⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!
SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA
Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?
Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.
Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?
Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATU SANDUNGAN
Semua berjalan mulus sesuai rencana agung Raka.
Hanya dalam kurun waktu sepuluh hari, Wahyu sukses mengakuisisi restoran steak milik Bos Bambang yang sempat viral itu.
Hotel-hotel dan penginapan di sekitarnya juga perlahan jatuh ke tangan mereka dengan harga take over yang sangat tinggi. Para pemilik bisnis kecil itu langsung kalap melihat ada 'orang gila' yang mau membuang uang, jadi mereka buru-buru melepas asetnya.
Lagi pula, traffic pengunjung di kawasan itu memang sepi parah.
Bisnis perhotelan di sana sudah lama kembang kempis nyaris mati suri, dan banyak owner yang sebenarnya sudah angkat tangan tidak kuat nombok biaya operasional. Kehadiran Wahyu ibarat sugar daddy penyelamat dari surga; mereka malah bersyukur bisa secepatnya menyingkirkan hotel-hotel boncos itu.
Awalnya, sempat ada yang curiga dan menganggap Wahyu sudah gila karena mau memborong properti mati di daerah situ.
"Mas, masih muda kok milih jalan hidup yang berat sih? Ngapain terjun ke bisnis hotel di sini?"
Seorang pemilik toko yang baik hati sempat menegur Wahyu. Namun Wahyu hanya membalasnya dengan senyum tipis.
Tanpa instruksi langsung dari Bos Raka, dia tidak berani membocorkan sedikit pun masterplan mereka.
"Urusan cuan atau boncos sih dipikir belakangan, Pak. Kebetulan lagi ada duit nganggur aja nih, hitung-hitung beli beberapa hotel buat tempat staycation pribadi aja."
Jawaban sombong bin absurd itu sukses membungkam semua orang, dan makin memvalidasi dugaan bahwa otak anak muda ini memang agak geser.
Sampai tibalah hari ini...
"Emangnya kenapa lu mau ngakuisisi hotel gua?" tanya seorang pemilik hotel, melempar pertanyaan mendasar.
Seperti biasa, Wahyu langsung melempar tawaran harga pembuka, "Tiga puluh miliar, cash?"
Namun, si pemilik hotel malah pasang tampang sok bijak ala pendeta sakti dan menjawab pelan, "Kalau lu aja berani ngeluarin 30 miliar, artinya di luar sana pasti ada orang yang berani bayar 50 miliar."
Wahyu melongo. Logika macam apa ini? "Ya udah, gua kasih 50 miliar."
Si pemilik hotel membalas lagi, "Kalau lu berani nawar 50 miliar, artinya nilai aslinya pasti ada di angka 80 miliar."
Wahyu makin speechless. "Maksud Bapak... kalau gua bayar 80 miliar, deal nih?"
Bukannya setuju, pria itu malah kembali mengoceh, "Kalau lu rela nebus 80 miliar, berarti cepat atau lambat pasti ada yang berani beli ini 100 miliar."
Wahyu benar-benar kehabisan kesabaran. Tanpa banyak cincong, dia langsung membalikkan badan dan walk out dari hotel itu.
Di perjalanan, Wahyu langsung menelepon Raka.
"Bos, hari ini gua bener-bener dibikin speechless! Gua ketemu sama owner hotel yang kelakuannya persis preman pembebasan lahan!"
"Oh ya?" tanya Raka dengan nada tertarik. "Coba ceritain, se-ngelunjak apa emangnya orang itu?"
Wahyu langsung membeberkan detail kejadian kronologisnya. "Kayaknya dia udah nyium gelagat kalau belakangan ini gua lagi gila-gilaan ngeborong properti di sekitar situ. Dia pasti ngira kawasan ini mau digusur buat proyek raksasa dan mikir bakal dapet ganti rugi selangit. Makanya dia sengaja matok harga gila-gilaan, jauh di atas harga appraisal tanah manapun! Kalau kemahalan, mending kita skip aja deh, Bos. Nggak worth it!"
