NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...

Dapur apartemen nomor 404 pagi ini terasa seperti medan perang yang sunyi. Bau minyak wijen dan tumisan sayur memenuhi ruangan, namun pikiran ku berada di tempat yang jauh lebih gelap. Sejak kedatangan Genta di balkon kemarin, sebuah benih hitam telah tertanam di ulu hati ku. Benih itu bernama ketidakamanan, dan akarnya mulai melilit kewarasan ku.

“Dia akan pergi,” bisik suara di dalam kepala ku, suara yang terdengar seperti desiran angin di hutan tua yang angker. “Dimas adalah manusia. Manusia mencari kenyamanan, kesamaan, dan kepastian. Kau? Kau adalah anomali. Kau adalah beban yang menghisap masa mudanya. Suatu hari nanti, dia akan menatap keriput di wajahnya sendiri di cermin, lalu menatap wajah mu yang abadi, dan dia akan membenci mu karena perbedaan itu.”

Aku mencengkeram spatula kayu sampai terdengar bunyi derit yang halus. Mata ku terpaku pada punggung Dimas yang sedang duduk di meja makan, membaca berita di tabletnya. Dia terlihat begitu... normal. Begitu rapuh. Begitu mudah untuk hancur.

"Linda? Sayang? Kau melamun? Baunya mulai agak gosong," suara Dimas memecah lamunan ku.

Aku tersentak. Aku segera mematikan kompor dan berbalik. Aku tidak tersenyum. Aku berjalan mendekatinya dengan langkah yang tidak lagi disamarkan. Aku membiarkan ekor ku keluar sepenuhnya, mengembang besar, dan langsung membelit pinggangnya dari belakang kursi.

"Linda? Ada apa?" Dimas meletakkan tabletnya, wajahnya menunjukkan keheranan yang jujur.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku merangkak naik ke pangkuannya, mengabaikan fakta bahwa ini masih jam tujuh pagi dan dia harus segera berangkat kerja. Aku melingkarkan lengan ku di lehernya, menenggelamkan wajah ku di ceruk lehernya, menghirup aroma sabun dan aroma khas manusianya yang membuat ku gila.

"Kau tidak boleh pergi," bisik ku, suara ku serak dan penuh tekanan.

"Eh? Pergi ke mana? Aku hanya ke kantor, Linda. Seperti biasa," Dimas mencoba tertawa, tangannya mengusap punggung ku, mencoba menenangkan badai yang ia rasakan dalam tubuh ku.

"Jangan ke kantor. Jangan ke mana-mana," aku mempererat pelukan ku sampai dia sedikit mengaduh. "Genta benar, kan? Kau mulai berpikir kalau aku ini beban? Kau mulai takut pada ku karena aku bisa mengambil nyawa mu hanya dengan satu pelukan yang salah?"

"Linda, dengarkan aku—"

"Tidak! Kau tidak tahu!" aku mendongak, mata ku berkilat hijau tajam, pupil ku menyempit menjadi garis vertikal yang predatoris. "Aku bisa mencium keraguan mu, Dimas. Baunya seperti logam dingin di udara. Kau merasa bersalah karena aku menyembuhkan mu semalam, dan rasa bersalah itu akan berubah menjadi rasa takut, lalu rasa takut akan berubah menjadi pelarian. Aku tidak akan membiarkan mu lari!"

Aku menciumnya. Bukan ciuman lembut yang biasa kami bagikan di pagi hari. Ini adalah ciuman yang agresif, sebuah klaim kepemilikan yang kasar. Aku menggigit bibir bawahnya sampai dia meringis, membiarkan rasa asin darahnya menyentuh lidah ku. Dalam dunia ku, darah adalah segel.

“Kau milik ku,” Keluh ku sambil terus menekannya ke sandaran kursi. “Jika kau harus mati karena usia ku yang panjang, maka matilah di pelukan ku. Jangan mati di pelukan wanita manusia lain yang 'normal'. Jangan tinggalkan aku di apartemen ini sendirian dengan keabadian yang membusuk.”

Dimas memegang bahu ku, mencoba memberikan jarak agar dia bisa bernapas. "Linda, tenanglah. Kau menyakiti ku."

