Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 27
Setelah pusaran energi biru itu benar-benar terserap habis ke dalam pori-porinya, Ilwa tidak lantas bangkit.
Ia tahu betul bahwa mana yang baru saja ia "telan" secara paksa adalah energi liar yang belum jinak.
Jika ia ceroboh, mana tersebut akan bergejolak di dalam jalur sihirnya dan justru memperparah kondisi *Aura-Lock* yang selama ini menghimpitnya.
Dengan ketenangan seorang master kuno, Ilwa kembali memejamkan mata.
Ia memulai proses konsolidasi—sebuah fase krusial untuk menjinakkan mana beast yang masih memiliki residu insting liar serigala taring gading.
Ia mengarahkan kesadarannya masuk ke dalam sirkuit mananya, menggiring aliran energi biru yang bergejolak itu agar mengalir secara teratur mengikuti ritme napasnya.
Perlahan, rasa dingin yang menusuk dari inti sihir tersebut mulai melunak, berubah menjadi aliran sejuk yang mengisi celah-celah kosong di dalam inti mananya.
Fondasi kekuatannya yang kemarin terasa rapuh seperti kaca, kini mulai terasa padat dan kokoh seperti batu karang.
Ia merasakan dinding-dinding pembuluh mananya menguat, mampu menampung tekanan yang jauh lebih besar tanpa menimbulkan rasa sakit yang mematikan.
---
Waktu merambat tanpa suara hingga semburat jingga mulai menghiasi langit sore. Ilwa membuka matanya perlahan.
Pupil abu-abunya tampak lebih jernih, memancarkan aura ketenangan yang dalam. Ia berdiri, meregangkan tubuhnya, dan merasakan sensasi yang luar biasa.
Tubuhnya terasa seringan bulu, dan yang paling penting, denyut menyakitkan di dadanya—tanda penyakitnya akan kambuh—kini terasa jauh lebih redup, seolah teredam oleh lapisan mana baru yang ia bangun.
"Akhirnya..." bisik Ilwa. Ia mencoba menjentikkan jarinya, memanggil secercah mana kecil di ujung telunjuknya.
Tidak ada batuk darah. Tidak ada rasa sesak. Hanya aliran energi murni yang patuh pada kehendaknya.
Selain kekuatan fisik, Ilwa menyadari bahwa satu kemampuan krusial telah terbangun kembali: **Insting Mana**.
**Insting Mana** bukanlah sekadar indra penglihatan atau pendengaran tambahan; ia adalah perluasan dari jiwa seorang penyihir ke lingkungan sekitarnya.
Dalam dunia sihir tingkat tinggi, Insting Mana dijelaskan sebagai kemampuan untuk melepaskan gelombang mana yang sangat halus, hampir tak terlihat, yang berfungsi layaknya sonar pada makhluk laut.
Gelombang ini menyebar ke segala arah, menyentuh setiap partikel udara, getaran tanah, dan keberadaan makhluk hidup.
Secara teknis, ketika gelombang mana ini menabrak objek atau energi mana lain, ia akan mengirimkan kembali "citra spiritual" ke otak penggunanya.
Bagi Ilwa, Insting Mana adalah cara ia "melihat" tanpa menggunakan mata.
Ia bisa merasakan aliran napas tikus di balik dinding, getaran dedaunan yang tertiup angin di luar, hingga fluktuasi emosi seseorang melalui aura mana mereka.
Saat ini, jangkauan Insting Mana milik Ilwa sudah cukup untuk menyelimuti seluruh area paviliun hingga ke batas pagar kayu terluar.
Namun, ia tahu bahwa dengan kapasitas mananya yang sekarang,
jika ia memaksakan diri, ia bisa merentangkan "radar" ini hingga menembus hutan di sekitarnya.
Baginya, Insting Mana adalah jaring laba-laba raksasa di mana ia duduk sebagai pusatnya; siapa pun yang menyentuh jaring itu, tidak akan bisa bersembunyi.
---
Saat Ilwa sedang menikmati kembalinya indra keenamnya tersebut, sebuah riak kecil tertangkap oleh Insting Mana miliknya. Sesuatu—atau seseorang—sedang bergerak di batas persepsinya.
Ilwa memejamkan mata sejenak, memfokuskan radarnya ke arah timur paviliun. Di sana.
