wei melanjutkan, “Kau tidak percaya siapa pun. Itu bagus. Aku juga tidak. Tapi justru karena itu, kau harus tahu keadaan kita. Mereka tak akan membiarkan satu pun dari kita keluar hidup-hidup setelah dewasa. Tambang ini terlalu rahasia.”

Bo De menggertakkan gigi. “Aku tahu.”

“Kami menemukan sesuatu yang mungkin bisa mengubah keadaan. Tapi itu butuh empat orang dan banyak batu roh. Chu Hua sudah tahu.”

Mendengar nama itu, Bo De langsung menoleh cepat. “Dia tahu?”

“Ya.”

“Dan dia setuju?”

Shou Wei mengangguk.

Bo De tertawa pendek, pahit. “Gadis itu ternyata lebih gila daripada dugaanku.”

“Jadi?” tanya Hui Song.

Bo De tak menjawab. Ia berjalan mondar-mandir sempit di ruang batu itu, tangan mengepal. Emosinya tampak bertabrakan di wajah kurusnya—curiga, marah, takut, dan sesuatu yang lebih berbahaya: harapan.

Harapan adalah racun paling kejam di tempat seperti ini. Sekali tumbuh, ia bisa membuat seseorang nekat.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya akhirnya.

Shou Wei berkata, “Mulai besok, setiap kali kau ambil hasil galian dari sini, sisihkan batu roh kecil yang paling stabil. Jangan terlalu banyak. Jangan sampai berat keranjang berubah aneh. Bawa ke lorong samping yang retak di tikungan kedua, lalu sembunyikan di balik batu longgar. Chu Hua akan pindahkan sedikit demi sedikit.”

Bo De menatapnya. “Kau bahkan sudah memikirkan tempat sembunyi.”

“Aku memikirkan semua yang bisa membuat kita hidup.”

Bo De diam lagi. Lalu ia mengeluarkan batu roh kecil dari lipatan bajunya dan melemparkannya ke tangan Shou Wei.

“Itu yang kusimpan hari ini,” katanya. “Anggap saja ini jawaban awalku.”

Shou Wei menangkap batu itu. Permukaannya kasar, tapi cahaya di dalamnya lebih padat daripada kebanyakan hasil tambang biasa.

“Belum janji penuh,” kata Bo De cepat. “Aku hanya ikut sampai aku yakin ini bukan kegilaan.”

Hui Song mendecak. “Di tempat ini, semua jalan yang layak memang kelihatan seperti kegilaan.”

Bo De memungut kembali keranjang di punggungnya. Sebelum pergi, ia berhenti di mulut lorong dan menoleh.

“Kalau rencana kalian gagal,” katanya, “aku akan bilang aku tak pernah kenal kalian.”

“Kami juga begitu,” jawab Shou Wei.

Untuk pertama kalinya, sudut mulut Bo De bergerak tipis. Lalu ia pergi.

Malam itu, saat goa terdalam kembali sepi, Shou Wei meletakkan batu roh kecil itu di tengah lantai dan memandang tiga titik lain yang sudah ia gambar di sekelilingnya. Kini mereka bukan lagi dua anak putus asa yang memegang mimpi mustahil.

Mereka sudah menjadi empat.

Belum lengkap.

Belum aman.

Belum tentu hidup.

Namun roda pertama telah bergerak.

Hui Song duduk di sampingnya. “Sekarang apa?”

Shou Wei membuka gulungan kuno itu sekali lagi. Cahaya obor menyapu empat lambang roh di permukaannya: naga, burung api, qilin, dan kura-kura hitam.

“Sekarang,” katanya pelan, “kita membangun formasinya.”

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!