Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi di Atas Porselen Retak
Di sebuah sudut kota London yang tersembunyi dari hiruk-pikuk pusat bisnis, Eleanor Lichtenzell menatap pantulan dirinya di jendela kaca kafe L’Horizon. Di usianya yang kedua puluh lima tahun, ia seharusnya duduk di kursi direktur, mengenakan setelan couture, dan memimpin rapat dewan direksi. Namun, di sinilah ia sekarang—mengenakan celemek hitam, mengikat rambutnya dengan rapi, dan memegang nampan perak.
Baginya, ini adalah kemenangan. Sebuah pelarian dari rencana konyol ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan para pria borjuis yang hanya mengincar aset keluarganya.
"Melajang seumur hidup bukan sebuah dosa, Ayah. Itu adalah efisiensi," ucap Eleanor saat perdebatan terakhir di mansion Lichtenzell enam bulan lalu.
Tuan Lichtenzell saat itu hampir terkena serangan jantung. Baginya, Eleanor adalah mahakarya. Cantik, jenius dengan gelar magister dari Oxford, dan tajam. Bagaimana bisa putrinya memilih menjadi porselen pajangan yang tenang daripada memiliki pendamping? Tuan Lichtenzell tahu kerasnya dunia bisnis Inggris. Jika ia tiada tanpa ada pria kuat di samping Eleanor, para direktur yang lapar kekuasaan akan menelan putrinya hidup-hidup. Ayahnya mencari pria yang tulus, namun di mata Eleanor, ayahnya hanya sedang mencari pembeli untuk dirinya.
Akhirnya, Eleanor pergi. Ia membuang nama besar Lichtenzell, memilih menjadi "Eleanor" saja—seorang pelayan kafe yang lidahnya jauh lebih tajam daripada kopi yang ia sajikan.
Di sisi lain kota, di dalam The Aethelgard Estate yang megah, Edward Zollern baru saja menyelesaikan sesi latihan anggarnya. Keringat membasahi kaos putihnya yang mahal. Hidupnya adalah definisi dari kesempurnaan yang dipaksakan. Dibesarkan oleh dua wanita yang sangat ia hormati—Neneknya, Agatha Zollern, dan Ibunya, Emilie—Edward tumbuh menjadi pria yang tidak mengenal kata tidak.
"Edward, sayang, kau harus selalu mendapatkan apa yang kau inginkan. Ingat, kau adalah seorang Zollern. Dunia ini adalah milikmu untuk kau atur," itulah mantra yang selalu dibisikkan Emilie sejak Edward masih kecil.
Edward tumbuh tanpa emosi yang bergejolak. Baginya, cinta hanyalah transaksi, dan wanita hanyalah hiasan dalam karier politik atau bisnisnya. Hingga dua hari yang lalu, saat sebuah pertemuan bisnis membawanya ke sebuah kafe di pinggir pantai.
"Sir, saya sudah mencoba mencari informasi mengenai pelayan itu," Rey, asisten pribadinya, berdiri tegak di ambang pintu ruang kerja Edward.
Edward menyesap wine-nya tanpa menoleh. "Dan?"
"Tidak ada data diri yang jelas, Sir. Manajer kafe hanya mengenalnya sebagai 'Eleanor'. Dia tidak memiliki catatan kriminal, tidak ada riwayat pekerjaan di perusahaan besar mana pun di Inggris. Dia seolah muncul begitu saja dari udara tipis enam bulan lalu," lapor Rey dengan nada sedikit frustrasi.
Edward meletakkan gelasnya dengan dentingan halus di atas meja marmer. Matanya yang dingin berkilat. "Seorang pelayan misterius dengan insting bisnis yang mampu mempermalukan seorang CEO di depan umum. Menarik sekali."
Edward tentu tahu tentang Lichtenzell Group, pesaing terbesarnya di pasar saham. Namun, ia belum pernah melihat wajah putri Lichtenzell secara langsung, karena Eleanor selalu menolak tampil di depan publik dan menghancurkan setiap kencan buta sebelum sempat ada foto yang diambil secara resmi.
Sore itu, Eleanor sedang membersihkan meja saat ia merasakan hawa dingin yang familiar menyergap kafe. Pintu terbuka, dan langkah kaki yang berat namun berirama mendekat.
"Eleanor," suara berat itu memanggil namanya. Bukan sebuah pertanyaan, tapi sebuah pernyataan.
Eleanor menoleh, ia mengenali pria ini. Pria yang dua hari lalu hanya diam mengamatinya saat ia memaki seorang kolega bisnis. Eleanor tahu pria ini adalah bagian dari Zollern Group—raksasa yang menguasai hampir seluruh sektor di Inggris—tapi ia tidak tahu bahwa pria yang berdiri di depannya adalah Edward Zollern, sang kaisar sendiri.
"Selamat datang kembali, Tuan. Maaf, ruangan privat kami sudah penuh jika Anda belum memesan," ucap Eleanor dengan nada tenang yang dibuat-buat, meski instingnya berteriak ada bahaya di depan mata.
Edward melangkah mendekat, mengabaikan jarak sosial yang seharusnya ada. Ia berdiri tepat di depan Eleanor, aroma parfum sandalwood dan kekuasaan menguar dari tubuhnya.
"Aku tidak butuh ruangan privat, Eleanor," ucap Edward, matanya mengunci mata Eleanor dengan intensitas yang mengerikan. "Aku hanya butuh namamu. Nama lengkapmu."
Eleanor tersenyum tipis, jenis senyum menantang yang belum pernah Edward lihat pada wanita mana pun. "Nama saya hanya Eleanor, Tuan. Jika Anda ingin mencari nama yang lebih panjang, silakan cari di buku telepon atau daftar pemegang saham perusahaan Anda. Di sini, saya hanya pelayan."
Rey yang berdiri di belakang Edward menahan napas. Belum pernah ada yang berani berbicara seperti itu pada tuannya.
Edward tidak marah. Sebaliknya, ia merasa sebuah obsesi baru mulai berakar di kepalanya. Sesuatu tentang gadis ini—caranya berdiri, caranya menolak tunduk—terasa sangat familiar sekaligus menantang untuk dihancurkan.
"Eleanor," Edward berbisik, suaranya rendah dan mengancam. "Kau bisa bersembunyi di balik celemek ini selama yang kau mau. Tapi kau harus tahu, aku tidak pernah membiarkan sesuatu yang menarik perhatianku pergi begitu saja. Kau... akan segera menyadari bahwa dunia ini jauh lebih sempit daripada kafemu."
Eleanor tetap berdiri tegak, meski tangannya di balik nampan mengepal kuat. Ia tahu, pelariannya mungkin baru saja menemukan tembok yang paling keras bernama Edward Zollern.