Di dekat tepi hutan yang berbatasan langsung dengan sungai yang mengalir deras, ia merasakan aura mana yang sangat familiar. Aura itu dingin, tersembunyi dengan baik, namun memiliki frekuensi yang tajam.
"Lina," gumam Ilwa, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin.
Ia bergerak dengan sangat lincah, menghindari jalur utama dan menyelinap di antara pepohonan besar yang rimbun menuju ke kedalaman hutan.
Pergerakannya terlalu terampil untuk seorang pelayan baru. Tampaknya, setelah kegagalannya mengintip kemarin, Lina mulai mengambil langkah yang lebih berisiko untuk melakukan kontak atau mencari sesuatu di luar paviliun.
Rasa penasaran Ilwa bangkit.
Ia ingin tahu ke mana "tikus kecil" pergi dan apa yang ia sembunyikan di balik rimbunnya pepohonan klan Eldersheath.
Tanpa suara, Ilwa membuka jendela kamarnya.
Ia melompat turun dengan sangat ringan, mendarat di atas rumput tanpa menimbulkan suara gesekan sedikit pun—sebuah kemampuan yang ia dapatkan dari latihan fisiknya dan dukungan mana barunya.
Ia tidak menggunakan jalur biasa;
ia bergerak mengikuti bayangan pepohonan, menjaga jarak agar kehadirannya tetap tersembunyi dari jangkauan indra Lina yang kemungkinan juga terlatih.
Ilwa menyelinap masuk ke dalam hutan, mengikuti arah aliran mana Lina yang tertinggal di udara seperti benang tipis.
Pepohonan besar dengan batang yang lumutnya tebal mulai menutup pemandangan paviliun di belakangnya.
Suara gemericik sungai terdengar semakin jelas, bercampur dengan suara serangga malam yang mulai bangun.
-----
Angin sore berdesir rendah, membawa aroma lumut lembap dan air sungai yang dingin saat Lina melangkah keluar dari rimbunnya semak menuju tepi sebuah danau yang tersembunyi.
Tempat itu begitu sunyi, hanya suara riak air yang menabrak bebatuan kecil di tepian yang terdengar.
Lina berdiri tegak, matanya yang biasanya tampak polos kini tajam menyapu sekeliling, memastikan tidak ada mata yang mengawasi.
Ia mengeluarkan sebuah siulan rendah yang aneh, frekuensinya hampir tak terdengar oleh telinga manusia biasa.
Tak lama kemudian, kepakan sayap terdengar dari balik pepohonan tua yang menjulang.
Seekor burung gagak dengan bulu hitam legam sepekat malam turun dengan anggun, hinggap tepat di lengan kiri Lina yang terbungkus kain kasar.
"Bawa ini kepada Tuan," bisik Lina dengan nada dingin yang belum pernah ia gunakan di paviliun.
Ia menarik secarik kertas kecil yang digulung rapi dan mengikatnya dengan benang sutra ke kaki gagak tersebut.
Itu adalah laporan detail mengenai aktivitas Ilwa: tentang pembelian bahan obat, kunjungan ke toko senjata, hingga latihan rahasianya yang tidak masuk akal.
Setelah memastikan ikatan itu kuat, Lina mengangkat lengannya ke udara.
"Pergilah. Jangan sampai tertangkap," perintahnya.
Gagak itu menguak sekali, lalu mengepakkan sayapnya untuk terbang kembali ke angkasa.
Lina menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. "Hanya ini yang bisa kudapatkan. Bocah itu terlalu tertutup. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di kamarnya selama berjam-jam."
Lina berbalik, berniat kembali ke paviliun sebelum Martha menyadari keberadaannya.
Namun, baru dua langkah ia berjalan, sebuah suara sedingin es menusuk keheningan sore, membuat darahnya seolah membeku seketika.
"Mengirimkan surat lewat burung gagak... bukankah itu metode yang sudah terlalu klasik dan ketinggalan zaman?"
Lina tersentak hebat. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.
Ia segera memutar tubuhnya, tangannya secara insting bergerak menuju belati tersembunyi di balik roknya.
Namun, pemandangan di depannya membuatnya terpaku dengan wajah pucat pasi.
Beberapa meter di hadapannya, Ilwa berdiri dengan sangat tenang di bawah bayangan pohon ek.
