NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:141.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Ketika Batas Tak Lagi Dihormati

Alvian langsung menoleh. Wajahnya berubah.

“Umi.”

Ayza berjalan mendekat. Langkahnya tidak cepat. Tapi pasti.

Tatapannya langsung tertuju ke Reza. Dan seketika… suasana berubah lebih dingin.

Reza berdiri tegak. Senyumnya kembali, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kebetulan sekali,” ucapnya ringan. “Aku cuma nemenin dia nunggu.”

Ayza tidak langsung menjawab. Tangannya meraih bahu Alvian, menariknya sedikit ke samping. Dekat dengannya.

Protektif.

“Terima kasih,” ucapnya akhirnya dengan nada datar. “Tapi tidak perlu.”

Kalimat itu sopan, tapi jelas membatasi.

Namun Reza tidak pergi.

“Aku cuma ingin kenal lebih dekat,” lanjutnya. “Bagaimanapun—”

“Tidak perlu.”

Kali ini Ayza memotong lebih tegas.

Reza menahan pandang padanya, sekarang lebih serius.

“Dia anak yang baik,” tuturnya tenang. “Sayang kalau—”

“Apa pun yang ingin Anda sampaikan,” potong Ayza lagi, “sampaikan ke saya. Bukan ke anak saya.”

Nada suaranya tetap rendah, tapi tidak memberi ruang.

Alvian diam di sampingnya. Tangannya mencengkeram ujung baju Ayza.

Reza melirik sekilas ke arah itu. Lalu kembali ke Ayza.

“Kamu berubah,” gumamnya lirih.

Ayza tidak terpengaruh. “Dan Anda… mulai melewati batas." Suaranya rendah, tapi penuh tekanan.

Sudut bibir Reza terangkat tipis. Kali ini… berbeda.

“Kalau batas itu dibuat oleh orang yang salah…” ucapnya dengan nada rendah, “…wajar kalau dilanggar.”

Ayza menegakkan punggungnya.

“Tidak ada yang salah dengan batas saya.”

Ia terdiam sejenak. Hanya sejenak.

“Yang salah… adalah orang yang tidak tahu tempatnya.”

Kalimat itu bersih. Tidak tinggi, tapi menutup semuanya.

Reza terdiam, tidak langsung membalas.

Ayza tidak menunggu. Ia menggenggam tangan Alvian.

“Ayo, Sayang.”

Alvian mengangguk cepat, mengikutinya tanpa menoleh lagi.

Langkah mereka menjauh.

Reza masih berdiri di sana. Matannya mengikuti, sampai keduanya benar-benar pergi.

Lalu perlahan… senyum itu kembali muncul. Tipis, namun kali ini… bukan hangat.

"Makin menarik.”

***

Pintu mobil tertutup pelan. Suara dari luar langsung meredam.

Ayza tidak langsung menyalakan mesin.

Tangannya masih di setir. Fokusnya lurus ke depan. Menarik napas dalam… menahan sesuatu yang hampir lepas.

Di sampingnya, Alvian duduk rapi. Sabuk pengaman sudah terpasang. Namun jemarinya masih memegang ujung bajunya sendiri.

“Al, Om Reza ngomong apa saja tadi?”

Suara Ayza akhirnya terdengar. Tenang, seolah biasa.

Alvian memutar kepala kecilnya sedikit.

“Dia nanya… aku masih ingat atau nggak,” jawabnya pelan. “Terus ngajak aku ikut dia.”

Ayza menoleh sedikit. “Ikut ke mana?”

“Katanya jalan sebentar. Nunggu Umi.”

“Terus?”

“Al gak mau.” Jawaban itu cepat. Refleks.

Sorot mata Ayza melembut sedikit, namun hanya sebentar.

“Dia bilang nanti bakal bilang ke Umi,” lanjut Alvian. “Tapi Al tetap gak mau.”

“Bagus," ucap Ayza pendek, tapi jelas.

Alvian diam sebentar, lalu melanjutkan.

“Dia juga ngasih hadiah…” suaranya mengecil sedikit, “…tapi Al gak terima.”

Akhirnya Ayza menoleh penuh.

“Kenapa gak diterima?”

Alvian menunduk sedikit. “Umi bilang… gak boleh terima apa-apa dari orang.”

Ayza tak mengatakan apa pun untuk beberapa saat. Lalu tangannya terangkat, mengusap pelan kepala anak itu.

“Pinter.”

Nada suaranya tetap tenang. Tapi kali ini… ada hangat yang tidak ia sembunyikan.

“Dengerin, ya,” lanjutnya dengan suara lembut. “Kalau ada orang, siapa pun itu, yang bikin kamu gak nyaman…”

Ia memastikan fokus Alvian padanya.

“…kamu gak perlu paksa diri buat sopan," lanjut Ayza. "Gak mau ya bilang gak mau. Jangan ikut. Jangan terima apa pun. Apalagi pergi.”

