NovelToon NovelToon
Gadis Milik Tuan Dingin

Gadis Milik Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.

Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 6

Perut Liora berbunyi pelan.

Ia meringis.

Sejak pagi… tidak ada satu pun makanan yang masuk ke perutnya. Tubuhnya lemah, tapi rasa lapar memaksanya untuk bergerak.

Perlahan, ia turun dari ranjang.

Kakinya yang terluka masih terasa nyeri, namun ia menggigit bibir, menahan sakit.

“Aku cuma mau makan…” gumamnya pelan.

Dengan langkah tertatih, Liora membuka pintu kamar.

Tidak terkunci.

Ia sempat terkejut… tapi tidak mau berpikir terlalu jauh.

Lorong mansion itu terasa sangat sunyi.

Langkahnya pelan, berhati-hati.

Satu langkah.

Dua langkah.

Hingga akhirnya ia sampai di ujung tangga besar.

Dan saat itulah—

ia berhenti.

Tubuhnya langsung membeku.

Di bawah sana…

Saga berdiri.

Tegak.

Diam.

Menatapnya dengan Tatapan itu tajam.

Seolah sejak awal… ia sudah tahu Liora akan keluar.

Deg.

Jantung Liora berdegup kencang. Ia ingin mundur.

Namun belum sempat—

langkah kaki Saga sudah terdengar menaiki tangga.

Pelan.

Tapi pasti.

“Ngapain keluar?” tanyanya dingin.

Liora menelan ludah.

“A-aku…” suaranya melemah, tapi tetap berusaha tegar. “Aku lapar.”

Hening.

Saga berhenti tepat di depannya. Menatapnya beberapa detik.

Lalu tanpa aba-aba—

ia langsung mengangkat tubuh Liora.

“HEI! TURUNIN AKU!” Liora langsung meronta, memukul bahu Saga meski tenaganya tidak seberapa.

“Aku bisa jalan sendiri!”

Namun Saga tidak peduli. Ia berbalik.

Membawa Liora turun tangga.

“Aku bilang aku lapar! Bukan minta digendong!” protes Liora kesal.

“Diam,” ucap Saga singkat.

Nada suaranya rendah… tapi menekan.

Liora masih mencoba ingin melawan.

Namun tubuhnya terlalu lemah.

Dan entah kenapa…

cengkeraman itu terasa… tidak ingin menjatuhkannya.

***

Meja makan sudah tersaji. Mewah.

Bahkan tersusun Lengkap.

Para pelayan berdiri di sisi ruangan. Namun saat melihat Saga datang sambil menggendong Liora—

semua langsung menahan napas.

Hening.

Tidak ada yang berani bergerak. Saga duduk di kursi utama.

Dan—

tanpa menurunkan Liora—

ia membiarkan gadis itu tetap berada di pangkuannya.

DEG!

Tubuh Liora langsung menegang.

“Turunin aku…” bisiknya kesal, mencoba turun.

Namun tangan Saga menahan pinggangnya.

Kuat.

Tidak memberi ruang.

“Makan,” ucapnya dingin.

Liora menatapnya tidak percaya.

“Kamu gila ya?! Aku bisa makan sendiri!”

Ia kembali berusaha turun.

Namun kali ini—

Saga mengambil sesuatu dari Jas nya. Dan meletakkannya dengan pelan di atas meja.

Klik.

Sebuah pistol.

Diletakkan tepat di samping piring.

Sunyi.

Udara berubah dingin. Liora langsung terdiam.

Matanya menatap benda itu.

Lalu… ke arah Saga.

Tatapan pria itu tidak berubah.

Datar.

Tapi penuh ancaman.

“Makan,” ulangnya.

Lebih pelan. Lebih berbahaya.

Deg.

Liora menelan ludah. Tangannya gemetar.

Ia benci ini.

Benci situasi ini. Benci dirinya yang… tidak punya pilihan.

Dengan perlahan—

ia mengambil sendok.

Tangannya masih bergetar saat menyuap makanan.

Saga tetap diam.

Satu tangannya masih menahan pinggang Liora, memastikan gadis itu tidak turun.

Para pelayan saling melirik.

Kaget.

Bingung.

Takut.

Ini pertama kalinya mereka melihat tuan mereka seperti ini.

Dekat.

Terlalu dekat.

Dengan seseorang. Liora makan dengan cepat.

Bukan karena ingin…

tapi karena ingin segera selesai dari situasi ini. Namun setiap kali ia mencoba menjauh sedikit—

cengkeraman itu kembali menguat.

“Jangan bergerak,” bisik Saga di dekat telinganya.

Suaranya rendah.

Dekat.

Membuat bulu kuduk merinding. Liora mengepalkan tangannya.

Menahan emosi.

Namun diam-diam… air matanya jatuh lagi.

Ia merasa terjebak.

Dipermainkan.

Dikuasai.

Namun di sisi lain…

ia tidak bisa mengabaikan satu hal, Saga tidak membiarkannya kelaparan.

Saga memastikan ia makan. Dengan caranya sendiri.

Yang kejam.

Yang memaksa.

Tapi tetap…

memperhatikannya.

Dan itu…

justru membuat segalanya semakin rumit.