Di tangan kirinya, ia memegang mayat burung gagak hitam yang baru saja dilepaskan Lina—burung itu mati tanpa sempat mengeluarkan suara, lehernya patah dengan sangat presisi.
Sementara di tangan kanan Ilwa, ia memegang gulungan surat kecil yang tadi diikatkan di kaki gagak tersebut.
Bilah hitam atau *dagger* miliknya kini terhunus, tidak lagi terlihat seperti sampah, melainkan seperti taring kegelapan yang siap mencabik.
"Sejak awal kita bertemu, aku sudah menaruh curiga pada orang sepertimu," ucap Ilwa dengan nada datar namun menekan.
"Gerakanmu terlalu rapi untuk seorang pelayan, dan aroma mana yang kau pancarkan... itu adalah aroma orang yang terbiasa hidup di dalam bayang-bayang. Terlebih lagi, kau cukup berani mengikutiku ke ibu kota tadi pagi."
Lina gemetar. Matanya membelalak tak percaya. "Kau... kau tahu aku mengikutimu?" suaranya bergetar.
Ia tidak menyangka bahwa bocah yang dianggap cacat ini memiliki kemampuan sensorik yang melampaui agen terlatih sepertinya.
"Aku membiarkanmu karena aku penasaran," lanjut Ilwa, langkahnya maju perlahan, membuat Lina mundur satu langkah secara refleks.
"Aku ingin tahu siapa yang mengirimmu untuk mencampuri urusanku."
Ilwa mengangkat gulungan surat itu ke depan matanya.
Saat ia hendak membukanya, ia melihat sebuah segel lilin kecil di ujung kertas.
Sebuah lambang yang sangat spesifik: seekor ular yang melilit belati dengan latar belakang bulan sabit.
Melihat lambang itu, Ilwa tertegun sejenak, lalu sebuah senyum tipis yang mengerikan muncul di bibirnya. "Oh... **The Nightshade**? Betapa terhormatnya aku."
Lina terengah-engah. Rahasianya terbongkar sepenuhnya. "Bagaimana bisa... bagaimana kau tahu tentang lambang **The Nightshade**?!"
Tepat saat Ilwa hendak membuka gulungan surat tersebut, sebuah desisan tajam membelah udara.
Sebuah belati lempar meluncur dengan kecepatan luar biasa dari arah kegelapan hutan.
Ilwa bereaksi dengan insting yang melampaui fisik manusianya; ia memiringkan kepalanya hanya beberapa milimeter, membiarkan belati itu lewat, namun serangan itu bukan ditujukan padanya.
*Sret!*
Belati itu membelah gulungan kertas di tangan Ilwa menjadi dua bagian, lalu terbawa momentum jatuh ke dalam danau yang dalam dan berarus kuat.
Kertas yang sudah rusak itu tenggelam dalam sekejap, tak menyisakan bukti apa pun selain tinta yang luntur di air.
Ilwa terdiam sejenak, menatap air danau yang tenang, lalu menghela napas panjang dengan nada yang hampir terdengar malas.
Ia memutar belati hitam di tangannya dengan lincah.
"Ini terlihat merepotkan saja, bukan?" gumam Ilwa sambil tersenyum tipis, seolah serangan tadi hanyalah gangguan kecil.
Ia mendongak, menatap ke arah kegelapan hutan tempat serangan berasal, lalu menatap kembali ke arah Lina yang kini sudah dalam posisi bertarung penuh.
"Padahal aku masih belum mau menambah musuh untuk saat ini," ucap Ilwa, lalu ia tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar sangat asing dan dewasa bagi raga seorang bocah delapan tahun.
"Namun tampaknya, sudah ada yang mencari masalah denganku. Seseorang benar-benar tidak sabar untuk mati."
Sorot mata Ilwa tiba-tiba berubah, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat burung-burung di sekitar danau terbang ketakutan.
Ia menatap Lina dengan pandangan menghina.
"Kau pikir aku takut dengan nama besar **The Nightshade**?" tanya Ilwa dengan suara rendah yang menggetarkan udara di sekitarnya.
"Bagi kalian, organisasi itu mungkin adalah bayangan yang menakutkan. Namun bagiku... mereka hanyalah sekumpulan serangga yang berisik."
Lina terdiam, tubuhnya membeku bukan karena sihir, melainkan karena intimidasi murni yang terpancar dari Ilwa.
**BERSAMBUNG.**