NovelToon NovelToon
Dekapan Maut Gadis Manja

Dekapan Maut Gadis Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: Cloud_berry

Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?

Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.

Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.

Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....

Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?

Saksikan eklusif disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 14 : Jejak Udang

Crystal duduk bersila di atas kursi kerja ekstra, tepat di sebelah meja Helena. Sepatu kecilnya sudah ia lepaskan dan tertata rapi di bawah kursi.

Sebelum duduk di sana, Crystal memastikan jejak "petualangannya" hilang tanpa bekas. Ia telah mencuci tangan mungilnya hingga wangi sabun dan membersihkan alas sepatunya di kamar mandi, memastikan tidak ada sisa minyak dari pantry atau debu tangga darurat yang menempel.

​Di hadapannya, semangkuk sup Fu Yung penuh udang buatan Arum masih mengepulkan uap tipis. Crystal meniup kuah bening itu perlahan, lalu menyendok udang besar yang sangat juicy. Rasanya benar-benar juara. Arum memang tahu cara memanjakan lidah nona muda Kusuma itu.

​Suasana lantai 85 sore ini terasa sangat tenang dan steril. Cleaning service baru saja selesai mengepel lantai hingga mengkilap seperti cermin.

Di area pantry, Arum yang perfeksionis juga sudah membersihkan cipratan minyak dengan sangat teliti. Aroma masakan yang tadinya menyengat kini telah menguap, hanya menyisakan aroma samar udang tempura dan sup Fu Yung yang tak habis dimakan oleh Arum di sudut ruangan.

​Crystal menikmati setiap suapan supnya sambil menanti kehadiran sang daddy yang masih berkutat di dalam ruangan. Ia tampak seperti malaikat kecil yang tenang, menikmati sorenya dengan penuh kedamaian.

​"Halo, dengan Sekretaris Helena di sini, ada yang bisa saya bantu?" ucap Helena mengangkat telepon kantor yang berdering nyaring di atas mejanya.

​Crystal tetap fokus pada udangnya, namun telinga kecilnya terpasang tajam.

​"APAA....?!!"

​Tiba-tiba Helena menjerit kencang, suaranya melengking membelah kesunyian lantai 85. Tubuh Helena menegang, tangannya gemetar hebat saat memegang gagang telepon. Matanya terbelalak lebar, menatap kosong ke arah depan dengan wajah yang mendadak pucat pasi.

​Crystal terperanjat. Ia segera meletakkan sendoknya kembali ke dalam mangkuk sup, menimbulkan bunyi denting kecil. Ia menoleh ke arah Helena, memasang raut wajah terkejut yang sangat natural.

​"Bibi Helena? Ada apa?" tanya Crystal pelan. Suaranya bergetar kecil, seolah-olah ia merasa sangat terancam oleh teriakan mendadak itu.

​"Ya Tuhan... ya Tuhan..." gumam Helena tanpa menjawab pertanyaan Crystal. Ia segera meletakkan gagang telepon dengan kasar, lalu bangkit berdiri hingga kursinya terjungkal ke belakang.

​Di seberang sana, salah satu petugas cleaning service baru saja menyampaikan laporan yang mengerikan. Petugas itu menemukan seorang staf wanita terbaring lemah di tangga darurat antara lantai 80 dan 79.

Kondisinya sangat memprihatinkan dengan kepala yang berdarah hebat, dan tidak ada yang tahu apa penyebab pastinya. Wanita itu tampak seperti baru saja terjatuh berguling-guling di anak tangga yang keras.

​"Crystal, jangan ke mana-mana! Tetap di sini!" perintah Helena dengan suara serak. Ia tidak sempat lagi memikirkan sopan santun. Pikirannya melayang pada tragedi Stella sebulan lalu. Mengapa kejadian berdarah kembali terjadi di gedung ini?

​Helena segera berlari menuju ruangan Jimmy, mengabaikan segala protokol. Ia harus melaporkan ini segera sebelum berita ini meledak menjadi kepanikan masal.

​Begitu Helena menghilang di balik pintu ruangan presdir, raut wajah Crystal yang semula penuh kekhawatiran berubah drastis. Ia kembali duduk tenang, menyandarkan punggungnya di kursi sambil menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin.

​"Oh, jadi sudah ditemukan?" bisiknya pada diri sendiri.

​Crystal teringat jejak minyak transparan yang ia tinggalkan di anak tangga lantai 80 saat ia asyik berjalan naik turun tadi.