"Bayangin aja, hotel rongsokan yang kamarnya cuma belasan biji, berani-beraninya dia minta cepek miliar! Sinting bener!"
Di ujung telepon, Raka terdiam sejenak, lalu terdengar kekehannya yang santai.
"Seratus miliar doang kan? Ya udah, transfer aja. Nanti limit kartu lu gua tambahin lagi."
"Jangan, Bos!" Wahyu langsung menolak keras. "Situasinya nggak semudah itu. Kalau lu iyain ngasih 100 miliar, dia pasti bakal ngelunjak minta lebih! Orang ini murni lintah darat, hotelnya tuh ibarat black hole yang nggak bakal ada puasnya nyedot duit!"
Setelah memahami gambaran situasinya, Raka memutuskan untuk turun gunung meninjau langsung ke lokasi.
Hari itu juga, Raka mengendarai Rolls-Royce mewahnya dan parkir tepat di depan hotel bobrok tersebut.
Si pemilik hotel ternyata sudah standby mengintip dari balik pintu kaca. Begitu melihat sosok Raka keluar dari mobil, matanya langsung berbinar buas. Seolah melihat wujud Dewa Kekayaan turun ke bumi, tatapannya memancarkan nafsu serakah yang menjijikkan.
"Woi, Pak Bos!" Raka harus memanggilnya beberapa kali sampai pria itu sadar dari lamunannya.
"Eh, iya, iya! Silakan masuk, Den, mari duduk," sapa pemilik hotel itu dengan keramahan yang dibuat-buat. Sapaan hangat yang memuakkan karena dipenuhi kemunafikan.
Benar kata pepatah, kalau urusannya sudah menyangkut uang, sifat asli manusia pasti langsung keluar.
"Gua rasa lu udah tau dong apa tujuan gua datang ke sini?" buka Raka to the point.
Pemilik hotel itu tersenyum culas. "Tentu saja saya paham, Den."
Ekspresi Raka menjadi lebih dingin, seutas senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. "Kalau gitu, langsung aja sebut harganya. Lu mau ngelepas hotel ini di angka berapa?"
Pria itu sengaja bungkam lama, memasang lagak sok mikir keras.
Raka sama sekali tidak terburu-buru, dia santai saja menunggu pria itu selesai berhitung kalkulator di otaknya.
Di sampingnya, tatapan Wahyu sudah memancarkan rasa jijik yang luar biasa. Dia tahu persis si tua bangka ini sedang sibuk memformulasikan angka maksimal yang bisa membiayai hidup tujuh turunan keluarganya. Pasti dia mau buka harga gila-gilaan sampai ratusan miliar.
Setelah menguji kesabaran cukup lama, barulah si pemilik hotel angkat bicara.
"Saya orangnya nggak mau maruk, Den. Dua ratus miliar aja, gimana?"
Mata Wahyu nyaris melompat keluar dari soketnya. Lihat saja tampang bangsat si tua ini! Udah jelas-jelas ngerampok pasang harga gila, lagaknya malah seolah dia lagi ngasih sedekah diskon besar-besaran! Bener-bener definisi urat malu udah putus!
"Oke, dua ratus miliar deal." Di luar dugaan, Raka malah mengiyakannya semudah membalikkan telapak tangan.
Dia lalu menoleh ke Wahyu. "Balik ke kantor, print kontraknya, dan urus secepatnya."
Wahyu melongo parah, matanya menatap kosong ke arah punggung Raka yang melenggang pergi. Apa otak Bos Raka udah beneran geser? Dipalak rentenir berkedok pengusaha kok malah nurut aja?! Kalau gini caranya, bakal banyak lintah darat antre minta cipratan duitnya!
Meski ngedumel dalam hati, Wahyu sadar uang seribu triliun pun tak bisa membeli kesenangan Bos Raka. Jadi dia buru-buru menyiapkan draf kontrak dan kembali lagi ke hotel itu.
