menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
BAB 21: Topeng di Atas Ranjang Berduri
Matahari Paris yang pucat menyinari ruang kerja Maximilian von Hohenzollern yang megah. Aroma kayu jati tua dan tembakau mahal memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang menekan siapa pun yang memasukinya. Di depan meja kerja besar itu, Sophia berdiri dengan bahu yang gemetar, air mata kemarahan masih menggenang di pelupuk matanya yang biru.
"Dia memiliki tanda itu, Tuan Besar," suara Sophia pecah. "Tanda merah di lehernya. Dia tidak pulang semalam, dan dia kembali dengan aroma wanita lain. Aurelius menghina aliansi kita. Dia menghina namaku!"
Maximilian tidak segera menjawab. Ia menyesap cerutunya perlahan, matanya yang tajam menatap asap yang membumbung ke langit-langit. "Siapa wanita itu, Sophia? Apakah kau melihatnya?"
Sophia menggelengkan kepala. Rasa gengsinya terlalu besar untuk menyebut nama Hana Asuka—wanita yang ia anggap jauh di bawah kelasnya. "Aku tidak tahu. Mungkin salah satu model Prancis atau pelacur kelas atas yang ia temukan di bar. Tapi ini bukan soal siapa wanita itu, ini soal pengkhianatannya pada kesepakatan kita!"
Maximilian mengembuskan asap cerutunya. "Pergilah ke kamarmu, Sophia. Aku akan menangani putraku. Jangan biarkan pers mengendus setitik pun drama ini."
Begitu Sophia keluar, Maximilian menekan tombol interkom. "Bawa Aurelius kemari. Sekarang."
Beberapa menit kemudian, pintu ganda itu terbuka. Aurelius melangkah masuk dengan langkah tenang yang berwibawa. Ia masih mengenakan kemeja turtleneck hitamnya, namun kali ini ia sengaja menarik kerahnya sedikit lebih rendah, seolah menantang otoritas ayahnya.
"Duduk," perintah Maximilian tanpa basa-basi.
Aurelius duduk, menyandarkan punggungnya dengan santai, menatap ayahnya dengan tatapan yang setara. "Aku dengar Sophia sudah menjalankan perannya sebagai pengadu yang baik pagi ini."
"Kau bermain api, Aurelius," suara Maximilian rendah namun mengandung getaran ancaman yang nyata. "Kita sedang berada di ambang penggabungan aset terbesar abad ini. Satu skandal perselingkuhan bisa meruntuhkan kepercayaan pasar. Aku tidak peduli dengan siapa kau tidur, tapi aku peduli jika kau membiarkan tanda itu terlihat oleh tunanganmu."
"Ini bukan soal tanda di leher, Ayah," sahut Aurelius tajam. "Ini soal kendali. Kau pikir kau bisa mengurungku di Berlin, menjodohkanku dengan boneka perbankan seperti Sophia, dan mengharapkanku menjadi robot yang patuh? Kau salah besar."
Maximilian menggebrak meja. "Aku membangun kerajaan ini agar kau bisa memerintah dunia, bukan untuk kau hancurkan demi kesenangan sesaat!"
Aurelius berdiri, menumpukan kedua tangannya di atas meja, menatap langsung ke mata ayahnya. "Aku memerintah dengan caraku sendiri. Jika kau ingin aliansi ini berhasil, biarkan aku mengurus Sophia dengan caraku. Jangan ikut campur dalam urusan ranjangku, atau aku akan memastikan bank keluarga Sophia menarik semua modal mereka karena aku yang memintanya. Kau tahu pengaruhku pada ayah Sophia lebih besar darimu sekarang."
Maximilian terdiam. Ia melihat bayangan dirinya yang lebih muda, lebih kejam, dan lebih cerdik di dalam diri putranya. Ia menyadari bahwa Aurelius bukan lagi bidak yang bisa ia pindahkan sesuka hati.
"Bereskan kekacauan ini, Aurelius. Buat Sophia percaya bahwa dia adalah satu-satunya. Jika tidak, aku sendiri yang akan melenyapkan gangguan itu dari hidupmu," ancam Maximilian.
Aurelius hanya tersenyum dingin. "Akan kulakukan. Tapi jangan menyesal dengan cara yang kupakai."
Sementara itu, di bandara Charles de Gaulle, Hana Asuka berdiri di gerbang keberangkatan VIP. Ia mengenakan kacamata hitam besar yang menutupi matanya yang sembab namun tajam. Empat asistennya sibuk mengurus bagasi.
Ia menatap langit Paris untuk terakhir kalinya. Pertemuan semalam dengan Ren adalah bensin bagi api ambisinya. Ia harus kembali ke Jepang. Ia harus memperkuat Asuka Group hingga tak tertembus, sehingga saat ia kembali ke Eropa nanti, ia tidak lagi datang sebagai "wanita simpanan", melainkan sebagai penguasa yang akan menjemput rajanya.