“Iya, Umi.” Jawabannya patuh, tanpa ragu.

Ayza akhirnya menyalakan mesin. Mobil mulai bergerak perlahan keluar dari area sekolah.

Beberapa detik… hanya suara mesin yang terdengar.

Lalu—

“Umi…”

Ayza melirik.

“Iya?”

Alvian terlihat berpikir. Keningnya sedikit berkerut. Seolah mengingat sesuatu.

“Om Reza itu…” ia berhenti sebentar, “…kakaknya Om Fahri, ‘kan?”

Jawaban Ayza tidak langsung datang.

“Iya,” katanya akhirnya, tapi masih memikirkan sesuatu.

Alvian mengangguk kecil. Tapi ekspresinya belum lepas dari pikirannya.

“Aku tahu Om Fahri dari kecil,” lanjutnya. “Dia baik.”

Ayza hanya mendengarkan.

“Tapi Om Reza…” suaranya mengecil sedikit, “…aku baru ketemu sekarang.”

Ia mengalihkan matanya ke Ayza. Ada kebingungan yang jujur di sana.

“Kenapa ya… aku gak nyaman?”

Ayza terdiam, menyusun kata. Jemarinya di setir sedikit menegang, lalu kembali tenang.

“Umi juga…” lanjut Alvian, “…kayak gak suka sama dia.”

Kalimat itu jujur, polos, tapi tepat.

Mobil terus melaju. Beberapa detik… tidak ada jawaban. Lalu akhirnya—

“Perasaan itu… penting, Al.” Suara Ayza lembut. Tapi lebih dalam dari sebelumnya.

“Kadang kita gak selalu bisa jelasin kenapa,” lanjutnya. “Tapi kalau hati kamu bilang ‘gak nyaman’…” Ia melirik sekilas ke arah anaknya. “…itu bukan sesuatu yang harus kamu abaikan.”

Alvian tidak menyela, ia menyimak.

“Dan soal orang…” Ayza berhenti sejenak. Memilih kata-kata. “…gak semua orang yang terlihat dekat… benar-benar baik buat kita.”

Kalimat itu keluar lebih tenang, tapi dalam.

Alvian menunduk sedikit. Mencerna.

“Tapi Om Fahri baik…”

“Iya.” Ayza menjawab tegas. “Om Fahri baik,” ulangnya. “Dan itu gak salah.”

Ia menarik napas pelan.

“Tapi… setiap orang itu berbeda. Bahkan kalau mereka dari keluarga yang sama.”

"Al ngerti," sahut Alvian akhirnya.

Beberapa detik… suasana kembali tenang. Namun sebelum benar-benar sunyi—

“Umi…”

“Iya?”

“Kalau nanti Om Reza datang lagi…”

Ayza mengalihkan wajahnya sesaat sebelum menjawab.

“Kamu tetap lakukan yang tadi.” Nadanya tegas, tanpa ragu.

“Jaga jarak. Panggil Umi. Jangan ikut. Jangan terima apa pun.”

“Iya, Umi.”

Ayza mengangguk kecil. Tatapannya kembali ke jalan. Lebih fokus.

Dan kini, yang ia pikirkan bukan lagi sekadar menjaga Alvian. Melainkan… bagaimana menghadapi Reza.

***

Ruang makan terasa lebih tenang setelah makan malam selesai. Suara sendok dan piring sudah tidak lagi terdengar.

Rahman menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya beralih ke putra sulungnya.

“Kamu kapan menikah lagi, Rez?” Nada suaranya tidak tinggi, tapi jelas. “Usiamu sudah tidak muda lagi.”

Siti yang duduk di sampingnya ikut menimpali, senyum tipis menghiasi wajahnya.

“Iya. Ayah sama Bunda juga pengen segera nimang cucu.”

Reza menyeka bibirnya dengan tisu. Santai, seolah sudah biasa dengan topik itu.

“Fahri juga anak Ayah sama Bunda,” jawabnya ringan. “Jangan aku terus yang didesak.”

Rahman menggeleng pelan. “Kamu itu yang lebih tua.”

Kalimat itu sederhana, tapi mengandung tuntutan yang tidak kecil.

Bibir Reza melengkung samar. Tidak membantah. Namun sorot matanya berubah.

“Aku gak akan salah pilih lagi, Yah.”

Nada suaranya ringan. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak lagi sederhana.

Rahman menatapnya. Lama. Entah kenapa, kali ini ia tidak merasa tenang.

Dan di tempat lain, seseorang yang tidak tahu apa-apa… sedang berjalan semakin dekat ke dalam rencana yang bahkan belum ia sadari.

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua yang datang kembali… datang dengan niat yang benar."...

..."Rasa tidak nyaman seringkali lebih jujur daripada kata-kata."...

..."Yang berbahaya bukan yang terang-terangan salah… tapi yang terlihat seolah benar."...

