"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Suara dari Balik Terali
Pagi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur tidak pernah terasa bersahabat. Klakson kendaraan yang saling bersahutan di luar pagar besi seolah menjadi latar musik bagi ketegangan yang merayap di koridor semen yang dingin. Hana berdiri di sana, mengenakan kemeja batik sogan berwarna gelap, rambutnya terikat rapi menunjukkan rahangnya yang kokoh. Di sampingnya, Raka menggenggam jemarinya—sebuah jangkar bisu di tengah badai hukum yang sedang mereka hadapi.
"Nyonya Hana, harap segera masuk. Hakim ketua sudah hadir," ujar petugas pengadilan dengan nada datar.
Di dalam ruang sidang, Tante Lastri dan Pak Hendra sudah duduk dengan angkuh, didampingi pengacara mereka yang terus-menerus merapikan dasi sutranya. Mereka menatap Hana seolah Hana adalah pencuri yang tertangkap basah, bukan wanita yang sedang mencoba membangun perpustakaan bagi anak-anak miskin.
Namun, suasana seketika berubah mencekam saat pintu samping terbuka. Dua petugas kepolisian masuk, mengawal seorang pria mengenakan rompi tahanan berwarna oranye. Langkah pria itu terseret, wajahnya tirus, dan rambutnya yang dulu selalu klimis kini tampak kusam.
Itu Aris Gunawan.
Gumam kaget terdengar dari deretan kursi keluarga Gunawan. Tante Lastri menutup mulutnya dengan telapak tangan, sementara Pak Hendra mendadak sibuk membolak-balik berkasnya. Mereka tidak menyangka bahwa Aris benar-benar akan dihadirkan sebagai saksi kunci.
Saat Aris duduk di kursi saksi, ia tidak berani menoleh ke arah Hana. Ia menunduk, menatap lantai ubin yang retak. Namun, saat hakim mulai melontarkan pertanyaan tentang keabsahan hibah ruko tersebut, Aris menarik napas panjang dan mengangkat wajahnya.
"Yang Mulia," suara Aris parau, namun bergema dengan kejujuran yang menyakitkan. "Saya menyerahkan ruko itu kepada Yayasan Ruang Temu dalam keadaan sadar sepenuhnya. Saya melakukannya karena saya sadar, selama ini keluarga besar saya—orang-orang yang duduk di sebelah kanan saya ini—hanya peduli pada berapa banyak warisan yang bisa mereka peras dari Ibu saya."
"Keberatan, Yang Mulia! Saksi melakukan pembunuhan karakter!" teriak pengacara Pak Hendra.
"Keberatan ditolak. Biarkan saksi melanjutkan," tegas Hakim Ketua.
Aris melanjutkan, suaranya kini lebih stabil. "Saat Ibu saya sakit keras, saya menghubungi mereka satu per satu dari penjara. Saya memohon agar mereka menjenguk atau membantu biaya pengobatan yang tersisa. Tidak satu pun dari mereka yang datang. Hanya Hana... hanya wanita yang sudah saya khianati berkali-kali inilah yang datang dan memberikan penghormatan terakhir bagi Ibu saya. Ruko itu bukan milik keluarga Gunawan. Ruko itu adalah penebusan dosa saya, dan saya ingin Hana yang memegangnya karena hanya dia yang punya hati untuk mengelolanya bagi orang banyak."
Tante Lastri berdiri berteriak histeris, menuduh Aris sudah dicuci otaknya oleh Hana. Namun, palu hakim mengetuk meja dengan keras. Keputusan sudah bulat. Berdasarkan kesaksian pemilik sah dan bukti-bukti notariil yang dibawa Maya, gugatan warisan itu ditolak mentah-mentah.
Setelah sidang selesai, petugas membawa Aris kembali ke sel. Di koridor yang sempit, saat berpapasan dengan Hana, Aris berhenti sejenak. Petugas memberinya waktu lima detik.
Aris menatap Hana, matanya berkaca-kaca. "Lakukan hal besar dengan ruko itu, Na. Ajarkan anak-anak itu cara menjadi orang baik... sesuatu yang gagal aku pelajari dulu."
Hana hanya mengangguk pelan. "Terima kasih, Mas Aris. Semoga ini menjadi jalan ketenangan bagimu."
Aris pun dibawa pergi. Itu adalah terakhir kalinya Hana melihat mantan suaminya dalam jarak sedekat itu. Tidak ada dendam yang tersisa, hanya rasa syukur bahwa satu beban masa lalu telah benar-benar terangkat.
Satu minggu kemudian, suasana di Jakarta Timur berubah total. Tidak ada lagi sengketa, yang ada hanyalah keriuhan anak-anak. Hari ini adalah peresmian "Pondok Literasi Mama Sarah".
Ruko yang dulunya kusam kini berwarna kuning cerah dengan aksen kayu pinus di setiap sudutnya. Raka telah menyelesaikan rak-rak buku yang melengkung indah, menciptakan lorong-lorong rahasia bagi anak-anak untuk bersembunyi sambil membaca.
Lebih dari seratus anak dari pemukiman padat di belakang pasar berkumpul. Dimas, anak pemulung yang dulu mengintip malu-malu, kini mengenakan kaos baru pemberian yayasan. Ia berdiri di barisan paling depan, memegang gunting pita bersama Hana.
"Satu... dua... tiga!"
Pita merah terputus, dan sorak-sorai anak-anak pecah. Mereka berebutan masuk, menyentuh buku-buku yang masih beraroma kertas baru. Di lobi utama, sebuah foto Mama Sarah berukuran sedang terpasang anggun. Beliau tersenyum di foto itu, seolah merestui ribuan kata yang akan dibaca oleh anak-anak yang haus akan ilmu.
Di lantai dua, kelas keterampilan bagi ibu-ibu juga dimulai. Mereka belajar cara membuat kerajinan dari bahan daur ulang, yang nantinya akan dipasarkan melalui jaringan "Ruang Temu" di Surabaya dan Makassar.
"Mbak Hana, lihat ini," Dewi, yang sengaja datang dari Surabaya untuk membantu peresmian, menunjukkan sebuah kotak berisi abon ikan dari Makassar yang kini mulai dijual di pojok kafe literasi ini. "Semuanya terhubung sekarang, Mbak. Dari laut Makassar, ke Surabaya, sampai ke sini. Kita benar-benar membangun jaring pengaman bagi mereka."
Sore harinya, saat matahari Jakarta mulai meredup dan memberikan warna jingga di antara kepulan asap knalpot, Hana duduk di bangku kayu di depan ruko. Raka datang membawakannya segelas es kopi susu dari kafe kecil di lantai satu.
"Kamu berhasil, Na," ujar Raka, duduk di sampingnya. "Ruko ini tidak lagi berbau pengkhianatan. Dia berbau harapan."
Hana menyandarkan kepalanya di bahu Raka. "Aku merasa beban sepuluh tahun itu benar-benar menguap hari ini, Ka. Melihat Dimas tadi bisa mengeja namanya sendiri dengan benar... rasanya lebih membahagiakan daripada saat aku membeli tas mewah dulu."
"Inilah bab hidupmu yang sesungguhnya," kata Raka sambil menggenggam tangan Hana.
koq udh habisssss lg?
mungkin ini salah satu inspirasi buat wanita yg sedang survival dr ketidak adilan perlakuan pasangan sah kita dlm berumah tangga.
menyerukan,wanita utk jgn terpuruk dengan kehidupan tapi berusaha ttp semangat utk menjalaninya walau tdk mudah
semangattt,,,thorr
sementara 7 tahun lalu mereka masih mengontrak.
ingat2 Thor apa yg ditulis.