Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi itu, suasana di apartemen mewah Jati terasa begitu damai.
Sinar matahari menyusup lembut di antara gorden sutra, menyinari wajah Lintang yang tampak sedikit pucat saat ia mencoba bangkit dari tempat tidur.
Jati, yang sudah mulai membiasakan diri bekerja dengan santai dari rumah, sedang menyesap kopi di meja makan sambil meninjau laporan keuangan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tak beraturan dari arah dapur mengejutkannya.
"Sayang? Kamu sudah bangun?" panggil Jati lembut.
Namun, tidak ada jawaban. Yang terdengar justru suara Lintang yang sedang mual hebat di wastafel dapur.
Jati segera berlari menghampiri istrinya. Ia menemukan Lintang sedang memegangi pinggiran meja dengan tangan gemetar, wajahnya seputih kapas.
"Mas, kepalaku pusing sekali," bisik Lintang lirih.
Belum sempat Jati meraih tubuhnya, mata
Lintang terpejam rapat. Tubuhnya lunglai dan seketika jatuh pingsan di pelukan Jati.
"Lintang! Lintang, bangun, Sayang!" seru Jati dengan nada panik yang luar biasa.
Jantungnya berdegup kencang, ketakutan yang sama seperti saat penculikan itu kembali menghantamnya.
Jati segera membopong tubuh ringan istrinya kembali ke tempat tidur.
Napasnya memburu, amarahnya tiba-tiba membuncah.
Pikirannya langsung tertuju pada kejadian beberapa minggu lalu.
"Apakah ini efek jangka panjang dari obat bius biadab itu? Atau Mila memberikan racun lain yang tidak terdeteksi?" batin Jati dengan rahang mengeras.
Ia mengira kesehatan Lintang kembali tumbang akibat ulah keji Mila dan keluarga Dery yang belum sepenuhnya tuntas di pengadilan.
"Suster! Cepat ke sini!" teriak Jati memanggil perawat pribadi yang berjaga.
"Hubungi Dokter Hendra sekarang juga! Katakan ini darurat! Istriku pingsan lagi!"
Sambil menunggu dokter, Jati terus menggosok telapak tangan Lintang yang dingin, memberikan minyak aromaterapi di pelipis istrinya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia tidak bisa membayangkan jika Lintang harus menderita lagi setelah semua yang mereka lalui.
"Bertahanlah, Lintang. Mas tidak akan membiarkan apa pun menyakitimu lagi," gumam Jati penuh kecemasan, matanya terus menatap pintu kamar, menanti kedatangan dokter yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada wanita pemegang separuh jiwanya itu.
Suara sirine mobil Dokter Hendra yang berhenti di lobi apartemen seolah menjadi tanda harapan di tengah kepanikan Jati.
Pria itu tidak bisa duduk diam, ia terus menggenggam tangan Lintang yang masih memejamkan mata, sesekali mengusap keringat dingin di dahi istrinya dengan perasaan was-was yang luar biasa.
"Dokter, cepat periksa! Dia tiba-tiba mual hebat dan pingsan. Apakah ini karena zat bius dari penculikan Mila tempo hari? Apakah ada racun yang tertinggal?" tanya Jati bertubi-tubi begitu Dokter Hendra masuk ke kamar.
Dokter Hendra hanya mengangguk tenang, meminta Jati untuk memberi ruang sedikit.
Dengan sigap, ia mengeluarkan stetoskop dan melakukan pemeriksaan kilat pada denyut nadi serta tensi Lintang.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam bagi Jati, Dokter Hendra perlahan melepas alat medisnya.
Bukannya wajah tegang yang ditunjukkan, Dokter Hendra justru menatap Jati dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Bagaimana, Dok? Kenapa Dokter tersenyum? Istri saya sakit apa?" desak Jati, suaranya naik satu oktav karena frustrasi.
"Tenang, Pak Jati. Ini bukan karena obat bius, bukan juga karena ulah Mila," ucap Dokter Hendra tenang.
"Kabar ini justru akan menjadi hadiah terindah untuk Anda."
Jati mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan dari dokter.
"Maksud Dokter?"
"Selamat, Pak Jati. Ibu Lintang sedang mengandung. Usia kehamilannya sudah memasuki minggu kelima," jawab Dokter Hendra mantap.
"Hamil?" bisik Jati tak percaya. Suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak menatap Dokter Hendra, lalu beralih pada perut Lintang yang masih datar.
Dokter Hendra menganggukkan kepalanya dengan pasti.
"Iya, Pak. Ibu Lintang pingsan karena perubahan hormon dan kelelahan. Kondisinya dan janinnya sehat, hanya perlu penguatan dan istirahat total."
