Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 keheningan yang mengkhawatirkan
Beberapa hari telah berlalu sejak suasana aneh
mulai menyelimuti kehidupan keluarga Alana.
Di desa kecil itu, kehidupan sebenarnya masih berjalan seperti biasa. Para petani tetap berangkat ke ladang sejak matahari terbit, anak-anak tetap berlarian di jalan tanah yang sempit, dan para wanita desa masih berkumpul di dekat sumur untuk berbincang sambil mencuci pakaian.
Namun bagi keluarga Alana, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Terutama karena satu orang yang biasanya selalu terlihat setiap pagi… kini menghilang dari rutinitas desa.
Kakek Alana.
Rumah kayu tua miliknya yang berada di pinggir desa tetap berdiri tenang seperti biasanya. Asap dari cerobong rumah itu masih terlihat setiap pagi, menandakan bahwa ia masih berada di dalam rumah.
Namun selama beberapa hari terakhir, tidak ada seorang pun yang melihatnya keluar.
Hal itu mulai membuat banyak orang bertanya-tanya.
Suatu pagi, di dalam rumah paman Alana, suasana dapur terasa hangat.
Bibi Alana sedang mengaduk sup di atas tungku kecil sementara aroma sayuran memenuhi ruangan.
Alana duduk di meja sambil memotong roti.
Namun pikirannya terlihat tidak tenang.
“Aku akan mengunjungi Kakek hari ini,” katanya tiba-tiba.
Bibi Alana menoleh.
“Kau juga memikirkannya?”
Alana mengangguk pelan.
“Sudah hampir seminggu ia tidak keluar rumah.”
Paman Alana yang baru saja masuk ke dapur ikut mendengar percakapan itu.
Ia menghela napas.
“Ayah memang sering menyendiri… tapi biasanya tidak selama ini.”
Bibi Alana terlihat sedikit khawatir.
“Apakah mungkin dia sakit?”
Paman Alana menggeleng.
“Kalau sakit, pasti dia sudah memberi tahu.”
Alana menatap ke arah jendela yang menghadap ke jalan desa.
“Aku merasa ada sesuatu yang mengganggunya.”
Bibi Alana memandang keponakannya dengan lembut.
“Mungkin hanya kelelahan.”
Namun bahkan saat ia mengatakannya, ia sendiri tidak terlihat terlalu yakin.
Sementara itu, di jalan desa yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka, seorang pria berjalan dengan langkah tenang.
Edward.
Sejak datang ke desa itu, kehadirannya perlahan menjadi sesuatu yang biasa bagi penduduk desa.
Ia sering membantu pekerjaan kecil, dan sikapnya yang tenang membuat banyak orang merasa nyaman berbicara dengannya.
Hari itu ia berjalan menuju rumah paman Alana.
Ketika ia sampai di depan rumah, paman Alana sedang berdiri di teras sambil memeriksa beberapa catatan desa.
“Ah, Edward,” katanya sambil tersenyum.
“Kau datang lagi.”
Edward membungkuk sedikit dengan sopan.
“Saya hanya ingin menanyakan sesuatu tentang hutan.”
Paman Alana menutup buku catatannya.
“Hutan?”
Edward mengangguk.
“Saya sedang mencoba mempelajari daerah sekitar hutan itu.”
Paman Alana memandangnya dengan rasa ingin tahu.
“Kalau begitu duduklah dulu.”
Mereka duduk di kursi kayu di teras rumah.
Angin dari arah hutan bertiup perlahan membawa aroma daun dan tanah basah.
Paman Alana kemudian berkata,
“Sejujurnya aku masih penasaran tentangmu.”
Edward tersenyum tipis.
“Penasaran?”
Paman Alana mengangguk.
“Kau datang dari kota, bukan?”
“Benar.”
“Lalu apa sebenarnya pekerjaanmu?”
Edward terdiam beberapa detik, seolah memikirkan kata-kata yang tepat.
“Aku bekerja untuk penelitian.”
“Penelitian tentang apa?”
Edward memandang ke arah hutan yang terlihat di kejauhan.
“Hutan tua.”
Paman Alana sedikit mengangkat alisnya.
“Hutan di dekat desa ini?”
“Ya.”
Edward melanjutkan dengan nada yang tetap tenang.
“Ada beberapa tempat yang masih belum dipelajari dengan baik.”
“Hutan ini termasuk salah satunya.”
Paman Alana tertawa kecil.
“Kalau begitu kau datang ke tempat yang tepat.”
Ia menunjuk ke arah pepohonan besar di kejauhan.
“Hutan itu memang sudah sangat tua.”
“Bahkan ada cerita bahwa hutan itu sudah ada jauh sebelum desa ini dibangun.”
Edward mengangguk pelan.
“Cerita seperti itu sering kali menyimpan kebenaran.”
Paman Alana menatapnya sejenak.
“Apa maksudmu?”
Edward tersenyum kecil.
