NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

"Kalau dipikir-pikir lagi, bekerja sama dengan orang bermuka dua dan munafik seperti kalian ini bisa menghancurkan bisnis seseorang," ucap Bethany sambil melangkah maju dan menatap tajam ke mata Tobias. "Jadi, mungkin aku perlu bicara sebentar dengan Ibuku supaya dia mempertimbangkan lagi kerja sama dengan kalian."

Amara memperhatikan raut wajah Tobias dan tidak bisa menahan senyum puas. Dia tahu betul kata-kata Bethany barusan benar-benar menancap telak di ulu hati pria itu.

Bagus, batinnya.

"Kamu—" Fiona hendak membalas, tapi Tobias langsung memotongnya.

"Sepertinya Fiona sudah melakukan atau mengatakan sesuatu yang salah yang membuatmu melihat keluarga Larsen dalam sudut pandang yang salah dan berbeda. Aku meminta maaf atas namanya, dan aku pasti akan mendisiplinkannya."

Mata Fiona terbelalak mendengar ucapan itu. Dia langsung menoleh ke arah Tobias dengan kaget. "K-kak?"

Namun, satu tatapan tajam dari Tobias sudah cukup untuk membungkam mulutnya seketika.

Setelah Fiona terdiam, Tobias kembali mengalihkan perhatiannya kepada Amara yang sejak tadi hanya menyimak tanpa suara.

"Amara," panggil Tobias. Dia merasa perlu meminta maaf atas semua kelakuan buruk Fiona. Namun, sebelum sempat mengucap sepatah kata pun, Amara langsung memalingkan muka ke arah Bethany—benar-benar menganggap Tobias seolah tidak ada di sana.

"Bethany, kurasa kita sudah cukup berbelanja untuk hari ini, ayo pergi."

Bethany sempat bingung dengan tindakan yang tiba-tiba itu, tetapi dengan cepat mengerti dan mengangguk. "Ya, ayo kita pergi sekarang."

Amara memberikan senyum terima kasih kepada Bethany, yang langsung menghilang saat ia menoleh kembali ke arah Tobias dan Fiona. Ia menatap Tobias untuk terakhir kalinya sebelum melangkah pergi.

"Ambil saja gaun itu, aku sudah tidak menginginkannya lagi."

Segera setelah mengatakan hal itu, ia berjalan melewati Fiona, menyenggol bahu wanita itu.

Fiona sangat marah dengan tindakan Amara, namun ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi saat Tobias mencengkram tangannya dengan kuar.

"Ayo pergi, sekarang juga."

Fiona merasa tamat. Dia tahu dia sedang dalam masalah besar.

######

Sepanjang perjalanan pulang, Fiona terus berusaha membela diri, tapi Tobias sama sekali tidak mau mendengar sepatah kata pun darinya.

"Kak, aku bisa jelaskan! Dia yang duluan memancing keributan, dan gara-gara dia juga aku sampai di-blacklist dari toko itu!" seru Fiona sambil setengah berlari mengejar Tobias yang baru saja masuk ke dalam rumah. "Apa Kakak benar-benar mau mengabaikan penjelasanku dan membiarkannya begitu saja?"

Tobias mendadak berhenti dan berbalik. Tatapan matanya yang sangat dingin membuat kata-kata Fiona tertahan di tenggorokan.

"Aku sudah memperingatimu, bukan? Aku sudah bilang padamu bahwa hal seperti ini tidak boleh terulang lagi, kan?"

"I-iya, Kakak memang bilang begitu, t-tapi—"

"Tidak ada tapi, Fiona!" potong Tobias dengan nada suara yang sangat tegas. "Ini peringatan terakhir. Tidak kurang dan tidak lebih. Aku sudah muak dengan tingkah kekanak-kanakanmu. Kalau kamu berani berulah lagi, aku akan mengirimmu pergi dari sini."

Wajah Fiona langsung pucat pasi. Membayangkan dirinya akan dibuang dan dipisahkan dari kakaknya membuat nyalinya ciut seketika. Seluruh sikap pembangkangnya lenyap, digantikan ketakutan yang mendalam.