***

Suasana ruang makan masih terasa dingin.

Liora akhirnya berhenti makan.

Sendok di tangannya bergetar pelan, sementara tubuhnya masih berada di pangkuan Saga—tidak diberi ruang untuk menjauh.

“Sudah?” tanya Saga datar.

Liora tidak menjawab.

Ia hanya menunduk, berusaha mengatur napasnya.

Namun detik berikutnya—

dagunya diangkat paksa. Tatapan mereka kembali bertemu.

Dekat.

Terlalu dekat.

“Lihat aku.”

Nada itu rendah. Memerintah.

Dengan terpaksa, Liora menatapnya. Matanya masih basah, tapi kali ini… ada sesuatu yang lain.

Takut.

Namun juga… keras kepala.

“Apa lagi yang kamu mau…” bisiknya lirih.

Hening beberapa detik.

Lalu—

“Besok,” ucap Saga pelan, “tidak ada lagi drama kabur.”

Deg.

Jantung Liora berdetak lebih cepat.

“Aku gak akan berhenti,” balasnya cepat, hampir tanpa pikir. “Aku bakal tetap kabur.”

Para pelayan yang mendengar langsung menegang. Ruangan terasa semakin sempit.

Namun—

Saga tidak marah.

Ia justru menatap Liora lebih dalam.

“Kalau begitu,” lanjutnya, suaranya semakin rendah, “aku akan pastikan kamu tidak punya alasan untuk kabur.”

Alis Liora berkerut.

“Apa maksud kamu—”

Kalimatnya terhenti. Karena tatapan Saga berubah.

Lebih gelap.

Lebih dalam. Kali ini tidak ada tatapan lembut.

“Sebagai istriku,” ucapnya pelan, “kamu harus mulai mengerti posisimu.”

DEG!

Tubuh Liora langsung menegang.

Ia tahu arah pembicaraan ini. Dan itu membuat napasnya tercekat. Jantungnya berdegup kencang.

“Enggak…” bisiknya cepat, refleks.

Tangannya langsung mendorong dada Saga, mencoba menjauh.

“Aku gak mau… jangan…”

Untuk pertama kalinya—

ketakutan itu terlihat jelas di wajahnya.

Namun Saga tetap diam. Tangannya masih menahan pinggang Liora.

Tidak membiarkannya lepas.

“Takut?” tanyanya datar.

Liora menggeleng cepat. Meski jelas-jelas tubuhnya gemetar.

“Aku cuma… jijik sama kamu…” balasnya, berusaha terdengar berani.

Hening.

Beberapa detik yang menegangkan.

Lalu—

Saga menghela napas pelan. Dan… sesuatu yang tak terduga terjadi.

Ia melepaskan cengkeramannya.

Liora langsung menjauh dari pangkuannya, hampir terjatuh kalau tidak menahan meja.

Matanya melebar.

Kaget.

Saga berdiri.

Tatapannya tetap dingin, tapi tidak memaksa seperti sebelumnya.

“Masih luka,” ucapnya singkat.

Seolah itu jawaban. Seolah itu alasan.

Liora menatapnya tidak percaya.

“Kamu pikir aku bakal nurut?” suaranya kembali meninggi. “Aku gak akan pernah—”

“Tidak perlu sekarang,” potong Saga.

Nada suaranya tetap tenang. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menekan.

“Cepat atau lambat… kamu akan mengerti.”

Deg.

Kalimat itu terasa seperti ancaman.

Namun juga… kepastian. Liora mengepalkan tangannya.

Air matanya jatuh lagi.

“Aku gak akan pernah jadi milik kamu…” bisiknya penuh emosi.

Saga menatapnya cukup lama.

Dalam.

Sulit dibaca.

Lalu—

“Sudah,” ucapnya singkat.

Ia memberi isyarat pada pelayan. “Bawa dia ke kamar.”

“Ti-tidak! Aku bisa jalan sendiri!” Liora langsung menolak. Ia mulai menjauh ingin berjalan sendiri.

Namun sebelum pelayan sempat mendekat—

Saga sudah lebih dulu bergerak. Ia kembali mengangkat tubuh Liora.

“Turunin aku!” Liora memukul bahunya, panik.

Namun kali ini—

Saga tidak menahan terlalu keras.

Hanya cukup…

untuk memastikan ia tidak jatuh.

“Tenang saja,” ucapnya rendah di dekat telinga Liora.

Nada suaranya…

aneh.

Tidak sepenuhnya dingin.

“Tidak malam ini.”

DEG.

Liora terdiam.

Tubuhnya masih tegang, tapi tidak lagi meronta sekuat tadi.

Ia tidak percaya.

Namun juga…

tidak tahu harus merasakan apa. Langkah Saga menaiki tangga kembali terdengar.

Membawanya kembali ke kamar.

Ke tempat yang sama.

Namun suasananya…

berbeda.

Lebih menekan. Lebih membingungkan.

Karena Liora mulai sadar, pria itu tidak hanya kejam.

Tapi juga…

tidak bisa ditebak.

Dan itu…

jauh lebih berbahaya.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung.......................

1
park jongseong
cerita yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!