“Hanya saja… hutan tua biasanya menyimpan banyak sejarah.”
Sebelum percakapan mereka berlanjut, pintu rumah terbuka.
Bibi Alana keluar sambil membawa keranjang berisi sayuran.
“Oh, Edward,” katanya dengan senyum hangat.
“Kau datang lagi.”
Edward berdiri sedikit sebagai tanda hormat.
“Sore.”
Bibi Alana menatapnya dengan ramah.
“Kau sudah makan?”
Edward menggeleng.
“Belum.”
“Kalau begitu masuklah,” kata bibi Alana.
“Aku baru saja memasak.”
Edward terlihat sedikit ragu.
Namun paman Alana langsung berkata,
“Masuk saja. Kau sudah seperti tamu tetap di sini.”
Akhirnya Edward mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.
Di ruang makan, Alana sudah duduk di kursinya.
Ketika ia melihat Edward masuk, ia tersenyum kecil.
“Kau datang lagi.”
Edward membalas dengan senyum yang sangat halus.
“Sepertinya aku memang sering datang akhir-akhir ini.”
Bibi Alana menaruh mangkuk sup di meja.
“Karena kau selalu datang saat makan malam.”
Semua orang tertawa kecil.
Namun di tengah suasana santai itu, Alana memperhatikan sesuatu.
Edward terlihat sangat tenang.
Terlebih tenang dibandingkan orang lain.
Seolah ia selalu menjaga dirinya agar tidak menunjukkan terlalu banyak emosi.
Alana kemudian bertanya,
“Penelitianmu tentang hutan… apakah menarik?”
Edward menatapnya.
“Cukup menarik.”
“Apa yang kau cari sebenarnya?”
Edward berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Aku mencoba memahami sejarah hutan itu.”
“Sejarah?”
Alana terlihat penasaran.
“Seperti apa?”
Edward menjawab dengan suara lembut,
“Kadang hutan menyimpan cerita yang tidak tertulis.”
“Cerita tentang masa lalu yang sangat lama.”
Paman Alana tertawa kecil.
“Kalau begitu kau harus berbicara dengan Ayahku.”
Edward sedikit memiringkan kepala.
“Ayahmu?”
“Kakek Alana,” kata paman Alana.
“Dia tahu banyak cerita lama tentang desa ini.”
Alana ikut berkata,
“Benar. Kakek sering membaca buku-buku lama.”
Namun wajah Alana kemudian berubah sedikit khawatir.
“Tapi… beberapa hari ini dia tidak keluar rumah.”
Bibi Alana mengangguk.
“Itu yang membuat kami khawatir.”
Edward mendengarkan dengan tenang.
“Dia sakit?”
Paman Alana menggeleng.
“Tidak tahu.”
“Dia hanya… mengurung diri di rumah.”
Alana menatap meja makan.
“Aku akan mengunjunginya nanti.”
Edward tidak mengatakan apa pun lagi.
Namun tatapannya terlihat sedikit dalam.
Sementara itu, di rumah kayu tua di pinggir desa…Kakek Alana duduk sendirian di dekat jendela cahaya sore masuk melalui tirai tipis dan menyinari ruangan yang dipenuhi buku-buku tua.
Di atas meja, buku catatan keluarga masih terbuka halaman yang sama Halaman tentang Ratu Vampir dan kalung berlian hijau.
Kakek Alana telah membaca halaman itu berkali-kali namun pikirannya tetap tidak bisa tenang Ia menatap kalimat yang tertulis di sana.
Tentang perhiasan milik Ratu Vampir.
Tentang bagaimana kalung itu selalu berada di tangan Raja Vampir setelah sang Ratu menghilang.
Ia menghela napas panjang.
“Kalung itu sekarang berada di leher Alana…”
gumamnya pelan.
Ia tidak marah.
Ia tidak ingin melawan siapa pun.
Namun ia merasa khawatir.
Sangat khawatir.
Karena jika apa yang ia pikirkan benar…
maka cucunya mungkin memiliki hubungan dengan dunia yang sangat berbahaya.
Ia berdiri perlahan dan berjalan menuju jendela.
Dari sana ia bisa melihat desa di kejauhan.
Rumah-rumah kecil.
Jalan tanah.
Dan kehidupan yang tampak damai.
Namun di dalam hatinya, ia tahu sesuatu sedang bergerak.
Sesuatu yang berasal dari masa lalu.
Dan sesuatu itu mungkin sudah berada sangat dekat dengan cucunya.
Ia menutup matanya sebentar.
“Aku hanya berharap…”
bisiknya pelan.
“…dia tidak terluka oleh semua ini.”
Kakek Alana tidak tahu kapan semua kebenaran itu akan terungkap.
Namun satu hal yang ia yakini.
Cepat atau lambat…
takdir yang menghubungkan Alana dengan dunia vampir akan memperlihatkan dirinya.
Dan ketika hari itu tiba…
desa kecil yang selama ini tenang mungkin tidak akan pernah sama lagi.