Kata 'menyakiti ku' itu seperti siraman air es. Aku tersentak dan melepaskan gigitan ku. Aku melihat setetes darah di bibirnya. Hati ku hancur, namun rasa takut ku justru semakin liar.

"Lihat? Aku menyakiti mu," aku tertawa getir, air mata mulai mengalir di pipi ku. "Aku adalah monster bagi manusia seperti mu. Genta benar. Aku akan menghancurkan mu. Tapi aku tidak bisa berhenti, Dimas! Aku tidak bisa melepaskan mu!"

Aku turun dari pangkuannya dan mundur ke pojok dapur, meringkuk dengan ekor yang menutupi seluruh tubuh ku seperti perisai. Telinga ku rebah ke belakang, menunjukkan tingkat stres yang maksimal.

"Linda, kemari," Dimas berdiri dan mendekat.

"Jangan mendekat! Aku sedang tidak stabil," teriak ku. "Energi spiritual ku bergejolak karena ketakutan ku. Aku bisa saja melukai mu tanpa sengaja."

Dimas tidak peduli. Dia terus melangkah sampai dia berada tepat di depan ku. Dia berlutut di atas lantai dapur yang dingin, tepat di depan gundukan bulu dan kecemasan yang adalah aku.

"Genta hanya bicara omong kosong untuk memecah belah kita, Linda," suara Dimas sangat tenang, kontras dengan badai di dalam diri ku. "Ya, aku takut. Tapi aku tidak takut pada mu. Aku takut aku tidak punya cukup waktu untuk mencintai mu. Aku takut aku mati sebelum bisa melihat mu tersenyum dengan Elkan di pelukan mu. Itu ketakutan ku, bukan keinginan untuk lari."

"Kau bohong," gumam ku dari balik ekor. "Semua manusia takut pada kematian, dan aku adalah pengingat bahwa kau akan mati lebih cepat jika bersama ku."

"Jika aku hidup seratus tahun tanpa kamu, itu akan terasa seperti seribu tahun di neraka," Dimas meraih ujung ekor ku, mengelusnya dengan lembut. "Tapi jika aku hidup hanya sepuluh tahun lagi bersama mu, itu adalah surga yang cukup untuk ku bawa ke liang lahat."

Aku membuka sedikit celah di antara ekor ku. Aku melihat mata Dimas. Tidak ada kebohongan di sana. Hanya ada kelelahan yang tulus dan cinta yang keras kepala.

"Tapi aku menjadi lebih agresif, Dimas," aku mengaku dengan suara pelan. "Aku ingin mengurung mu. Aku ingin merantai kaki mu ke tempat tidur agar kau tidak pernah melihat dunia luar lagi. Sisi siluman ku ingin memakan jiwa mu agar kau bersama ku selamanya di dalam batin ku. Apa kau tidak takut pada sisi itu?"

Dimas tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat jantung ku berdenyut perih. "Aku sudah tahu risiko itu sejak aku meminta mu menjadi istri ku. Kalau kau ingin merantai ku, lakukanlah. Tapi kau tahu itu tidak akan membuat mu bahagia. Kau mencintai ku karena aku adalah Dimas yang mandiri, bukan Dimas yang menjadi budak sihir mu."

Aku keluar dari perlindungan ku dan menghambur ke pelukannya lagi. Kali ini aku menangis sejadi-jadinya. Ketakutan akan kehilangan adalah kutukan bagi setiap makhluk abadi yang jatuh cinta pada kefanaan.

"Maafkan aku... maafkan aku karena aku begitu kacau," isak ku.

"Tidak apa-apa. Itu artinya kau sangat mencintai ku," Dimas mencium puncak kepala ku. "Tapi kau harus janji satu hal, Linda. Jangan biarkan ketakutan mu mengubah mu menjadi monster yang sebenarnya. Monster bukan tentang telinga atau ekor. Monster adalah ketika kau kehilangan kepercayaan pada orang yang kau cintai."