"Oh, dan jangan kira kamu akan lolos begitu saja kali ini. Hukuman kurung selama satu minggu, kamu tidak diizinkan keluar dari pintu itu, atau kamu akan menghadapi hukuman yang lebih berat."

"Satu minggu?!" teriaknya, tiba-tiba kembali ke sifatnya yang meledak-ledak dan kekanak-kanakan. "Itu keterlaluan!"

"Ada apa ribut-ribut begini?" Giselle, ibu mereka, bertanya sambil berjalan masuk. Rasa khawatir langsung terpancar di wajahnya saat melihat putri kesayangannya tampak sangat tertekan.

Ia bergegas ke sisi Fiona, memegang pundaknya. "Fiona? Apa yang terjadi? Apa semuanya baik-baik saja?"

"Dia dihukum, Ibu," jawab Tobias. "Selama satu minggu."

"Apa? Kenapa dia harus dihukum? Apa yang dia lakukan sampai pantas mendapatkan hukuman seperti itu?"

"Dia membuat keributan di depan umum—"

"Amara yang memulainya duluan!" teriak Fiona.

"Amara?" Raut wajah Giselle langsung berubah jijik begitu mendengar nama yang sudah menjadi duri dalam dagingnya selama bertahun-tahun itu. "Ular itu yang bertanggung jawab atas semua ini?"

Melihat Fiona mengangguk penuh semangat, Giselle melotot ke arah putranya. "Kamu menghukum adikmu sendiri hanya demi perempuan rendah itu? Tobias, apa kamu masih bisa berpikir jernih?!"

"Kakak lagi stres berat, dan si jalang itu sengaja memanfaatkan keadaan! Dia mengadu domba kita, melakukan keahliannya yang paling licik, dan aku yakin dia sangat menikmatinya. Kita harus beri dia pelajaran!" seru Fiona memanasi.

"Adikmu benar. Perempuan memalukan itu harus diberi pelajaran. Dia harus tahu diri dan sadar posisi!" timpal Giselle.

Tobias terdiam selama beberapa detik. Namun, kalimat yang keluar dari mulutnya setelah itu benar-benar membuat ibu dan adiknya syok.

"Bisa tidak, kalian berdua berhenti sekarang?"

Ekspresi kaget di wajah mereka berdua sama sekali tidak mengejutkan bagi Tobias. Dulu, dia pasti akan ikut-ikutan mencaci maki Amara. Dia selalu percaya bahwa Amaralah yang salah dan menganggap perlakuan buruk ibu serta adiknya adalah hal yang wajar.

Namun, itu dulu. Sekarang dia sadar bahwa cara mereka memperlakukan Amara selama ini sangat keterlaluan.

Membayangkan Amara harus menanggung perlakuan kasar seperti itu selama enam tahun terakhir, Tobias mendadak merasa iba. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hatinya.

"Keputusanku sudah bulat. Fiona, kamu dihukum tidak boleh keluar rumah selama seminggu," tegasnya. Dia kemudian menoleh ke arah ibunya yang tampak sangat kecewa. "Dan Ibu, jangan coba-coba membantu Fiona. Kalau Ibu ikut campur, hukumannya akan ditambah."

Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan pergi. Begitu keluar dari rumah, Tobias merasa ingin menelepon Amara dan meminta maaf atas apa yang dikatakan Fiona tadi.

Dia mengeluarkan ponsel dan memainkannya sejenak, ragu apakah harus mengikuti keinginan hatinya atau tidak. Pada saat dia sudah memantapkan hati, sebuah panggilan masuk menyela niatnya.

Alisnya berkerut saat melihat nomor yang tertera di layar ponselnya. Dia mengenalinya sebagai agen Celestine. Dengan helaan napas, dia menekan tombol terima.

"Ya," ucap Tobias sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

"Tuan Larsen, Nona Celestine saat ini sedang di rumah sakit. Kami tidak yakin apakah Anda sudah mendapat pesannya, tapi dia pingsan saat bekerja dan sekarang dokter sedang mengawasinya."

Ekspresi Tobias berubah menjadi cemas. "Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih cepat?"

"Saya minta maaf, Tuan."

Tobias menghela napas. "Di rumah sakit mana dia sekarang?"

"Kami akan mengirimkan lokasinya kepada Anda."