"Kita berangkat sekarang, Nona," ucap Sarah.
Hana mengangguk. Ia mematikan ponselnya, memutus sementara hubungannya dengan dunia luar. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di Tokyo.
Kembali ke kediaman Hohenzollern di Paris. Aurelius berdiri di depan pintu kamar Sophia. Ia menarik napas panjang, memasang topeng paling sempurna yang pernah ia buat dalam hidupnya. Ia harus menjinakkan Sophia agar rencananya untuk mengambil alih faksi perbankan keluarga wanita itu tidak terganggu.
Ia membuka pintu tanpa mengetuk.
Di dalam, Sophia sedang terduduk di tepi ranjang, menangis sesenggukan. Aurelius melangkah pelan, mendekatinya dari belakang. Dengan gerakan yang terasa asing dan dingin bagi dirinya sendiri, ia melingkarkan tangannya di bahu Sophia, memeluk wanita itu dari belakang.
Sophia tersentak, namun ia tidak memberontak.
"Maafkan aku, Sophia," bisik Aurelius di telinga wanita itu. Suaranya terdengar begitu tulus, sebuah akting kelas atas yang ia pelajari dari tahun-tahun berada di lingkungan diplomatik. "Aku hanya... aku merasa tertekan dengan semua ekspektasi ini. Tanda itu... itu bukan dari wanita lain. Aku tidak sengaja melukai diriku sendiri karena frustrasi semalam. Aku hanya ingin lari sejenak."
Sophia berbalik, menatap mata Aurelius yang tampak sayu dan penuh penyesalan—sebuah kepalsuan yang indah. "Benarkah? Kau tidak tidur dengan jalang Jepang itu?"
Aurelius tersenyum tipis, mengelus pipi Sophia dengan ibu jarinya. "Hana Asuka hanya masa lalu yang sudah kuhapus. Kau adalah masa depanku, Sophia. Maafkan kebodohanku."
Mendengar itu, pertahanan Sophia runtuh. Rasa cemburu yang membara seketika berganti dengan gairah kemenangan. Ia merasa telah "menang" atas wanita mana pun yang mencoba mencuri Aurelius.
Tanpa memberi kesempatan Aurelius untuk bernapas, Sophia menarik kerah kemeja Aurelius dan menciumnya dengan kasar. Ia mencium Aurelius seolah-olah ingin menghapus jejak Hana yang mungkin masih tertinggal di sana.
Aurelius tidak membalas dengan semangat yang sama, namun ia tidak melepaskannya. Ia membiarkan dirinya ditarik ke atas ranjang.
Malam itu, di bawah cahaya lampu gantung kristal yang mewah, Aurelius membiarkan tubuhnya diambil oleh Sophia. Namun, bagi Aurelius, setiap sentuhan Sophia terasa seperti duri yang menusuk kulitnya. Tidak ada percikan api, tidak ada harmoni, dan tidak ada jiwa.
Ia hanya diam, berbaring pasrah sementara Sophia bergerak di atas tubuhnya dengan penuh gairah yang egois. Sophia terus mengerang, mencakar punggung Aurelius, mencoba membuktikan bahwa dia adalah wanita yang paling berhak memiliki sang kaisar.
Aurelius menatap langit-langit kamar, pikirannya terbang jauh ke Jepang, pada aroma melati yang sesungguhnya. Namun, setiap kali Sophia menatap wajahnya, Aurelius segera memasang topeng kenikmatan palsu. Ia memaksakan sebuah erangan pelan, memberikan senyuman tipis yang dibuat-buat, dan membiarkan tangannya membelai tubuh Sophia secara mekanis.
Ia melakukan semuanya tanpa rasa. Ia membiarkan Sophia memuaskan hasratnya sendiri sepanjang malam hingga pagi menjelang. Baginya, ini hanyalah bagian dari misi diplomatik yang kotor. Sebuah pengorbanan tubuh demi menjaga stabilitas rencananya untuk menghancurkan ayahnya dari dalam.
Saat matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur Paris, Sophia akhirnya tertidur pulas di pelukan Aurelius dengan senyum kepuasan yang sombong.
Aurelius perlahan melepaskan pelukan itu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap tangannya yang terasa kotor. Ia berjalan menuju balkon, menatap arah timur—ke arah di mana pesawat Hana mungkin sudah mendarat.
"Tidurlah dalam mimpimu, Sophia," bisik Aurelius dingin tanpa menoleh ke belakang. "Karena saat kau bangun nanti, kau akan menyadari bahwa meskipun kau memiliki tubuhku malam ini, kau tidak akan pernah memiliki hatiku. Dan sebentar lagi, kau juga akan kehilangan kerajaanmu."
Aurelius masuk ke kamar mandi, menyalakan air dingin paling maksimal, mencoba membasuh rasa jijik yang melekat di kulitnya. Topengnya sudah terpasang kembali. Perang di Eropa baru saja memasuki babak yang paling gelap.