Ia juga ingat bagaimana seorang staf wanita yang sepertinya mencoba mencari jalan pintas untuk mengantarkan dokumen masuk ke area tangga darurat saat ia baru saja keluar. Crystal sempat menatap wanita itu sekilas dengan wajah polosnya sebelum pintu tertutup.

​Apakah wanita itu terpeleset jejak minyak udang tempuranya? Ataukah ia memang sial karena berada di tempat yang salah pada waktu yang salah?

Bagi Crystal, itu bukan urusannya. Yang ia tahu, tangga darurat adalah tempat yang sangat sunyi dan berbahaya bagi orang yang tidak berhati-hati.

Salahnya juga. Kenapa tiga hari yang lalu wanita itu nekat menggoda Jimmy. Saat Crystal sedang tertidur di sofa di ruangan Daddynya.

Padahal ia tahu nona muda Kusuma paling benci jika harus berbagi pelukkan hangat Jimmy. Crystal bisa membagi kekayaan sang daddy pada yang lainnya. Tapi tidak dengan orangnya. Jimmy hanya boleh jadi miliknya seorang.

​Tak lama kemudian, Jimmy keluar dari ruangannya dengan langkah lebar, diikuti Helena yang masih tampak gemetar. Wajah Jimmy terlihat sangat gelap, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang meluap.

​"Clyde! Panggil tim medis sekarang! Tutup semua akses menuju tangga darurat lantai 80!" teriak Jimmy menggelegar melalui interkom di meja Helena.

​Jimmy kemudian menghampiri Crystal yang masih duduk bersila tanpa sepatu. Melihat putrinya yang tampak "ketakutan" dengan mangkuk sup yang baru setengah habis, kemarahan di wajah Jimmy sedikit melunak, berganti dengan rasa protektif yang luar biasa.

​"Daddy... ada apa lagi? Aku takut..." Crystal menjulurkan kedua tangannya, meminta digendong. Matanya mulai berkaca-kaca, sebuah akting yang selalu berhasil meluluhkan hati sang daddy.

​Jimmy segera mengangkat tubuh mungil Crystal, mendekapnya erat seolah ingin melindungi gadis itu dari segala kebusukan dunia. "Sshhh... tidak apa-apa, sayang. Daddy di sini. Crystal jangan takut, ya?"

​"Bibi Helena teriak kencang sekali tadi... apa ada yang jatuh lagi seperti Bibi Stella?" Crystal bertanya dengan suara yang sangat polos, namun setiap katanya terasa seperti sembilu yang menyayat hati Jimmy dan Helena.

​Helena menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menetes di pipinya. Ia merasa gagal menjaga suasana tenang untuk Crystal.

Sedangkan Jimmy hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Baginya, siapa pun yang menyebabkan kegaduhan ini baik sengaja maupun tidak telah mengganggu kedamaian putrinya, dan itu berarti perang.

​"Bibi Arum mana? Aku mau kasih tahu kalau supnya enak... tapi aku jadi tidak nafsu makan lagi," ucap Crystal sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jimmy.

​"Arum sedang di bawah, nanti kita panggil dia ya. Sekarang Crystal ikut Daddy ke dalam ruangan saja," ujar Jimmy lembut.

​Saat Jimmy membawa Crystal masuk ke dalam ruangannya yang kedap suara, Crystal melirik sekilas ke arah lorong tangga darurat dari balik bahu daddynya. Ia tahu sebentar lagi tim medis akan sibuk, polisi akan kembali datang, dan investigasi akan dimulai. Namun, Crystal sama sekali tidak khawatir.

​Sepatunya bersih. Tangannya bersih. Lantai 85 sudah dipel. Dan Arum sendiri yang membersihkan pantry. Tidak akan ada satu pun bukti yang bisa menghubungkan dirinya dengan jejak minyak di lantai 80.

Baginya, staf wanita yang kini tergeletak berdarah itu hanyalah sekerikil kecil yang kebetulan terinjak dalam perjalanannya menikmati udang tempura sore ini.

​"Daddy, nanti kalau aku sudah besar, aku tidak mau ada tangga di kantorku," celetuk Crystal tiba-tiba saat Jimmy mendudukkannya di sofa ruang kerja.

​"Kenapa, sayang?" tanya Jimmy sambil mengusap kepala putrinya.

​"Karena tangga itu jahat. Suka bikin orang jatuh dan berdarah," jawab Crystal dengan senyum manis yang membuat Jimmy merasa putrinya adalah anak yang paling berempati di dunia.

​Padahal di dalam hati, Crystal sedang menghitung, siapa lagi yang akan menjadi korban berikutnya jika berani mengusik kenyamanannya di Menara Kusuma.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!