..."Menjaga bukan hanya tentang bertahan… tapi juga tentang tahu siapa yang harus dijauhkan."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dew666
💜💜💜💜
Anonim
Ternyata Reza mengikut Fahri dan keluarganya yang sedang berada di pantai. Benar-benar penguntit sejati.

Ayza ke toilet. Reza bergerak mendekati bangunan toilet.

Ayza keluar dari toilet - Reza sudah berdiri di depannya. Bikin Ayza terkejut.

Reza sudah mendengar Ayza berkata yang sebenarnya. Apa masih kurang jelas - masihkah mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dia miliki kembali.
Hanima
😍👍🙏
Anonim
Reza sebagai pengamat sejati ketika mereka makan pagi. Dia tahu kenapa Fahri terlihat berwajah cerah.

Melihat interaksi atara Fahri dan Ayza. Mendengar Alvian memanggil Abi untuk Fahri.

Semua itu membuat dada Reza terasa semakin sesak.

Alvian mau mancing di pantai. Mereka bertiga menuju pantai.

Reza mau ngapain keluar rumah juga dengan mobilnya.

Ditanya Bundanya - jawabnya ada urusan sedikit.

Sepertinya Rahman was-was terhadap Reza. Tidak akan tinggal diam kalau Reza sampai mengusik keluarga Fahri.
Rea
iya aku bacanya jg loncat krn nangis terus
🌠Naπa Kiarra🍁: Berarti sedihnya sampai nggak kuat ya, Kak 🥹

Tapi bacanya jangan lompat-lompat, kasihan retensinya 😭 Kita sesama penulis pasti tahu rasanya lihat grafik tiba-tiba jungkir balik.

Ujung-ujungnya reward melambaikan tangan dari kejauhan: waalaikumsalam 😂

Yang tersisa cuma mata panda gara-gara sistem baca model kodok.😭
total 1 replies
ngatun Lestari
masyaalloh.... banyak liku" hidup yg jadi pelajaran
Dek Sri
terima kasih atas karyanya kak, semoga sukses selalu
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Terimakasih author 🙏
Sehat selalu ya 😍
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Sugiharti Rusli
kisah yang haru biru sih, semoga kisah baru yang juga sudah dibaca juga seru yah🥰🥰
Sugiharti Rusli
bahkan pada akhirnya Fahri mengakui perasaan yang dia punya ke Ayza setelah dia sah sebagai suaminya,,,
Sugiharti Rusli
karena mau menolak seperti apapun Ayza, kalo takdirnya berjodog dengan Fahri makanya memang ada jalannya melalui Alvian yang sangat menyayanginya,,,
Sugiharti Rusli
dan Fahri juga tidak pernah melampaui batasannya, bahkan setelah Kaisyaf wafat, dan pada akhirnya takdirlah yang meruntuhkan hati Ayza,,,
Sugiharti Rusli
bahkan mungkin dulu saat akhirnya Ayza berjodoh sama mendiang Kaisyaf, dia tetap ada bersama mereka sebagai adik mereka
Sugiharti Rusli
yah memang pada akhirnya memenangkan hati Ayza bukan karena ambisi buta sih,,,
Eliermswati
trma ksh thor untuk semua cerita nya, smngt dan sukses untuk karya mu selanjutnya, 😍😍😍y q msh penasaran pengen d lnjut tentang alvian gede dan ank ayza sm fahri sih
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Asih Prawawati
Terima Kasih Thour..
Terima Kasih...akhir cerita yang indah .
aku suka .
Bukan sekedar bacaan...yg perlu di baca .
Tapi lebih dari itu ..ada pembelajaran juga .
🙏🙏🙏🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Dek Sri
saya sudah mampir kak
🌠Naπa Kiarra🍁: Iya, Kak. Makasih 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Juriah Juriah
trimakasih kepada author Nana atas crita bagus nya ga krasa aku mengikuti jln crita kisah kehidupan Ayza hingga season 2 dan sudah tamat ..dan sy akan mencoba mengikuti crita yg baru terbit semangat trus buat crita baru yg lebih bagus dan sukses selalu 🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
tse
terima kasih ka. setiap ceritamu selalu banyak pengalaman berharga yang bisa kita ambil dalam memyikapi setiap masalah yang dtang dengan kepala dingin dan tidak terbawa emosi....
jadi penasaran apa kaka emang orangnya aslinya memang begini ya... ramah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain...
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih banyak, Kak 🥹 Kalau soal aslinya, mungkin aku bukan orang yang selalu tenang atau selalu kuat.

Aku juga pernah marah, sedih, kecewa, dan terluka. Cuma aku percaya, kalau emosi dipeluk terlalu lama, yang sesak biasanya diri sendiri.

Mungkin karena itu aku lebih suka memahami dan pelan-pelan belajar mengikhlaskan 😊
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Luar Biasa
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. 🤗🙏🙏🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!