"Bagus, aku akan segera ke sana sesegera mungkin."

~ ~ ~

Begitu Tobias keluar dari mobil, Austin, agen Celestine, bergegas menemuinya.

"Tuan Larsen," sapa dia.

"Bagaimana keadaannya?"

"Dokter bilang dia sudah membaik. Dia hanya pingsan karena diet untuk pekerjaan ini terlalu berat dan tidak sesuai dengan kondisi kesehatannya, jadi dia pingsan karena kelelahan," jelas Austin.

"Begitu, di mana dia sekarang?"

"Lewat sini, Tuan," Austin membimbingnya menuju kamar tempat Celestine berada.

Ketika mereka sampai di sana, wanita itu sudah bangun, duduk di atas tempat tidur dan melihat ke luar jendela.

"Celestine," panggil Tobias, menarik perhatiannya.

"Tobias!" Senyum menghiasi seluruh wajahnya saat dia melihat laki-laki itu. "Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini."

Tobias mendekati tempat tidur dan duduk di kursi yang berada di sampingnya. "Austin memberitahuku tentang apa yang terjadi. Mengapa kamu mengambil pekerjaan seperti itu?"

Ekspresi Celestine meredup dan dia menundukkan kepalanya. "Karena itu satu-satunya pekerjaan yang bisa kutemukan." dia bergumam dengan sedih.

"Apa katamu?"

Tangannya yang terlipat di pangkuan, mencengkeram gaunnya.

"Tidak ada yang menginginkanku lagi. Semua klien dan kontrakku telah menghilang karena..." Dia berpura-pura seolah dia tidak bisa mengucapkan kata-kata berikutnya, berpura-pura terluka.

"Semua ini gara-gara seseorang. Seolah rumor buruk itu belum cukup, sekarang dia mencoba menghancurkan karier Celestine sepenuhnya," Austin menyela dengan nada mengejek. "Dia pikir dia siapa? Seorang pahlawan wanita yang berhak melakukan aksi balas dendam?"

Tobias tidak perlu berpikir dua kali untuk menyadari siapa yang dimaksud oleh Austin.

"Austin, tolong jangan bicara seperti itu," pinta Celestine. "Amara tidak ada hubungannya dengan ini, dan bahkan jika dia terlibat, aku rela menerima kemarahannya. Bagaimanapun juga, ini salahku karena tidak bisa berhenti mencintai Toby." Dia mengatakannya dengan nada memelas, berharap bisa mendapatkan simpati Tobias.

Dan dia pun berhasil mendapatkannya.

Mungkin karena hubungan mereka sudah terjalin sejak SMA, atau mungkin karena Celestine sedang mengalami kesulitan, menderita akibat kemarahan kakeknya dan sekarang ditambah masalah Amara; Tobias tidak bisa menahan rasa kasihan padanya.

"Berhentilah dari pekerjaan itu," perintah Tobias.

"Tapi—"

"Aku akan mencarikan pekerjaan lain untukmu. Aku akan mengurus semuanya, jadi berhentilah dari pekerjaan itu".

Senyum tipis terpancar di wajah Celestine. "Benarkah?"

Tobias mengangguk, dan dalam hitungan detik, Celestine langsung memeluknya erat, melingkarkan lengannya di leher Tobias.

"Terima kasih banyak, Toby!"

"Sama-sama," jawab Tobias. Ia ingin membalas pelukan itu, tapi untuk pertama kalinya, rasanya tidak tepat, jadi dia hanya mengangguk pelan.

Saat mereka berdua sedang asyik dengan dunianya sendiri, Melanie—yang kebetulan sedang berada di rumah sakit untuk pemeriksaan rutin—berjalan melewati pintu yang terbuka dan menyaksikan kejadian itu.

Ia merasa kesal melihat pemandangan tersebut. Tanpa berpikir panjang, Melanie mengeluarkan ponselnya, memotret mereka, dan mengirimkan foto itu kepada Amara tanpa ragu.

1
S
bodoh.jk.mau di lindungi seolah bs mengatasi segalanya tp begitu bahaya.mrngancam baru panik
S
aku yaki tawa dan dansamu hanya utk menghibur diri tak mungkin rasamu hilang tiba tiba mara.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!