Seketika, amarah yang membara pada Mila dan rasa takut yang menghantui Jati luruh begitu saja.
Air mata haru yang tak terbendung jatuh membasahi pipi sang CEO tangguh itu. Jati tidak lagi memedulikan wibawanya di depan Dokter dan para perawat.
Tanpa ragu, Jati langsung turun dari ranjang dan melakukan sujud syukur di lantai kamar yang dingin.
Ia menangis sesenggukan, mencurahkan segala rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta.
"Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih," isak Jati dalam sujudnya.
Di tengah isak tangis haru Jati, Lintang perlahan membuka matanya.
Ia tampak bingung melihat suaminya bersujud di lantai sambil menangis.
"Mas Jati kenapa?" tanya Lintang lirih.
Jati segera bangkit, menghampiri Lintang dan memeluknya dengan sangat lembut, seolah takut akan menyakiti harta yang paling berharga di dunia itu.
"Sayang, ada malaikat kecil di sini," bisik Jati sambil mengelus perut Lintang.
"Kita akan punya anak, Lintang. Kamu hamil!"
Tangisan bahagia pecah di kamar itu. Di balik jeruji besi, Mila mungkin sedang meratapi kehancurannya, namun di apartemen ini, sebuah kehidupan baru baru saja dimulai sebagai lambang kemenangan cinta Jati dan Lintang.
Meskipun kabar kehamilan itu membawa kebahagiaan yang meluap, Dokter Hendra tetap menunjukkan raut profesionalnya.
Ia merapikan peralatan medisnya dan menatap Jati yang masih tampak emosional.
"Pak Jati, karena Ibu Lintang sempat pingsan dan sebelumnya memiliki riwayat trauma fisik serta paparan zat kimia saat kejadian penculikan itu, saya sarankan segera ke rumah sakit sekarang juga," ujar Dokter Hendra tegas.
"Kita perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk USG dan tes darah menyeluruh untuk memastikan janinnya tidak terdampak sisa-sisa obat bius tempo hari."
Mendengar kata "zat kimia" dan "janin terdampak", raut wajah Jati yang tadinya penuh senyum langsung berubah menjadi tegang kembali.
Ia tidak ingin keajaiban ini terancam oleh sisa-sisa kejahatan Mila.
"Baik, Dok. Kita berangkat sekarang!" seru Jati tanpa membantah sedikit pun.
Tanpa menunggu lama, Jati langsung mengangkat tubuh Lintang dengan sangat hati-hati, seolah-olah istrinya itu adalah permata yang paling rapuh di dunia. Ia bahkan tidak membiarkan kaki Lintang menyentuh lantai.
"Mas, aku bisa jalan sendiri..." bisik Lintang malu-malu karena dilihat oleh para perawat dan asisten Jati.
"Tidak, Sayang. Jangan membantah. Mulai detik ini, kamu tidak boleh kelelahan sedikit pun," jawab Jati dengan nada protektif yang mutlak.
Iring-iringan mobil mewah Jati kembali membelah jalanan dengan pengawalan ketat.
Sesampainya di rumah sakit, Jati sudah memesan layanan VVIP. Lintang langsung dibawa ke ruang radiologi untuk menjalani USG pertama mereka.
Jati berdiri di samping bed, menggenggam erat tangan Lintang saat dokter spesialis kandungan mulai mengoleskan gel dingin di perut Lintang.
Ruangan itu seketika hening, hanya terdengar detak jantung Jati yang berpacu cepat.
Deg... deg... deg...
Suara detak jantung yang cepat dan ritmis tiba-tiba terdengar dari mesin monitor.
Dokter menunjuk ke sebuah titik kecil di layar yang berdenyut.
"Lihat, Pak Jati, Ibu Lintang. Itu adalah detak jantung janin Anda. Sangat kuat dan normal.
Sepertinya janin ini pejuang yang tangguh, tidak terpengaruh oleh kejadian kemarin," jelas Dokter spesialis itu dengan senyum lebar.
Air mata Jati kembali jatuh. Ia menatap layar monitor itu dengan pandangan memuja, lalu mengecup kening Lintang berkali-kali di depan para medis.
"Terima kasih, Lintang. Terima kasih sudah menjaga anak kita," bisik Jati parau.
Kekhawatiran Jati tentang ulah Mila perlahan sirna, digantikan oleh tekad baru.
Jika sebelumnya ia bangkit untuk membalas dendam, kini ia punya alasan yang jauh lebih besar untuk tetap kuat dan sukses: demi istri dan calon buah hati yang baru saja menunjukkan tanda kehidupannya.