“Kepercayaan,” Keluh ku. “Betapa sulitnya hal itu bagi ras kami yang terbiasa dikhianati oleh pemburu manusia selama berabad-abad. Tapi Dimas bukan pemburu. Dia adalah mangsa yang dengan sukarela menyerahkan jantungnya pada ku. Bagaimana mungkin aku meragukan mangsa yang begitu pasrah?”

Aku melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya yang kini sedikit ternoda darah karena gigitan ku tadi. Aku menyeka darah itu dengan ibu jari ku, lalu menjilatnya.

"Aku akan mencoba, Dimas," kata ku dengan tekad baru. "Aku akan mencoba menjinakkan ketakutan ku. Tapi kau juga harus janji... jika suatu hari nanti kau merasa aku terlalu berat untuk mu, bicaralah pada ku. Jangan pergi diam-diam. Jangan biarkan aku menemukan apartemen ini kosong tanpa aroma kopi mu."

"Aku janji," Dimas memegang tangan ku. "Sekarang, bisakah kau melepaskan ekor mu dari pinggang ku? Aku benar-benar harus berangkat jika tidak ingin dipecat oleh bos yang sudah marah karena aku bolos tiga hari."

Aku tertawa kecil, meski dada ku masih terasa sesak. Aku melepaskan lilitan ekor ku. "Pergilah. Tapi aku akan menunggu mu di depan pintu tepat jam enam sore. Jika kau terlambat satu menit... aku akan menjemput mu ke kantor dengan wujud asli ku."

"Ancaman yang menakutkan," Dimas mengecup kening ku terakhir kali sebelum menyambar tas kerjanya. "Sampai nanti, Nyonya Posesif."

Setelah pintu tertutup, apartemen kembali sunyi. Aku berdiri di tengah ruang tamu, menatap bayangan ku di cermin. Telinga ku masih tegak, ekor ku masih gelisah. Ketakutan itu belum hilang sepenuhnya, dia hanya sedang bersembunyi di sudut ruangan, menunggu saat yang tepat untuk menerkam lagi.

“Genta tidak akan berhenti,” Keluh ku sambil mengepalkan tangan. “Dia akan kembali. Klan akan kembali. Mereka tidak suka melihat 'ratu' mereka bersanding dengan debu manusia. Aku harus menjadi lebih kuat. Bukan hanya untuk melindungi Dimas dari penyakit, tapi untuk melindunginya dari bangsa ku sendiri.”

Aku berjalan menuju jendela, melihat mobil Dimas keluar dari parkiran. Aku menutup mata, mengirimkan seberkas kecil energi pelindung yang menempel di pundaknya tanpa dia sadari. Semacam tanda klaim yang juga berfungsi sebagai jimat.

"Kau tidak akan pernah meninggalkan ku, Dimas," bisik ku pada kaca jendela yang berembun. "Karena aku akan memastikan dunia ini tidak akan pernah cukup aman bagi mu tanpa kehadiran ku di samping mu."

Ketakutan ku mungkin agresif, tapi cinta ku jauh lebih destruktif bagi siapa pun yang berani mengganggu sarang kami. Hari ini, aku akan belajar cara menjadi manusia yang sabar, namun di dalam hati, aku tetaplah seekor rubah yang siap merobek tenggorokan takdir jika ia berani memisahkan kami.

Malam nanti, aku akan menyambutnya dengan sup hangat dan pelukan yang lebih tenang. Tapi untuk sekarang, aku akan menghabiskan waktu dengan bermeditasi, memperkuat sihir penyamaran ku, dan mempersiapkan diri untuk perang yang sesungguhnya, perang melawan waktu dan hukum alam yang tidak adil ini.

“Elkan,” aku membayangkan nama itu lagi. “Kau adalah harapan kami. Kau adalah jembatan itu. Mama akan memastikan kau lahir ke dunia ini, apa pun taruhannya.”

Satu hari lagi dimulai di apartemen nomor 404. Rahasia kami tetap aman, namun duri di dalam hati ini semakin tajam. Dan aku akan memastikan duri itu tidak akan pernah melukai Dimas lagi.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
@☠️⃝🖌️M⃤Sang Senja♬⃝❤️
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!