Tapi apa yang terjadi? Bajingan tua itu malah menarik ludahnya sendiri! Kali ini, dia menaikkan harganya jadi lima ratus miliar!
"Bos, mending cancel aja deh urusan sama orang ini. Dia udah baca gelagat kalau kita bakal turutin berapapun harganya. Ini mah murni pemerasan!" lapor Wahyu via telepon, frustrasi. "Atau lu mau ke sini lagi, Bos? Gua perhatiin, tiap kali gua negosiasi sendirian sama dia, pasti selalu gagal."
Hening sejenak di seberang sana. Cukup lama sampai akhirnya Raka bersuara. "Nggak usah. Lu balik ke kantor sekarang."
Wahyu girang bukan main. Dia langsung memacu Lamborghini-nya kembali ke markas Grup Adiyaksa.
Di belakangnya, si pemilik hotel tertawa sinis. Dia sangat yakin Wahyu cuma disuruh balik ke kantor buat narik duit tunai yang lebih banyak. Area ini kan diproyeksikan bakal jadi tambang emas, masa iya pengusaha kelas kakap gampang menyerah begitu saja?
Sesampainya di perusahaan, Wahyu langsung mengambil inisiatif meminta maaf di rapat evaluasi direksi.
"Bos Raka, soal kegagalan akuisisi hotel terakhir tadi, saya bertanggung jawab penuh dan saya minta maaf sedalam-dalamnya kepada seluruh tim." Wahyu sadar betul, bolongnya satu aset hotel ini di kawasan tersebut akan merusak sentralisasi sistem manajemen perhotelan mereka, dan berpotensi menurunkan standar VVIP yang ingin mereka berikan kepada wisatawan nanti.
Raka memberi isyarat agar Wahyu duduk. "Nggak usah nyalahin diri sendiri, ini bukan salah lu. Emang dasar owner-nya aja yang maruk pengen ngerampok. Kita ini korporasi raksasa, ngapain ngemis-ngemis transaksi sama orang model begitu? Lagian, 200 miliar buat hotel sekelas kos-kosan belasan kamar aja kagak mau dilepas, biarin aja dia mampus sendiri!"
Mendengar kronologinya, seisi ruang rapat langsung mendadak riuh.
"Gila! Tanah di sana kan NJOP-nya murah banget! Pak Raka malah nawar 200 miliar?!"
"Duit 200 miliar itu udah bisa buat ngeborong satu blok komplek ruko di sana! Ngapain juga ngurusin gubuk reot belasan kamar doang?"
"Bener-bener sinting, berani-beraninya dia minta harga setinggi itu buat bangunan rongsokan!"
Raka mengangkat tangannya, meminta semua diam.
"Udah, udah, nggak usah dibahas lagi masalah lintah darat itu."
"Kita liat sisi positifnya. Anggap aja hari ini kita sukses menghemat budget 200 miliar. Nah, duit ini bakal kita alokasiin buat merombak total seluruh hotel dan penginapan yang udah berhasil kita akuisisi di kawasan itu! Gedung yang udah bobrok, hancurin dan bangun ulang dari nol! Bangunan yang terlalu pendek, bongkar dan bikin jadi high-rise! Pokoknya, facade luarnya harus seragam dan megah, terus interior dalamnya wajib berstandar bintang lima internasional!"
Seluruh jajaran direksi manggut-manggut setuju. Kegagalan kecil ini rupanya bisa di-convert jadi budget upgrading yang fantastis.
Tapi, Bu Rina dari Departemen Keuangan mendadak mengangkat tangan. "Pak Raka, kalau kita merombak seluruh kawasan itu jadi super mewah, tapi nyisain satu hotel reot di tengah-tengah... bukannya itu bakal ngerusak estetika landscape dan bikin pemandangannya jomplang?"
Raka tersenyum licik, sebuah senyum manipulatif khas pebisnis kejam. "Nah... justru di situ point-nya! Pernah denger pepatah, 'No comparison, no damage'? Biar orang-orang pada nilai sendiri seberapa bapuknya properti dia dibandingin sama empire kita."